
Ciuman Bisma menuntut dan sepenuhnya memanipulasi bibir, lidah, gigi, dan seluruh tubuh pasangan.
Bisma kemudian memegang wajah manis Nisita ketika sedang berciuman. Wanita bertubuh kurus dengan lekuk indah di beberapa bagian tubuhnya itu, tanpa sadar melenguh. Terlebih, ketika lidah pria mulai tergelincir ke dalam mulutnya. Saat ritme ciuman Bisma mulai memanas, Pria tampan dan gagah itu merasa harus memposisikan tangannya di rambut Nisita. Kemudian, pria bercambang tipis itu menarik sejumput rambut wanita berwajah manis itu dan mulai meremas tubuh Nisita, terutama di bagian bawah dada.
Ciuman Bisma liar dan panas. Namun, Bisma melakukannya dengan tidak terburu-buru. Pria tampan itu melakukan ciuman berlama-lama karena dia yang sudah menikah selama lima tahun memiliki pengetahuan bahwa wanita menyukai ciuman yang berlama-lama.
Ketika ciuman Bisma membuat Nisita kehabisan napas, wanita berambut pendek bergelombang dan berwajah manis itu seketika mematung. Ia menyadari dan mencurigai sesuatu, Sebentar! Kenapa Mas Bisma ada di sekitar sini? Apa Mas Bisma berusaha kabur setelah membunuh wanita yang selama ini membayar jasa pembunuh bertopeng dan bertudung yang menjadi buronan polisi nomer wahid?
Nisita sontak menarik tangan Bisma yang menyusup masuk ke blusnya dan meremas tangan itu sampai Bisma melepaskan ciumannya dan menggeram kesakitan.
Nisita kemudian mendorong dada Bisma dan dengan cepat berbalik badan, membuka pintu mobil, dan melompat turun dari dalam mobil mewah itu sambil merutuki kebodohannya yang sesaat terbuai ciumannya Bisma yang memang sungguh-sungguh mematikan.
Bisma sontak menegakkan tubuhnya dan melesat keluar dari dalam mobil untuk menyusul Nisita.
Nisita telah mengancingkan semua kancing blusnya dan saat Bisma mencekal lengannya, ia tengah mengirim pesan text ke letnan Cantika untuk mengirim anak buahnya Cantika dan membekuk puluhan preman yang masih terkapar tak sadarkan diri di atas aspal.
Setelah memasukkan telepon genggamnya ke saku celana panjangnya,Nisita menepis tangan Bisma dan melangkah pergi.
Bisma Kemabli mencekal lengan Nisita sambil berteriak, "Tunggu! Jangan pergi!"
Bisma kemudian menarik Nisita hingga tubuh wanita berwajah manis itu menempel
di dadanya. Ketika kedua bola matanya beradu dengan dua bola matanya Nisita, Bisma langsung berkata, "Maafkan aku! Maafkan semua kelancanganku barusan!"
Nisita mendorong dada Bisma dan segera melangkah mundur, lalu wanita itu bersedekap dan berkata, "Aku tidak memercayaimu. Untuk itu, jangan lancang lagi mencium dan menyentuhku!"
"Kau tidak memercayaiku soal apa?" Bisma menautkan kedua alisnya.
"Semuanya"
"Apa kita pernah kenal sebelumnya?"
"Tidak" Sahut Nisita dengan nada tegas.
"Memori di otakku tidak menyimpan adanya pertemuan kita sebelum kau jadi pengasuh anakku. Tapi, kenapa jantungku, hatiku, dan tubuhku bagaikan kutub magnet yang terus tertuju padamu. Kutub magnet kamu terus menarik kutub magnetku"
"Entahlah" Sahut Nisita acuh tak acuh dan wanita itu langsung berbalik badan saat ia mendengar suara letnan Cantika memanggilnya.
Bisma bergeming di tempatnya berdiri.
Setelah berbincang sejenak dengan letnan Cantika, Nisita melangkah pergi dan Bisma yang sedari tadi terus menatap Nisita langsung berlari mengejar Nisita sambil berteriak, "Sita! Tunggu!"
__ADS_1
Nisita berbalik badan dan langsung menahan dada Bisma saat pria itu ingin memeluk bahunya.
"Ada apa?" Nisita mendelik ke Bisma.
"Hei! Aku ini Bos kamu. Kau berani mendelik ke Bos kamu?"
"Katakan cepat ada apa kau hentikan langkahku!"
Bisma menghela napas panjang dan berkata, "Kalau aku meminta kamu mengawasi Chelsea Istriku, apa kamu bersedia?"
Nisita tersentak kaget mendengar permintaannya Bisma.
"Kenapa kau kaget?"
"Hebat sekali Anda, ya, Tuan Bisma Mahesa yang terhormat. Setelah Anda berciuman dengan Istri Anda dan bercinta dengannya, Anda meminta saya mengawasi Istri Anda, kenapa?"
"Aku mengajaknya berciuman dan bercinta untuk mengalihkan perhatiannya agar aku bisa kembali ke penjara untuk menemui hacker itu, tapi sayangnya hacker itu telah dibebaskan bersyarat. Aku curiga kalau hacker itu memiliki hubungan dengan Chelsea. Selain itu aku curiga kalau anakku bukan anak kandungnya Chelsea. Karena Chelsea tidak pernah mau menyusuinya dan sangat jarang menggendong Mikha"
Akhirnya kau mencurigai Istri kamu juga, Mas. Mikha adalah anak kita. Batin Nisita.
