
Nisita terbangun di jam dua belas malam dan dia mendapati telepon genggamnya Bisma berkedip-kedip. Karena penasaran dengan siapa pengirim pesan text di larut malam seperti ini, Nisita bangun dan mengambil telepon genggam Bisma. Saat melihat siapa pengirim pesan text itu, gadis berparas manis itu meradang cemburu.
"Aku tahu kau masih mencintaiku. Kau akan selalu mencintaiku dan hanya mencintaiku. Kau tidak mungkin bisa mencintai wanita lain. Datanglah ke jalan Bisma dua puluh dua. Jemput aku dan kita akan memulai semuanya dari nol. Aku akan jelaskan semuanya dan aku yakin kau akan mengerti dan memaafkan semua kesalahanku karena kau, masih mencintaiku. Aku juga sangat mencintaimu Bisma Mahesa, Suamiku" Nisita menggeram kesal setelah ia selesai membaca pesan text di dalam hatinya. Pesan text dari Chelsea membuat ia kembali meragukan Bisma dan kembali merasa dikhianati oleh Bisma saat ia menemukan pesan text dari Bisma untuk Chelsea yang bertanya, "Kau di mana Sayangku? Aku merindukanmu"
Nisita kemudian meletakan kembali telepon genggam itu di atas nakas setelah ia menghapus pesan text dari Chelsea yang terbaik itu.
Nisita membuka lemari pakaian dan memutuskan untuk memakai kemejanya Bisma dan melangkah kembali ke kamarnya dengan memakai kemeja itu.
Nisita kemudian berdiri di depan jendela dan bergumam di sana, "Aku akan menemui Chelsea dan bikin perhitungan dengannya atas apa yang sudah ia lakukan padaku di masa lalu. Aku ingin menyiksanya terlebih dahulu sebelum menjebloskannya ke penjara"
Kecemburuan dan kekecewaan telah membutakan hati Nisita yang biasanya lembur dan pemaaf.
Wanita berkulit sawo matang dan berambut pendek bergelombang itu kemudian berjalan ke ranjang, duduk di tepi ranjang dan merobek secarik kertas dan menulis kata-kata di sana.
Setelah melipat kertas itu, Nisita kembali bergumam lirih, "Aku berubah pikiran. Maafkan aku semuanya. Aku akan hadapi Chelsea dan pembunuh bertopeng itu sendirian. Aku akan selesaikan semua dendamku sendiri" Gadis berparas manis itu kemudian melangkah ke box bayi dan menyelipkan surat itu di bawah badannya Mikha. Berharap besok pagi Bisma akan menemukan surat itu.
"Maafkan Mama, Nak. Mama akan tinggalkan kamu besok. Hanya sebentar dan Mama janji, Mama akan kembali dengan selamat dan memeluk kamu lagi, Sayang" Nisita membungkuk dan menciumi wajahnya Mikha.
Bisma terbangun dan berdecak sembari meraba kasur. Pria tampan itu sontak membuka kedua matanya lebar-lebar saat tangannya tidak menemukan tubuh wanita yang ia cintai. "Sita! Apa kau di kamar mandi?"
__ADS_1
Bisma langsung bangun dan berlari keluar kamar. Dia takut kalau Nisita kabur darinya. Dia takut kehilangan wanita yang sangat ia cintai.
Ceklek! Bisma langsung melangkah lebar dengan senyum lega saat ia mendapati Nisita tengah berdiri di samping box-nya Mikha.
Nisita tersentak kaget melihat Bisma masuk ke kamarnya dan ia langsung mengitari box bayi untuk mencegah Bisma mendekati box bayi, sambil bertanya dengan senyum yang terpaksa ia lukis di wajah manisnya, "Kok bangun, Mas? Nggak bisa tidur, ya?"
"Aku tidak menemukan kamu di ranjangku. Aku takut kamu pergi meninggalkan aku" Bisma langsung memeluk erat tubuh rampingnya Nisita.
Cih! Bilang takut kehilangan aku, tapi kamu masih mencintai Chelsea. Kamu masih berkirim pesan text ke Chelsea dan tidak bilang ke aku. Batin Nisita.
Bisma kemudian melonggarkan pelukannya untuk mencubit dagu Nisita, mendongakkan wajah Nisita dan mencium bibir Nisita. Nisita membalas ciuman Bisma, bahkan ia membuka mulut untuk memperdalam ciuman itu. Namun, Bisma bisa merasakan kalau Nisita membalas ciumannya dengan hasrat dan fisik yang tidak bergelora.
