Terlilit Takdir Cinta

Terlilit Takdir Cinta
Desir Hati


__ADS_3

"Ayo cepat ke rumah Bisma untuk bertemu dengan bayi kamu"Ibu peri yang baik hati itu langsung bertepuk tangan sambil memekik penuh semangat.


"Tapi, naik apa?"


"Ada mobil dong. Sebenarnya aku pengen kasih kamu mobil sport yang super canggih keluaran terbaru, tapi takutnya terlalu mencolok dan kamu malah dicurigai nyuri, hehehehe. Jadi aku kasih kamu mobil sedan tua keluaran tahun 2000. Masih bagus dan lancar lajunya"


"Tapi, saya tidak bisa menyetir mobil" Sahut Nisita.


"Di masa ini, di dimensi waktu ini, kamu bisa nyetir mobil"


"Hah?!" Nisita ternganga kaget.


"Malah hah, hah, hah, hah, buruan jalan! Ini kunci mobilnya, da, da, selamat bertemu dengan bayi kamu" Pekik Ibu peri itu sambil melambaikan tangan dan terbang pergi meninggalkan Nisita.


Nisita kemudian keluar dan barulah ia bisa melihat rumah minimalis yang indah dan letaknya jauh dari tetangga. "Hmm, ternyata rumah dan mobil dari ibu peri lumayan juga"


Dua jam kemudian, Nisita melangkah masuk ke dalam rumah Bisma Mahesa dengan kaki gemetar. Dia gemetar bukan karena takut, tapi ia sangat bersemangat ingin melihat bayinya. Bayi yang belum pernah ia lihat karena setelah ia melahirkan, ia langsung diculik dan dipisahkan dengan bayinya.


Anakku, Mama datang, Nak. Batin Nisita sambil duduk di sofa.


Mawar. Itu Mawar. Batin Nisita. Tapi, Mawar tidak mengenaliku. Apa bayi yang ada di gendongannya Mawar adalah bayiku?


Kepala pelayan di rumah Bisma Mahesa yang bernama Mawar duduk di sebelahnya Nisita dan berkata, "Ini keturunannya Tuan Bisma Mahesa. Kamu harus menjaga dan mengasuhnya dengan baik" Kepala pelayan itu meletakkan bayi tampan dan gemuk ke pangkuannya Nisita dan Nisita langsung mendekap bayi tampan itu dengan perasaan bahagia. Sangat bahagia.


Nisita kemudian menatap bayi tampan itu dan seketika bergumam di dalam hatinya, Dia mirip banget dengan Mas Bisma.


Lalu, memori Nisita melayang kembali ke masa sebelum ia mengalami reinkarnasi.

__ADS_1


...------------------------------------------...


Bisma berhasil masuk ke dalam paviliun saat Ray sudah melumpuhkan kedua penjaga yang berjaga di depan pintu paviliun yang berada di belakang rumahnya.


Nisita langsung bangun dan bergeser cepat ke belakang sampai punggungnya membentur tembok saat ia melihat Bisma melangkah masuk.


Bisma mengernyit dan langsung menghentikan langkahnya sambil berkata, "Jangan takut! Aku ke sini untuk melihat kondisi kamu"


Nisita menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil berkata, "Jangan mendekat!"


"Aku suami kamu. Sial! Dan baru kali ini aku peduli sama Istri keduaku. Apa kau masih tidak percaya padaku? Aku bawa salep, minuman dan makanan untuk kamu. See!"


Nisita kemudian diam mematung dan membiarkan Bisma kembali melangkah menghampirinya saat ia mendengar kata minuman dan makanan. Dia kehausan. Sejak jam tiga sore sampai jam dua belas malam, dia belum menyentuh air minum. Bibir dan tenggorokannya terasa kering.


Bisma duduk di tepi ranjang dan berkata dengan suara lembut, "Mendekatlah! Aku tidak akan ngapa-ngapain kamu"


Nisita merangkak ke depan dengan pelan, lalu duduk bersila di depan Bisma.


Bisma menghela napas panjang dan berkata, "Maafkan aku! Karena aku, kamu harus mengalami hal mengerikan seperti ini. Aku hanya ingin merapikan rambut kamu. Aku nggak akan menampar atau memukul kamu"


Nisita mengangkat wajahnya dengan pelan dan Bisma berkata, "Aku akan merapikan rambut kamu dan melihat pipi kamu. Hanya itu. Jadi, jangan takut, ya?!"


