
Nisita melemparkan telepon genggam itu ke lantai. Wanita berparas manis itu, kemudian kembali ke ranjang, merengkuh Mikha ke dalam pelukannya dan menggendong Mikha dengan selendang lalu berlari ke dapur untuk membuatkan Mikha susu formula.
Nisita memberikan dot ke Mikha sambil tetap berdiri di dapur menunggu situasi kembali aman di dalam maupun di luar vila.
Bisma dan Ray sampai di vila bertepatan dengan masuknya mobil dinas kepolisian ke halaman vila.
"Letnan Cantika dan timnya sudah datang, Tuan"
Bisma tidak menghiraukan ucapannya Ray, ia langsung melesat keluar dan berlari kencang masuk ke dalam rumah sambil berteriak, "Sita! Kau di mana?!"
Cantika mengekor laju larinya Bisma sementara timnya berpencar ke halaman depan dan belakang untuk ikut menangani serangan membabi buta pasukan gagak hitam yang entah datang darimana.
"Bisma? Kenapa dia ada di sini? Apa dia yang........." Nisita tersentak kaget mendengar suara Bisma memanggil namanya.
"Sita! Kau di mana?" Pekik Cantika.
"Letnan Cantika?" Gumam Nisita lirih. Wanita berambut pendek bergelombang itu langsung berlari keluar dari dapur saat ia mendengar suaranya letnan Cantika.
Bisma tersenyum lega melihat Nisita dan Mikha baik-baik saja dan refleks ia merentangkan tangan ingin memeluk Nisita yang tengah berlari sambil menggendong Mikha.
Namun, Nisita melewati Bisma dan memilih menghampiri letnan Cantika dan memeluk letnan Cantik itu.
Letnan Cantika menepuk punggung Nisita dan berkata, "Syukurlah kalian baik-baik saja"
Satu jam kemudian, Bisma, Nisita, Cantika, Ray, dan semua anak buahnya Cantika, berkumpul di ruang depan dan duduk di atas lantai membentuk lingkaran. Mereka membahas teror yang baru saja dialami oleh Nisita.
"Ternyata ancaman itu bukan sekedar ancaman"
"Apa maksud Anda, Tuan Bisma Mahesa?"
Nisita ikutan menoleh kaget ke Bisma sambil menepuk-nepuk pelan dadanya Mikha yang sudah lelap tertidur di dalam pelukan hangatnya.
"Saya menerima pesan text dari nomer yang tidak saya kenal. Ini, Anda lihat saja sendiri"
Moses menyodorkan telepon genggamnya ke Cantika.
Cantika menerima telepon genggam itu dan langsung mengerutkan keningnya saat ia membaca pesan text yang dikatakan oleh Bisma.
Cantika kemudian memperlihatkan pesan text tersebut ke Nisita karena ada nama Nisita disebut di pesan text tersebut.
Nisita kemudian beradu pandang dengan letnan Cantika.
"Apa yang akan Anda lakukan, Tuan?" Tanya Cantika kemudian sambil mengembalikan telepon genggamnya Bisma Mahesa ke pemiliknya.
Bisma menerima telepon genggamnya kembali dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya sambil berkata, "Saya tidak akan membahayakan Nisita. Tapi, kalau saya tidak menuruti pengirim pesan text yang gila ini, saya takut Mikha berada dalam bahaya. Terbukti ada teror burung gagak hitam, kan, barusan, dan teror telepon yang diterima oleh Nisita"
"Jadi?" Cantika masih mengerutkan keningnya.
"Saya akan mencari wanita yang mirip rambutnya dengan Nisita. Saya akan memancing wanita itu agar si pengirim pesan text yang gila ini muncul dari persembunyiannya"
"Aku mau jadi umpan. Aku juga ingin sekali membuka kedok pembunuh itu"
"Pembunuh? Maksud kamu?" Bisma mengerutkan keningnya.
"Aku yakin banget kalau pembunuh bertopeng yang sudah meneror kita hari ini. Aku ingin bertemu dengannya. Aku sangat penasaran siapa dia sebenarnya? Bawa aku saja. Aku mau jadi umpannya. Lagian ia ingin aku yang datang, kan?" Nisita menatap Bisma dengan sorot mata serius.
