
"Sita!" Pekik Cantika dan wanita cantik berpangkat letnan itu langsung turun dari dalam mobilnya.
Cantika merangkul Nisita yang masih menutupi wajah dengan telapak tangan sambil berkata, "Buka wajah kamu dan lihat aku! Ini aku Letnan Cantika"
Nisita membuka wajahnya dan dengan menyipitkan matanya karena ia masih silau dengan lampu terang dari mobilnya Cantika, Nisita menghela napas lega, "Syukurlah saya bisa bertemu dengan Anda di sini"
"Apa kamu terluka? Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Telapak kaki saya terkena ranting pohon. Tapi, hanya luka kecil"
"Aku akan papah kamu naik ke mobil" Cantika langsung memapah dan membantu Nisita naik ke mobil.
Saat Cantika hendak berbalik badan, Nisita menahan lengan Cantika dan berkata dengan raut wajah dan nada sedih, "Ada rumah besar setelah kita melewati hutan karet dan pohon jagung dan ada mayat di sana. Mawar, kepala pelayan di rumah Bisma Mahesa, terapung tak bernyawa di sana"
"Sial! Oke! Aku akan hubungi anak buahku setelah aku meminggirkan mobilku"
Beberapa menit kemudian, Cantika menoleh ke Nisita dan sambil memasukkan telepon genggam ke saku dressnya, Cantika bertanya, "Kau menemukan apalagi di rumah besar itu?"
"Saya terikat di sana dan setelah saya berhasil melepaskan semua ikatan di tubuh saya, saya menemukan Mawar sudah terapung tak bernyawa di kolam renang" Nisita berucap dengan suara gemetar menahan tangis. "Mawar wanita yang sangat baik dan banyak menolong saya selama ini. Siapa yang sudah tega membunuhnya sekejam itu?"
Nisita sengaja tidak mengungkap adanya Bisma Mahesa di sana karena dia ingin membuat perhitungan sendiri dengan suaminya itu. Urusan dia dan suaminya adalah urusannya dan bukan urusan pihak kepolisian. Begitu lah pikiran yang ada di otak Nisita saat ini. Entah dia menjadi nekat dan bodoh karena nyeri yang ia dapatkan dari luka yang ada di telapak kakinya atau dia menjadi nekat dan bodoh karena cintanya pada Bisma Mahesa.
"Apa kau sempat melihat siapa orang yang sudah membuatmu pingsan kemarin? Karena sialnya, aku juga dibuat pingsan semalam dan aku rasa orang yang membuat kita berdua pingsan adalah orang yang sama" Sahut Cantika.
"Saya tidak melihatnya. Kejadiannya sangat cepat dan orang itu membekap saya arah belakang"
"Sial! Aku juga mengalami hal yang sama" Sahut Cantika.
Beberapa jam kemudian, anak buahnya Cantika keluar dari dalam mobil Van hitam dan berlarian menghampiri mobilnya Cantika. Cantika turun untuk memberikan instruksi dan berkata, "Nisita bilang kalau ada banyak sekali anjing hutan liar di dalam. kalian bawa Bruno dan Goldy, kan?"
Bruno dan Goldy adalah anjing kepolisian yang sudah terlatih dan kedua anjing itu adalah anjing terbaik yang sudah mendapatkan banyak medali penghargaan dalam hal menangkap penjahat dan pembunuh.
"Bawa" Sahut salah satu dari anak buahnya Cantika.
"Bagus! Kita akan masuk ke dalam dan kau Chika"
"Siap Letnan" Wanita dengan bernama Chika langsung memberi hormat ke Cantika.
"Kau antarkan Nisita ke kediamannya Bisma Mahesa dan jaga dengan baik keselamatan kalian berdua"
"Siap, Letnan"
Tiga jam kemudian, Nisita sampai di kediamannya Bisma Mahesa dengan selamat. Setelah mengucapkan terima kasih ke wanita yang sudah mengantarkannya dengan selamat, Nisita berlari masuk ke dalam dengan kaki pincang.
Nisita bergegas mandi untuk membersihkan diri karena ia ingin segera menimang Mikha, bayinya. Bayi yang sangat ia rindukan. Walaupun ia baru terpisah dengan bayinya selama beberapa jam, namun rasanya seperti sudah satu abad lamanya.
