Terlilit Takdir Cinta

Terlilit Takdir Cinta
Kenapa?


__ADS_3

Nisita kemudian bergumam sendiri sambil melakukan sedan tuanya, "Parfum Mas Bisma wanginya beda dengan si pembunuh bertopeng. Apa aku salah mencurigai Mas Bisma selama ini? Tapi, pembunuh itu juga berkata kalau Mas Bisma yang menyuruhnya untuk membunuh Papa dan aku waktu di pinggir danau. Apakah Mas Bisma pembunuh bertopeng itu? Atau Mas Bisma hanya menyuruh pembunuh bertopeng itu. Lalu, Chelsea? Chelsea memang sangat kejam dan sering menyiksaku. Tapi, dia bukan seorang pembunuh Benarkah? Tapi, Chelsea pernah mencekik aku dan hampir membunuh aku, kan? Dia juga tega mengambil anak yang baru saja aku lahirkan dengan wajah dingin. Benarkah ia tidak tega membunuh orang? Ah! Pusing aku"


Rasa lelah yang teramat sangat, hati dan pikiran yang kacau, membuat Nisita merasa sangat malas pergi ke kantornya Bisma Mahesa dan bertemu dengan pria itu.


Nisita memutar kemudinya ke kanan sambil kembali bergumam dengan sendirinya, "Aku sudah berhasil mengarahkan perhatian Mas Bisma ke Chelsea dengan cara mengungkap hacker itu. Tanpa Mas Bisma ketahui, aku menemukan kejanggalan percakapan Chelsea dan hacker itu waktu aku meretas akun hacker itu. Aku tidak kasih tahu mas Bisma soal ini karena aku memang ingin membuat Mas Bisma mencurigai Chelsea dan menyuruhku meretas akunnya Chelsea. Aku juga ingin mengetahui siapa Chelsea yang sebenarnya"


Begitu keluar dari dalam mobilnya, Ray, asisten pribadinya Bisma Mahesa yang sedari tadi menunggu di lobi, langsung menghampiri Nisita dan berkata, "Mari saya antarkan ke ruang kerjanya Tuan Bisma. Beliau sudah cukup lama menunggu Anda dan beliau........"


"Tidak menyukai keterlambatan" Sahut Nisita dengan cepat.


"Iya benar sekali. Perasaan saya tidak pernah kasih tahu Anda soal ini. Kenapa Anda bisa tahu Nona?"


Nisita hanya tersenyum di depan Ray dan langsung berkata di dalam hatinya, tentu saja aku tahu. Kau pernah katakan itu di kehidupanku dulu.


Ray mengetuk pintu dan langsung terdengar sahutan dari dalam, "Masuk"


Ray membuka pintu dan langung berkata, "Silakan masuk, Nona"


"Saya masuk sendri?"


"Iya" Sahut Ray singkat.


"Baiklah. Terima kasih banyak Pak Ray. Jaga diri Pak Ray baik-baik, ya! Jangan sampai Pak Ray kenapa-kenapa" Nisita tersenyum lalu melangkah masuk.


Ray mengangukkan kepala dan setelah ia menutup pintu, asisten pribadinya Bisma itu langsung bergumam sambil melangkah masuk ke ruangannya sendiri, "Apa maksud ucapan Nona Nisita? Jaga diri dari apa?" Ray kemudian duduk di kursi kerjanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Nisita yang belum pernah menginjakkan kaki di lantai marmer ruang kerjanya Bisma, sontak ternganga dan mengedarkan pandangannya. Dia takjub melihat ruang kerjanya Bisma.


Bisma tersenyum melihat tingkah polosnya Nisita itu. Lalu, pria tampan dan gagah itu berkata, "Aku sudah siapkan meja untuk kamu lengkap dengan laptop, buku, dan alat tulis. Duduklah! Aku ke meja kamu setelah aku menyelesaikan pekerjaanku ini"


Nisita duduk kaku di depan meja dan di sana ia seraya berpura-pura tak tahu bahwa Bisma sedang memperhatikan dirinya. Kesunyian merebak di ruang kerjanya Bisma yang sangat luas dan mewah itu.


Meja Nisita berada di seberang meja Bisma dengan jarak yang bisa dikatakan tidak jauh, namun tidak dekat juga.