"Nggak! Itu sangat berharga" Pekik Bisma dengan sorot mata tidak kalah serius.
"Tuan Bisma Mahesa benar, Sita. Itu sangat berbahaya. Jangan gegabah! Emm, gini aja ......."
__ADS_1
Cantika langsung menoleh ke Rika.
Rika yang lupa bahwa dirinya memiliki rambut yang mirip dengan Nisita langsung mengerutkan keningnya saat atasannya menatap tajam dirinya.
"Rika, rambut kamu sama persis dengan rambut Sita"
Wanita yang bernama Rika sontak menyentuh rambutnya dan seketika ia berkata, "Ah! Anda benar, Letnan. Kalau begitu, saya saja yang jadi umpannya"
"Kamu bersedia?" Tanya Cantika.
"Siap laksanakan, Letnan" Rika langsung berdiri tegak dan memberi hormat kepada Cantika.
"Kita akan lindungi Rika!" Cantika memandangi satu per satu semua anak buahnya.
"Siap laksanakan, Letnan" Sahut semua anak buahnya Cantika secara bersamaan sambil menegakkan badan dan memberi hormat ke Cantika.
"Terima kasih" Bisma menatap polisi wanita yang bernama dan Rika menganggukkan. kepalanya sambil berkata, "Sama-sama, Tuan"
"Aku akan minta tolong sama Suamiku dan timnya untuk membantu kita melindungi Nisita dan Mikha. Ini bukan kasus main-main. Kita nggak boleh anggap sepele" Sahut Cantika sambil menoleh ke Bisma.
"Terima kasih banyak" Sahut Bisma.
"Apakah suami Anda, Komandan Dito Zeto, Letnan?" Tanya Nisita dengan sorot mata berbinar cerah.
"Benar. Kamu tahu?" Cantika sontak mengerutkan keningnya di depan Nisita.
"Saya mengidolakan Komandan Dito Zeto sejak Komandan Dito Zeto mendapatkan penghargaan dari Bapak Presiden atas keberhasilannya menyelamatkan mahasiswa yang diculik di Vietnam" Nisita menatap Cantika masih dengan mata berbinar cerah.
Seketika tangan Bisma mengepal dan wajahnya mengeras saat ia mendengar Nisita mengidolakan pria lain.
Sial! kenapa bisa dengan santainya ia memuji pria lain di depanku? Apa dia sama sekali belum ada rasa sama aku setelah percintaan panas kami semalam. Batin Bisma.
Bisma juga ingin menyemburkan kata yang sama, namun dia masih waras. Dia masih berstatus suami sahnya Chelsea Maheswari Mahesa. Kalau dia tiba-tiba memekikkan kata cemburu, itu hanya akan membuat semua orang bertanya-tanya dan memandang rendah Nisita lalu Nisita akan dicap sebagai pelakor. Dia nggak mau itu terjadi. Dia hanya bisa menahan kecemburuannya dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Saya cuma mengidolakannya. Apakah saya boleh meminta tanda tangan Komandan Dito Zeto nanti?"
"Kalau itu kau tanya sendiri nanti ke suamiku. Karena suamiku, orangnya kaku dan tidak suka diidolakan apalagi dimintai tanda tangan, hehehehehe" Cantika kembali meringis canggung di depan Nisita.
"Boleh? Saya boleh berbicara dengan Komandan Dito Zeto, nanti. Emm, tentu saja di depan Anda, Letnan. Tidak mungkin saya bicara dengan Komandan Dito Zeto berdua saja. Saya bisa pingsan kalau bicara berdua saja dengan Komandan Dito Zeto karena saya sangat mengidolakannya"
"Oke. Aku akan temani kamu menemui suamiku dan meminta tanda tangannya"
Nisita langsung memeluk Cantika sambil memekikkan kata, "Terima kasih, Letnan"
Satu jam kemudian, Bisma masuk ke dalam kamarnya Nisita yang terbuka. Ia melihat wanita berparas manis itu dengan duduk di tepi ranjang menghadap ke box bayi. Mikha telah tidur tenang di dalam box bayi.
"Berani benar kau mengidolakan pria lain dan memekik girang menyebut nama pria itu. Apa percintaan kita semalam tidak ada artinya bagimu? Apa cuma aku yang merasakan kalau semalam adalah hal yang sangat luar biasa" Bisma menggeram kesal sambil melangkah pelan menghampiri Nisita.
