
Nisita mengucapkan terima kasih ke pengawalnya Bisma yang telah membawa box bayi dan meletakkannya di kamar.
Setelah membersihkan dan merapikan box bayi, Nisita berjalan ke kamar mandi. Saat ia berdiri di kaca besar yang ada di kamar mandi, jemarinya mengenai bibir yang masih terlihat bengkak akibat ciuman semalam. Ia telah bercinta habis-habisan dengan Bisma Mahesa semalam. Liar dan penuh dengan perasaan cinta yang masih terasa samar di hati wanita berparas manis itu.
Ia tidak mungkin masih mencintai Bisma Mahesa. Itu lebih ke tidak boleh kalau mungkin bisa saja. Karena Bisma Mahesa adalah sosok pria dengan sejuta pesona. Ia tidak boleh mencintai pria itu. Pria itu bisa saja pembunuh bertopeng itu, atau pria itu bisa saja orang yang telah membunuh Mawar. Isak tangis kepanikan menakutkan muncul di tenggorokannya.
Ibu peri baik hati tiba-tiba muncul di samping Nisita dan Nisita menatap ibu peri baik hati itu dari cermin sambil mengusap air matanya.
"Selamat. Kau sudah menyelesaikan misi pertama. Bisma telah jatuh cinta padamu. Selamat juga Mikha telah kembali ke pelukan kamu" Ibu peri baik hati tersenyum ke Nisita.
"Saya lelah Ibu peri. Kenapa saya bisa terlilit takdir cinta yang mengerikan seperti ini? Saya lelah. Bukankah seharusnya saya tidak boleh jatuh cinta pada Bisma walaupun Bisma sudah jatuh cinta pada saya?"
"Justru kekuatan cinta kalian yang akan membantu kalian melawan semua musuh kalian. Siapa bilang kamu tidak boleh mencintai Bisma Mahesa?"
"Tapi, Bisma bisa jadi pembunuh bertopeng itu dan dia juga bisa saja orang yang membunuh Mawar"
"Cinta kalian yang akan menjawab semua pertanyaan kamu itu. Sekarang lanjut ke misi berikutnya, temukan pembunuh bertopeng dan masukkan Chelsea bersama pembunuh bertopeng itu ke dalam penjara untuk selama-lamanya. Selamat mencari, bye, bye!" Ibu peri baik hati itu kemudian menghilang dari penglihatannya Nisita.
Nisita hanya bisa menghela napas panjang di dalam cermin.
"Hasil tes DNA sudah jadi, Tuan. Nona Nisita Ananta benar-benar adalah ibu kandungnya Tuan muda" Sahut Ray sambil terus melajukan mobilnya.
"Aku bisa merasakannya. Aku sudah ingat semuanya" Sahut Bisma.
"Apa maksud Tuan dengan ingat semuanya?"
"Lupakan saja. Dan, Ray............"
"Iya, Tuan?"
"Terima kasih kau masih hidup"
"Memangnya saya pernah......."
"Lupakan saja! Aku hanya ingin mengatakan itu saat ini" Sahut Bisma.
Ray menatap tuannya dari kaca spion dengan penuh tanda tanya dan membatin, apa Tuan salah makan, ya? Kenapa omongannya aneh banget hari ini?
Sementara Bisma membatin, di masa lalu kau telah mati di tangan anak buahnya Chelsea, Ray. Terima kasih pada semesta ini karena kau baik-baik saja sekarang ini.
"Ray" Suara bass-nya Bisma kembali menggema di dalam mobil
"Iya, Tuan" Sahut Ray.
"Seharusnya aku sudah tahu dari awal saat aku melihat rambutnya Mikha. Bayi tampanku itu mewarisi rambut bergelombang Mamanya. Lucu banget, kan Ray. Bayiku memang sangat menggemaskan. Persis sama dengan Mamanya"
"Iya, Tuan. Sangat menggemaskan" Sahut Ray
"Siapa yang kau maksud sangat menggemaskan, hah?! Aku tidak suka ada pria lain mengatakan Sita sangat menggemaskan"
"Tuan muda, Tuan. Tentu saja yang saya maksud adalah Tuan muda" Sahut Ray dengan cepat.
Bisma tersenyum senang dan berkata, "Baguslah!"
