Terlilit Takdir Cinta

Terlilit Takdir Cinta
Ingat Semua


__ADS_3

Cantika menerima kiriman rekaman semua kejahatannya Chelsea dari Nisita. Letnan berparas cantik dengan bola mata biru itu seketika menggeram penuh amarah dan sambil mengepalkan kedua tinjunya, ia berteriak ke semua anak buahnya, "Ayo kita segera temukan Chelsea Maheswari Mahesa. Bahkan jika harus mencarinya ke kutub Utara akan aku lakukan. Kita harus segera menangkap wanita Iblis itu sebelum jatuh korban lagi dan cari juga seorang bayi. Kemungkinan Chelsea lah yang sudah menculik putra tunggalnya Bisma Mahesa"


"Baik!" Sahut kesepuluh anak buahnya Cantika sambil berlarian kecil menyusul langkah lebar Letnan cantik mereka


"Akui saja Sita, kalau kau menginginkan aku seperti aku menginginkan kamu" Bisma berbisik di telinga Nisita, menggigitnya pelan, kemudian memainkan telinga itu.


Nisita hanya bisa diam membisu dan melenguh lirih saya Bisma menggigit pelan bibirnya dan menelusupkan lidah untuk mengajak lidah Nisita berdansa


Bisma mengerang kalah dan dengan tidak sabar ia mengangkat Nisita dan meletakkan wanita yang sudah membuatnya tergila-gila itu di atas piano, tanpa melepaskan ciumannya. Kemudian pria tampan dan gagah itu mengajak Nisita menyatukan gairah dan cinta malu-malu yang masih ada di antara mereka di atas piano. Gemuruh napas panas beradu dan debaran jantung abnormal berpacu cepat. Desiran hangat di hati membelenggu kedua insan itu.


Bisma kemudian menggendong Nisita dan melangkah ke kamar dengan masih mengajak wanita berparas manis itu berciuman.


Bisma menurunkan Nisita dengan pelan di atas lantai marmer. Nisita mendorong pelan dada pria tampan di depannya, lalu mundur ke belakang sebanyak dua langkah. Nisita melepas kaos dan jinsnya.


Mata Bisma berkilat saat ia melihat kain yang membalut tubuh rampingnya Nisita


Bisma berkata dengan suara serak menahan gairah, "Kau suka dengan Pilihanku?"


Nisita menunduk sejenak lalu menatap Bisma dengan memiringkan bibirnya, kemudian berkata, "Biasa aja dan karena nggak ada yang lain, maka dengan sangat terpaksa memakai pilihanmu ini"


"Benarkah?" Bisma menyeringai nakal sambil melangkah pelan mendekati Nisita.


Nisita yang masih tersihir akan pesonanya Bisma, mulai menggoda dan Bisma mulai melangkah pelan dengan menggeram menahan gairah.


Nisita tampak sangat manis dan seksi dengan wajah merona malu.


"Kau indah, Sayang. Sangat indah" Bisma menatap Nisita dengan merona malu saat wanita itu menyusuri wajah tampan dan cambang tipisnya.


Bisma merengkuh Nisita ke dalam pelukannya dan memandangi wajah Nisita. Pria tampan itu bisa melihat kulit wanita berparas manis itu merona serupa dengan warna matahari yang tenggelam di musim penghujan.


Bisma lalu mendorong Nisita ke belakang sampai punggung Nisita menabrak tembok kamar dengan pelan. Tangan Bisma kemudian mencengkeram kedua pergelangan tangan wanita berparas manis itu dan menaikannya, menahan tangan itu ke dinding, sementara kepalanya terus bergerak ke bawah dan semakin menunduk.


Nisita bisa merasakan napas hangat Bisma di kulitnya, bisa merasakan aroma mint napas pria itu, dan aroma maskulin parfum pria tampan itu. Rasanya terlalu familier. Di saat otaknya mengingatkan dia untuk kembali mewaspadai Bisma dan jangan menyerah pada permainannya Bisma.


Nisita memalingkan wajah ke satu arah sebaliknya sambil berusaha melawan untuk menghindari dominasi dari bibir Bisma walaupun dia sadar betul dia tak mungkin bisa menang.


