
Setelah menemani Alsha makan, Davin tak langsung pergi, pria itu terus menemani Alsha meski dengan jarak yang cukup jauh.
Davin mengerjakan seluruh pekerjaannya didalam rumah, karena baginya kini menjaga Alsha dan calon anaknya adalah bagian dari pekerjaannya juga.
Sesekali ia memperhatikan Alsha yang tampak fokus membaca, atau sekedar menonton TV diruangan lain.
Tidak masalah baginya Alsha masih membencinya, sekarang ini yang terpenting gadis itu tak menyuruhnya untuk pergi.
Setelah tiga jam bergelut dengan benda segi empat dihadapannya, Davin merenggangkan otot-ototnya lalu celingukan menatap sekitar mencari sosok Alsha yang sudah tak lagi terlihat keberadaannya.
Pria itu berdiri menyusuri setiap sudut rumah mencari keberadaan Alsha, ia terkekeh kecil saat melihat tubuh mungil Alsha yang berada diruang buku tengah berjinjit-jinjit mengambil salah satu buku yang berada di rak paling atas.
Dengan langkah pelan Davin menghampiri, ia meraih buku itu dengan tubuhnya yang tepat berada dibelakang punggung Alsha.
"Ingin mengambil ini?" ucapnya, yang terasa sebuah bisikan hangat ditelinga Alsha, bagaimana tidak posisi Davin yang tepat dibelakangnya membuat ia dapat merasakan hembusan napas Davin terasa hangat menyentuh daun telinganya.
"I-iya, terimakasih." ucapnya, ia hendak pergi, namun tubuh besar Davin rupanya cukup sempit menjadi penghalang jalan untuk ia lewati, terlebih saat kedua tangan Davin yang menyentuh depan rak membuat tubuhnya seperti terkurung disana.
"Aku masih menunggu jawaban itu Sha, dan aku akan terus menunggu sampai kamu benar-benar mau kembali kepadaku."
Alsha tak menjawab, ia justru memilih untuk memalingkan wajahnya kearah lain, ia tak mau bersitatap langsung dengan Davin yang mungkin saja akan membuatnya langsung luluh.
__ADS_1
"Alsha, apa aku pernah mengatakan bahwa kamu sangat cantik?" Davin kembali berbicara.
Deg!"
Alsha mengeratkan pegangannya pada buku yang ia pegang, lelucon apalagi yang dikatakan Davin? pikirnya.
"Jika kamu pikir aku sangat terlambat, jelas memang sangat terlambat!" Davin tertawa sumbang, ia menunduk dengan hati yang terasa perih.
"Dulu aku pikir dengan aku berbuat kasar kepadamu, kamu akan cepat menyerah, dan kamu akan meminta cerai dariku dengan cepat, lalu aku akan menikah dengan Sera kekasihku, tapi kamu tahu Alsha, nyatanya tidak begitu!"
"Tanpa sadar aku justru malah jatuh cinta kepadamu."
Deg!
"Kamu boleh mengatakan bahwa aku pria paling bodoh karena sudah menyia-nyiakan kamu."
"Dan sekarang lebih bodoh lagi karena aku terjerat oleh pesona mantan istriku sendiri." Davin terkekeh dengan kekehan yang diiringi air mata.
"Aku sudah lelah membohongi diriku sendiri Alsha, hatiku tersiksa, aku tidak bisa menahannya lagi."
"Kamu tahu, saat pertama kali kita melakukannya tujuanku menikahimu sudah berubah menjadi rasa ingin memiliki selamanya, aku tak terima kamu pergi dari hidupku Alsha, tiga bulan, selama tiga bulan aku mencarimu, aku seperti pria gila yang kehilangan sebagian jiwanya, aku gila Alsha."
__ADS_1
"Dan setelah tiga bulan kamu kembali dalam keadaan hamil anakku, aku begitu bahagia Alsha aku seolah mendapatkan kesempatan terbaik dari Tuhan untuk memilikimu sekali lagi."
Kini bukan hanya Davin yang menangis, tetapi Alshapun ikut menangis, ungkapan cinta dan kasih sayang Davin yang dulu ingin dia dengar, kini terasa hambar karena Davin sudah lebih dulu menorehkan luka yang teramat besar dihatinya.
Alsha mengusap air matanya, ia memberanikan diri untuk menatap wajah Davin.
"Kak Davin berbicara begini, karena tahu jika kak Sera tak mau menikah dengan kak Davin kan,?"
"Mungkin salah satunya iya Alsha."
"Jadi benar, sekarangpun aku hanya dianggap sebagai pelarian kan?"
"Maksud kamu apa Alsha?"
"Kak Sera memiliki banyak pacar kan, jadi kak Davin menyerah dan memutuskan untuk menarik perhatian saya supaya bisa membantu memanas-manasi kak Sera, begitu kan?"
Davin terperangah, bisa-bisanya Alsha berpikiran begitu terhadap dirinya.
"Alsha tidak_ bukan begitu! dengarkan dulu aku akan menjelaskannya satu-persatu."
"Tidak perlu kak, tolong minggir! saya mau istirahat." pungkasnya, yang membuat Davin mau tidak mau terpaksa mengalah, ia menarik diri membiarkan Alsha lepas dari kungkungannya.
__ADS_1
*
*