
Nisita terbangun dan langsung bangun untuk bersandar di ranjang sambil menarik selimutnya sampai ke leher saat ia melihat Bisma yang menjadi suaminya kemarin duduk di depan ranjangnya dan tengah mengamatinya dalam diam.
"Sudah bangun? Apa yang kau rasakan saat ini?"
"Sa....saya tidak merasakan apa-apa,Tuan"
"Hmm. Aku lihat dari kepala sampai sekujur tubuh kamu nggak ada luka"
Nisita refleks melongok ke dalam selimut dan langsung mengangkat wajahnya kembali untuk bertanya, "Siapa yang mengganti baju saya?"
"Aku"
Nisita membeliak kaget, "Hah?!"
"Kenapa? Aku melakukannya karena ingin menyelamatkan boneka kesayangan Istriku. Aku nggak ingin kamu terluka sebelum Istriku berhasil memperoleh keturunanku dari rahim kamu. Besok Chelsea sudah pulang. Jam enam sore, Chelsea sudah sampai di rumah"
Mendengar Chelsea pulang besok sore, Nisita mencengkeram erat kedua ujung selimutnya dengan wajah ketakutan. Bayangan kejadian semalam menari-nari di benaknya dan spontan membuat tubuhnya bergidik ngeri.
Bisma kemudian berkata, "Aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh" Setelah mengucapkan kata-kata itu, pria super tampan itu bangkit berdiri dan berputar badan untuk melangkah pergi meninggalkan kamar Nisita sambil berkata, "Aku tunggu kamu di meja makan"
Sepeninggalnya Bisma, Nisita langsung turun dari tempat tidur dan berjalan lemas untuk keluar dari dalam kamarnya lalu menuju ke ruang makan. Walaupun badannya terasa remuk redam dan hatinya terus berdebar ketakutan. Dia masih belum mengerti karakter Bisma dan Chelsea sebenarnya. Namun, yang pasti hatinya merasa kalau harus selalu mewaspadai mereka dan tidak boleh terlalu akrab dengan suami istri itu.
Tapi, Bisma Mahesa adalah suamiku. Bukankah sudah seharusnya aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang Istri. Tapi, kenapa aku justru selalu ketakutan setiap kali berada di dekatnya. Aku juga tidak merasa nyaman saat ia menyentuhku semalam. Aku juga merasa tidak nyaman tinggal di sini. Aku tidak punya teman di sini. Batin Nisita.
Di meja makan, Bisma diam seribu bahasa dan Nisita pun diam seribu bahasa. Bisma kemudian bangkit berdiri dan pergi meninggalkan meja makan begitu saja tanpa menoleh dan mengatakan sepatah kata pun kepada Nisita.
Bisma berdiri di depan kintu kamarnya dan berkata ke Ray, "Katakan ke Nisita kalau besok pagi, aku ingin dia masak nasi goreng seafood untuk aku"
"Baik, Tuan"
"Nggak pedas"
"Baik, Tuan"
__ADS_1
"Sama siangnya suruh dia masak udang asam manis dan sayur asem bersama teman-temannya"
"Baik, Tuan"
"Oke. Kamu boleh pergi sekarang"
Ray langsung membungkukkan badannya dan berkata, "Selama beristirahat, Tuan"
Ray kemudian menegakkan badannya kembali dan bergegas ke kamarmu Nisita.
Setelah mendengar ketukan sebanyak tiga kali, Nisita membuka pintu kamarnya dan saat ia melihat wajah Ray, wanita itu langsung bertanya, "Ada perlu apa, Pak Ray?"
"Besok Tuan minta dimasakkan nasi goreng seafood untuk sarapan dan makan siangnya minta dimasakkan makanan yang tadi beliau minta"
"Baiklah" Sahut Nisita.
"Saya pamit" Ray menganggukan kepala lalu berputar badan dan pergi meninggalkan Nisita.
Ray menemui papanya Nisita dan memerintahkan anak buahnya untuk menampar pipi pria itu kanan dan kiri secara bergantian sebanyak sepuluh kali. Setelah pria itu bersimpuh lemas di lantai, Ray langsung berkata, "Itu hukuman kamu karena kamu sudah jadi tukang ngadu. Kamu sudah mengadu ke Rio Hartawan dan Tuan Bisma tidak menyukai hal itu. Jangan kau ulangi lagi!"
Papanya Nisita hanya bisa menundukkan wajah dan diam membisu. Lalu, Ray berbalik badan dan pergi begitu saja meninggalkan papanya Nisita yang pipinya memerah bekas tamparan.