Nisita tersentak kaget dan sontak bangkit berdiri. Dia berjalan mengitari ranjang untuk berdiri di depan Bisma dan bertanya dengan wajah datar, "Kenapa? Apa kau cemburu? Jangan membuatku geli"
Bisma mengerem langkahnya di jarak satu meter dari tempat Nisita berdiri, "Aku tidak pernah berhenti mencintaimu" ujarnya kepada Nisita dengan suara serak.
"Apa maksud kamu? Seolah kamu tahu semuanya"
"Aku tahu semuanya Aku ingat semuanya. Maafkan aku di masa lalu, aku tidak bisa melindungi kamu dan anak kita yang masih ada di dalam kandungan kamu. Tapi, aku akan berjuang mati-matian melindungi kamu dan Mikha di dimensi waktu ini. Semoga setelah semuanya berlalu, kita bisa kembali ke masa lalu menjadi suami Istri dan membesarkan Mikha berdua dengan penuh cinta dan kebahagiaan" Bisma menatap Nisita dengan wajah sendu.
Nisita melangkah mendekati Bisma dengan genangan air mata haru di kedua pelupuk matanya.
Bisma langsung menarik pinggang rampingnya Nisita dan memeluk wanita itu sambil berkata, "Sita, mustahil aku bisa memeluk kamu seperti ini, saat ini, tanpa bercinta dengan kamu, Sayang"
__ADS_1
"Kalau begitu bercintalah denganku" Nisita mendongakkan wajahnya dan menatap wajah Bisma dengan sorot mata menantang.
Bisma menunduk dan bertanya, "Apa kau sudah memercayaiku saat ini?"
Dengan debaran jantung abnormal, Nisita menganggukkan kepala dan tersenyum. Lalu, wanita dengan rambut bergelombang seksi kembali berkata dengan sorot mata menantang, "Bercintalah bersamaku, Bisma Mahesa"
"Berjanjilah dulu kalau kamu nggak akan mengidolakan pria lain lebih dari kamu mengidolakan diriku, Sita"
Nisita membenamkan jemari ke otot liat bahu pria itu, kemudian mengusap dada bidang Bisma dan tanpa melepaskan tatapannya, ia berkata, "Aku mencintaimu. Aku mengidolakan kamu melebihi semua pria yang ada di Duni ini"
Bisma tersenyum merona lalu bertanya, "Bagaimana dengan Dito Zeto?"
"Itu beda. Aku mengidolakannya hanya mengidolakannya. Sama seperti kamu mengidolakan penyanyi Mariah Carrey"
"Kau ingat itu?" Bisma tersenyum senang mengetahui Nisita masih ingat penyanyi idolanya.
Nisita lalu berjinjit, menangkup wajah Bisma Mahesa dan berkata, "Aku cemburu saat ini" Sambil mendaratkan beberapa kecupan di bibir Bisma.
Bisma langsung memagut bibir Nisita dan merekahkan bibir ranum itu sedikit sehingga ciuman di antara mereka menjadi semakin dalam dan intens. Nisita secara naluri memejamkan kedua matanya.
Nisita menarik wajahnya untuk menatap Bisma. Sembari membisu mereka saling menatap. bahkan udara di sekitar mereka seakan menahan napasnya, seolah sesuatu di kejauhan menunggu penuh harap.
"Sita............"
Ketika Bisma mengerangkan namanya dengan wajah frustasi, Nisita menghirup napas pria itu yang beraroma mint sebanyak-banyaknya sampai memenuhi paru-parunya. Lalu, wanita berparas manis itu membenamkan kembali bibirnya di bibir Bisma. Kedua sejoli yang tengah bernostalgia akan rasa yang pernah mereka miliki di masa lalu, berciuman dengan penuh gairah. Nisita tidak bisa berhenti menyentuh tubuh kekarnya Bisma, menelusurkan tangan ke dada bidang pria itu. Erangan lirih sarat akan cinta dan kerinduan yang menyiksa tenggorokan kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu seketika membuat ketakutan dan keraguan di diri Nisita menyingkir jauh dan lenyap.
