Terlilit Takdir Cinta

Terlilit Takdir Cinta
Melarikan Diri


__ADS_3

Ray, terbangun di tempat yang sepi dan sontak mencari tuannya dengan cara menelepon telepon genggam tuannya, " Kenapa tidak dijawab? Anda di mana Tuan? Lalu, kenapa aku bisa berada di tempat ini?"


Nisita bergumam lirih, "Umm, umm" saat ia tidak bisa menggerakkan kedua tangan dan kakinya. Wanita itu kemudian membuka perlahan kedua kelopak matanya, mengerjapkannya sejenak, kemudian tanpa ia perintah, kedua matanya terbuka lebar dan mulut menganga.


Nisita kemudian berkedip dengan cepat saat ia merasa tidak nyaman. Seketika ia merasa takut saat ia menemukan Kedua tangannya diikat di belakang punggung dan kedua kakinya juga diikat dengan posisi ditekuk. Alis Nisita miring ke atas dan mata semakin terbuka lebar, dan dengan mulut yang juga terbuka lebar, Nisita mencoba melepaskan diri dari ikatan di kedua tangannya terlebih dahulu.


"Berhasil! Kenapa pengikatnya terkesan tidak ahli? Dengan mudahnya aku bisa melepaskan ikatannya. Ah!! Bodo amat! Yang penting aku bisa lepas ikatannya dan aku harus segera membuka ikatan di kakiku juga"


Setelah berhasil membuka ikatan di kedua pergelangan tangan dan kedua pergelangan kaki, Nisita bergegas bangkit berdiri, lalu berkacak pinggang sejenak sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, "Kenapa aku bisa ada di sini? Apa Bisma yang membawaku ke sini? Semalam Bisma yang terkahir kali aku temui. Aku berbalik badan, lalu Bisma berteriak memanggilku, dan kemudian aku berakhir terikat di sini" Nisita segera berlari keluar dari kamar mewah itu saat ia berhasil membuka pintu kamar, "Kenapa tidak dikunci?"


"Ini di mana? Kenapa aku bisa berada di kamar dan di rumah mewah ini?" Nisita berlari sambil terus bergumam kebingungan.


Nisita sontak mengerem laju larinya dengan rahang yang menurun, pertanda terkejut,


mulut terbuka, yang kali ini menunjukkan rasa takut. Semua ekspresi itu menjadi satu di wajah manisnya Nisita ketika ia melihat Bisma meringkuk di pinggir kolam renang tanpa ikatan di kedua kaki dan tangan.


Nisita langsung berlari menghampiri Bisma untuk mengecek kondisi Bisma.


"Syukurlah ia masih hidup. Dia cuma pingsan" Kemudian, Nisita mencoba membangunkan Bisma dengan cara menggoyang-goyangkan bahu atasnya Bisma sambil berucap lirih, "Hei! Bangun! Bangun, cepat!"


Bisma bergumam lirih, "Umm" Kemudian mendesis kesakitan, "Sssshhhh" Saat pria itu merasakan pening yang sangat hebat di kepalanya. Pria tampan itu membuka kedua kelopak matanya, memicingkannya, lalu sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya, Bisma duduk bersila di atas lantai untuk mengumpulkan semua kesadarannya.


Tiba-tiba terdengar bunyi, byur!


Bisma sontak melebarkan matanya dan langsung ternganga, kemudian Bisma segera berteriak "Siapa dia, Sita?!"


Bisma melihat Nisita membunyikan lonceng kecil yang ada di pergelangan tangan Nisita.Lonceng pemberian peri baik hati, Nisita pakai menjadi liontin di gelang yang menghiasi pergelangan tangan kirinya.


"Kenapa tidak bisa? Mawar bangunlah! Hiduplah!" Nisita bergumam sembari menangis sesenggukan dan terus membunyikan lonceng. "Kenapa lonceng ini tidak bisa menghidupkan Mawar?" Gumam Nisita di sela isak tangisnya.


Di detik kelima, akhirnya Nisita menyerah dan berenang ke tepian.


"Sita! Siapa itu?!" Bisma kembali berteriak.


"Mawar. Dia sudah meninggal dunia" Ucap Nisita sambil terus berenang ke tepi kolam renang ke arah yang berseberangan dengan tempat Bisma berdiri tegak.


