
"Nama saya Mawar. Saya adalah kepala pelayan di rumah ini"
Aku tahu kalau kamu adalah Mawar. Kamu banyak menolongku dulu. Aku bahkan ingin memeluk kamu saat ini dan mengucapkan banyak terima kasih. Batin Nisita sambil memandangi wajah Mawar.
Mawar menyentuh pipinya sambil bertanya, "Nona, kenapa Anda memandangi saya terus? Apa ada yang salah di wajah saya?"
"Ah! Tidak. Maafkan saya. Saya cuma, emm, lupakan saja. Nama saya Nisita Ananta"
"Saya tahu. Saya sudah melihat CV Anda, Nona"
Nisita tersenyum ke Mawar, lalu ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru yang terlihat di depan matanya. "Tanggal berapa dan tahun berapa sekarang ini?" Gumam Nisita lirih.
Mawar yang bisa mendengar gumamannya Nisita langsung menjawab, "Ini hari Jumat, tanggal sepuluh bulan Februari tahun dua ribu dua puluh tiga, Nona"
"Hah?! Bukannya sekarang ini tahun dua ribu tiga?" Nisita sontak menoleh kaget ke Mawar.
"Kenapa Anda kaget? Dan kenapa Anda bisa bilang kalau sekarang ini tahun dua ribu tiga?Anda baik-baik saja, kan, Nona?"
"Ah! Iya. Saya baik-baik saja. Emm, saya cuma kelelahan. Maaf, emm, di mana kamar bayinya? Apakah saya bisa ke sana untuk memberinya susu? Kelihatannya ia lapar"
"Mari saya antarkan ke kamar bayi" Mawar bangkit berdiri
Nisita langsung mendekap erat bayinya dan mengekor langkah Mawar sambil bergumam, perasaan kejadian aku ditembak dan ditenggelamkan ke dalam danau baru terjadi beberapa jam yang lalu. Kenapa aku bisa terlempar ke dua puluh tahun kemudian. Apa aku pingsan selama itu? Tapi, kenapa semuanya tidak berubah? Rumah ini, Mawar, bahkan bayiku. Bayi ini baru lahir kemarin kata Mawar tadi"
Saat Nisita melintasi galeri lukisnya Chelsea, ia mengerem langkahnya dan berputar badan untuk berdiri di depan pintu, kemudian memorinya kembali melayang ke masa lalu.
...-------------------------------------------------------...
Bisma tertegun menatap rambut basahnya Chelsea. Pandangannya membeku dan air liur sontak terkumpul banyak saat ia melihat tubuh ramping, pundak telanjang dan rambut basahnya Nisita. Glek! Bisma menelan air liurnya saat ia melihat ada air menetes di atas pundak telanjangnya Nisita.
Nisita membeku, namun matanya menatap Bisma dengan waspada seperti seekor kelinci yang tengah berhadapan dengan hewan pemangsa.
Bisma berdeham, lalu pria tampan itu berbalik badan dengan pelan sambil berkata, "Maaf! Aku tidak tahu kalau kamu sedang mandi dan maaf! Aku tidak ketuk pintu dulu"
__ADS_1
"A.....ada apa Tuan datang kemari?" Nisita bertanya seperti itu karena ia melihat kedua tangan Bisma kosong dan tidak membawa apa-apa.
Bisma yang masih memunggungi Nisita langsung berkata, "Aku bosan berada di tengah hiruk pikuk pesta ulang tahunnya Chelsea. Aku tidak menyukai teman-teman Istriku dan aku tidak bisa nyambung dengan obrolan mereka. Untuk itulah aku ke sini. Aku, emm, hanya ingin mengobrol denganmu"
"Baiklah, Tuan! Saya akan menemani Anda mengobrol, tapi saya ganti baju dulu dan jangan menoleh sebelum saya bilang sudah"
"Hmm" Bisma yang masih memunggungi Nisita menganggukkan kepalanya.
Tiga menit kemudian, Nisita berkata, "Sudah, Tuan"
Bisma kemudian berputar badan dengan pelan dan seketika itu ia mengumpat di dalam hatinya, sial! Kenapa dia tampak sangat imut dan manis memakai dress berwarna hijau pupus itu?
"Ada apa, Tuan? Kenapa Anda malah bengong? Ah! Iya. Anda tidak menyukai rambut saya apalagi kalau basah seperti ini. Rambut saya pasti terlihat lebih aneh dan ........"