"Pekik aku, Bisma! Cintai aku!" Tuntut Nisita di antara hujan ciuman yang panas membara. "Aku harus yakin kalau ini bukan mimpi. Kau nyata, bukan ilusi semata"
Bisma bisa merasakan tubuh Nisita mulai gemetar dan tidak mampu mengucapkan kata-kata lagi selain lenguhan lirih.
Dengan membabi-buta Nisita menarik menarik kerah kemeja Bisma, melepas kancingnya, dan apa saja yang menghalanginya dari mencapai tujuan yang sudah ia dambakan yakni, merasakan tubuh pria itu dengan cinta yang sudah tidak samar lagi. Dengan cinta yang nyata yang berbalut gairah membara ia merenggut kemeja Bisma dan mengabaikan bunyi detak kain robek.
Keinginan Bisma ternyata jauh lebih besar daripada keinginannya Nisita. Pria tampan itu ingin wanita pujaan hatinya menyentuh tubuhnya. Ia ingin dicium wanita itu, disambut wanita itu dengan tubuh hangat dan lembutnya, dengan ciuman yang penuh misteri, dan geliat tubuh yang feminin.
Tangan Bisma mendarat di titik favoritnya, menarik lepas kain yang membalut tubuh rampingnya Nisita yang memiliki lekuk seksi di beberapa bagian dan sangat dikagumi oleh Bisma.
Rasa hangat mengalir deras di sekujur tubuh Nisita saat tangan Bisma bermain-main asyik di titik sensitifnya. Nisita melenguh lirih penuh damba dan membenamkan wajah ke leher pria itu sementara tubuhnya berdenyut menantikan sentuhan yang lebih dan lebih lagi. Erangan pun menyusul memenuhi kamar itu.
"Jangan di sini!" Bisma mendengar Nisita memprotes parau.
Bisma seketika menjauhkan bibirnya dari bibir Nisita lalu mengusap-usapkan ibu jarinya ke bibir Nisita yang tampak sedikit bengkak dan basah karena ulahnya.
"Ada Mikha. Aku tidak ingin Mikha mendengar kita dan terbangun. Ayo kita ke kamar kamu agar kita bisa benar-benar saling menikmati"
Sementara mendengar permohonan itu, getaran pelan tapi panjang merambat di sekujur tubuh Bisma dan pria itu hanya mampu mengangguk seraya membisu.
"Mikha akan aman. Kita kunci kamar ini" Nisita langsung menarik tangan Bisma.
Sesampainya di kamar Bisma Mahesa, Nisita enggan berbicara karena ia takut merusak suasana yang sudah terbangun indah sejak tadi. Kedua insan yang tengah didekap bara cinta dan gairah itu kembali berciuman, masing-masing tidak mampu mengendalikan lagi mengendalikan rasa mendamba untuk saling menyentuh dan mengecap manisnya rasa di diri mereka masing-masing.
Bisma kemudian membopong Nisita dan merebahkan wanita pujaan hatinya itu di atas ranjang super besar bertiang empat yang terbuat dari besi dan merebahkannya dengan pelan.
Bisma meletakkan tangan di sisi kiri dan kanan kepalanya Nisita lalu bertumpu pada lututnya untuk sejenak menyusuri wajah manis wanita yang sangat ia cintai. Wanita yang sudah dengan sangat tangguh berhasil melahirkan bayinya. Bayi yang sangat ia nantikan selama ini. Bayi yang sangat tampan dan sangat ia sayangi.
"Aku mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu" Ujar Bisma sembari menciumi pelupuk mata wanita itu yang terpejam rapat, lalu turun ke lekuk rahangnya, kemudian ke bibir lembut yang terlihat pasrah, dan berakhir di pangkal lehernya sambil tangannya beraktivitas liar di titik favoritnya.
Bibir Bisma menyiksa Nisita saat pria itu akhirnya menyatukan raga dengan raganya sambil membelai bagian-bagian sensitifnya Nisita.
Nisita bisa mengingat dengan jelas saat pertama kali Bisma menyatukan raga dengannya raganya. Namun, kali ini terasa lain. Terasa lebih indah, terasa sangat berbeda, dan cinta yang ada terasa lebih dalam menghujam jantungnya.
__ADS_1