"Hei! Kenapa kau berenang ke sana?!" Teriak Bisma sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


Nisita berdiri di tepi kolam renang dengan satu sisi mulut terangkat, menunjukkan kebencian.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa yang ada di pikiranmu saat ini?" Bisma menatap Nisita dengan wajah panik. Dia panik karena dia takut kalau-kalau Nisita salah paham dan mencurigai dia sebagai pembunuh yang sudah membunuh Mawar. Dia tidak ingin Nisita mencurigainya sebagai pembunuh.


"Kau pembunuh! Kau pembunuh Bisma Mahesa brengsek!" Nisita berteriak ke Bisma dengan sorot mata penuh dengan kebencian.


"Pembunuh apa?!" Bisma berteriak dari sisi kolam renang yang berlawanan dengan Nisita. "Aku juga korban di sini. Aku juga nggak tahu kenapa aku bisa ada di sini dan ada jasad Mawar terapung di sana" Bisma menunjuk ke kolam renang.


"Bohong! Dasar pembohong! Kalau kau korban, kenapa kau tidak diikat? Sedangkan aku diikat. Lihatlah! Ada bekas ikatan di pergelangan tangan dan kakiku" Nisita memeprlihatkan kedua pergelangan tangan kemudian kedua pergelangan kaki ke Bisma.


Bims melihat pergelangan tangannya dan berkata, "Sepertinya aku sempat diikat, lalu dilepaskan ikatanku. Ada tanda samar-samar bekas ikatan di pergelangan tanganku. Lihatlah!" Bisma berjalan mengitari kolam renang dan Nisita sontak berteriak, "Tetap di situ! Jangan bergerak! Tetap berdiri di situ!"


Bisma sontak menghentikan langkahnya dan berteriak "Baiklah! Aku nggak akan bergerak. Sekarang apa mau kamu, hah?!"


"Aku terakhir kali bertemu dengan kamu, lalu aku bangun dan berakhir di sini, di rumah ini maksudku, dalam keadaan terikat. Kau yang membiusku dari belakang dan membawaku ke sini, kan?"


"Membius apa?! Kalau aku membiusmu dan membawamu ke sini, kenapa aku meringkuk di tepi kolam renang dan bukan meringkuk di atas ranjang mewah, hah?!"


"Bisa saja kau tidur sambil berjalan. Dasar psikopat pembohong!!!" Nisita mendelik ke Bisma.


"Sial! Aku berkata sejujurnya saat ini, Sita!" Teriak Bisma.


"Hei! Tunggu! Sita! dress kamu basah, jangan keluar dengan kondisi seperti itu! Sita!" Bisma berteriak sambil melesat berlari menyusul Nisita.


Nisita berhasil sampai di garasi mobil. Ada sekitar puluhan mobil mewah di garasi itu dari sepintas mata Nisita memandang. Gadis manis itu kemudian mengambil baju cleaning service yang tergantung di pos satpam dan berganti baju dengan cepat di sana sebelum si pemilik ruangan kembali entah darimana. Nisita kemudian berlari keluar dari pos satpam itu sambil meremas dressnya yang basah.


Nisita berlari ke ruang panel, dia berhasil meretas tombol di sana dan saat ia mendengar pintu garasi bergerak ke atas, Nisita melesat berlari ke pintu itu dan berhasil keluar dari garasi tersebut.


Bisma segera berlari mengejar Nisita sambil bergumam, "Dia cerdas dan tangguh juga ternyata"


Satpam yang berjaga di garasi tersebut tersentak kaget saat ia kembali dari toilet, "Kenapa pintu garasinya bisa terbuka? Padahal aku tidak membukanya tadi. Pintu itu harus dibuka dari sini dengan password atau kalau nggak pakai remote control yang aku gantungkan di ikat pinggangku. Tapi, Kenapa sekarang bisa terbuka sendiri? Hihhhhhh! apa ada hantu di sini, ya?!? Hihhhhhh" Satpam itu langsung bergidik ngeri.


Bisma kehilangan jejaknya Nisita. Pria tampan itu kemudian memilih untuk menghentikan laju larinya dan menelepon Ray. "Ray jemput aku!"


"Anda di mana, Tuan?"


"Aku tidak tahu. Yang pasti aku ada di kebun jagung. Tapi, aku tidak tahu di daerah mana ini. Pakai alat pelacak ponsel dan cari keberadaanku. Jemput aku secepatnya!"

__ADS_1


"Baik, Tuan" Sahut Ray.


