Terlilit Takdir Cinta

Terlilit Takdir Cinta
Jatuh Cinta


__ADS_3

Ray berdiri di depan meja tuannya dengan wajah panik, "Tuan, dua wanita yang pernah menjadi Istri kedua Tuan, apa Anda ingat?"


"Aku tidak ingat namanya. Tapi, aku ingat kedua wanita itu. Wanita yang pertama terus gemetar setiap kali aku dekati dan selama tiga bulan tinggal di sini wanita itu selalu menangis dan ia bahkan menangis histeris setiap kali ia melayani aku di ranjang, tapi pada akhirnya ia tidak kunjung hamil, lalu Chelsea geram dan memulangkannya. Terus, yang berikutnya, wanita itu tidak hamil-hamil juga padahal sudah hampir dua tahun dia menjadi istri keduaku dan Chelsea menjadi geram, kemudian memulangkannya tanpa menunggu kontrak kerja sama selesai. Kenapa kau panik seperti itu? Ada apa?"


"Kedua wanita itu ditemukan meninggal dunia Tuan. Tidak lama setelah Nona Chelsea memulangkan mereka"


"Hah?!" Bisma sontak bangkit berdiri.


"Saya yakin pelakunya bukan Anda karena saya selalu berada di samping Anda"


"Sial! Tentu saja bukan aku. Aku memang pernah menembak orang, tapi di kaki. Aku juga sering memberikan hukuman sebagai bentuk pengingat untuk siapa saja yang berani melanggar kontrak atau melanggar perintahku, tapi aku tidak pernah membunuh siapa pun"


"Saya tahu itu, Tuan dan saya percaya seratus persen kalau bukan Anda yang membunuhnya"


"Wanita yang tidak kunjung hamil baru saja dipulangkan oleh Chelsea, kan?"


"Wanita yang kedua yang tidak kunjung hamil bernama Anisa. Anisa dipulangkan oleh Nona Chelsea tiga bulan yang lalu dan wanita pertama yang terus menolak berhubungan dengan Tuan, bernama Catur. Catur dipulangkan satu bulan sebelum Anisa masuk ke rumah ini"


"Kenapa tiba-tiba mereka mati? Apakah ada hubungannya dengan aku?" Bisma menautkan kedua alisnya.


"Mereka tidak tiba-tiba mati, Tuan. Tidak ditemukan baru-baru ini mati. Jasad mereka ditemukan di sebuah freezer di sebuah restoran yang sudah terbengkalai. Freezer tersebut ditemukan oleh pembeli yang baru dan dia langsung melaporkan ke polisi saat ia menemukan ada mayat di dalam freezer tersebut. Kata pihak kepolisian Catur sudah meninggal selama kurang lebih dua tahun satu bulan dan Anisa meninggal tiga bulan yang lalu. Semuanya mengalami siksaan di tubuh mereka dan ada satu tembakan di jidat mereka"


"Berarti........mereka semua dibunuh setelah mereka keluar dari sini. Apa Chelsea pelakunya? Nggak! Nggak mungkin wanita secantik dan selembut Chelsea adalah pelakunya" Bisma menatap Ray dengan gamang.

__ADS_1


"Kita akan mengetahuinya besok, Tuan, apakah Nona Chelssea pelakunya atau bukan. Ini undangan dari pihak kepolisian, Tuan. Saya baru saja menerimanya dari teman saya yang bertugas di bidang kriminal. Besok, Anda dan Nona Chelsea harus datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan"


"Kenapa kedua wanita yang pernah menjadi istri keduaku, semuanya mati? Sial! Di mana Nisita? Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa, Ray"


"Kenapa Anda peduli sama Nona Nisita? Anda tidak pernah seperti ini sama Nona Anisa maupun Nona Catur, Tuan. Anda bahkan bersedia menyapa dan mengobrol dengan Nona Nisita, Anda bersedia makan bersama dan bahkan minta untuk dimasakkan. Anda juga bersedia menemani Nona Nisita membaca di ruang baca dan menolong Nona Nisita, saat Nona Nisita tenggelam di kolam renang"


"Kalau mengobrol dan makan bersama, Chelsea yang menyuruhku"


"Tapi, Anda tidak menuruti permintaan Nona Chelsea saat ada Nona Anisa dan Nona Catur, dulu. Anda tetap tidak bersedia mengobrol, makan bersama, atau mengakrabkan diri dengan mereka"


"Benar juga. Entahlah. Aku juga tidak punya jawaban atas pertanyaan kamu itu, Ray Tapi, aku selalu ingin berada di dekat Nisita dan entah kenapa aku tidak tega menyakitinya. Bahkan saat aku bentak dia dan melihat dia ketakutan, hatiku terasa sakit. Itulah kenapa kemarin malam aku tidak bisa melakukan penyatuan raga dengan Nisita. Entah kenapa kau tidak tega memaksa dia melakukan itu"


"Padahal Nona Catur dulu sering menangis dan Anda tetap tega melakukannya. Kenapa dengan Nona Nisita beda, Tuan?"


"Entahlah" Bisma meraup kasar wajahnya dan kembali bertanya dengan wajah panik, "Di mana Nisita sekarang?"