Untuk alasan tertentu dan hanya Nisita yang bisa merasakannya, bertukar sapa dengan Bisma Mahesa membuatnya sesak napas. Dia masih memiliki rasa cinta untuk pria tampan dan gagah itu, namun ia juga mencurigai dan membenci pria tampan dan gagah itu. Bahkan mendengar Bisma memanggil namanya ia merasa seolah-olah Bisma menyentuhnya, jantungnya berdegup sangat kencang.Namun, kali ini dia terpaksa menyapa Bisma dengan bertanya, "Berapa nomer telepon genggam Istri Anda, Tuan Bisma?"


Bisma memberitahukan nomer telepon genggam istrinya dan Nisita langsung memulai mencoba meretas semua akun sosial medianya Chelsea Maheswari Mahesa melalui nomer telepon genggam itu.


Nisita memilih asyik menenggelamkan dirinya ke dalam jaringan internet untuk menghindari tatapan, sapaan, dan obrolan dengan Bisma Mahesa. Karena secara tidak langsung mata laki tampan itu menyatakan lebih dari sekadar tatapan dan sapaannya lebih dari sekadar sapaan biasa.


"Apa yang kau temukan?" Suara Bisma terdengar persis di samping telinga Nisita. Wanita itu sontak menoleh dan dengan tergagap ia berkata, "Se......semuanya. Tapi, tolong jangan sedekat ini!"


Alih-alih menegakkan wajahnya, Bisma justru menempelkan pipinya ke pipi Nisita sambil berkata, "Semuanya? Wah! Kau hebat sekali, Sita"

__ADS_1


Nisita berdeham untuk mengusir kecanggungannya, lalu menjauhkan pipinya dari pipi Bisma sembari berkata "Apa yang ingin Anda lihat terlebih dahulu?"


Bisma mengernyit, menoleh ke Nisita dan bertanya, "Kenapa kau menjauh? Dan kenapa kau berkata formal lagi padaku? Di mana Nisita yang kemarin? Di mana Nisita yang berani meremas tanganku, ber-aku dan ber-kamu, lalu mendorongku dan mengusirku keluar dari kamarnya Mikha?"


"Hentikan semua omong kosong Anda. Kita ada di kantor dan Anda adalah bos saya"


Bisma menghela napas panjang dan berkata, "Oke. Sekarang tunjukkan semua temuan kamu ke aku!"


Nisita mengulangi lagi pertanyaannya, "Apa yang ingin Anda ketahui terlebih dahulu?"


"Ada hubungan apa Chelsea dengan Joseph si hacker? Bisma kembali menatap layar laptop


Klik! Maka terpampang lah semuanya. Apa yang disembunyikan oleh Chelsea dari Bisma, terbuka semuanya di depan Bisma.


Bisma sontak menoleh tajam ke Nisita dan berkata, "Dasar menjijikkan! Chelsea bahkan menyimpan aktivitas ranjangnya dengan pria itu. Dasar wanita gila!"


"I.....ini kenyataan yang ada" Nisita tergagap ketika tatapannya Bisma menjadi tajam dan dingin.


Dengan gugup wanita berparas manis itu membasahi bibirnya dan berkata, "Jangan menatap saya terus seperti itu! Istri Anda yang berselingkuh, tapi kenapa Anda menatap saya seolah saya yang berselingkuh"


"Lebih baik aku menatap kamu daripada menatap layar laptop dan melihat kenyataan pahit bahwa istriku telah berselingkuh selama ini. Chelsea menipuku selama bertahun-tahun dan aku tidak mengetahuinya, sial!"


"Tapi, saya tidak nyaman Anda terus menatap saya seperti itu"


Mendengar Bisma memujinya, bulu Roma Nisita berdiri. Suara Bisma tidak lagi terdengar kasar, melainkan lembut dan serak. Nisita ingat seperti inilah dulu suara Bisma bila berbicara kepadanya, sewaktu mereka saling berpelukan dengan tubuh polos di atas ranjang.


Nisita sontak bangkit berdiri mendorong kursi, lalu melangkah ke kiri menjauhi Bisma Mahesa.


