Terlilit Takdir Cinta

Terlilit Takdir Cinta
Degup Jantung


__ADS_3

"Saya berhasil mengelabui kepala pelayan di rumah Tuan Bisma dan langsung berlari masuk ke mobil ini. Semoga saja kepala pelayan wanita itu tidak dihukum oleh Tuan Bisma. Saya hanya bisa mendoakannya. Saya terpaksa menempatkannya di dalam bahaya karena saya ingin menyelamatkan diri saya. Saya nggak bisa tinggal di sana lagi. Saya nggak sanggup. Sekarang tolong lakukan kembali mobilnya, Pak. Tolong bawa saya pulang dan saya akan kabur ke desa kelahirannya Papa dan bersembunyi di sana selamanya"


Rio hanya mampu mengerjapkan matanya sebanyak dua kali melihat Nisita terus nyerocos tanpa henti.Dia sangat mencintai Nisita dan sungguh-sungguh ingin membawa Nisita kabur. Tapi, dia juga sangat mencintai keluarga dan adik perempuannya yang masih berumur tujuh belas tahun. Dia tidak rela kalau adiknya harus menggantikan Nisita.


Rio kembali menghadapkan wajahnya ke depan dan tanpa berkata apa-apa dia melajukan kembali mobilnya.


Rio memilih jalan memutar agar Nisita tidak curiga kalau dia akan membawa Nisita kembali ke kediamannya Bisma Mahesa.


Nisita merebahkan kepalanya ke jok mobil dan memejamkan matanya sambil berkata, "Saya tidur sebentar, ya, Pak. Saya semalaman tidak bisa tidur"


"Hmm. Tidurlah" Rio langsung berkata di dalam hatinya, maafkan aku Sita, aku tidak bisa menolongmu kali ini.


Kepala pelayan di kediamannya Bisma Mahesa, yang bernama Mawar itu langsung panik dan berlari mengelilingi halaman belakang sambil melongok ke beberapa pohon besar yang ada di sana untuk mencari keberadaannya Nisita.


"Aku tinggal sebentar ke toilet saja, Nona Nista, kok, hilang? Apa Nona ke halaman depan, ya?" Mawar langsung berlari kencang ke halaman depan setelah mencari selama lima belas menit di halaman belakang dan belum menemukan keberadaannya Nisita.


Nisita sontak membuka kedua matanya dan dia membeliak kaget, "Kenapa Pak Rio membawa saya kembali ke sini?"


"Maafkan aku, Sita. Aku akan mencari cara melolong kamu nanti, tapi tidak sekarang. Keluarga dan adikku taruhannya. Tolong turunlah dari dalam mobilku sebelum Tuan Bisma menemukan kita ada di dalam mobil seperti ini"


Dengan sangat terpaksa Nisita melangkah keluar dari dalam mobil. Lalu, ia berdiri tegak menatap nanar mobil Rio Hartawan berputar dan pergi meninggalkannya.


Air mata kembali menetes di pipinya dan dengan cepat ia hapus air mata itu dengan punggung tangannya.


Mawar langsung memeluk erat tubuh Nisita dari arah belakang saat ia melihat Nisita berdiri tegak di tengah teras depan sambil berkata, "Syukurlah Nona! Saya bisa menemukan Anda. Kalau tidak, Tuan pasti menembak mati saya"


Deg! Nisita langsung berputar badan dan memeluk Mawar lalu berkata, "Maafkan saya saya tidak akan membiarkan kamu dalam bahaya lagi. Maafkan saya!"


"I.....iya, Nona. Sekarang lepaskan pelukan Anda dan kita masuk kembali ke dalam"


"Hmm" Nisita melepaskan pelukannya dan kembali masuk ke dalam rumah dengan lemas.


Nisita kemudian bergumam di dalam hatinya, Semua takut sama Tuan Bisma. Aku sendirian di dunia ini. Tidak ada orang yang bisa menolongku. Tapi, aku juga tidak bisa kabur dari sini kalau hanya mengandalkan diriku sendiri. Padahal lusa, Nona Chelsea sudah pulang dan pastinya aku dan Tuan Bisma harus menjalankan kewajiban sebagai suami istri. Arrrghhhhh! Bagaimana ini?


"Ini kamar Anda yang sebenarnya, Nona. Yang kemarin adalah galeri lukisnya Nona Chelsea. Anda bisa beristirahat di sini"

__ADS_1


"Saya tidak bisa duduk diam saja. Apakah saya boleh memasak di dapur?"