Ray mengurungkan niatnya memberitahukan soal hilangnya Mikha Mahesa. "Aku akan katakan kalau Tuan Mikha dan Mawar hilang nanti aja, kalau aku sudah berhasil menjemput Tuan Bisma"


"Sita, kenapa kau lari dan meninggalkan aku? Kenapa kau tidak memercayai aku?" Gumam Bisma sedih di tempat persembunyiannya.


"Di mana ini? Kenapa ada kebun jagung dan ada rumah mewah di dekat kebun jagung ini? Rumah siapa itu?" Gumam Bisma sambil berkacak pinggang dan mengamati keadaan di sekitarnya.


Wanita berambut pendek bergelombang terus berlari dengan napas menderu dan degup jantung abnormal. Wanita berambut pendek bergelombang dan berparas manis itu terus menyibak pohon jagung yang ada di samping kanan dan kirinya dengan napas terengah-engah.


Ia mendengar suara gonggongan anjing liar, "Sial! Kenapa ada anjing liar di sekitar sini dan sepetinya cukup banyak kalau aku dengar dari gonggongannya?" Saat ia menoleh ke belakang, kakinya terantuk batu dan ia langsung terjungkal ke depan dan berguling-guling di atas tanah. Setelah ia terjatuh dengan posisi terlentang, ia segera bangun untuk bangkit berdiri kembali dan langsung berlari tunggang langgang sekencang-kencangnya.


Nisita berhasil keluar dari kebun jagung, dan masuk ke dalam hutan karet. Gonggongan anjing masih terdengar samar-samar di kedua telinganya. Nisita terus berlari tunggang langgang sambil bergumam, "Semoga anjing-anjing itu tidak menemukan aku dan berhasil mengejarku"


Namun, baru saja Nista menutup mulutnya, di depannya berdiri seekor anjing hutan berwarna hitam dan anjing itu sangat besar.


"Sial! Minggir kau! Seringaian kamu tidak akan mengentikan langkahku! Minggir kalau kau tidak ingin berakhir menjadi rica-rica!" Teriak Nisita sambil memasang kuda-kuda.


Anjing itu meneteskan air liurnya dan langsung melesat maju ke Nisita dengan melompat dan memperlihatkan taring tajamnya.


Nisita berhasil menyarangkan tinju andalannya di wajah anjing itu sambil berteriak, "Ciaaatttt!!!!!!"


Anjing tersebut terjatuh di atas tanah dan kembali bangkit untuk kembali menyerang Nisita dengan wajah yang lebih bengis lagi.


Nisita berhasil menendang perut anjing hutan berwarna hitam itu dengan berteriak, "Ciaaatttt!!!!"


Anjing hutan berwarna hitam besar dan sangat mengerikan itu jatuh terkapar di atas lantai, setelah meringkik kesakitan, anjing itu jatuh pingsan.


Nisita kembali berlari tunggang langgang dan tiba-tiba wanita berparas manis itu menghentikan laju larinya saat ia merasakan telapak kaki kanannya menginjak sesuatu yang sangat runcing. "Ssshhhh!" Nisita mengangkat kaki kanannya dan sambil memejamkan kedua mata dan meringis kesakitan, ia mencabut ranting kecil lancip yang ada di telapak kaki kanannya. "Sial! sakit sekali ini" Ucap Nisita saat ia mencoba menapakkan kakinya.


"Nggak! Aku nggak boleh manja. Aku harus terus berlari" Nista kembali berlari tunggang langgang dengan kaki pincang.


Akhirnya, Nirwana berpihak kepadanya. Ia berhasil sampai di pinggir jalan besar setelah ia melewati kebun jagung dan hutan karet yang cukup luas dan gelap, Ketika ada sinar lampu mobil di jalan raya itu mengenai dirinya, ia refleks mengangkat telapak tangan kanannya untuk melindungi wajahnya.


Lalu, Nisita melompat ke tengah jalan begitu saja sambil mengangkat kedua tangannya ke atas dan melambai-lambaikannya.


Di tengah jalan yang sepi di mana di kanan dan kiri jalan itu terdapat hutan karet, tiba-tiba ada seorang wanita berambut pendek bergelombang menghadang mobil Cantika.

__ADS_1


Ckiiiitttt! Cantika mengerem mendadak mobilnya dan langsung menautkan kedua alisnya sambil berkata, "Aku tidak menabraknya, kan?"


__ADS_2