"Sial!" Bisma langsung berlari keluar dan melesat ke galeri seni istri cantiknya.


Bisma mengabaikan rasa tidak teganya saat ia melihat wajah pucatnya Nisita dan pria super tampan itu langsung merebahkan Nisita di ranjang, mengungkungnya dan berbisik di telinga Nisita, "Kamu harus melayaniku malam ini juga dan berdoalah agar kamu bisa cepat hamil kalau kamu tidak ingin hilang dari muka bumi ini"


Maksud perkataannya Bisma sebenarnya adalah untuk menyelamatkan hidup Nisita, namun Nisita mengartikannya sebagai ancaman. Gadis manis itu salah paham dengan maksud baiknya Bisma dan detik itu juga, Nisita sangat membenci Bisma Mahesa.


Chelsea menunggu di balik pintu geser sambil melukis rimbunan pohon bambu. Entah kenapa di malam ini, Chelsea ingin melukis rimbunan pohon bambu.

__ADS_1


Bisma masih asyik mengajak Nisita berciuman dan berhasil membuat Nisita berpartisipasi walaupun masih terkesan kaku.


Bisma menyusupkan wajahnya di leher Cantika dan berbisik di sana, "Kau tangguh Sita. Jangan menangis dan teruslah begitu! Kalau ada isak tangis sedikit saja maka itu adalah isak tangis terakhirmu"


Nisita membeliak kaget dan hanya bisa membatin, apa maksudnya? Lebih baik aku menurutinya malam ini. Setelah ini aku akan mencari cara untuk melarikan diri lagi.


Bisma kemudian menyusuri tubuh Nisita dengan mulutnya sampai ke bawah dan bermain asyik di titik kesukaannya.


Nisita memejamkan kedua matanya rapat-rapat dan mengigit bibir bawahnya agar tidak keluar air mata.


Sementara itu, Chelsea terus melukis dan terus mendengar aktivitas panas suaminya dari balik pintu geser tanpa ekspresi. Sebenarnya kalau mau jujur, Chelsea merasa panas dan cemburu setiap kali ia mencari wanita dan mempersiapkan wanita itu untuk tidur dengan suaminya dan mengandung anak suaminya. Tapi, demi harta dan tahta Mahesa Grup, Chelsea yang sangat mencintai Bisma, akhirnya rela melakukan semua itu.


Bisma merangkak naik untuk memainkan tangan dan bibir di dada Nisita. Cukup lama pria tampan itu bermain di sana. Kemudian, dia memagut bibir Nisita dan di saat lidahnya mengajak lidah Nisita menari dengan gerakan yang memabukkan, Bisma mendesak masuk dan saat pria itu merasakan sensasi yang luar biasa Bisma menarik bibirnya dari bibir Nisita, menengadah ke atas dan berusaha mendesak lebih dalam lagi.


"Aaaaaaaa!!!!!!" Nisita menjerit kencang dan seketika itu Chelsea tersentak kaget, wanita cantik itu tertegun menatap lukisannya yang tercoret tanpa ia sadari. Chelsea kemudian mengangkat wajahnya untuk melihat siluet di pintu geser yang ada di depannya seperti ia tengah menonton pagelaran wayang kulit. Namun, pagelaran wayang kulit kali ini membuat hatinya terasa sangat panas dan sakit. Dia melihat siluet suaminya terus bergerak dan ia mendengar suaminya terus mengerang tiada henti.


Hebat sekali wanita itu. Dia membuat suamiku memekik puas berulang kali. Padahal dengan dua wanita yang sebelumnya, suamiku langsung bangkit meninggalkan mereka begitu saja tanpa adanya pekik kepuasan seperti ini. Batin Chelsea sambil mematahkan kuas lukisnya yang terbuat kayu kecil.


"Apakah sudah, Mas? Kenapa lama sekali?" Chelsea berteriak dari balik pintu geser dengan nada bicara yang ia usahakan biasa saja padahal dadanya bergemuruh kencang karena cemburu.


"Ah....ah! Sebentar Chelsea! Sebentar lagi, ah!!!!!!" Bisma kemudian ambruk di sebelah Nisita dan langsung memeluk Nisita. Sebelum memejamkan mata, Bisma sempat berbisik, "Kau luar biasa, Sita. Terima kasih"


Nisita mengusap titik air mata di sudut matanya dan menoleh pelan, ia mengumpat kesal saat ia melihat Bisma Mahesa sudah memejamkan mata dan mendengkur halus.

__ADS_1


Nisita kemudian menatap langit-langit kamar dan mengusap kembali titik air mata di sudut matanya sembari mengumpat di dalam hatinya, sial! Pria ini sudah merenggut segel kesucianku dan sekaligus merenggut hatiku. A....aku mencintai pria ini, detik ini juga. Sial! Kenapa aku harus mencintai pria brengsek ini padahal di menit sebelumnya aku sangat membencinya, sial!!!!!!


Saat sudah tidak terdengar lagi suara lenguhan, pekik, dan jerit lirih, Chelsea keluar dari pintu belakang dan menyuruh anak buahnya yang berjaga di pintu belakang untuk membawa Nisita ke paviliun yang berada di halaman belakang rumahnya dan menyuruh mereka mengurung Nisita di sana.


__ADS_2