Sedangkan Ray langung menghela napas lega dan membatin, sepertinya Tuan sudah sangat mencintai Nona Nisita. Bahkan lebih dalam dari cinta Tuan ke Nona Chelsea. Selamat Nona Nisita. Semoga ke depannya Anda bisa selalu membuat Tuan Bisma bahagia lahir dan batin, Amin.
Nisita langsung berlari ke nakas saat ia mendengar telepon genggamnya berbunyi. Dia segera menjawab panggilan telepon itu di luar kamar karena ia tidak ingin mengganggu tidurnya Mikha, bayi tampannya.
"Halo, ya, Letnan?"
"Aku sudah terima pesan text dari kamu. Selamat kalau anak asuh kamu sudah ditemukan dan sudah kembali ke pelukan kamu" Suara Cantika menggema merdu di telinga Nisita.
"Terima kasih Letnan" Sahut Nisita.
__ADS_1
"Aku dan timku sudah mulai melakukan pencarian dan sudah menemukan Chelsea"
"Benarkah? Apa wanita Iblis itu sudah dijebloskan ke dalam penjara?" Nisita menghela napas panjang.
"Belum. Kami kehilangan jejak wanita Iblis itu. Ada orang hebat di belakang wanita Iblis itu. Beruntung sekali dia"
"Apa pria hebat itu pembunuh bertopeng yang sudah membunuh Papa saya, Letnan?"
"Bisa jadi. Aku dan timku akan terus melakukan penyelidikan. Sudah dulu ya, kalau ada apa-apa langsung kabari aku!"
"Baik, Letnan" Sahut Nisita.
Nisita kembali masuk ke dalam kamar dan mengangkat Mikha untuk ia tidurkan di ranjang dan dia peluk di sana.
Bisma mencengkeram telpon genggamnya setelah ia membaca pesan text dari nomer yang tidak ia kenal. "Dasar gila! Berani benar dia mengancamku"
"Ada apa, Tuan?" Ray melongok ke kaca spion dengan kaget.
"Ada nomer yang tidak aku kenal mengirim pesan text bernada ancaman"
"Apa isinya, Tuan?"
"Dia ingin ku menyerahkan Nisita Ananta dengan cara membawa Nisita ke taman kota dan meninggalkannya di sana di jam sepuluh malam. Kalau nggak aku turuti, ia akan membunuh Mikha. Aku disuruh memilih. Mikha atau Nisita. Sial! Ini tidak mungkin serius, kan? Bisa jadi ini pesan iseng dari orang yang kurang kerjaan, iya, kan?"
"Tapi, saya rasa itu bukan pesan iseng, Tuan. Tidak semua orang tahu nama lengkap Nona Nisita dan nama lengkap bayi Anda. Anda, kan, belum mempublikasikan Tuan muda" Sahut Ray.
"Sial! Kau benar, Ray. Lalu kita harus bagaimana sekarang? Kau sudah pastikan vila milik almarhum Mamaku aman, kan? Lalu, pengawal pilihan kamu tidak ada yang mencurigakan, kan?"
"Semuanya aman, Tuan. Saya yakin seribu persen lebih kalau Tuan muda Mikha dan Nona Nisita tidak bisa diculik dan dibawa pergi dari sana" Sahut Ray.
"Lalu, kenapa dia bisa begitu percaya diri mengetik pesan kalau dia akan membunuh Mikha. Aku harus bagaimana sekarang ini, Ray?"
"Kapan Anda diharuskan membawa Nona Nisita ke taman kota, Tuan?"
"Bagaimana kalau kita cari wanita yang memiliki rambut persis kayak rambutnya Nona Nisita, Tuan? Tapi, sebelumnya kita laporkan semua ini ke polisi untuk melindungi Tuan muda dan Nona Nisita. Siapa tahu di kantor polisi nanti, kita bisa menemukan seseorang yang memiliki rambut persis sama dengan rambutnya Nona Nisita"ll
"Ah! Iya ide bagus. Kita ke kantor polisi dulu kalau begitu. Terima kasih, Ray. Kau memang selalu bisa aku andalkan di saat otakku beku kayak gini"
"Sama-sama, Tuan" Sahut Ray dengan senyum bangga karena tuan yang sangat ia kagumi memuji dirinya.
Nisita tersentak kaget saat telepon genggamnya berbunyi nyaring. Dia mengernyit saat ia melihat nomer tidak dikenal muncul di layar telepon genggamnya.
"Terima atau nggak, ya?" Gumam wanita berparas manis itu.