"Emm, Anda tunggu dulu di sini. Saya akan menghadap ke Tuan Bisma untuk menanyakan soal ini"


"Terima kasih" Nisita memberikan senyum tulusnya ke Mawar.


Tok, tok, tok. Mawar mengetuk pintu ruang kerjanya Bisma yang berada di lantai satu.


"Masuk!" Suara Ray yang terdengar.


Mawar kemudian membuka pintu, melangkah masuk dan langsung menundukkan wajahnya.


"Ada apa?" Tanya Ray.


"Nona Nisita ingin memasak di dapur. Apakah Tuan mengjjinkannya?"


Ray langsung menoleh ke meja kerja tuannya.


Bisma mengangkat wajahnya dan berkata, "Biarkan dia lakukan apa pun yang ia sukai"


Ray, menoleh ke Mawar dan berkata, "Kau sudah dengar apa kata Tuan, keluarlah!"


Nisita masih berdiri di depan pintu kamarnya, "Gimana, boleh?"


"Boleh, Non"


"Ah! Ayo kita ke dapur kalau begitu" Nisita langsung semringah. Paling nggak dia bisa mengalihkan gundah di hatinya dengan memasak.


Mawar tersenyum melihat wajah ceria istri kedua tuannya itu dan ia langsung mengekor langkah Nisita.


Mawar menyuruh chef dan seluruh timnya yang selalu memasak di rumah Bisma untuk keluar dari dapur.


Nisita lalu menoleh ke Mawar, "Makanan kesukaan Tuan Bisma, apa?"


"Saya tidak tahu, Non. Nona Chelsea yang mengatur menu makan di rumah ini dan Tuan Bisma selalu memakan apapun yang terhidang di meja makan tanpa mengeluh"

__ADS_1


"Emm, yang sering terhidang di meja makan apa?" Nisita langsung mengganti pertanyannya.


"Emm, nasi goreng dan olahan seafood"


Nisita membuka kotak besar yang mirip kotak freezer dan langsung tercengang, "Wah! Lengkap sekali isinya. Seperti di minimarket,nih, hehehehe. Aku akan masak udang asam manis dan emm..........sup iga sapi aja kalau begitu"


"Baiklah. Saya akan suruh anak buah saya membantu Anda, Non"


"Hmm. Terima kasih"


"Sudah waktunya makan siang, Tuan"


"Hmm. Ayo kita ke ruang makan" Ajak Bisma.


"Baik" Ray langsung mengekor langkah tuannya.


Bisma refleks melangkah masuk ke dalam dapur saat indra ciumannya mencium wangi masakan yang sangat harum dan Ray masih mengekornya. Bisma mengerem langkahnya dan tertegun saat ia melihat dari belakang Nisita memasak sambil bersenandung riang dan menggoyangkan pantatnya.


Ray melirik tuannya dan melihat wajah tuannya mengulas senyum. Ray jarang melihat tuannya tersenyum lepas seperti itu. Bahkan saat bersama dengan Nona Chelsea, Tuannya jarang tersenyum lepas seperti itu. Pasti karena Tuan sudah menikah selama lima tahun dengan Non Chelsea, jadi, jarang tersenyum sekarang ini. Begitu pikir Ray. Namun, hari ini Ray kembali melihat senyum lepas tuannya yang sangat ia rindukan.


Nisita berputar badan untuk memindahkan sup iga sapi dari panci ke wadah tahan panas dan sontak membeku saat ia melihat Bisma Mahesa ada di dapur, berdiri tegak dan tengah menatapnya.


Bisma langsung berputar badan untuk menyembunyikan senyum di wajahnya dan berkata, "Cepat bawa semuanya ke meja makan! Aku sudah lapar"


"Baik, Tuan"


Dengan tergesa-gesa dan gugup Nisita memindahkan sup iga sapi ke wadah tahan panas dan karena tergesa-gesa dan gugup ia menjadi ceroboh saat meletakkan panci yang telah kosong ke wastafel. Tangannya terkena kuping panci yang masih panas dan spontan menyemburkan, "Aduh!"


Bisma berputar badan kembali dan langsung berlari untuk mengecek Nisita, "Ada apa?"


"Nggak papa, tangan say cuma ........"


Bisma langsung memegang tangan Nisita dan menghidupkan keran air lalu mengguyur tangan Nisita dengan air dingin.


Deg,deg,deg,deg, Kembali terdengar degup jantung dan keduanya belum menyadari degup jantung siapa itu.

__ADS_1


Setalah mematikan keran, Bisma melepaskan tangan Nisita, lalu meninggalkan Nisita sambil berucap, "Cepat ke meja makan!"


"Baik, Tuan"


__ADS_2