
"Cepat pijat punggungku." sentak Davin setelah membuka bajunya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Oh iya, jangan kau pikir pijatanmu enak, tidak sama sekali! hanya saja aku sedikit berbaik hati mengurangi hukumanmu, kau mengerti?"
"Mengerti kak." jawab lirih Alsha, sembari menggerutu dalam hati.
CK, tidak mau barang-barangnya disentuh! tapi membiarkan tubuhnya untuk terus disentuh.
Davin terhanyut saat jemari lentik Alsha kembali menari diatas punggungnya, entah mengapa setiap kali gadis itu memijatnya Davin merasakan kantuk luar biasa yang tiba-tiba menyerangnya.
Dan benar saja, setelah beberapa menit ia langsung tertidur pulas, membuat kamar bernuansa abu-abu muda tersebut tampak terasa hening.
Alsha menunduk dengan wajah yang sedikit miring menatap wajah Davin dari samping, sangat tampan dan terlihat damai.
Dan hanya saat seperti inilah Alsha dapat memandangi wajah suaminya dari dekat, tanpa bentakan, tanpa tatapan benci darinya.
Alsha menghembuskan napas pelan, saat merasa jika dirinya hampir terhanyut dengan pesona Davin, berulang kali ia mengingatkan dirinya agar tak lengah dan jatuh hati pada seorang Davin yang tak mungkin dapat ia raih.
Gadis itu beranjak, dan tak lupa menutupi punggung Davin menggunakan selimut, lalu kembali menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya disana menatap langit-langit kamar sempit tersebut dengan tatapan yang melanglang buana.
Untuk beberapa saat Alsha terdiam memikirkan berbagai hal, tentang keberadaan Rossa, nasib pernikahannya, lalu sang ayah yang entah dimana.
Lama ia berpikir hingga tanpa sadar ia tertidur dan terbuai dialam mimpi.
*
Pagi-pagi sekali seperti biasa Alsha sudah rapih dengan setelan kerjanya, gadis itu berdiri menunggu Davin didepan kamarnya, untuk meminta ijin keluar sore ini.
Ya, setelah berpikir banyak akhirnya Alsha memutuskan untuk kembali mencari keberadaan Rossa dan kakak tirinya untuk menanyakan dimana keberadaan sang Ayah.
Kebetulan Chandra memundurkan tugas keluar kotanya yang diganti menjadi besok lusa, karena kliennya yang berada diluar kota sedang mengalami sedikit masalah.
Pintu terbuka, Davin keluar dari kamarnya, sempat melirik Alsha yang berdiri disamping pintu namun memilih pura-pura tak melihat.
__ADS_1
"Kak!" panggil Alsha, membuat Davin terpaksa menghentikan langkahnya.
"Jangan membuang waktuku, cepat katakan! ada apa?" Davin berbicara ketus.
"Euhm_" ragu Alsha membuka mulut dengan kedua tangan yang memilin ujung bajunya, takut jika Davin tak mengijinkannya kali ini.
"Jika kau tak bicara juga aku akan keluar." sentak Davin masih dengan posisi membelakangi Alsha.
"Tunggu, tunggu kak! kak, bolehkah sore ini saya pulang terlambat, saya ingin mencari ibu karena semenjak kita menikah ibu saya menghilang meninggalkan rumah."
"CK, selain licik kau juga sungguh pintar mencari alasan rupanya."
"Kak_"
"Lakukan sesukamu." sela Davin yang langsung berlalu dari tempat tersebut.
*
"Benar kan, ini alamatnya?" gumam Alsha yang kini berdiri didepan sebuah rumah berukuran 9x12 m, dengan halaman yang terbilang cukup luas yang dipenuhi tanaman bunga disekitarnya.
Lama Alsha menunggu, berdiri dengan gelisah menanti sang kakak yang tak kunjung menampakan dirinya, hingga menit berikutnya salah seorang wanita paruh baya pemilik rumah disamping Jessy menghampiri.
"Cari Echi ya?" tanyanya sembari menunjuk rumah Jessy.
"Oh iya Bu saya sedang menunggu kak Jessy, ibu tahu nggak ya kemana kira-kira kakak saya pergi?" tanya Alsha berharap wanita dihadapannya tahu kemana sang kakak pergi.
"Oh adek ini adiknya?"
"Betul Bu."
"Kalau siang Echi pergi ke toko, biasanya dia pulang sekitar jam lima an."
"Tokonya jauh nggak ya Bu?"
__ADS_1
"Dekat kok, dari sini adek lurus saja, nanti disamping mesjid belok kanan, lurus sekitar sepuluh meteran nanti ada toko kosmetik Jessy Ananda, itu dia tokonya."
"Yasudah saya langsung kesana saja Bu, terimakasih ya atas bantuannya."
"Iya, sama-sama."
Alsha menyusuri jalan yang ditunjukkan wanita tadi dengan berjalan kaki, karena dirasa memang tak jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki beberapa menit saja.
Alsha tersenyum saat ia berhasil menemukan orang yang dicarinya, ya Jessy benar-benar sedang berada disana, wanita itu tengah membereskan beberapa kosmetik yang berserakan diatas etalase kaca.
"Kak?" sapanya antusias, berbeda dengan Jessy yang tampak kaget dengan kedatangannya yang dirasa tiba-tiba.
"Kak_" ulangnya, saat Jessy tak merespon atau sekedar bergerak dari tempatnya berdiri.
"A-alsha?"
"Kak bagaimana kabarnya?" Alsha berinisiatif memeluknya lebih dulu.
"B-baik, kamu_ kamu tahu darimana aku tinggal disini?" tanya Jessy yang tampak kaku, bagaimana tidak! mereka sama sekali tak akrab dalam hal apapun, terlebih mereka baru bertemu satu kali ketika dirumah Rossa.
"Dari tante Rossa sebelum dia menghilang! Kak, aku ingin bicara! banyak hal yang ingin kutanyakan pada kak Jessy, aku yakin kakak lebih banyak mengetahui tentang ayah dan keberadaannya sekarang."
"Sha_ maaf, kakak sibuk! sore ini kakak harus pergi, jadi sepertinya kita tidak bisa mengobrol sekarang."
"Tidak masalah, aku akan menunggu dirumah sampai kakak pulang."
"Sha, bukankah kamu sudah menikah, memangnya tidak masalah jika kamu meninggalkan suamimu hingga larut! ya, kakak yakin kakak pasti pulang sampai larut, karena ada banyak teman-teman kakak dari luar negri yang ikut hadir diacara itu kakak pasti_"
"Tidak masalah, aku sudah meminta izin kak Davin."
Jessy menggigit bibir bawahnya pelan, dengan tangan yang memijat keningnya bingung, alasan apalagi yang harus ia buat untuk menghindari pertanyaan dari gadis kecil dihadapannya.
*
__ADS_1
*