
"Oy, malah melamun sih?" ucap Evan dengan nada sedikit keras, membuat lamunan Alsha buyar seketika.
"Evan, ngagetin ih." protes Alsha yang tanpa sadar memukul lengan Evan cukup keras.
"Anjir! lagian disuruh jadi juri malah ngelamun! jadi gimana, gantengan abang gue, apa gue?"
"Sama aja nggak ada bedanya."
"Eh maksudnya apa nih, sama apanya?"
"Kamu sama kak Davin sama aja, wajah kalian berdua memang mirip kan?"
''Lah mirip katanya, gantengan gue lah kemana-mana."
"Van?"
"Hmmm."
"Kamu_ kamu kenal kak Sera, kan?"
"Kenapa nanya-nanya."
"Tinggal jawab aja apa susahnya sih Van."
"Gue cuma tahu namanya, tapi nggak kenal sama orangnya, lagian nggak penting juga."
"Nggak penting gimana, dia calon istri kak Davin kan?"
"Kenapa, Lo cemburu?"
"Apa sih Van, nggak usah mengalihkan pembicaraan terus deh."
"Iyadeh iya, gini lho! sebenarnya hubungan mereka itu nggak pernah direstuin sama nyokap."
"Ma-masa sih?"
"Iya."
"Tapi kenapa?"
"Karena_ ya nyokap gue nggak suka sama cewek yang namanya Sera itu."
"Tapi bukankah dia sangat cantik dan juga dari kalangan berada, terus apa yang membuat mama tidak menyukainya?"
"Mama punya alasan sendiri."
"Oh iya, gue musti cabut nih, lupa tadi mama nitip dibeliin bolu, nggak apa-apa kan pulang sekarang, eh tapi gue janji lain waktu gue bawa Lo lagi jalan-jalan gimana?"
"Nggak masalah, ayok!"
__ADS_1
"Yaudah yok."
Setelah memastikan Alsha selamat sampai kontrakannya, Evan pun kembali melajukan motornya menuju sebuah perusahaan yang saat ini dipimpin oleh Davin sang kakak.
*
Tok...tok..tok..
"Masuk!"
"Ada apa Lis?" tanya Davin saat melihat sekretarisnya menyembul dibalik pintu ruangan kerjanya.
"Maaf pak, diluar ada seorang anak muda! dia mengaku sebagai adik anda."
"Ciri-cirinya seperti apa?"
"Ehmm dia tampan, dan saya rasa memang mirip dengan anda pak."
"Baiklah, suruh dia masuk."
"Baik, kalau begitu saya permisi."
"Hmmm."
Tak menunggu lama pemuda yang dimaksud Alis masuk dan langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa tanpa diperintah.
"Mau apa kamu kesini?"
"Jengukin Abang sendiri emang nggak boleh?"
"Nggak usah basa-basi Evan, aku tahu kamu nggak akan mau menemuiku jika tak punya kepentingan."
"CK, Lo masih kaku aja dari dulu, santai dikit kenapa?''
"Aku tidak punya banyak waktu meladeni bocah seperti kamu, pekerjaanku masih banyak."
"Kenapa semenjak married Lo nggak pernah pulang, nyokap nanyain Lo terus tuh."
"Aku sibuk."
"Beneran sibuk atau_"
"Beberapa waktu lalu aku mengalami kecelakaan, tapi seperti yang kamu lihat, sekarang aku sudah sembuh."
"Terus kapan Lo berencana mau pulang membawa Alsha kerumah.?"
Deg!
"Mungkin, Mungkin_ akhir-akhir ini aku nggak bisa main dulu, aku titip salam saja buat mama."
__ADS_1
"Ini bukan alasan Lo doang buat menghindar dari masalah Lo kan bang?"
"Maksud kamu apa Evan,?"
"Tadi gue ketemu Alsha."
Deg!
Seketika tubuh Davin membeku, ia menelan ludah untuk menghela napasnya yang tercekat di tenggorokan.
"Dia tinggal disebuah kontrakan kecil, bisa Lo jelasin kenapa?"
"Van_"
"Lo sama dia udah bercerai kan?"
"Itu_"
Evan beranjak dari sofa dan menghampiri Davin yang sejak tadi berdiri dihadapannya.
"Bang Lo gila ya, masalah sebesar ini Lo nggak ceritain ke nyokap bokap, dan lo_ Lo kenapa bisa cerai in Alsha sih, emangnya dia kurang apa?"
"Ini masalahku Van, kamu nggak perlu ikut campur."
Evan berdecih, "Demi cewek itu kan, Lo sampai ninggalin Alsha? bajiingan Lo!"
"Cukup Van! ini bukan keinginanku dia sendiri yang memintanya."
"Kenapa nggak Lo cegah? oh gue tahu, Lo nggak mau mencegah karena hal ini justru jadi kesempatan baik kan buat Lo? supaya Lo bisa balik ke cewek itu.?"
"Van_"
"Harus berapa kali gue bilang sih, Sera cewek uler itu punya banyak laki, elo itu cuma dijadiin mainan dia yang kesekian, paham nggak sih Lo!"
"Aku yang paling tahu Sera seperti apa, jadi kamu stop menjelekkan dia."
"Begoo!! segitu cintanya Lo sama dia sampai buta begini nggak bisa menilai mana kerikil dan mana berlian, sumpah ya, gue nggak ada bangga-bangganya jadi adek Lo." ucap Evan dan berlalu dari hadapan Davin.
"Van, tunggu! kamu mau kemana?"
"Balik lah."
"Van please, jangan ceritain dulu ke mama, biar gue sendiri yang akan cerita."
"Jadi sampai kapan kamu mau menyembunyikan ini dari mama Vin?" ujar seseorang yang sejak tadi berdiri dipojok ruangan tanpa mereka sadari.
.*
*
__ADS_1