Bisma memiringkan bibirnya lalu berkata, "Aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh padamu. Kenapa kau ketakutan seperti itu?"


"Karena saya tidak memercayai Anda"


Bisma kemudian berkata, "Aku tinggalkan kamu di sini sebentar! Lanjutkan perejraan kamu sekalian tolong kau bentengi lebih kuat lagi akunku!"


"Baik" Sahut Nisita singkat.


Bisma kemudian berputar badan dan pergi meninggalkan Nisita untuk berdiskusi dengan Ray terkait kenyataan pahit yang ia temukan tentang Chelsea.


"Kau sewa orang untuk membuntuti Chelsea ke mana pun ia pergi sekarang juga. Dia sudah tega berselingkuh dariku selama ini"


"Baik. Tuan. Lalu, apa yang harus saya lakukan pada Nona Chelsea?"


"Biarkan saja. Aku akan pura-pura tidak mengetahui perselingkuhannya sampai semua bukti perselingkuhannya aku lemparkan ke wajah menjijikkannya itu" Sahut Bisma.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Maaf sebelumnya, emm, kalau Nona Chelsea berselingkuh, lalu apakah Anda sekarang ini juga mencurigai tuan muda?"" Sahut Ray.


"Sial! Kau benar. Lakukan juga tes DNA hari ini" Sahut Bisma.


"Baik, Tuan" Sahut Ray.


Sepeninggalnya Ray, Bisma kembali ke ruangannya.


Bisma menemukan Nisita tengah melamun di depan pagar balkon besi tempaan bermotif sulur.


Bisma membuka pintu geser yang menuju ke balkon tanpa bersuara dan melangkah pelan menghampiri Nisita.


Nisita tersentak kaget saat ia menemukan Bisma berdiri di sampingnya.


Nisita bergeser menjauhi Bisma saat ia menemukan bahu Bisma menempel di bahunya.


Bisma menghela napas panjang dan bertanya, "Kenapa kau melamun di sini? Apa yang kau pikirkan?"


Nisita menyahut tanpa menoleh ke Bisma, "Bukan urusan Anda"


"Apa yang sudah aku lakukan, kenapa kau terus menjauh dariku, Sita? Apa yang sudah aku lakukan, kenapa kau selalu ketus padaku? Apa yang sudah aku lakukan, kenapa kau terus berkata kalau kau tidak memercayaiku?" Bisma terus menatap Nisita dari samping.


Nisita mendengus kesal, lalu berbalik badan dan masuk ke dalam ruang kerjanya Bisma tanpa mengindahkan keluh kesahnya Bisma itu.


Bisma menahan lengan Nisita sambil berkata, "Tunggu!"


Nisita terkejut dan kakinya tergelincir. Wanita berwajah manis itu jatuh dan mendarat manis di dalam pelukan hangatnya Bisma.


Bisma dan Nisita bersitatap dengan degup jantung abnormal.


Bisma tersenyum lalu berkata, "Kau belum menikah. aku tahu itu dari CV kamu. Lalu, apakah kamu punya pacar?"


Nisita langsung mendorong dada Bisma dan berbalik badan kemudian bergegas berlari masuk ke dalam ruang kerjanya Bisma.


Bisma terkekeh geli melihat tingkah polosnya Nisita. Lalu pria tampan itu bergumam sambil mencubit dagu, "Dia selalu ketus sama aku. Tapi, dia selalu merona malu setiap kali aku menyentuh atau memeluknya. Kenapa, Sita?"


Chelsea berjabatan tangan dengan seorang pria aruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan di dalam restoran mewah sambil berkata, "Terima kasih atas kerja sama Anda"


"Tidak masalah. Aku juga membenci Bisma Mahesa. Dengan senang hati aku akan menjatuhkannya. Aku akan bantu kamu mencuri kembali semua sahamnya Bisma"


Chelsea menarik tangannya dan berkata, "Setelah membantu saya menjatuhkan Bisma, apa Anda bersedia membantu saya mendapatkan hak waris Mahesa Grup yang jatuh di tangan Mikha Mahesa putra saya?"


"Tentu saja. Tapi, ada syaratnya kalau soal ahli waris itu" Sahut pria baruh baya itu.

__ADS_1


__ADS_2