Begitu masuk ke dalam mobil, Bisma langsung bertanya, "Apa hasil tes DNA sudah jadi?"
"Sudah Tuan. Saya hendak memberitahukan hasilnya ke Anda setelah saya menerima telepon dari dokter Rendy, tapi saya malah pingsan dan Anda menghilang"
"Apa hasilnya?"
"Tuan muda anak kandung Anda. Tapi, Mama biologisnya Tuan muda bukan Nona Chelsea Maheswari. Nona Chelsea Maheswari bukan ibu kandungnya Tuan muda"
"Apa?! Lalu, Mikha anakku dengan wanita yang mana?"
"Entahlah. Anda yang melakukannya kenapa bertanya sama saya, Tuan"
"Sial! Siapa ibunya Mikha? kenapa aku tidak menebaknya"
"Tuan muda hilang, Tuan" Akhirnya Ray memberanikan diri untuk mengatakan ke Bisma perihal hilangnya Mikha.
__ADS_1
"Apa?! Kenapa bisa hilang?! Dia berada di rumahku. Rumahku keamanannya sangat ketat. Kenapa bayiku bisa hilang, Ray?!" Bisma berteriak frustasi sambil meraup kasar wajah tampan bercambangnya.
Ray langsung menyahut dengan wajah dan nada suara penuh dengan penyesalan,"Maafkan saya. Saya ceroboh. Tuan muda hilang persis sama dengan waktu menghilangnya Mawar. Saya rasa Mawar yang telah menculik Tuan muda, Tuan" Ucap Ray.
"Jangan ngawur kamu! Mawar sudah meninggal terapung di kolam renang yang ada di dalam rumah megah di ujung kebun jagung tadi" Sahut Bisma masih dengan nada dan wajah frustasi bercampur lelah.
"Hah?!" Ray tersentak kaget dan hampir saja ia menabrak mobil yang ada di depannya.
"Hati-hati, Ray!" Pekik Bisma.
"Maafkan saya, Tuan. Saya kaget mendengar Mawar telah meninggal dunia dengan cara mengenaskan seperti itu"
"Aku juga kaget menemukan Mawar mengapung tak bernyawa di kolam renang. Kita jangan pulang dulu! Kita laporkan hilangnya Mikha ke kepolisian dan setelah itu kita coba berkeliling mencari Mikha"
"Baik, Tuan. Apa kita tidak sekalian melaporkan kematiannya Mawar di rumah itu?" Sahut Ray sambil memperdalam menginjak pedal gas.
"Jangan dulu! Aku rasa Sita sudah melakukannya. Sita mencurigai aku. Aku takut kalau pihak kepolisian juga mencurigai aku"
Ray kembali mengerem mendadak mobil yang ia kendarai dan Bisma sontak mendelik ke Ray, "Kau mau kita berdua mati, ya?! Kenapa kamu tidak hati-hati dari tadi, hah?!"
"Maafkan saya, Tuan. Saya kaget lagi. Anda disekap di rumah itu bersama dengan Nona Nisita?"
"Hmm" Sahut Bisma singkat.
"Kenapa bisa begitu?"
"Aku juga tidak tahu, Ray" Sahut Bisma.
Nisita keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan dress yang terbuat dari satin. Dia mengambil sekenanya baju yang dia pakai saat ini karena bertemu dengan Mikha jauh lebih penting daripada memilih dan memilah baju yang ingin dia pakai saat ini.
Nisita menyibak kelambu yang mengelilingi box -nya Mikha dan sontak ternganga kaget lalu bertanya dengan nada gemetar, "Di mana Mikha? Sial! Apa Mawar dibunuh karena ingin melindungi Mikha? Di mana Mikha? Tidaaakkkk!!!!!!! Jangan Mikha! Kenapa kalian mengambil Mikha dariku?" Nisita jatuh lemas di atas lantai.
"Karena Mawar sudah mati lebih dari dua jam" Sahut Peri baik hati itu sambil duduk selonjor di sebelahnya Nisita.