Beban tubuh gagahnya Bisma yang mengungkungnya di dinding terasa sangat berat. Otaknya berkata menghindarkan, namun secara naluri ia memejamkan mata, ingin menyingkirkan harapan indahnya pada pria itu. Tapi, sebaliknya semua indra perasa dan memorinya melemparkan dirinya kembali ke masa ketika mereka pertama kali bercinta. Ketika ia menyerahkan semua rasa, hati, dan cintanya yang di luar akal sehat pada Bisma. Dia seketika mengumpat di dalam hatinya, kenapa di beberapa menit yang lalu dia hilang kesadaran dan justru menggoda Bisma. Dia kembali mengumpat saat ia menyadari semua kebodohannya itu.


Namun, naluri tetap menang di dalam segala hal. Naluri selalu berhasil mendorong akal sehat untuk pergi menjauh sejauh-jauhnya. Nisita menanggapi semua permikaan pria tampan itu dalam berbagai cara. Seperti lapisan es yang retak di bawah tekanan yang luar biasa luar, emosi Nisita menimbulkan celah dalam pengendalian dirinya. Alih-alih mendorong Bisma dan berlari pergi menghindari Bisma, ia justru mendambakan pria itu. Sekujur tubuhnya bertindak seolah di luar kendalinya. Emosinya menguasai dirinya secara mutlak.


Bibir Bisma menyentuh bibir Nisita kembali setelah asyik menjelajahi leher Nisita. Bibir pria itu terasa panas dan menuntut.


Bisma kemudian menyatukan dirinya di sana, dengan punggung Nisita menempel di dinding. Setelah keduanya mengerang secara bersamaan, Pria itu membopong Nisita di atas ranjang, merebahkan Nisita di atas ranjang dengan pelan kemudian berguling dengan cepat sambil menarik lengan Nisita.


Nisita merona malu saat dirinya berakhir duduk di atas perutnya Bisma. Kemudian bertanya, "Apa mau kamu?"


"Sekarang giliranmu. Lakukanlah! Aku milikmu sekarang" Bisma menepuk dadanya dengan senyum penuh cinta dan gairah.

__ADS_1


Dengan merona malu dan tampak tersiksa Nisita menekankan bibir ke leher, rahang dan bibir Bisma, lalu dengan putus asa wanita berparas manis itu menyusuri garis rahang pria itu sambil bergerak pelan di atas Bisma.


Saat gerakan Nisita menjadi cepat dan semakin liar dengan sendirinya tanpa bisa dikendalikan, Bisma memainkan tangannya di titik favoritnya.


Dada berdenyut nyeri seketika itu juga, namun Nista menikmatinya.


Saat Nisita bergerak seksi dan liar, Bisma mendapatkan penglihatan yang ia alami di masa lalu. Dia ingat siapa Nisita. Ia ingat saat pertama kali ia bertemu dengan Nisita, menikah di bawah tekanan Chelsea, melakukan malam pertama juga di bawah tekanan Chelsea. Bisma langsung menangkup wajah Nisita menurunkannya dan mengajak Nisita berciuman. Bisma telah mengingat semuanya seketika itu juga.


Nisita melengkungkan tubuhnya ke atas dan mendongakkan wajahnya sambil memejamkan mata saat ia berhasil mencapai puncak. Wanita berambut pendek bergelombang itu kemudian ambruk di samping Bisma.


Bisma tersenyum puas. Menciumi peluh di wajah Nisita sambil menarik selimut. Kemudian dia memeluk Nisita dan berbisik di telinga Nisita, "Terima kasih, Sayang. Kau hebat"


Saat Bisma melihat Nisita tidur lelap di dalam pelukannya, pria super tampan dan gagah itu bergumam, "Terima kasih kau bisa bertahan dan tetap hidup selama ini. Maafkan aku yang tidak bisa melindungi kamu di masa lalu. Tapi, aku janji di masa ini, aku akan melindungi kamu dan anak kita dengan seluruh jiwa dan ragaku"


Bisma bangun dan menyahut, "Sebentar Ray, aku akan keluar"


Setelah memakai kembali semua bajunya, Bisma berjalan ke pintu. Bisma merengkuh Mikha ke dalam pelukannya dengan senyum penuh syukur dan langsung menciumi wajah tampan putranya dengan penuh cinta. Air mata haru dan penuh syukur tergenang di kedua pelupuk matanya.


