
Nisita kembali meringkuk di atas ranjang dan bergumam, "Aku tidak bisa bela diri, tidak punya uang sama sekali, lalu bagaimana aku bisa pergi dari sini? Andaikan aku bisa melompati pagar rumah ini, lalu apa? Aku tidak punya uang. Yang ada, aku cuma bisa berdiri bengong di jalanan dan hanya akan ditangkap lagi dan mendapatkan hukuman yang lebih mengerikan dari ini"
Keesokan harinya, Bisma bangun dan langsung memeluk kertas yang lebih tebal dari kertas HVS dan kertas berwarna merah itu dilemparkan oleh Chelsea.
Sambil mengucek mata, Bisma duduk bersandar di ranjang dan bertanya, "Apa ini?"
"Itu pemberitahuan baru untuk kamu" Chelsea berucap dengan masih berdiri tegak di depan ranjang dan bersedekap.
Bisma buru-buru membaca kertas itu, sontak ia menengadahkan wajahnya, menatap Chelsea dengan sorot mata tajam sambil menggeram, "Kenapa semua sahamku bisa beralih ke kamu dan saham Pak Hartono juga? Kamu memiliki enam puluh lima persen saham di Mahesa Grup? Bagaimana bisa?"
"Akhirnya impianku tercapai. Kamu sekarang adalah bonekaku. Untuk itulah aku mencarikan kamu wanita yang mau dan bisa mengandung anak kamu, agar kamu punya keturunan dan posisi kamu sebagai Presdir dan ahli waris di Mahesa Grup tetap kokoh dan agar saham Mahesa Grup yang sudah ada di tanganku tidak jatuh semuanya ke tangan adik tiri kamu"
"Kau........." Mahesa langsung merobek kertas berwarna merah itu dengan penuh amarah.
"Apa? Hah?! Sobek aja, Sayang. Itu hanya salinan. Yang asli tentu saja sudah aku simpan di tempat yang aman"
"Kenapa kau tega? Aku selalu menuruti semua keinginan kamu karena aku sangat mencintai kamu. Kenapa kau tega?!" Bisma melompat dari atas tempat tidur dan langsung berdiri di depannya Chelsea dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Aku sebenarnya tidak ingin memberitahu soal ini ke kamu secepat ini. Tapi, aku pikir aku perlu berjaga-jaga agar kau tidak memiliki niat ataupun keberanian untuk menyukai atau bahkan mencintai istri kedua kamu itu. Istri kedua kamu itu hanya bonekaku. Boneka yang aku pakai untuk meneruskan keturunan kamu. Jadi, jangan pernah berani mencintai wanita hina dari kelas rendahan itu! Mengerti?!"
Mendengar Chelsea mengeluarkan kata hinaan ke Nisita, Bisma sontak mengangkat tangannya dan Chelsea langsung mendelik, "Apa?! Kau ingin mencekik aku, memukul aku? Lakukan, ayo lakukan!"
Bisma menghempaskan tangannya ke udara dengan wajah merah padam menahan amarah.
"Apa kau menyukai gadis itu? Karena kalau iya, aku akan buang gadis itu sekarang juga. Mengirimnya ke rumah bordil milik temanku dan aku akan cari gadis yang lain lagi untuk kamu" Chelsea menatap Bisma penuh selidik.
"Hentikan! Aku tidak menyukai gadis itu. Aku sama sekali tidak menyukai gadis itu. Dia bukan tipeku. Kau tahu, kan, aku benci cewek berambut pendek apalagi rambutnya bergelombang, cih!" Bisma terpaksa berbohong dan mengingkari hati nuraninya yang sejatinya sudah mencintai Nisita, demi keselamatannya Nisita.
"Benarkah? Lalu kenapa waktu kamu bermain dengan gadis itu di ranjang, kamu sangat menikmatinya dan bahkan kamu ketiduran di samping wanita menjijikkan dan murahan itu?" Chelsea menatap lekat kedua bola matanya hitamnya Bisma untuk mencari sinar kebohongan di sana.
__ADS_1
Bisma ingin berteriak kencang, berhenti menghina Nisita! Namun, ia tahan kata-kata itu dengan sekuat tenaga di dalam hatinya.
Alih-alih menjawab rentetan pertanyaannya Chelsea, Bisma menggeram, "Jadi, selama ini kamu membohongiku? Lalu, bagian mana dari diri kamu yang asli? Apa benar kau mencintai aku?"
Chelsea memeluk pinggang Bisma dengan kedua lengannya dan berkata dengan senyum cantiknya, senyum yang selalu dipuja oleh Bisma, "Kalau aku tidak mencintai kamu, kenapa aku rela berkorban waktu dan perasaan untuk mencari wanita yang mau dan bisa melanjutkan keturunan kamu"
Bisma mengepalkan tinjunya dan berkata di dalam hatinya, oke. Aku akan diam mengalah sampai aku bisa mendapatkan kembali semua saham dan menyelamatkan Nisita. Aku akan ikuti permainan kamu. Aku akan menjadi boneka penurut kamu, Chelsea Istriku tersayang.
