
Usai menyematkan cincinnya dijari manis Alsha, Davin mengangkat tubuh Alsha tinggi-tinggi, bahkan ia lupa jika saat ini Alsha tengah berbadan dua.
"Kak, kamu menyakitinya." gerutu Alsha, yang membuat Davin seketika tersadar dan segera menurunkan tubuh Alsha dengan hati-hati.
"Alsha, bolehkah aku menyentuhnya?" ucap Davin, memberanikan diri.
Alsha menganggangukan kepala, "Tentu saja."
Davin tersenyum lebar kemudian kembali berjongkok menempelkan pipinya di perut Alsha, dengan sebelah tangan yang gemetar menyentuh perut yang mulai membuncit tersebut dengan sayang sambil bergumam lirih mengajak bayi yang masih berbentuk janin itu untuk berbicara.
Air matanya menetes saat merasakan tendangan halus mengenai pipinya, selain itu ini untuk pertama kalinya ia merasa dekat dengan sang calon bayi.
"Apakah tubuhmu merasa sakit saat mengandungnya?" tanya Davin diluar dugaan, membuat Alsha tersenyum geli.
"Tidak sama sekali, hanya saja aku sering mual saat pagi."
"Benarkah? apa rasanya menyakitkan?"
"Hanya lemas dan pusing."
"Andai saja aku bisa menukarnya, aku rela agar kamu tidak merasakan penderitaannya, cukup mengandungnya saja, biar aku yang merasakan sakitnya.''
Lagi-lagi Alsha terkekeh sekaligus terharu dibuatnya.
"Ini sudah menjadi kodratnya perempuan kak, hamil dan melahirkan itu impian semua wanita, jadi kak Davin tidak perlu khawatir."
Davin tersenyum penuh kelegaan ia menarik tubuh mungil Alsha kedalam pelukannya.
"Maaf, beberapa bulan ini kamu melaluinya sendirian tanpa aku, maaf!" bisik Davin, yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Kak, apakah kak Davin benar-benar mencintaiku?" tanya Alsha ingin memastikan, Alsha memang memberikan Davin kesempatan, tetapi bukan berarti ia langsung mempercayai Davin sepenuhnya, Karena walau bagaimanapun Davin pernah menyakitinya.
__ADS_1
''Kamu ingin dengan cara apa aku membuktikannya?"
Alsha tertunduk, ia sendiri bingung harus bagaimana caranya.
"Aku tidak tahu."
Davin tertawa kecil, menciumi puncak kepala Alsha beberapa kali.
"Begini saja, kamu cukup rasakan seberapa besar ketulusanku saat bersamamu kali ini."
"Lalu bagaimana dengan kak Sera?"
Davin tampak mendengus, ia benar-benar sudah malas walaupun hanya sekedar membahas namanya saja.
"Berhenti membahasnya Alsha, sudah aku katakan aku sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan dia, aku sudah melupakannya."
"Mungkin kak Davin lupa, tapi kak Sera?"
"Alsha dengar! dia memilih mengkhianatiku itu berarti dia memiliki pilihan baru sama sepertiku yang lebih memilihmu untuk menemani sisa hidupku."
"Tapi kak_"
"Sudah ya, aku mohon! kita baru saja baikan, aku tidak ingin terjadi permasalahan lagi diantara kita, aku ingin hidup bahagia denganmu Alsha."
"Baik kak, aku mengerti."
Davin tersenyum sembari mengusap kepala Alsha lembut, "Gadis baik." ucapnya, dan hendak mencondongkan wajahnya, hingga suara deheman dari belakang membuatnya terperanjat mundur.
"Ehmmm..!"
"Cie akhirnya."
__ADS_1
"Mama ihs, mengganggu saja." gerutu Davin sembari menarik pinggang Alsha dan memeluknya dari samping.
"Mama senang kalian kembali lagi, dan mama harap kedepannya kalian tidak akan pernah berpisah lagi seperti kemarin." ujar Inara dengan mata berkaca-kaca.
"Alsha, maafkan mama ya sayang karena selama ini mama sempat gagal mendidik Davin agar menjadi suami yang baik untuk Alsha."
Alsha menggeleng, "Ini sama sekali bukan kesalahan mama, mama sudah menjadi ibu yang terbaik, bukan cuma untuk kak Davin tetapi untuk Alsha juga."
"Lihat tuh Vin, kamu rugi banget kalau sampai kehilangan Alsha, kurang baik apa coba dia, kamu salah saja masih dibela." gerutu Inara menatap galak pada putranya.
Davin meringis, "Iya ma, maaf!" ucapnya sembari menunduk lesu.
"Minta maaf sama Alsha bukan sama Mama."
"Tadi Davin sudah minta maaf ma."
"Nggak cukup, kamu harus meminta maaf pada Alsha setiap saat."
"Iya ma."
"Kamu sudah dewasa Vin, belajarlah dari kesalahan yang sudah kamu lakukan jaga istrimu dengan baik, apalagi sekarang Alsha sedang mengandung anak kalian." timpal Adnan dengan tegas.
"Iya pa, Davin mengerti."
"Selama cucu mama belum lahir, kamu dilarang membawa Alsha dulu, mama trauma tahu nggak sih, pokoknya sebelum Alsha melahirkan, kalian harus tinggal serumah sama mama, iya nggak pa?"
Adnan mengangguk, "Papa setuju!"
*
*
__ADS_1