Nisita menoleh ke peri baik hati untuk bertanya, "Apa Anda tahu di mana Mikha saat ini?" Nisita bertanya dengan wajah masih penuh dengan derai air mata.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu"
"Lalu, kenapa Anda muncul di depan saya kalau Anda tidak tahu apa-apa soal Mikha, bayiku!!!!!" Nisita berteriak frustasi.
Dan wanita berambut pendek bergelombang itu mendelik kaget saat ia melihat peri baik hati menghilang dari hadapannya dan ada suara Bisma menggema di kamar itu, "Bayimu? Mikha adalah bayimu?"
Nisita menoleh ke arah suara dan berkata dengan wajah yang masih penuh derai air mata, "Iya! Mikha adalah bayiku. Bayi kita berdua. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa lakukan tes DNA"
"Ray"
"Baik, Tuan" Ray langsung menelepon dokter Rendy untuk segera datang ke kediamannya Bisma Mahesa untuk mengambil sampel darahnya Nisita.
Selama menunggu kedatangannya dokter Rendy, Bisma yang duduk bersila dan Nisita yang duduk dengan memeluk kedua lututnya di atas lantai hanya bersitatap dalam diam.
Bisma membiarkan Nisita terus menangis terisak di depannya karena ia takut mendekati Nisita. Dia takut wanita itu menambah daftar salah pahamnya ke dia.
Kenapa aku tidak ingat pernah berhubungan badan dengan wanita ini sebelumnya? Kenapa tiba-tiba ada bayi di antara kita. Mikha adalah bayiku dengan wanita ini? Batin Bisma.
Kalau kau ingin membunuhku saat ini, jangan salahkan aku kalau aku yang terlebih dahulu membunuhmu. Batin Nisita yang masih mencurigai Bisma sebagai pembunuh bertopeng.
Setelah dokter Rendy selesai mengambil sampel darah Nisita, barulah Nisita selonjor dan di saat itu, dokter Rendy menemukan ada luka di telapak kakinya Nisita.
Saat dokter itu ingin mengobati luka di telapak kakinya Nisita, Bisma langsung berkata, "Tinggalkan kotak obat kamu dan tinggalkan kami berdua. Aku yang akan mengobati lukanya!"
"Kau bisa?" Tanya dokter Rendy sambil meletakkan kotak obatnya di atas lantai.
__ADS_1
"Tentu saja bisa. Itu hanya luka kecil dan tidak perlu dijahit, kan?"
"Iya" Sahut dokter Rendy.
"Tinggalkan kamu!"
"Baik" Sahut Rendy dan Ray secara bersamaan. Kemudian Ray menutup pintu kamar tanpa bersuara.
"Aku masih bisa memukul kamu dan meremukkan tulang kamu kalau kamu berani macam-macam sama aku" Nisita mendelik ke Bisma dan mulai bersikap waspada.
"Kau ibu dari anakku. Aku langsung memutuskan untuk percaya sebelum hasil tes DNA-nya keluar. Kalau aku ingin membunuh kamu, aku sudah lakukan dari tadi. Aku bisa menyuruh Rendy menyuntikkan racun ke tubuh kamu. Tapi, tidak, kan? Aku hanya ingin mengobati luka kamu karena kamu ibu dari anakku dan soal itu kita bahas nanti saja"
"Baiklah. Aku percaya sama kamu saat ini. Tapi, aku masih mencurigai kamu dan belum seratus persen memercayai kamu"
"Oke. Terserah kamu. Aku tinggal membuktikan ke kamu secara perlahan kalau aku bukan seorang pembunuh. Aku memang terkenal dingin dan tegas pada semua karyawanku. Tapi, aku bukan seorang pembunuh" Bisma berucap sembari membersihkan luka di telapak kaki Nisita dengan penuh kelembutan dan sangat hati-hati.
Dia bisa selembut ini juga ternyata, Batin Nisita.
Nisita meringis dan di saat Nisita meringis, Bisma menundukkan wajah tampannya untuk meniup perlahan telapak kakinya Nisita.
Dia wanita yang sangat tangguh dan sangat manis. Kenapa aku bisa lupa akan dia? Aku bahkan punya anak dengan dia, gila! Batin Bisma Mahesa.
Hei! Hatiku yang gila dan jantungku yang aneh. Jangan terpesona dengan kelembutan yang ia perlihatkan saat ini. Ingatlah! Kamu belum benar-benar mengenal pria di depanmu ini meskipun kau telah memiliki anak dengannya. Batin Nisita.