"Nggak! Rambut kamu oke, kok. Aku cuma, emm, lupakan saja. Apa aku boleh ke sana dan duduk di tepi ranjang, di sebelah kamu?"
"Silakan, Tuan" Sahut Nisita.
Bisma duduk dengan perlahan di tepi ranjang, kemudian ia mengedarkan pandangannya dengan canggung. Entah kenapa ia merasa grogi duduk di sebelahnya Nisita saat ini.
Nisita dengan pelan menyentuh tangan Bisma sambil berkata, "Maafkan saya kemarin, Tuan"
Bisma menunduk untuk melihat tangan Nisita yang ada di atas punggung tangannya sambil bertanya, "Kenapa meminta maaf? Kesalahan apa yang sudah kau berbuat?"
"So........soal ciuman. Emm, maafkan saya kalau sa......sa.....saya lancang membalas ciuman Anda. A.....apakah Anda pergi begitu saja kemarin karena Anda marah dan menganggap sa.....saya murahan, Tuan?"
"Hahahaha" Bisma sontak tertawa sambil menggenggam tangan Nisita yang ada di atas punggung tangannya. Kemudian ia menghadap Nisita yang tengah menunduk melihat tangan Bisma.
Bisma lalu mengangkat tangan yang masih menggenggam tangan Nisita sampai di depan mulutnya dan dia cium tangan Nisita.
Nisita terlonjak kaget dan refrlks menarik tangannya dari genggaman Bisma, namun Bisma menahannya dan berkata, "Aku berhak menyentuh kamu, mencium kamu, dan kamu juga berhak membalasnya karena kita ini suami istri, Sita Aku tidak menganggapmu murahan dan aku tidak marah kemarin. Kau bergegas pergi karena, aku malu, hehehehehe"
"Malu?" Nisita langsung menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Memangnya kmu tidak malu? Kemarin adalah ciuman kita yang kita lakukan dengan spontan dan tanpa paksaan dari Chelsea. Tanpa adanya intimidasi dari Chelsea"
Nisita langsung menunduk malu dan berkata, "Ta.......tapi, kita hanya menikah sementara dan......."
"Aku akan mempertahankan kamu. Aku akan melindungi kamu dan anak kita kalau kamu hamil nanti. Aku janji" Bisma menempelkan tangan Nisita di bibirnya.
Nisita menarik tangannya dengan paksa dan berkata, "Sa......saya belum terbiasa dengan ciuman Anda, Tuan"
"Iya. Aku nggak akan paksa kamu lagi. Aku ingin hubungan kita mengalir dengan santai" Bisma menggeser pantatnya dan langsung memeluk bahu Nisita.
Nista tersentak kaget dan saat wanita itu ingin mengangkat kepalanya dari bahu Bisma, Bisma menahan kepalanya Nisita sambil berkata, "Biasakan dirimu untuk bermanja padaku mulai detik ini. Aku adalah suami kamu"
Nisita sontak tertegun dan membeku kaku saat ia mendengar ucapannya Bisma itu.
Bisma kemudian menghela napas panjang dan berkata, "Aku kere sekarang ini. Aku dan kamu senasib. Kita semua adalah bonekanya Chelsea"
"Kenapa Anda bisa kere sekarang ini, Tuan?"
"Chelsea memiliki semua sahamku saat ini tanpa aku ketahui. Aku teledor karena aku terlalu memercayainya dan karena aku terlalu mencintainya. Aku tidak menyangka dia akan setega itu padaku. Aku juga tidak menyangka kalau Chelsea memiliki lebih dari separuh sahamnya Mahesa Grup"
"Berarti Anda benar-benar telah tidak berkutik, Tuan"
"Iya, kau benar. Aku meminta maaf padamu karena saat ini aku kere, aku tidak bisa kasih uang ke kamu padahal kamu ini istri keduaku"
"Saya mengerti kondisi Anda, Tuan. Saya juga tidak memiliki hak untuk menuntut gaji. Saya, kan, hanyalah boneka"
Bisma langsung merebahkan Nisita di kasur dan memagut bibir Nisita.
Nisita refleks mendorong dada Bisma dan Bisma menatap Nisita sambil berkata, "Kalau kamu berkata bahwa kamu adalah boneka, aku akan kasih hukuman ke kamu"
Alih-alih menjawab, iya, Nisita malah relfeks berkata, "Saya memang boneka, kan, hmpppthhhh!"
Bisma kembali memagut Nisita dan kali ini ciumannya lebih menuntut dan tangannya mulai bergerilya.
__ADS_1