
Davin menatap layar segi empat yang menyala dihadapannya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
Setelah beberapa waktu tak memantau kegiatan Sera kini ia disuguhkan dengan sebuah pemandangan yang tidak terduga.
Kekasihnya Sera, memposting sebuah foto yang tampak begitu seksii di akun sosial media miliknya.
Disaat yang sama ponselnya bergetar, menampilkan nama seseorang yang baru saja ia lihat.
"Vin, aku merindukanmu." ujar Sera disebrang sana dengan suara yang dibuat dengan begitu manja.
"Kemana saja, lama tak mengabariku?" sahut Davin datar.
"Aku_ aku sibuk Vin."
"Sibuk? apa sibuk yang kau bilang adalah sibuk mempertontonkan tubuhmu dihadapan banyak orang, begitu?"
"A-apa maksudmu sayang, aku tidak mengerti."
"Kau tahu sejak dulu aku tidak menyukai pekerjaan mu yang satu ini kan?"
"Ayolah Vin, ini hanya masalah kecil, dan lagi ini memang pekerjaanku bukan."
"Sera, aku cukup kaya untuk memenuhi semua keinginan mu, lalu apa lagi yang kau cari."
"Aku tahu Vin, tapi menjadi model adalah cita-citaku sejak dulu, jadi aku tidak mungkin meninggalkannya, kamu tahu sendiri untuk sampai di titik ini aku harus melewati banyak proses dan air mata."
"Aku tidak akan membiarkan segala sesuatu hal sekecil apapun yang dapat merusak cita-cita ku." sambung Sera, yang tanpa ia sadari bahwa ucapannya telah membuat rahang Davin mengeras.
"Termasuk mengabaikan ku."
__ADS_1
"Vin_"
"Sudahlah Sera, kau memang tidak benar-benar berniat untuk menjalin hubungan bersamaku bukan, katakan apa mau mu sekarang?"
Hening sesaat.
Hingga disebrang sana terdengar dehaman pelan, "Baiklah Vin, sepertinya untuk sementara kita akhiri dulu hubungan kita, hanya sementara! setelah aku mewujudkan cita-citaku aku akan kembali."
"Untuk menikah denganku?"
Terdengar tawa Sera dari sebrang sana, "Kau itu kolot sekali sih, kenapa pikiranmu hanya dipenuhi tentang pernikahan, kita ini masih muda Vin, kita bersenang-senang dulu lah menikmati masa muda kita."
"Sera, apa begitu sulit bagi kamu untuk menikah denganku kamu bahkan tahu aku memiliki semua yang kamu butuhkan, cintaku, kasih sayangku, dan segala yang aku miliki, apa yang kurang?"
"Aku tahu kau memang tampan, baik dan kaya sayang, tapi aku juga punya keinginan sendiri, tolonglah mengerti."
"Aku tahu Vin, tapi please! beri aku waktu."
"Berapa lama lagi aku harus menunggumu?"
"Tiga tahun, empat, atau lima tahun mungkin!" jawab santai Sera, membuat raut wajah Davin semakin tak bersahabat bahkan kini tangannya mencengkram kuat ponsel yang ia pegang.
"Lakukan sesukamu." ujar Davin yang langsung memutus sambungan secara sepihak, lalu melemparkan ponselnya kesembarang arah.
Disaat yang sama pintu utama terbuka, menampilkan sosok Alsha yang baru pulang bekerja, gadis itu melangkah santai menuju kamarnya, sama sekali tidak menyadari jika seseorang tengah menatapnya dengan sunggingan senyum.
"Apa yang kau lakukan diluar saat aku tak ada dirumah hah?" sentak Davin dengan sebelah tangan yang menjambak rambut Alsha dengan kuat hingga gadis itu memekik dengan tubuh gemetar.
"Ampun kak, saya hanya bekerja." lirih Alsha yang merasa kaget sekaligus mati-matian menahan rasa sakit dikepalanya seiring cengkraman tangan Davin dirambutnya yang semakin menguat.
__ADS_1
"Sakit kak."
"Sakit kau bilang?" sentaknya semakin membuat amarah Davin kian meninggi.
"Ampun kak."
"Ikut aku." ucapnya sembari menyeret tubuh Alsha ketaman belakang, dan mendorongnya hingga terjatuh.
"Bersihkan rumput disini menggunakan tangannmu, ingat jangan coba-coba mengambil benda lain! gunakan tangan bodohmu itu, kau mengerti?"
Alsha terdiam sesaat, pandangannya menyapu sekitar taman yang rumputnya sudah mulai meninggi, bagaimana mungkin ia bisa membersihkan seluruh taman itu hanya menggunakan kedua tangannya terlebih hari mulai gelap.
"T-tapi kak_"
"Kenapa? kau ingin membantah, kau ingin hukuman yang seperti Semalam, berdiri diluar rumah bertemankan seorang anjing, atau kau lebih senang berada diluar bersama anjing-anjing itu hm?"
Alsha menggeleng cepat, "T-tidak kak."
"Kerjakan semuanya."
"Baik kak." Alsha mengangguk pasrah, dan mulai mencabuti rumput tersebut satu persatu, sementara itu bi Tati yang mendengar suara ribut-ribut dibelakang bergegas menghampiri, namun baru beberapa langkah menuju taman, seketika terhenti saat terdengar suara sarkas Davin yang menusuk.
"Jangan pernah berani-berani untuk membantunya."
"B-baik tuan." dengan tubuh gemetar bi Tati undur diri dan kembali berbalik menuju dapur.
*
*
__ADS_1