"Nona Chelsea menghilang entah ke mana Tuan. Wanita gila itu, emm, maaf, Tuan......"


Bisma mengangkat wajahnya untuk menatap Ray dan berkata, "Nggak apa-apa. Dia memang gila dan aku sepertinya telah menikah dan mencintai wanita yang salah selama ini. Teruskan ucapanmu!"


"Wanita gila itu tega meninggalkan Tuan muda sendirian di dalam rumah kosong. Tuan muda untungnya kuat. Tuan muda bisa bertahan dan tidak rewel"


"Kau sudah kasih Mikha minum?"


"Sudah, Tuan. Saya langsung membeli botol bayi, mencucinya dan juga membeli susu formula. Kemudian saya langsung membuatnya di minimarket terdekat. Tuan muda minum dengan kencang tadi. Kasihan Tuan muda dia kelaparan dan kehausan. Nona Chelsea bukan saja gila, tapi juga kejam"


"Baik, Tuan"


"Pergilah beristirahat!"


"Baik, Tuan"


Bisma kemudian berputar badan, menutup pintu kamar dengan tumit kaki, dan melangkah pelan ke ranjang sambil menciumi wajah tampan putranya. Pria gagah bercambang tipis itu kemudian merebahkan Mikha dengan pelan ke ranjang, kemudian ia pun merebahkan dirinya dan langsung memeluk anak dan istrinya dengan senyum bahagia.


Bisma bergumam di dalam hatinya saat ia memejamkan mata, kau akan aku kasih kejutan istimewa besok, Sita. Aku sudah ingat masa lalu kita dan sekarang anak kita sudah ada di dalam dekapan kita.


Chelsea berhasil melarikan diri dari kejaran polisi dan kemudian bersembunyi di rumah mewah. Chelsea tersentak kaget mendapati kenyataan di depannya. Pria yang selama ini menjadi anak buahnya, pria yang selama ini selalu menuruti perintahnya, ternyata seorang dokter bedah terkenal dan putra dari seorang konglomerat. Kekayaan ayah dari pria ini bahkan melebihi kekayaannya Bisma Mahesa.


Chelsea seketika mengumpat kesal di dalam hatinya. sial! Kenapa aku tidak mengetahui latar belakang pria ini dari dulu. Kalau tahu, aku akan menikahinya alih-alih menikahi Bisma bodoh itu.


"Kenapa kau tidak bilang soal kehidupan kamu yang sebenarnya ke aku?"


"Karena itu tidak penting" Pria itu berita sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya dan mental Chelsea dengan sorot mata dingin dan raut wajah datar.


"Sial! Tapi, itu penting bagiku" Sahut Chelsea.

__ADS_1


"Kenapa? Kau ingin menikahiku alih-alih Bisma kalau kau tahu aku sekeren dan sekaya ini?" Sahut pria tampan itu dengan senyum mengejek.


Sial Apa dia bisa membaca pikiran? Batin Chelsea.


"Bukan begitu. Aku merasa bersalah karena telah menyuruhmu melajukan ini dan itu padahal derajat dan pangkat kamu jauh lebih tinggi dariku. Bahkan jauh lebih tinggi dari Bisma Mahesa. Maafkan aku kalau terkadang aku kasar dan maafkan aku kalau aku pernah menampar kamu" Chelsea mengatupkan kedua tangan di depan dada.


"Lupakan saja! Aku menyukai semua permainan kita. Aku juga tidak keberatan kamu tampar kalau aku melakukan kesalahan" Sahut pria itu dengan santainya.


"Kenapa kau mendaftar menjadi anak buahku? Kenapa kau mau mengikuti semua permainanku?"


"Karena kau teman SMP-ku" Sahut pria itu masih dengan wajah datar dan sorot mata dingin.


"Apa?!"


