Terlilit Takdir Cinta

Terlilit Takdir Cinta
Lagi


__ADS_3

"Aku suka cerita detektif dan aku suka membaca"


Nisita masih diam membisu dan masih ragu untuk mengangkat wajahnya.


"Angkat wajah kamu! Aku mengajakmu bicara" Bisma mulai menggeram kesal.


Nisita tersentak kaget dan langsung mengangkat wajahnya.


Deg! Bisma juga ikutan kaget saat ia menatap Nisita dari jarak yang cukup dekat.


Sial! Dia manis juga ternyata. Batin Bisma.


Jantung Bisma berdegup semakin kencang saat ia teringat kembali peristiwa semalam di mana ia nyaris menyatukan raga dengan Nisita.


Nisita dan Bisma bersitatap cukup lama di dalam keheningan.


Bisma kemudian berdeham sambil menarik buku yang Nisita baca untuk menutupi kecanggungannya.


Nisita membiarkannya.


"Kamu punya selera baca yang bagus. Ini buku pertama yang aku beli. Kasus yang ada di dalam buku ini cukup sulit untuk dipecahkan" Bisma meletakkan kembali buku itu di depan Nisita.


Nisita menunduk sejenak, kemudian menatap Bisma kembali.


"Kau ingin menanyakan sesuatu. Aku bisa melihatnya dari sorot mata kamu. bertanya lah!"


Nisita menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kalau ingin bertanya, bertanya lah!"


"Ta.....tapi, Pak Ray bilang, saya tidak boleh banyak bertanya di rumah ini"


"In ruang baca. Justru aneh kalau kita tidak saling nanya saat kita membahas sebuah buku" Bisma tersenyum geli.


Deg! Tampan sekali dia kalau tersenyum. Nisita langsung menepuk pipinya dan langsung bergumam kembali di dalam hatinya, jangan terpesona pada Iblis ini! Dia tidak bisa dipercaya!


Bisma tersentak kaget dan sontak terkekeh geli saat ia melihat Nisita menepuk pipi alih-alih bertanya padanya.

__ADS_1


Bisma kemudian bertanya di sela senyum gelinya, "Kenapa kau tepuk pipi kamu?"


"Ah! Ada nyamuk, Tuan"


"Masak sih? Aku udah suruh pelayan pasang obat nyamuk elektrik di ruangan ini"


"Mungkin nyamuk tadi nyamuk bandel yang bandelnya mirip sama saya. Jadi, dia menemui saya karena watak kami sama. Sama-sama bandel, hehehehe. Eh! Maaf, Tuan. Saya tidak boleh meringis di depan Anda" Nisita refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


Nisita tmendelik kaget saat ia melihat Bisma tertawa terbahak-bahak alih-alih membentak dia dan memberikan hukuman.


"Tu....Tuan maafkan saya! Jangan hukum saya!"


"Kamu lucu dan sudah menyakiti tertawa lepas. Kamu juga sudah memasak makanan yang sangat lezat untukku. Tentu saja aku tidak akan menghukum kamu. Sekarang kita bahas buku yang kamu baca itu. Karena kamu nggak mau nanya, maka aku yang akan bertanya. Menurut kamu, bagaimana cara memecahkan kasus buku diary hitam yang hilang tanpa ada satu pun petunjuk? Kamu bara baca bab awal, kan?"


"Emm, saya rasa pencurinya adalah wanita yang berlari keluar dan berteriak kalau buku diary hitamnya hilang"


"Wah! Kau cerdas sekali. Aku perlu seharian penuh memikirkannya, tapi kau langsung bisa menemukan pelakunya. Kau memang cerdas. Benar apa kata Chelsea dan Chelsea tidak salah memilih kamu"


"Terima kasih, Tuan"


Kenapa dia jadi baik dan ramah seperti ini. Dia juga tersenyum terus sama aku. Batin Nisita.


Bisma kembali berkata saat Nisita selesai memberikan argumennya atas kasus yang ada di buku kedua, "Bravo! Kau sangat pintar. Aku menyukaimu"


Deg! Mendengar kata aku menyukaimu dari mulut Bisma, Nisita sontak bertanya, "Ke....kenapa Tuan berkata kalau Tuan menyukai sa....saya?"


Nisita dan Bisma kembali bersitatap dalam keheningan.


Bisma kemudian berdeham dan berkata tanpa menatap Nisita, "Aku menyukai kepandaian kamu. Bukan kamunya. Kamu itu bukan tipeku. Rambut kamu lucu, kamu nggak tinggi kayak Chelsea, kulit kamu juga tidak seputih Chelsea"


Nisita kembali menunduk untuk membaca buku dan bergumam di dalam hatinya, iya, benar. Kenapa aku bodoh sekali kepedean dan langsung berasa cantik saat pria aneh ini bilang kalau dia menyukai aku. Dasar bodoh kamu Sita!"


Melihat Nisita menundukkan kepala dan diam membisu. Bisma langsung bangkit berdiri dan bergegas keluar dari ruang baca.