"Aku pun hanya mencintai kamu" Ucap Bisma dengan mengulas senyum palsu.
"Kamu nggak marah soal saham yang aku rebut?" Chelsea mengusap lembut pipi Bisma.
"Nggak dong. Bukankah milikku adalah milik kamu juga" Bisma kembali mengulas senyum palsu.
"Lalu, kenapa tadi kamu marah dan merobek kertas yang aku kasih, Sayang?" Chelsea mengusap lembut dada bidangnya Bisma.
"Kamu tahu benar kalau aku paling benci dibangunkan di pagi hari pas hari libur dan aku merobek kertas tadi karena kesal dibangunkan di pagi hari pas hari libur bukan karena sahamnya"
Chelsea dengan terpaksa menarik bibirnya dari bibir Bisma saat ia mendengar pintu kamar diketuk sebanyak tiga kali, "Masuk!" Pekik Cheslea dengan wajah kesal.
"Aku mandi dulu" Ucap Bisma sambil berlari ke kamar mandi saat ia melihat Mawar melangkah masuk.
"Ada apa?"
"Kue ulang tahunnya sudah datang dan diletakkan di teras dekat kolam renang, Nona. Sudah ada beberapa tamu yang datang dan mencari Anda, Nona. Sama, emm, anu, saya ingin bertanya,emm, apakah saya sudah boleh mengantarkan makanan ke Nona Nisita? Kalau tidak diberi makanan sekarang juga maka Nona Nisita bisa meninggal dunia dan........."
"Oke! Kasih dia makan dan antarkan baju ganti ke dia! Tapi, jangan biarkan dia keluar dari sana. Aku tidak ingin dia merusak pesta ulang tahunku"
"Baik, Nona. Saya permisi" Sahut Mawar.
__ADS_1
"Sayang! Aku ke depan dulu! Beberapa tamu undangan sudah datang" Teriak Chelsea dan Bisma langsung mematikan keran dan menyahut dari dalam kamar mandi, "Baiklah! Aku segera menyusul"
Bisma menghidupkan keran kembali dan mengguyur kepalanya dengan air hangat sambil bergumam lirih, "Sial! Ternyata selama ini aku menikah dengan seorang Iblis berwajah bidadari. Sial!"
Bisma kemudian melangkah keluar dari dalam kamarnya dengan malas. Dia sebenarnya tidak menyukai pesta dan keramaian apalagi di setiap ulang tahunnya Chelsea, yang datang semuanya adalah temannya Chelsea. Pesta pagi sampai siang untuk teman-temannya Chelsea dan malam hari pesta untuk keluarga inti.
Bisma melonjak kaget saat pinggangnya dipeluk dan ia menoleh, lalu ia mendapatkan kecupan di bibir dari Chelsea. Bisma kembali mengulas senyum palsu.
Chelsea mengajak Bisma melangkah menemui semua tamu sambil berbsisik, "Malam ini dan sampai bulan depan, kau tidak aku ijinkan bertemu dengan Nisita"
Bisma berusaha bersikap santai dan acuh tak acuh. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin menyemburkan kata, apa dan kenapa.
Melihat Bisma tampak acuh tak acuh, Chelsea tesengyum senang dan wanita itu berkata di dalam hatinya, ah! Ternyata Bisma memang tidak menyukai wanita itu. Aku saja yang terlalu cemburu dan berpikir berlebihan.
Lalu, Chelsea kembali berbisik, "Tunggu masa subur gadis itu selanjutnya!"
Bisma langsung berkata, "Terserah kamu saja"
Dua jam berada di hiruk pikuk musik dan obrolan wanita-wanita kelas atas, Bisma merasa bosan setengah mati. Akhirnya ia melipir saat ia memijat Chelsea tengah asyik bernyanyi dan menari dengan teman-teman sesama artisnya.
Bisma melipir ke paviliun yang ada di belakang rumahnya dan terneyum senang saat ia melihat tidak ada penjaga di sana. Bisma menelepon Ray, "Ray, bawakan kunci paviliun belakang, cepat!"
Lima menit kemudian Ray muncul di depan tuannya dan menyerahkan kunci paviliun itu
Bisma langsung berkata, "Aku akan masuk dan tolong kamu berjaga di depan pintu"
"Baik, Tuan"
Nisita yang baru keluar dari dalam kamar mandi dan hanya mengenakan lilitan handuk, tersentak kaget melihat tuannya dan langsung berdiri mematung di depan tuannya.
__ADS_1
Nisita dan Bisma bersitatap dengan degup jantung yang tidak biasa.