
Chelsea menunduk dan menjawab santai, "Aku dengar percakapan kamu dengan Ray kemarin"
"Benarkah kau mendengarnya? Bukankah waktu itu kau tidak ada di ruang kerjaku dan kau ada di ......."
"Kita harus sarapan dengan cepat dan jangan banyak ngomong! Polisi menunggu kita, kan. Kita juga ditunggu oleh karyawan-karyawan kita di kantor" Sahut Chelsea sambil mengulas senyum cantik di depan Bisma.
Bisma langsung berkata di dalam hatinya, kenapa aku merasa kalau aku harus mewaspadai Chelsea detik ini juga? ,Padahal dia adalah Istri yang sudah mendampingiku selama lima tahun. Tapi, kenapa sekarang ini tiba-tiba aku merasa kalau aku belum cukup dalam mengenalnya.
Chelsea menghentikan langkahnya sejenak di tengah pintu untuk berbisik ke Mawar, "Jangan kasih makan gadis itu! Tunggu aku pulang baru kasih makanan ke dia"
Mawar sontak mematung dan diam membisu.
"Ngerti?!" Chelsea menatap tajam ke Mawar.
Mawar hanya sanggup menganggukkan kepalanya sekali dan Chelsea langsung berkata, "Bagus"
Saat Chelsea masuk ke jok belakang mobil mewah milik suaminya, Bisma langsung bertanya, "Apa yang kau bisikkan ke kepala pelayan kita?"
"Bukan hal penting. Hanya masalah rumah" Sahut Chelsea sambil bersedekap dan memasang wajah santai.
Bisma melirik Chelsea saat wanita itu menggerakkan ibu jari di telepon genggam. Lalu, Bisma memundurkan wajahnya karena kaget saat tiba-tiba Chelsea memberikan telepon genggam ke Bisma sambil berkata, "Lihatlah!"
"Apa yang harus aku lihat?" Bisma menautkan kedua alisnya dan menatap telepon genggamnya Chelsea yang kini ada di dalam genggamannya dengan penuh tanda tanya di wajah.
"Pencet tombol play dan kau akan tahu apa yang perlu kamu lihat"
"I.....ini adalah rekaman pas aku memukul wajah Deni"
"Iya. Deni ditemukan mati saat itu, kan?"
"Apa?! Tapi, aku tinggalkan Deni waktu itu dalam keadaan hidup. Bukan aku yang membunuhnya"
__ADS_1
"Tapi, rekaman CCTV-nya berkata lain. Bagaimana kalau rekaman ini sampai di tangan polisi?"
Bisma melemparkan telepon genggam ke pangkuannya Chelsea dan mendelik ke istri cantiknya, "Apa maksud kamu?"
"Aku ingin kau diam saja dan tidak memberikan respons apapun pas polisi menanyaiku nanti. Kalau kau membantah pernyataanku di depan polisi atau memberikan respons sekecil apapun, maka aku akan berikan rekaman ini ke polisi"
"Kau! Kau tega lakukan semua ini ke aku? Bukankah kau mencintaiku, Chelsea?"
Chelsea mengelus pipi Bisma dan berkata, "Cinta juga butuh logika. Aku tidak mau mati konyol karena cinta. Aku tidak mau dipenjara"
"A.......apa itu berarti kau yang telah membunuh kedua wanita sebelum Nisita masuk ke rumahku?"
"Kamu Suamiku dan kamu mencintaiku. Harusnya kamu tahu siapa yang harus kamu percayai" Ucap Chelsea dengan santainya sambil memasukkan kembali telepon genggamnya ke dalam tas jinjingnya yang bermerk dan berharga fantastis.
Bisma menghadapkan wajahnya ke depan dengan pelan. Dia merinding melihat sikap santainya Chelsea saat ini. Seketika itu juga, Bisma tidak memercayai Chelsea.
Nisita berjalan tertatih setelah ia bangun dan bangkit berdiri dari atas lantai dingin ruangan itu. "Kenapa aku bisa tidur di atas lantai? Apa aku pingsan semalam? Ssshhhh! Aduh! Kenapa bagian bawah terasa sangat perih dan aneh. Pipiku juga terasa sakit, kepalaku berdenyut nyeri"
Gadis manis itu kemudian memutuskan untuk mandi dan berapakah kali mendesis kesakitan saat air dingin mengguyur titik bagian bawah. Nisita meraba beberapa tanda merah kebiruan di leher, dada, dan bahunya. Saat ia mengusap pelan tanda merah kebiruan yang ada di lehernya, memorinya tenang ke peristiwa semalam dan seketika itu ia menitikkan air mata, lalu gadis manis itu bergegas mengusap air mata yang jatuh di atas pipinya yang masih lebam dan bergegas memakai baju.