"Ah! Paling orang iseng" Nisita membisukan nada dering lalu meletakkan telepon genggamnya di atas nakas.
Nisita kembali tersentak kaget saat ia mendengar jendela kamarnya ditabrak sesuatu dan mengeluarkan suara gaduh yang cukup keras. Nisita langsung menggendong Mikha dan bangun untuk melihat apa yang terus menabrak kaca jendela kamarnya.
Nisita membeliak kaget dan sontak melangkah mundur saat ia melihat seekor burung gagak yang cukup besar terus menabrak kaca jendela kamarnya. Matanya menatap Nisita seakan ingin menguliti Nisita hidup-hidup.
Nisita langsung berbalik badan dan keluar dari kamar sambil bergumam dan bergidik ngeri, "Apa pembunuh bertopeng itu ada di sekitar vila ini? Tapi, Keamanan vila ini canggih, kan? Lagian ada banyak anak buahnya Bisma berjaga di halaman depan dan di halaman belakang. Dia nggak akan bisa masuk ke sini, kan?"
Nisita menuruni anak tangga sambil terus mendekap Mikha dan Mikha seolah mengerti dan ikut merasakan kegelisahan hati Mamanya. Mikha tiba-tiba bangun dan menangis sangat kencang. Nisita langsung menimang Mikha sambil bergumam, "Cup, cup cup, Sayang, Mama akan melindungi kamu dari bahaya apa pun, Sayang. Jangan menangis, ya" Nisita menciumi wajah tampan bayinya itu dan seketika Mikha terdiam dari tangisannya.
"Anak pintar, anak tangguh, Kamu bahkan udah pintar dan tangguh sejak kamu masih berada di dalam kandungannya Mama. Mama bangga sama kamu, Nak. Sekarang tenang, ya! Ada Mama di sini. Jangan takut!"
Nisita mengedarkan pandangan ke segala penjuru lantai satu vila itu dan langsung bernapas lega saat ia menemukan tidak ada satu pun jendela dan pintu yang terbuka. "Aman" Sahut Nisita.
Nisita kemudian duduk di tepi sofa dan tersentak kaget saat ia mendengar suara kaca pecah di lantai atas. Nisita bergidik ngeri dan langsung bergumam kesal, "Kenapa kau datang di saat yang tidak tepat. Kalau aku sendirian saat ini, aku pasti sudah menghadapi kamu dan menghajar kamu habis-habisan. Tapi, ada Mikha saat ini. Gimana, nih?"
Seekor burung gagak tiba-tiba terbang rendah dan menyerang Nisita. Dengan tangkas Nisita meninju burung gagak itu, lalu menendang burung itu sambil mendekap erat bayinya.
Burung gagak itu jatuh terhempas di lantai dan Nisita langsung mendekap erat Mikha dan berteriak penuh amarah,"Pergi! Cepat pergi! Katakan ke Tuan kamu kalau aku bukan Nisita yang sama. Aku sekarang ini tidak takut pada apapun. Pergi!"
__ADS_1
Seolah mengerti apa yang Nisita ucapkan, gagak hitam berukuran cukup besar itu bangun dan terbang naik kembali ke lantai atas dan tidak kembali lagi.
Nisita duduk lemas di sofa dan melihat keadaannya Mikha, "Syukurlah gagak itu tidak melukaimu, Nak"
Kejutan yang harus dialami oleh Nisita di hari ini ternyata belum berakhir. Nisita kembali berdiri tegak dan melihat ke lantai atas saat ia mendengar telepon genggamnya berbunyi sangat nyaring padahal seingat dia, dia sudah membisukan nada dering telepon genggamnya.
Nisita sontak merinding dan bergumam, "Apalagi ini? Andai aku sendirian aku tidak akan ketakutan seperti sekarang ini. Aku hanya memikirkan keselamatannya Mikha saat ini"
Nisita langsung berbalik badan dan berlari ke pintu depan. Dengan tangan gemetar ia membuka kunci dan pintu lalu sambil mendekap erat Mikha ia berlari kencang ke pos satpam.
Satpam penjaga gerbang depan langsung keluar dan menghampiri Nisita untuk bertanya dengan panik, "Ada apa, Nyonya?"
"Tolong periksa kamar atas. Ada suara jendela pecah, ada burung gagak hitam masuk, dan........"