Keesokan harinya, Nisita mulai memasak nasi goreng permintaannya Bisma Mahesa di jam setengah empat pagi karena ia sama sekali tidak bisa tidur nyenyak sejak ia tinggal di rumah mewahnya Bisma Mahesa. Untuk itulah ia memutuskan pergi ke dapur di jam setengah empat pagi sekalian memasak udang asam manis, sayur asem dan teman-temannya. Gadis itu selesai memasak di jam tujuh pagi dan langsung pergi ke halaman depan untuk berjoging di sana.
Tiba-tiba ada sebuah mobil masuk ke halaman depan di saat Nisita tengah melakukan peregangan otot. Nisita terkejut saat ia melihat siapa orang yang turun dari dalam mobil tersebut.
"Pa.....Papa? Papa?!" Nisita langsung berlari kencang untuk memeluk papanya.
Papanya Nisita mengusap punggung Nisita dan bertanya, "Apa kau baik-baik saja, Nak?"
"Sita baik-baik saja, Pa. Papa gimana?" Nisita menarik diri dari pelukan papanya dan terkejut saat ia melihat kedua pipi papanya tampak bengkak memerah. "Pipi Papa kenapa?"
Papanya Nisita langsung berkata, "Nggak papa. Papa cuma kurang hati-hati. Papa jatuh kemarin pas pulang kerja naik motor. Udah lanjutkan senam kamu! Papa akan menemui Tuan Bisma sebentar. Beliau ingin bertemu dengan Papa"
__ADS_1
"Ada masalah apalagi, Pa?"
"Nggak ada apa-apa. Tuan Bisma cuma ingin bertemu Papa sebagai mertuanya. udah Papa masuk dulu" Papanya Nisita terpaksa berbohong karena sebenarnya ia tidak mengetahui kenapa Bisma Mahesa memanggilnya sepagi ini dan pria Itu mengulas senyum palsu di depan putrinya karena ia tidak ingin melihat putrinya sedih dan ia tidak ingin mendapatkan hukuman dari Bisma Mahesa kalau ia mengadu ke Nisita soal luka lebam di kedua pipinya.
Bisma mendelik ke papanya Nisita dan berkata, "Jangan kau ulangi lagi perbuatan kamu! Kalau nggak, aku akan lakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan ke kamu ke Nisita"
"Jangan Tuan! Saya mohon jangan pernah menyakiti Nisita. Maafkan saya! Saya tidak bermaksud mengadu ke Tuan Rio Hartawan kemarin. Tuan Rio mencari Nisita karena....
"Sial! Aku tidak mau tahu soal Rio Hartawan. Sekarang pulanglah dan ingat jangan mencoba menguji kesabaranku!"
"Baik, Tuan"
Nisita langsung dibawa ke kamarnya saat papanya dibawa keluar dari dalam rumahnya Bisma karena Bisma tidak ingin Nisita bertemu kembali dengan pria itu.
"Papa! Jaga diri Papa baik-baik!" Nisita berteriak dari jendela kamarnya. Namun, papanya tidak bisa mendengarnya. Dengan sedih dan air mata berderai, Nisita bergumam, "Jaga diri Papa baik-baik dan jangan pernah mengkhawatirkan Nisita!"
Selamat sarapan dan makan siang, Bisma diam membisu. Dia tidak banyak bertanya ke Nisita seperti kemarin. Namun, Nisita justru merasa senang saat Bisma tidak banyak bertanya karena dia bisa makan dengan tenang.
Setalah makan siang, Nisita bertanya ke Mawar, "Di mana ruang bacanya? Saya ingin menghabiskan waktu dengan membaca buku di sana"
"Karena Tuan Bisma sudah mengjinkan Anda pergi ke ruang baca, maka saya akan antarkan Anda ke sana, Nona. Mari!"
Dua jam kemudian, Nisita tampak asyik duduk di depan meja dan menekuri sebuah buku kesukaannya. Dia menyukai buku tentang detektif.
Tanpa Nisita sadari, Bisma mengawasi Nisita dari belakang. Pria itu duduk bersedekap di belakang tidak jauh dari kursi yang dipakai duduk oleh Nisita.
Bisma yang awalnya hanya ingin mengawasi Nisita dari arah belakang, Namun, lama kelamaan ia menjadi penasaran dengan buku yang telah membuat Nisita tidak beranjak dari meja baca selama dua jam. Akhirnya ia bangkit berdiri, melangkah menghampiri Nisita dan menjulurkan kepalanya dari arah belakang untuk melihat buku apa yang Nisita baca.
"Aku juga suka baca kisah detektif ini"
Mendengar suaranya Bisma, Nisita sontak mematung dan Bisma langsung berjalan mengitari meja baca untuk duduk di depan Nisita kemudian berkata, "Jangan takut dan tegang. Lanjutkan bacanya!"
Kalau Anda duduk sedekat ini dengan saya, bagiamana bisa saya tidak tegang dan takut, Tuan..Batin Nisita.
__ADS_1