Gadis manis itu kemudian berjalan tertatih untuk duduk di tepi ranjang. Untungnya jarak kamar mandi dan ranjang tidak jauh. Tiga kali melangkah dari dalam kamar mandi Nisita sudah bisa duduk di tepi ranjang.
Nisita mengelus perutnya saat terdengar bunyi, Krucukkkkk! Dia lapar. Sangat lapar. Tapi, tidak ada apapun yang bisa ia makan. Gadis manis itu kemudian naik ke atas ranjang, meringkuk, dan memejamkan mata. Dia memutuskan untuk tidur lagi dan berharap saat bangun ia berada di tempat lain dan bisa melenggang bebas dengan santainya tanpa ada rasa takut.
"Saya melukis seharian di galeri lukis yang ada di rumah saya. Iya, kan, Sayang?" Chelsea menggelungkan kedua tangannya di lengan Bisma dan Bisma langsung tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Lihat, kan, Bu Polisi, Suami saya mengiyakannya"
Padahal seingatku, kamu pergi memulangkan Kedua wanita itu. Kejadiannya di tahun, bulan, hari, dan tanggal yang berbeda. Namun, kau memulangkan mereka di jam yang sama, jam dua belas malam. Batin Bisma.
"Restoran itu dulunya milik keluarga Anda, kan? Kenapa bisa terjadi kebetulan seperti ini? Dan kenapa ada yang aneh. Restoran itu sudah lama terbengkalai, tapi freezer-nya dinyalakan dan dibiarkan menyala untuk waktu yang sangat lama, dua tahun lebih" Petugas kepolisian yang menanyai Bisma dan Chelsea adalah seorang wanita yang sangat cantik.
__ADS_1
"Saya adalah artis, pelukis, dan Istrinya Bisma Mahesa. Tentu saja banyak orang yang ingin menjatuhkan saya. Siapa tahu pelakunya adalah salah satu haters saya atau bahkan fans fanatik saya atau saingan saya di dunia entertainment" Ucap Chelsea dengan santainya.
Saat itulah Bisma baru mengakui kalau istrinya yang super cantik itu sangat pandai berakting. Dan apalagi yang sudah Chelsea sembunyikan darinya? Mana sikap Chelsea yang asli atau sekadar akting selama Bisma hidup berumahtangga dengan wanita cantik itu. Bisma benar-benar mulai bergidik ngeri.
"Oke. Saya sudah simpan dan rekam pernyataan Anda, Nina Chelsea Maheswari Mahesa. Sekarang giliran Anda, Tuan Bisma Mahesa. Anda pergi ke mana waktu itu?"
"Saya bekerja di rumah. Saya ada di ruang kerja saya yang ada di lantai satu dan Anda bisa memeriksa CCTV di rumah saya. Saya ada di ruang kerja saya. Asisten pribadi saya juga ada di sana waktu itu" Sahut Bisma.
"Berarti saya juga bisa mendapatkan rekaman keberadaan Anda di ruang lukis Anda, Nina Chelsea?"
"Ah! Kebetulan sekali ruang lukis saya tidak ada kamera CCTV-nya"
Bisma menoleh ke Chelsea karena kaget, dia ingin bertanya sejak kapan kamera di ruang lukis Chelsea dilepas? Namun, demi keamanan semuanya dia memilih untuk hanya menatap Chelsea dan diam seribu bahasa.
"Oh! Oke. Saya akan ke rumah Anda sekarang juga. Apa bisa?"
Sial! Aku mengurung Nisita di paviliun belakang. Kalau sampai ketahuan polisi, maka aku bisa mampus. Batin Chelsea. Lalu, wanita super cantik rou langsung memekik,
"Jangan sekarang!"
"Kenapa?" Bisma dan polisi wanita itu bertanya secara kompak ke Chelsea.
Chelsea mengelus dada suaminya dan tersenyum ke Bisma, "Sayang, kau lupa, ya, kita akan pergi ke luar kota hari ini untuk persiapan ulangtahunku. Kita baru kembali lusa"
Bisma hanya bisa menganggukkan kepala dan tersenyum kembali.
"Oke. kalau begitu lusa saya akan........"
"Jangan lusa! Lusa saya akan menggelar pesta ulangtahun saya di rumah. Emm, gimana kalau hari Minggu saja. Kami tidak ada acara dan ada di rumah"
"Baiklah. Hari Minggu kami akan ke sana" Sahut polisi wanita itu.
__ADS_1