"Yeeeahhhh! Tentu saja kau tidak ingat aku. Dulu aku gemuk dan memakai kacamata sedangkan kau gadis yang sangat cantik dan sangat populer. Kau pintar melukis dan bernyanyi, banyak cowok yang jauh lebih keren dari aku mengelilingi kamu"


"Tapi, kamu juga sangat keren dan tampan sekali sekarang"


"Terima kasih"


"Tunggu! Apa kamu mencintaiku saat SMP dan masih menyimpan rasa cinta untukku sampai sekarang. Hahahahahaha, aku tidak keberatan kalau kau masih mencintaiku. Aku akan belajar jatuh cinta padamu dan aku rasa dengan cepat aku bisa jatuh cinta padamu, lalu aku akan menceraikan Bisma dan tidak masalah kalau kita harus menikah"


"Mimpi! Kalau mimpi jangan terlalu percaya diri" Pria itu menggeram kesal.


"Mimpi?! Hah?! Jadi, kau tidak pernah mencintaiku? Tapi, kenapa kau tahu kalau aku populer dan sangat cantik waktu SMP?"


"Itu karena kau selalu ada di mana-mana" Sahut pria itu acuh tak acuh.


"Kalau cuma teman SMP kenapa kau selalu membantuku selama ini? Teman SMP kira banyak di luaran sana. Kenapa kau tidak membantu mereka juga?"


Alih-alih menjawab pertanyannya Nisita, pria tampan berkulit bersih dan putih pucat itu memilih berputar badan dan pergi meninggalkan Chelsea sambil bergumam di dalam hatinya, Karena aku sudah mengalami reinkarnasi sebanyak dua kali dan selalu gagal mendapatkan Nisita Ananta. Wanita wayang sangat aku cintai.


Chelsea menatap punggung pria tampan yang selama ini menjadi anak buahnya dengan wajah penuh tanda tanya dan bergumam, "Kenapa ia menolongku dan selalu menuruti semua permainanku?"


Keesokan harinya Nisita bangun saat ia mendengar suara bayi berdecak dan langsung memeluk Mikha dengan tangis haru. Ia menciumi wajah putra tampannya dengan penuh rasa syukur dan penuh cinta. Nisita ingin memberikan ASI ke Mikha, namun karena kelelahan, kesedihan, frustasi, dia tidak bisa lagi memberikan ASI ke Mikha. Nisita kemudian menggendong Mikha keluar dari dalam kamar sambil bergumam, "Kamu harus, ya, Sayang. Sebentar, ya, Sayang, Mama akan bilang ke Papa kamu untuk beli susu formula dan ..........."


"Kembalilah ke tempat tidur! Aku sudah buatkan susu formula untuk anak kita" Bisma tersenyum ke Nisita dengan wajah penuh cinta dan rasa syukur.


Nisita kembali duduk di tepi ranjang dan menerima botol berisi susu formula. Dia kemudian menyusui putra tampannya dengan senyum bahagia.


Bisma duduk di sebelahnya Nisita, ia mencium kening Nisita, merangkul bahu Nisita, dan ikut memegang botol susu.


Saat Nisita menoleh ke Bisma, pria tampan itu memberikan kecupan mesra di bibir Nisita yang masih tampak bengkak akibat dari ulahnya semalam.


Beberapa jam kemudian Bisma mencium kening Nisita dan mencium kedua pipi gembulnya Nisita kemudian berkata, "Aku tinggal sebentar! Vila ini dijaga ketat dengan sistem keamanan yang canggih. Kau dan Mikha akan aman jika tetap berada di dalam. Jangan pergi ke mana pun!"


"Iya. Asalkan ada Mikha, aku akan betah berada di dalam rumah"

__ADS_1


"Bagus!" Bisma mendaratkan kecupan di pucuk kepalanya Nisita.


Bisma kembali masuk ke dalam kamar dan senyum semringah langsung menghiasi wajah tampan bercambang tipisnya saat ia menghirup aroma kamarnya penuh dengan aromanya Nisita. Dengan menghirup aroma itu saja, hadiah Bisma kembali timbul dan pria itu bergegas keluar dari dalam kamar saat ia sudah mengambil kunci mobil dan telepon genggamnya. Kalau ia berlama-lama di kamar, ia akan menarik Nisita dan mengajak Nisita bercinta lagi padahal masih banyak perkejaan yang harus ia lakukan di hari ini.


__ADS_2