Namun, hati dan jantung Nisita mengkhianati tuannya. Hati Nisita berdesir hebat dan jantung Nisita berdebar kencang entah karena ketakutan karena ia masih mencurigai Bisma sebagai pembunuh bertopeng itu atau jantungnya berdebar kencang karena ia menyukai kehangatan tangan Bisma yang tengah mengobati luka di telapak kakinya.
Bisma sontak mengumpat kesal di dalam hatinya, sial! Kenapa dia imut banget saat menahan sakit seperti ini. Gila! Aku bahkan ingin menciumnya saat ini juga. Tahan diri kamu Bisma! Tahan diri kamu!
Saat Bisma mengoleskan salep luka setelah membersihkan luka di telapak kaki Nisita, wanita berparas manis itu mendesis kesakitan dan sontak mengibaskan kakinya. Dressnya menjadi tersingkap dan Bisma bisa melihat paha dalamnya Nisita.
Nisita tersentak kaget dan saat wanita berambut keriting bergelombang itu hendak menarik turun dress yang terbuat dari kain satin itu, Bisma menahan tangan Nisita sambil bertanya, "Luka merah apa di paha kamu?"
Bisma menyibak ke atas dress Nisita dan mengelus kulit di sekitar bekas luka bakar yang ada di paha dalam Nisita.
Nisita menepis tangan Bisma dengan kasar dan langsung menurunkan dressnya.
"Itu bekas luka bakar. Kenapa kau bisa mendapatkan bekas luka bakar itu?"
Pertanyannya Bisma membuat angan Nista kembali ke masa sebelum ia mengalami reinkarnasi, Dia mendesah saat ia bisa merasakan kembali panasnya alat pengeriting rambut yang ditempelkan ke paha dalamnya saat ia tertangkap melarikan diri dari sekapannya Chelsea. Bahkan wajahnya juga disiram air es berulangkali dan ditampar entah berapa kali sampai ia jatuh pingsan. Walaupun ia kesakitan setelah menerima siksaan sehebat itu, Nisita masih bersyukur saat ia mendapati kandungannya baik-baik saja.
"Kenapa malah diam dan melamun? Siapa yang melukaimu dengan kejam seperti itu?"
Alih-alih menjawab pertanyannya Bisma, Nisita mendelik dan bertanya, "Sudah selesai mengobati lukaku, kan? Aku akan pergi mencari Tuan muda"
Bisma mencekal pergelangan kaki Nisita sambil berkata, "Belum Aku belum membalutnya. Tunggu sebentar!"
Nisita membiarkan Bisma membalut luka di telapak kakinya. Lalu, setelah Bisma melepaskan kakinya dan bangkit berdiri sambil berkata, "Sudah selesai" Nisita ikutan bangkit berdiri dan saat ia limbung ke depan, Bisma langsung membopong Nisita.
"Turunkan aku!" Cantika mengayun-ayunkan kedua kakinya dan melotot ke Bisma.
Bisma mengabaikan Nisita dan terus berlari ke halaman depan. Pria itu kemudian memasukkan Nisita dengan pelan ke dalam mobilnya, memakaikan sabuk pengaman dan berkata, "Kita akan mencari Mikha bersama-sama"
Nisita mendelik dan berkata, "Nggak mau!" Sambil membuka sabuk pengaman.
Bisma memakaikan sabuk pengaman itu dan sambil menggeram kesal ia berkata, "Kau terluka. Apa kau mau mati konyol sebelum kau bertemu dengan Mikha? Kau sangat menyayangi Mikha, kan?"
"Sial! Kau benar" Sahut Nisita dengan nada dan sorot wajah menyerah kalah.
Bisma tersenyum puas, lalu ia menutup pintu, berlari kecil mengitari mobil dan masuk ke jok kemudi. Bisma memasang sabuk pengaman dengan menoleh ke Nisita dan berkata, "Kalau nurut, kan, manis. Yeeaahhhh! Walaupun kau sudah manis dari sananya"
"Hentikan omong kosong kamu dan jalan!" Nisita mendengus kesal tanpa menoleh ke Bisma.
__ADS_1