
"Lalu, kau siapa?" Nisita menoleh tajam ke pria bertopeng putih yang hanya menampakkan dua bola mata hitam yang tampak kelam.
"Kau tidak bisa menebak siapa aku? Sial! Padahal kita sudah menghabiskan banyak waktu yang sangat indah bersama-sama" Sahut pria bertopeng itu.
Nisita menggelengkan kepala dengan masih menatap nanar pria bertopeng yang berdiri tegak di depannya.
"Aku Bima Mahesa. Kalau aku berkata seperti itu, apa kau percaya?"
"Nggak! Kau bukan Bisma Mahesa. Postur tubuh, gerak-gerik, dan suara kamu beda jauh dengan Bisma Mahesa" Sahut Nisita dengan nada datar.
"Hahahahahaha!!!!! Kau jeli juga ternyata, Sita. Aku semakin mengagumi" Sahut pria bertopeng itu.
"Pa.....Papa? Apa kamu Papaku?"
"Cih! Siapa yang kau panggil Papa, hah?! Kamu hanyalah anak haram yang menjijikkan. Mama kita berselingkuh dan melahirkan kamu" Pekik Chelsea dengan mata melotot.
Nisita menoleh pelan ke Chelsea sambil bertanya dengan jengah, "Sebenarnya yang mana yang benar? Aku ini anak pungut atau anak haram?"
"Itu tidak penting. Yang penting adalah kau pantas mati. Kali ini mati untuk selama-lamanya tanpa bisa bereinkarnasi lagi. Untuk itu aku akan membakar kamu di tempat ini" Chelsea berucap dengan seringai menakutkannya.
"Nggak!" Pria bertopeng langsung menoleh tajam ke Chelsea.
Chelsea tersentak kaget dan sontak menoleh ke pria bertopeng itu sambil menyembur, "Kenapa nggak, hah?!"
"Aku akan berikan apa pun yang kau mau kalau Sita kau serahkan padaku" Sahut pria bertopeng itu.
"Nggak! Dia harus mati hari ini juga. Untuk apa kamu undang aku ke sini kalau kau tidak ingin membunuh wanita bodoh ini, hah!" Chelsea memekik kesal sambil mendekap erat bayi yang masih ia gendong.
"Aku nggak mau dia mati! Aku ingin memilikinya untuk selamanya. Memilikinya untuk aku. Hanya untuk aku. Aku undang kamu ke sini karena aku ingin kau jadi saksi pernikahan aku dengan Sita. Aku sudah undang petugas pencatatan sipil ke sini. Dia ada di sana. Masih pingsan" Pekik pria bertopeng itu tidak kalah kesalnya.
__ADS_1
"Dari awal kau hanya anak buahku. Walaupun kamu ternyata kaya raya dan bahkan lebih Kya dari Bisma Mahesa, tapi kau tetaplah anak buahku Kau tidak bisa ambil keputusan sendiri atas wanita ini. Kau dengar aku, hah?!"
"Aku akan membunuh siapa saja yang berani menghalangi aku memiliki Sita. Aku sangat mencintainya" Pria bertopeng itu berteriak kesal ke Chelsea dan mulai menggeram tidak sabar.
"Nggak bisa! Kau tidak bisa ambil keputusan sendiri. Dan kau bodoh sekali kau! Kenapa kau bisa mencintai wanita berambut aneh kayak gini, hah?! Masih banyak wanita cantik di sana yang jauh lebih menarik dari wanita ini. Contohnya aku. Kenapa kau tidak memilih aku, hah?!"
Pria bertopang itu mulai menggeram penuh amarah dan kesabarannya sudah habis saat ia mulai mengepalkan kedua tinjunya. "Aku menyesal mengundang kemari. Sekarang pergilah! Aku tidak butuh saksi seperti kamu"
Melihat dua orang di depannya berdebat hebat, Nisita langsung memanfaatkan keadaan untuk melompat-lompat terus ke belakang karena ia berniat menabrakkan bangku kursi itu ke tembok yang ada di belakangnya.
Chelsea masih ngotot, "Nggak bisa! Aku tergesa-gesa ke sini sampai lupa bawa bayi ini dan ..........."
Bruak!!!!!!!!!!
Chelsea dan pria bertopeng itu menoleh kaget ke asal suara Bruak!!!!!!! Kedua orang yang berhati kejam itu langsung menghadapkan badan mereka secara bersamaan ke Nisita yang sudah berhasil melepaskan diri dari ikatannya.