Bisma masuk ke kamarnya dan merenung di sana, "Kenapa aku tadi bisa berkata kalau aku menyukainya? Dasar bodoh kamu Bisma! Cih! Mana mungkin aku menyukai gadis berambut pendek bergelombang kayak gitu. Aku hanya menyukai cewek berambut lurus, hitam, dan panjang seperti Chelsea. Tapi, kenapa aku merasa nyaman mengobrol dengannya. Mungkin karena Chelsea tidak suka membaca, jadi aku tidak pernah membahas buku dengan Chelsea. Pasti karena itu. Iya karena itu. Mana mungkin aku menyukai gadis berambut aneh itu, cih!"


Nisita bergumam, "Dasar sakit jiwa. Marah, tertawa, marah lagi. Galak, ramah, galak lagi. Dasar Pria sakit jiwa"

__ADS_1


Nisita mengangkat wajah untuk melihat jam di dinding dan langsung bangkit berdiri sambil membawa buku untuk ia kembalikan lagi ke rak buku saat ia melihat jam sudah menunjukkan pukul lima.


Nisita kemudian bergegas keluar dari ruang baca dan berlari ke kamarnya untuk mandi sebelum ia berpapasan dengan Chelsea. Ia takut berhadapan kembali dengan wanita itu dan berharap dirinya bisa mendekam di dalam kamar selamanya tanpa bertemu kembali dengan Bisma dan Chelsea.


Namun, harapan Nisita yang ingin mendekam sepanjang malam di kamarnya hanyalah tinggal harapan. Karena di rumah itu Nisita tidak bisa memiliki mimpi dan harapan, semuanya harus sesuai dengan mimpi dan harapannya Chelsea. Nisita hanya bisa melangkah pasrah ke meja sofa saat Mawar masuk ke kamarnya dan berkata, "Anda harus segera makan, lalu kami akan membawa Anda menemui Nona Chelsea" Mawar meletakkan nampan di atas meja.


Nisita makan dengan tangan gemetar. Dia tidak ingin kejadian semalam menimpanya lagi. Satu sendok makan nasi goreng saja rasanya sulit sekali untuk ia kunyah apalagi ia telan. Akhirnya Nisita berkata, "Bawa aku ke Nona Chelsea sekarang juga!"


"Tapi, Anda belum menghabiskan makanan Anda dan Anda belum meminum susu Anda, Nona" Sahid Mawar.


Nisita langsung mengganti habis susunya dan bangkit berdiri sambil berkata "Aku sudah habiskan susunya dan aku malas makan. Bawa aku ke Nona Chelsea sekarang juga biar cepat kelar urusannya daripada aku terus gemetaran seperti ini"


"Baik, Nona. Mari ikut saya!"


Nisita sontak mengerem langkahnya di depan pintu ruangan yang kemarin dan langsung bertanya, "Kenapa ke sini lagi?"


"Nona Chelsea menunggu Anda di dalam ruang seni lukisnya, Nona" Sahut Mawar sambil membuka pintu saat sudah terdengar sahutan masuk dari dalam.


Dari balik pintu geser yang tertutup rapat, Chelsea memberikan perintah, "Mandikan dia seperti kemarin!"


"Tidak! Jangan! Saya belum siap untuk ........"


"Waktunya mendesak. Masa subur kamu hampir habis. Jadi, malam ini kamu harus menyatukan raga dengan Bisma" Sahut Chelsea dengan nada datar dan santai.


"Saya mohon bebaskan saya malam ini! Saya tidak siap dan saya rasa saya selamanya tidak akan pernah siap. Saya dan Tuan Bisma tidak saling mencintai dan......."


"Kau mau menemukan Papa kamu menderita?Atau bahkan menemukan Papa kamu tak bernyawa?"


Nisita langsung bersimpuh lemas di atas lantai dan hanya bisa menangis sesenggukkan di sana dan akhirnya berkata, "Baiklah. Saya akan menuruti semua kemauan Anda, tapi jangan usik Papa saya!"


"Cepat mandikan dia!" Chelsea mulai berteriak tidak sabar.


Seperti kemarin malam, setelah dimandikan dengan aneka rempah dan wangi sabun mahal, Nisita dibawa ke ruang ganti baju dan dipakaikan lingerie dengan model lain yang jauh lebih seksi,namun warnanya sama.


Nisita sontak menoleh ke Mawar dan Mawar berbisik ke telinga Nisita, "Warna merah adalah warna kesukaannya Tuan Bisma"


Deg! Seketika itu jantung Nisita tidak bisa berhenti berdegup kencang.

__ADS_1


Apalagi saat dia diharuskan duduk di tepi ranjang sambil menunggu Bisma datang ke kamar itu. Jantung Nisita berdegup lebih kencang.


Saat Bisma muncul di depannya, Nista sontak melompat ke atas ranjang dan memeluk kedua lututnya di tengah ranjang. Wanita itu menatap nanar Bisma sambil terus bergumam, "Jangan mendekat! Jangan mendekat!"


__ADS_2