
"Sha, pipi kamu kayaknya makin chubby deh, badan kamu juga jadi lebih berisi sekarang." ujar Merry yang merasakan perbedaan dengan perubahan tubuh Alsha dalam tiga bulan terakhir ini.
"Masa sih Mer, aku gendutan! jelek ya?" tanyanya, sembari menekan pipinya menggunakan tangan.
"Ihs bukan gitu, justru menurut aku kelihatan lebih cantik aja Sha, wajah kamu juga makin cerah, kelihatan bersinar gitu lho Sha." ucap Merry yang memang suka berbicara apa adanya.
"Ah kamu, paling suka banget bikin aku kepedean deh Mer."
"Eh serius Alsha, kamu tuh emang cantik! buktinya pak Chandra juga naksir kamu aku rasa."
"Kamu salah paham Mer, nggak sama sekali nggak."
"Siapa bilang?"
"Ya, aku."
"Yang jelas bukan pak Chandra sendiri kan yang bilang."
"Mer, udahlah_"
"Sha, kalau dia beneran suka sama kamu nggak masalah kok, yang penting sahabat aku bahagia, lagi pula setelah aku pikir-pikir perasaan aku ke pak Chandra itu bukan perasaan suka, atau dengan kata lain cinta Sha, tapi aku ternyata hanya menyukai karakter pak Chandra aja sama seperti aku yang menyukai opa-opa korea itu."
"Mer_"
"Kenapa sih kamu kayaknya nggak suka sama pak Chandra, dia ganteng lho Sha, dan yang pasti tajir melintir iya kan?"
Alsha mendesaah pelan, "Bukan itu yang aku lihat Mer."
"Iya tahu-tahu, Alshaku memang gadis baik-baik, oke kita lupakan sejenak tentang pak Chandra, kita bahas yang lain sambil makan bakso yang wanginya menggugah selera ini." pungkas Merry yang kini mulai melahap bakso miliknya yang mulai dingin.
"Emm.. ini baksonya enak banget sumpah! kayaknya yang bikinnya ditambahin bumbu cinta deh Sha." sambung Merry, sedangkan Alsha hanya tersenyum geli sembari menggelengkan kepala.
"Ada-ada aja kamu itu Mer."
"Eh tapi setiap hari kita makan siangnya dikantin terus ya Sha, besok-besok kita coba makan diluar yuk, mau ya!"
__ADS_1
"Terserah kamu, aku ikut aja."
"Siap Bu bos."
"Merry ihs."
"Aamiinin, siapa tahu ucapan aku barusan suatu saat jadi kenyataan, kamu jadi ibu bos, iya kan?"
Alsha terkekeh, "Iyadeh, Aamiin.."
*
Sementara itu ditempat yang berbeda, seorang pria yang biasa terlihat gagah dan angkuh kini terbaring tak berdaya disebuah ranjang pasien yang berada diruangan VVIP dengan ditemani ketiga sahabatnya secara bergantian.
"Masih sakit?" ujar Tommy sembari menekan kaki milik Davin yang dibalut perban.
"Sakit, sialan!" maki Davin seraya meringis, menatap tajam sahabatnya yang justru malah tertawa.
"Payah! ternyata kau bisa merasakan sakit juga rupanya."
Tommy berdecak, sembari menarik kursi diruangan itu lalu duduk disamping Davin.
"Saat sakit pun kau masih sangat menyebalkan Dav, harusnya kau bersyukur memiliki sahabat sepertiku yang masih setia bertahan disisimu sampai sekarang."
"Enyahlah jika kau mau." balas Davin sembari memalingkan wajah kesal.
"Kau__ CK sudahlah, lupakan! tapi Dav, sampai kapan kau akan menyembunyikan hubunganmu dengan Alsha dari orang tuamu, seharusnya dari awal kau berbicara jujur saja pada mereka, setidaknya saat kau sakit seperti ini mereka ikut mengurusimu bukan?"
"Kau tidak perlu ikut pusing mengurusi masalahku Tom, aku bisa menyelesaikannya sendiri."
"CK, kau terlalu berlebihan dude, aku sama sekali tidak berminat ikut campur dengan masalah orang lain, aku hanya memberimu saran, itu saja tidak lebih!"
"Diamlah, ocehan mu membuat kepalaku semakin pusing saja."
"Sialan! baiklah aku akan pergi, tapi kau harus ingat satu hal jangan coba-coba untuk mencariku." ucap Tommy yang kemudian keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Arghhh.. kaki sialan!" umpat Davin sembari menggerakkan kakinya yang terasa ngilu akibat kecelakaan tunggal yang ia alami dua hari yang lalu.
Saat itu Davin mendapatkan kabar dari Liam jika ia melihat Sera berada di Jakarta dan sedang berbelanja disebuah Mall besar bersama seorang pria yang tidak mereka kenali.
Diwaktu yang sama Davin berniat untuk mendatangi tempat tersebut, namun naas! ketika berada diperjalanan tiba-tiba terjadi masalah dengan mobilnya, yang berakhir menjadi sebuah kecelakaan, mobilnya terbalik karena menghantam tembok pembatas jalan.
Beruntung ia masih bisa diselamatkan meski harus menjalani pengobatan dan dirawat selama beberapa hari disebuah rumah sakit karena sebelah kakinya mengalami cidera yang cukup parah.
Jegrekk...
Pintu kembali terbuka dari luar, yang menampilkan sosok Tommy dengan senyum khasnya, membuat Davin mendengus, menatapnya bosan.
Namun tak lama dibelakang Tommy muncul seorang dokter dengan sebuah alat pemeriksaan ditangannya.
"Tenang saja, aku tidak akan lama, aku hanya menemani Dokter memeriksakan keadaanmu."
"Silahkan Dok." Tommy mempersilahkan sang Dokter untuk memeriksakan keadaan Davin.
"Baik mas Davin, kita periksa dulu sebentar ya!" ucap sang Dokter yang mulai memeriksa tubuh Davin dengan alat yang ia bawa.
"Bagaimana Dok, kakinya tidak benar-benar patah kan Dok, atau akan segera dilakukan amputasi secepatnya, jika benar! saya sangat setuju." celetuk Tommy yang membuat sang Dokter terkekeh sembari memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit merosot, sementara Davin sudah melotot menatap Tommy dengan tatapan ingin menelannya hidup-hidup.
"Sepertinya kondisi mas Davin sudah mulai membaik, besok pagi kita akan buka perbannya dan belajar menggerakkan kaki mas Davin supaya tidak terlalu kaku karena terlalu lama berbaring."
"Dokter yakin kakinya sudah mulai membaik, bagaimana bisa Dok bukankah cukup parah?"
"Hei sialan! apa maksudmu,? kau tak berharap jika aku cepat sembuh?" ujar Davin dengan tatapan nyalang.
Tommy tergelak, "Lihatlah Dokter, dia begitu menyebalkan bahkan dalam keadaan sakit sekalipun, seharusnya Dokter membiarkan dia lebih lama lagi berbaring di ranjang ini, jangan berikan dia obat yang bagus."
"Tutup mulutmu sialan!"
Melihat perdebatan antara pasien dan si teman pasiennya sang Dokter hanya bisa menghela napas sembari menggeleng-geleng kepala, lalu undur diri dari hadapan kedua orang tersebut.
*
__ADS_1
*