"Kok malah bengong. Kamu mau tidak?" Bisma bersedekap di depan Nisita dengan menautkan kedua alisnya.
"Baiklah. Aku akan mulai mengawasi Istri Anda. Saya permisi. Harus segera pulang, tuan muda menunggu saya"
Chelsea memasukkan telepon genggam rahasianya ke dalam laci rahasia setelah ia menelepon Joseph, kekasih gelapnya. Lalu, wanita cantik itu bersandar di ranjang dan bergumam, "Syukurlah aku bisa mengeluarkan Joseph dari penjara walaupun bersyarat. Paling nggak untuk sementara waktu Joseph bisa tenang dan tidak melakukan hal bodoh yang bisa merugikan aku. Sekarang aku harus memikirkan bagaimana caranya aku bisa mengambil kembali sahamnya Bisma dan mendapatkan kontrak-kontrak penting itu"
Sesampainya di kamar Mikha, Nisita langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah bersih dan wangi barulah ia berani menggendong dan menyusui bayinya.
Mawar langung pamit keluar dari dalam kamar Mikha dan Nisita langsung mengucapkan terima kasih dengan tulus.
Melihat fisik Mikha yang mungil dan rapuh membuat Nisita tidak bisa melepaskan pandangan dari si kecil. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada bayi tampannya. Tak henti-hentinya muncul pertanyaan kepada diri sendiri, “Kok, bayi tampan ini jadi anak Mama? Kamu mewarisi wajah Papa kamu dan mewarisi rambut bergelombangnya Mama. Ah! Mikha kamu tampan sekali" Tidak ada bosan-bosannya Nisita mengucapkan kata-kata itu. Dia sungguh-sungguh mengagumi bayinya. Nisita kemudian menciumi wajah Mikha.
Di tengah-tengah Nisita menyusui Mikha, peri baik hati kembali muncul di depannya Nisita dengan wajah cerah ceria seperti biasanya.
Nisita langsung bertanya, "Apa Anda tahu siapa pembunuh bertopeng dan bertudung yang membunuh saya dan Papa saya?"
"Tidak" Sahut peri baik hati itu dengan senyum santai.
"Apa mungkin Mas Bisma pembunuh bertopeng dan bertudung itu?"
"Bisa jadi" Sahut peri baik hati itu dengan wajah polos tanpa dosa.
__ADS_1
"Hah?! Kalau begitu, kenapa saya harus membuat Mas Bisma mencintai saya"
"Itu salah satu persyaratan untuk membantumu bereinkarnasi"
"Kenapa Mas Bisma dan semuanya di dimensi waktu ini tidak mengenal saya, tapi saya mengenal mereka semua?"
"Karena kamu yang bereinkarnasi"
"Lalu, untuk apa Anda muncul lagi di depan saya? Biasanya kalau Anda muncul, Anda akan memberikan informasi penting ke saya"
"Kali ini nggak. Aku hanya ingin duduk santai sejenak di sini"
"Hah?!" Nisita memekik kaget dan peri baik hati itu langsung meringis, "Hehehehehe"
Dua jam kemudian ibu dan anak itu ketiduran di atas ranjang. Nisita memeluk tubuh mungil Mikha.
Bisma menapakkan kaki di dalam rumahnya dan langsung bertanya ke Mawar, "Sita sudah sampai di rumah?"
"Sudah dari dua setengah jam yang lalu, Tuan" Sahut Mawar.
"Di mana Sita saat ini?"
"Ada di kamar Tuan muda. Sejak pulang tadi, Nona Nisita terus berada di kamar tuan muda"
"Lalu, Chelsea? Dia menengok Mikha tidak?"
"Nona Chelsea tidak ke kamar tuan muda sama sekali sejak tadi. Dan satu jam yang lalu Nona Chelsea pergi keluar" Sahut Mawar.
"Dengan supir?"
"Tidak. Nona Chelsea pergi sendirian" Sahut Mawar.
"Oke. Terima kasih untuk infonya. Aku akan ke kamar"
Mawar langsung membungkukkan badannya dan berkata, "Silakan, Tuan"
Setelah bersih dan wangi, Bisma melangkah ke kamar putranya. Ia membuka pintu kamar yang tidak pernah dikunci.
Bisma melangkah pelan menghampiri ranjang dan tertegun cukup lama melihat Nisita memeluk erat Mikha di atas ranjang.
"Kenapa aku sangat menyukai pemandangan ini? Padahal Sita bukan Istriku dan Sita bukan Mamanya Mikha. Tapi, melihat Sita memeluk Mikha membuat hatiku terasa hangat dan bahagia. Kenapa?" Gumam Bisma lirih.
__ADS_1
Bisma kemudian naik ke sisi ranjang yang berlawanan dengan Nisita. Kemudian, ia menarik selimut untuk menyelimuti Nisita dan Mikha, setelah itu ia menciumi wajah putra tampannya, merapikan rambut Nisita dan terus memandangi wajah wanita itu dengan takjub. Hatinya berdesir hangat dan jantungnya kembali berdegup abnormal saat ia mengelus pelan pipinya Nisita.