Bisma melepaskan ciumannya untuk menatap lekat Kedua mata Nisita dan sambil mencengkeram lembut kedua bahu Nisita, pria tampan itu bertanya, "Ada apa?"
Bisma mencubit kembali dagu wanita itu dan menarik pelan wajah Nisita agar mereka kembali berpandangan. Bisma menahan wajah Nisita untuk menyusuri wajah wanita berparas manis itu dengan penuh selidik. Ia ingin mencari tahu jawaban atas pertanyannya tadi, sendiri. Karena ia merasa, Nisita tidak berkata jujur.
"Tatap mataku dan katakan dengan jujur ada apa?"
Nisita menepis tangan Bisma dari dagu dan bahunya lalu berjalan ke ranjang, merebahkan diri dan berkata sambil menarik selimut, "Aku hanya lelah"
__ADS_1
Bisma langsung naik ke tempat tidur, merebahkan diri di samping Nisita dan sambil tidur miring, ia mengelus perut ratanya Nisita sambil bertanya, "Apa kau sakit?"
Nisita kemudian tidur miring untuk berhadapan dengan Bisma dan hanya diam membisu.
Bisma menggeram kesal dan dia langsung menyusupkan wajahnya di leher Nisita dan memberikan tanda kecil di sana. Nisita melenguh pasrah.
Bisma Mahesa kemudian menegakkan kembali wajahnya dan langsung membenamkan bibir ke bibir wanita itu karena dorongan kebutuhan mendalam akan kejujurannya Nisita. Bisma marah pada dirinya sendiri karena dia masih belum mampu membuat Nisita terbuka padanya. Dia juga marah pada dirinya sendiri karena Nisita, belum memercayainya seraut persen dan dia bisa Merakan kembali hal itu saat ini.
Terkunci dalam kungkungan dan ciumannya Bisma, dan bibirnya ditekan bibir pria tampan bercambang tipis itu, Nisita kembali melenguh kalah.
Wanita itu kemudian mengimbangi permainannya Bisma sambil bergumam di dalam hatinya, aku harus membuat pria ini tidur nyenyak malam ini agar aku bisa pergi dari sini dengan mudah.
Nisita kemudian meraih tubuh Bisma, mengijinkan pria itu menikmati setiap inci kulitnya, menikmati setiap lekuk tubuhnya, membelai dan menciumnya. Wanita berwajah manis itu kemudian mengaitkan kaki di pinggang Bisma dan mendesak pria untuk menyatukan tubuh mereka.
Bisma menikmati dominasinya Nisita. Dia juga senang mendapati Nisita mengundang dirinya masuk dengan rela hati. Tapi apa yang paling Bisma butuhkan bukan hanya memiliki tubuh Nisita, tapi pria itu juga ingin memiliki hatinya. Ia ingin Nisita kembali mengatakan cinta padanya di dunia ini, di dimensi waktu ini, maupun di dimensi waktu lainnya bahkan di dunia lain sekalipun. Bisma sudah sangat tergila-gila dengan wanita yang bernama Nisita Ananta. Cintanya untuk Nisita begitu kuat, begitu komprehensif (menyeluruh) sehingga Bisma mengutamakan cintanya pada Nisita di atas segalanya.
Walaupun sadar kalau Nisita belum pernah memberikan bukti cinta padanya, namun Bisma terus mengajak wanita itu bercinta terus menerus sampai pada akhirnya pria gagah perkasa itu rebah lunglai di samping Nisita. Dia memeluk Nisita dan setelah berkata dengan napas terengah-engah, "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu" Bisma langsung jatuh ke akan mimpi yang sangat indah dan menggodanya untuk tidur lebih lama dari biasanya.
Nisita kemudian meminum segelas air putih yang ia ambil dari atas nakas lalu berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Setelah memberikan susu formula ke Mikha, Nisita berjingkat dan keluar dari dalam kamar tanpa bersuara. Wanita berparas manis itu langsung berlari turun ke bawah lalu melesat ke halaman depan, masuk ke mobilnya Bisma Mahesa yang ada di garasi dan cocok dengan pintu mobil yang ia ambil dengan asal. Lalu, wanita tangguh berwajah manis itu membuka sendiri gerbang mobil dengan remote yang menggantung di ikat pinggang satpam penjaga yang ketiduran di jam tiga dini hari. Semua anak buahnya Ray pun ketiduran di titik penjagaan mereka masing-masing.
"Tunggu aku Chelsea dan kau pembunuh bertopeng! Aku akan menuntaskan urusanku ke kalian berdua sebentar lagi" Gumam Nisita sambil menekan lebih dalam pedal mobilnya Bisma Mahesa.