
"Baiklah, cukup untuk hari ini Dav, kita akan melanjutkannya besok, sekarang beristirahatlah." ujar Liam sembari memapah tubuh Davin menuju ruang inapnya.
Namun belum sempat keduanya menuju ruang inap Davin, seorang gadis berteriak memanggil petugas rumah sakit meminta bantuan mereka untuk membantu memapah seorang pria yang tengah meringis disampingnya.
"CK, benar-benar sebuah keajaiban! baru saja kita membahasnya sekarang mereka muncul disini." celetuk Liam, yang tanpa ia sadari telah membangunkan singa tidur disampingnya.
"Liam kau pulang saja, aku bisa keruanganku sendirian." ucap Davin datar.
"CK, jangan keras kepala biar aku antar!"
"Pulanglah sebelum aku benar-benar marah dan menembak kepalamu."
Liam terkekeh, "Dengan apa kau melakukannya?"
"Tunggu saja ketika aku sembuh nanti."
"CK, baiklah tuan menyebalkan aku akan pulang sekarang! segera hubungi aku jika terjadi apa-apa."
"Hmm, pergilah!"
Setelah memastikan Liam benar-benar pergi Davin pun melangkahkan kakinya dengan tertatih menuju sebuah ruangan dimana Alsha membawa seorang pria yang ia benci selama ini.
Sebuah kebetulan, pintu ruangan tempat Chandra dirawat sedikit terbuka, membuat ia bisa melihat dengan jelas bagaimana perhatiannya Alsha terhadap pria tersebut.
"Sialan!" umpatnya dengan gumaman lirih, lalu mengepalkan tangannya dengan sorot mata tajam, saat melihat Alsha yang menyuapi pria yang tengah terbaring diatas ranjang pasien itu dengan begitu telaten.
*
Seharian ini didalam ruang inapnya Davin tampak uring-uringan, memikirkan sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti apa yang ia pikirkan.
Apakah ia kesal terhadap Chandra, atau justru tak terima dengan kedekatannya dengan sang mantan istri.
"CK, sialan! benar-benar sial." gerutunya.
__ADS_1
"Siapa yang sialan?" ujar Tommy yang entah sejak kapan berdiri diambang pintu dengan kedua tangan yang dilipat didepan dada.
"Kau_ untuk apa kemari?" ucap Davin ketus, sementara Tommy yang sudah terbiasa dengan sikap ketus sahabatnya memilih tak peduli dan bergegas menghampiri.
"Katakan padaku, siapa yang telah membuatmu kesal, hm?"
Davin mendengus, "Tom, kau sudah tahu kan?"
"Tahu, tahu apa maksudmu?" tanya Tommy yang memang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Davin.
"CK, jangan berpura-pura."
"Pura-pura apa maksudmu sialan! aku bahkan baru sampai setelah seharian mengerjakan tugas yang begitu menumpuk dikantor."
"Kau masih tidak mau mengaku?"
"Katakanlah Dav, kau jangan bertele-tele, atau aku patahkan kakimu sekalian."
Lagi-lagi Davin mendengus, "Kau sudah tahu bukan Alsha sedang dekat dengan pria sialan itu?"
"CK, siapa lagi?"
"Memangnya masalah denganmu."
"Jadi kau sudah tahu sejak awal?" Davin mencengkram kerah kemeja yang dikenakan Tommy.
"Aku pikir kau sudah tidak peduli apapun yang berhubungan dengan Alsha, bukankah itu yang selalu kau katakan padaku waktu itu."
Telak, mulut Davin terkatup rapat, ia tidak bisa mengelak lagi, karena ucapan Tommy barusan adalah fakta yang sebenarnya.
"Kenapa? kau menyesalinya? belum terlambat jika kau mau berusaha, Alsha belum menikah, begitupun dengan dirimu."
"Aku tidak menyesalinya."
__ADS_1
Tommy terkekeh menertawakan kebodohan sahabatnya, "Bahkan setelah kau mengintrogasiku dengan paksa kau masih bisa mengelak Dav, tahukah jika saat ini kau sedang membohongi dirimu sendiri."
"Diamlah, kau terlalu banyak bicara."
"Baiklah, aku akan diam! tapi ku peringatkan satu hal kalau Chandrawinata tak kalah tampan darimu, dude!"
"Kau menyamakan aku dengan bajiingan itu?"
"Kenapa memangnya?"
"CK, sebenarnya kau itu sahabatku atau bukan sih?"
Tommy terkekeh, "Sampai kapanpun aku akan tetap menjadi sahabatmu."
*
Alsha menyeret kakinya dari kamar mandi menuju tempat tidurnya, menghela napas pelan, sebelum kemudian ia menyenderkan kepalanya di headboard ranjang sederhana yang berada di kontrakannya.
Hampir setiap pagi ia merasakan mual yang luar biasa, namun saat siang tiba, gejala tersebut tak pernah ia rasakan.
Alsha bukan gadis belasan tahun yang tidak mengerti apa-apa tentang mengapa ia sampai telat datang bulan hingga tiga bulan lamanya, tentang ucapan Merry beberapa waktu yang lalu mengenai dirinya yang terlihat semakin berisi.
Mual yang selalu datang dipagi hari, dan mulai tak menyukai parfum yang biasa ia gunakan padahal ia sudah menggunakannya sejak dari ia masih duduk dibangku SMP.
Semua tanda-tanda yang ia alami sudah ia coba cari di internet dengan hasil yang menunjukkan tanda-tanda terjadinya sebuah kehamilan.
Namun meski begitu, Alsha bersikukuh menganggap semua hal tersebut tidak benar sama sekali, ia terlalu khawatir untuk periksa secara langsung, takut jika hasilnya benar-benar positif.
Alsha meyakini jika hal itu hanya terjadi secara kebetulan, terlebih dia melakukannya hanya sekali, tidak mungkin pikirnya jika sampai benar-benar hamil.
Akan bagaimana nasib anaknya jika ia benar-benar hamil, Alsha yakin Davin tidak akan pernah mau mengakuinya.
Terlebih saat ia mendengar kabar jika Sera kekasih Davin telah kembali, dan mungkin saja mereka akan segera menikah.
__ADS_1
*
*