
Semakin mengenalnya tentu Alsha semakin tahu bahwa Davin bukan tipe pria yang suka dibantah, untuk itu Alsha memutuskan untuk mengikuti keinginannya, karena percuma saja membantah ia takkan pernah jadi pemenangnya.
Pelan Alsha melangkahkan kakinya menghampiri tempat tidur lalu duduk disisi ranjang yang ditempati suaminya.
"Cepat!" lagi-lagi Davin berbicara ketus, membuat tangan Alsha refleks menyentuh punggung polos Davin yang tampak putih bersih tanpa cela.
"Kalau pijatan mu tidak enak, malam ini kau harus kembali mencabuti rumput ditaman tadi, kau mengerti?"
"I-iya kak."
"Lakukan dengan baik."
"B-baik." sahut Alsha dengan nada gemetar, meskipun ia bukan tukang pijat sungguhan, namun hal pijat memijat bukan lagi hal asing bagi Alsha, karena saat tinggal bersama nenek Diah ia selalu melakukan hal tersebut, memijat sang nenek setiap hari atas keinginannya.
Dan sang nenek selalu mengatakan jika pijatan Alsha sangatlah enak dan menenangkan.
Telapak tangan halus Alsha bergerak lincah diatas punggung milik Davin, pria itu sampai tertegun saat merasakan pijatan lembut dipunggungnya yang sangat luar biasa, namun meski begitu pantang bagi Davin untuk mengakuinya.
Sementara Alsha berusaha mati-matian mempertahankan tangannya yang terasa gemetar, bagaimana tidak! ini untuk pertama kalinya ia melihat tubuh polos seorang pria sekaligus untuk pertama kalinya ia menyentuhnya.
Satu jam lamanya Alsha melakukan tugas yang diberikan Davin dengan baik, bahkan pria tersebut tampak sudah mengeluarkan dengkuran halus yang menandakan bahwa ia sudah tertidur.
Pelan sangat pelan dan hati-hati Alsha menarik selimut menutupi punggung Davin, lalu gadis itu keluar dari kamar Davin menuju kamarnya.
Sesaat Alsha termenung memikirkan bagaimana nasib kedepannya, apakah ia akan terus-menerus menjalani kehidupan seperti ini, pikirnya!
*
__ADS_1
Pagi menjelang, Davin terbangun dari tidurnya pria itu merenggangkan otot lalu menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
"Tunggu." gumamnya, meraba tubuhnya sendiri lalu melihat kearah selimut yang baru saja disingkirkan nya.
Ia ingat betul semalam ia menyuruh Alsha untuk memijatnya.
"Sial, pijatannya lumayan juga." ucapnya dengan Sunggingan senyum, lalu beranjak menuju kamar mandi.
Sementara dikamar yang berbeda Alsha sudah siap dengan pakaian kerjanya, lalu bergegas untuk berangkat menuju tempat ia bekerja, namun sebelum itu Alsha tak lupa menitipkan pesan kepada bi Tati agar disampaikan nya kepada Davin yang ia yakini saat ini masih berada didalam kamarnya.
"Pagi Sha,?" sapa Merry ketika keduanya sudah sama-sama sampai dikantor, Merry langsung bergelayut memegangi tangan Alsha.
"Pagi Merr." Alsha membalas sapaan Merry sambil tersenyum.
"Ditanyain pak Chandra tuh suruh masuk keruangannya."
"Ya mana aku tahu, masa aku harus tanya dulu ke dia mau ngapain,?"
"Ihs Merry."
"Aku ngiri lho sama kamu Sha, aku aja yang udah lama kerja disini nggak pernah lho disuruh keruangannya."
"Ckk, gimana kalau kita tukeran posisi."
"Ya kalau dibolehin aku mau banget, tapi masalahnya nggak bisa kan?"
"Yaudah, aku masuk dulu ya."
__ADS_1
"Titip salam buat bos ganteng Sha."
Alsha terkekeh, "ada-ada aja kamu ini."
Alsha mengetuk pintu ruangan Davin sebelum kemudian pria tersebut menyuruhnya untuk segera masuk.
"Ada apa ya pak, Merry bilang_"
"Duduklah dulu Sha." ucap Chandra sembari menunjuk kursi yang ada dihadapannya.
"Baik pak."
"Jadi begini Sha, besok ada perjalanan bisnis keluar kota, kamu ikut saya ya."
"Ke-keluar kota pak?"
"Hmmm, kenapa? apakah kamu keberatan?"
"Saya_"
"Tapi maaf Sha, sepertinya meskipun kamu keberatan, kamu harus tetap ikut dengan saya, karena saya butuh kamu, saya butuh seseorang yang akan mencatat apa saja yang nanti disampaikan klien saya."
Alsha menunduk lesu, ia bukannya tak bersedia kemanapun pergi menjalani tugasnya, namun yang ia takutkan adalah bagaimana caranya meminta ijin kepada Davin yang ia yakini pasti tidak akan mengijinkannya untuk pergi, terlebih hingga menginap.
*
*
__ADS_1