Tanpa menunggu Nisita menyelesaikan ucapannya, satpam tersebut dan kedua anak buahnya Ray, langsung berlari masuk ke dalam vila dan melesat naik ke lantai atas. Nisita berlari kecil menyusul dan langsung menutup pintu tak lupa menguncinya.
Bunyi dering telepon genggamnya Nisita masih terdengar sangat nyaring.
Sampai di lantai atas, Nisita tersentak kaget melihat satpam dan kedua anak buahnya Ray tengah diserang lima ekor burung gagak hitam. Satpam dan kedua anak buahnya Ray langsung berteriak, "Turunlah Nyonya! Tutup pintunya cepat!"
Brak! Nisita langsung menutup pintu kamar dan masuk ke dalam kamarnya Bisma Mahesa, lalu mengunci pintu kamar itu dan berdiam diri di sana dengan wajah panik. Mikha kembali menangis dengan kencang. Bayi itu bisa merasakan kekhawatiran di hati Mamanya.
Bisma Mahesa langsung memekik, "Putar balik, Ray! Telepon Letnan Cantika!" Saat Ray menerima telepon dari anak buahnya kalau vila milik almarhum mamanya Bisma Mahesa diserang puluhan burung gagak hitam.
Ray memutar balik mobil mewahnya Bisma sambil memencet headset nirkabelnya.
"Halo, ada apa Pak Ray?" Sahut Letnan Cantika dari seberang sana.
"Vila di jalan Arjuna dua nomer B dua puluh lima, diserang burung gagak hitam dan Nona Nisita menerima teror berupa panggilan telepon dari nomer yang tidak dikenal" Sahut Ray.
"Sial! Oke, aku dan timku meluncur ke sana sekarang juga" Klik! Cantika langung mematikan telepon genggamnya dan sambil berlari ia berteriak ke anak buahnya, "Semua ikut aku!"
Bisma terus berteriak, "Lebih cepat lagi, Ray! Aku nggak ingin anak dan Istriku kenapa-kenapa"
"Is......istri?" Ray menyahut dengan nada menggantung.
"Percepat laju mobilnya jangan banyak nanya!" Bisma memekik kesal.
"Ini sudah cepat banget, Tuan. Kalau lebih cepat lagi, kita bis disemprit pak polisi"
"Bodo amat! Kalau disemprit terus aja melaju biar nanti urusan dengan polantas aku urus di vila. Percepat lagi, Ray!"
"Ini sudah paling cepat, Tuan. Kalau lebih cepat lagi kita bisa celaka"
"Sial! Semoga Mikha dan Nisita baik-baik saja, ya, Tuhan"
Ray menyahut, "Amin"
Halaman depan dan belakang penuh dengan burung gagak hitam. Semua burung gagak hitam yang terlatih itu menyerang semua anak buahnya Ray yang berjaga di sana. Mereka ingin menembak burung gagak hitam itu, tapi takut menganggu ketenangan lingkungan sekitar. Namun, akhirnya karena terdesak, mereka menembaki semua burung gagak hitam itu.
Nisita merebahkan Mikha di atas ranjang dan meletakkan dua guling di sisi kanan dan kirnya Mikha. Kemudian dia membuka sedikit jendela di kamarnya Bisma Mahesa untuk melemparkan kaosnya Bisma yang ia bakar. Setahu dia, burung gagak hitam takut sama api dan berhasil, api yang dibuat oleh Nisita, berhasil mengusir gagak hitam itu dan anak buahnya Ray langung berinisiatif membuat api yang lebih besar lagi dengan melepas kaos mereka dan melemparnya ke api yang dibuat oleh Nisita.
Saat Nisita menutup kembali jendela kamar itu, dia dikejutkan dengan bunyi dering telepon genggam lagi. Nisita celingukan mencari keberadaan telepon genggam yang berdering itu. Dia menemukan telepon genggam pribadinya Bisma Mahesa di laci nakas.
"Nomer asing lagi?"
Nisita kemudian memutuskan untuk menerima panggilan telepon dari nomer asing itu, "Halo, siapa ini?"
"Nisita Ananta" Suara pria yang mirip seperti suara robot langsung menyapa Nisita.
"Siapa kau?! Kenapa kau tahu kalau aku yang mengangkat telepon ini, hah?!"
"Karena aku mengawasi kamu terus, Sayang" Sahut suara yang mirip robot itu.
__ADS_1