Nisita sontak berteriak, "Tidak!!!!!" Sambil berlari mendekati Chelsea yang tengah mencekik bayi malang tak berdaya itu.
Pria bertopeng menghalangi laju larinya Nisita dan Nisita langsung mendaratkan tendangan maut ya
Nisita berhasil menghidupkan bayi malang yang di beberapa detik yang lalu dicekik mati oleh Chelsea Maheswari Mahesa dengan lonceng pemberian dari peri baik hati. Lalu, wanita berparas manis dan berambut keriting seksi itu, mendekap bayi malang yang menangis kencang sambil melotot ke Chelsea ia bangkit berdiri dengan pelan.
"Ngapain kamu melotot, hah?! Aku nggak bodoh kayak kamu, hahahahahaha! Aku nggak mungkin membunuh Mikha Mahesa. Dia adalah ahli waris Mahesa Grup. Kalau Mikha mati, aku akan kehilangan segalanya, dasar bodoh! Hahahahahaha"
"Lalu, kenapa kau bawa bayi malang ini ke sini?"
"Dia bayi yang baru lahir. Aku baru saja membunuh ibunya pas pria bertopeng itu menyuruhku ke sini. Jadi, ya, sekalian aja aku bawa bayi yang baru lahir beberapa jam yang lalu itu ke sini. Bayi perempuan itu akan aku pelihara dan aku didik menjadi anak buahku nanti"
"Kau! Dasar wanita Iblis! Kenapa kau bunuh ibu dari bayi malang ini?" Nisita berteriak sembari mendekap dan menimang bayi perempuan itu.
__ADS_1
Chelsea langsung melesat maju dan mendorong Nisita sampai punggung Nisita membentur tembok, lalu dengan cepat Chelsea mengambil pistol dari balik punggungnya dan mengarahkannya ke kepala Nisita sambil berteriak, "Matilah kau!!!!!"
Pria bertopeng langsung bangun setelah ia tersadar dari pingsannya dan pria bertopeng itu langsung melesat untuk mendorong Chelsea dan memeluk Nisita.
Pria bertopeng itu mendekap erat Nisita dan bayi itu saat mereka terjatuh di atas lantai dan berguling-guling di lantai.
Terdengar suara, doooor! Tepat di saat Nisita terjatuh di atas dada pria bertopeng itu dan terkesiap kaget saat topeng itu terlepas.
"Kau pria yang mengundangku makan bareng di lantai dua restoran cepat saji"
"Kau ingat siapa aku sekarang? Lalu, apakah kau ingat masa lalu kita?"
Nisita menggeleng cepat sambil bangkit berdiri dan mendekap erat bayi perempuan yang berhasil ia hidupkan kembali. Lalu, Nisita membantu pria bertopeng itu bangun sambil berkata, "Beruntung kita tidak tertembak dan berhasil berguling di balik meja besar ini"
"Kau tidak dendam padaku?"
"Kau sudah menyelamatkan aku dan bayi ini barusan. Kita anggap impas semua dendam kita. Sekranga yang terpenting adalah bagaimana kita keluar dari tempat ini dan menjatuhkan Chelsea" Sahut Nisita.
"Kalau aku bisa menyelamatkan kamu dan menjatuhkan Chelsea saat ini juga, apa kamu mau pergi denganku dan menikah denganku?"
Nisita terpaksa menganggukkan kepalanya dengan pelan karena ia memikirkan keselamatan bayi perempuan yang sudah berhasil ia bawa kembali dari jurang kematian.
"Baiklah. Kamu tetap di sini. Aku akan keluar"
Nisita menahan lengan pria itu, "Jangan!"
Pria berwajah tampan itu melihat lengannya dengan senyum bahagia. Dia bahagia tangan Nisita menyentuh lengannya dan dia bahagia karena Nisita mengkhawatirkan dirinya. Lalu ia menatap Nisita untuk berkata, "Chelsea nggak akan mencelakai aku"
"Di sana. Aku yakin kalau Nisita ada di rumah besar yang bangunannya mirip seperti gudang itu" Ucap Cantika sambil mengendap-endap menuju ke rumah besar itu. Bisma dan anak buahnya Cantika langsung mengekor langkahnya Cantika.
__ADS_1