Dengan lembut dan pelan, Bisma menyibak rambut pendek bergelombangnya Nisita yang menutupi wajah manis gadis itu dan Bisma sontak menggeram kesal, "Kenapa bengkak banget seperti ini? Apakah sakit?" Bisma menyentuh pelan pipi kanannya Nisita dengan ibu jarinya dan Nisita sontak mendesis dan menepis tangan Bisma.


"Maafkan aku" Bisma menatap Nisita dengan sorot mata penuh penyesalan.


Bisma tertegun melihat Nisita dengan tidak sabar menenggak botol air mineral. Dia sangat kehausan. Batin Bisma dan entah kenapa saat ia melihat Nisita menderita seperti ini, hatinya terasa sangat sakit padahal dia baru mengenal gadis itu beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Makanlah dengan pelan!" Bisma langsung berkata seperti itu saat ia melihat Nisita makan makanan yang ia bawa seperti orang kesetanan.


"Sa.....saya takut kalau Nona Chelsea tiba-tiba ke sini dan memergoki kita" Nisita berucap dengan mulut penuh makanan kemudian ia tersedak makanan yang ada di mulutnya, "Uhuk-uhuk"


Bisma dengan tanggap membuka botol air mineral dan membantu Nisita minum sambil berkata, "Makanya jangan ngeyel! Tersedak,kan. Makan dengan pelan.Chelsea sudah tidur nyenyak dan kamarnya aku kunci. Ray juga berjaga di depan. Jadi, kamu bisa makan dengan tenang"


"Te......terima kasih, Tuan"


Nisita terlonjak kaget saat Ibu jarinya Bisma menyentuh sudut bibirnya.


Bisma tersenyum dan setelah mengulum ibu jarinya, Bisma berkata, "Ada sisa makanan di sudur bibir kamu. Sayang kalau dibuang"


Nisita tertegun menatap Bisma dan seketika itu hatinya berdebar-debar tidak karuan.


Hati Bisma juga berdebar-debar tidak karuan saat ia bersitatap dengan istri keduanya itu. Lalu, pria super tampan itu berdeham dan berkata sambil membuka tutup salep, "Aku akan oleskan salep ini dengan pelan di pipi kamu untuk menghilangkan bengkaknya Besok pagi bengkaknya pasti udah hilang dan wajah manis kamu bisa kembali lagi"


Nisita menahan napas dan memilih untuk memandang langit-langit kamar saat wajah Bisma mendekati wajahnya. Perut Nisita tergelitik geli, hatinya berdesir hebat, dan jantungnya berdegup kencang, saat ia merasakan hembusan napas hangatnya Bisma menerpa wajahnya dan wangi parfum Bisma yang maskulin menusuk hidungnya.


Setelah selesai mengoleskan salep di kedua pipi Nisita, bola mata Bisma tanpa sengaja beradu pandang dengan bola mata Nisita. Wajah keduanya tiba-tiba terasa panas seiring dengan degup jantung mereka yang semakin kencang.


Bisma mengumpat, "Sial!" Lalu, ia menarik tengkuk Nisita dan mencium Bibir Nisita.


Saat pria itu merasakan Nisita tidak mendorongnya, menggigitnya, atau menarik bibir, pria itu mengerang frustasi dan langsung memagut bibir Nisita.


Bisma terpaksa menarik bibirnya saat ia merasakan Nisita kesulitan bernapas.


Bisma tersenyum dan menatap Nisita yang masih memejamkan mata dengan sendu. Lalu, pria super tampan itu menoel pucuk hidung Nista sambil berkata, "Lain kali kalau aku ajak berciuman jangan lupa mengambil napas" Bisma Kemudian buru-buru bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Nisita tanpa pamit karena ia tidak ingin Nisita melihat dirinya merona malu.

__ADS_1


Nisita membuka satu per satu matanya sambil bergumam bingung," Lain kali? Apa maksudnya dengan lain kali. Ah! Sial! Kenapa aku diam saja saat pria itu menciumku? Apa aku terlihat murahan? Apa aku terlihat seperti wanita nakal di matanya? Ah! Kenapa aku bodoh sekali tadi!" Nisita merebahkan tubuhnya dengan kesal di atas kasur. Lalu, dengan senyum semringah dia menatap langit -langit kamar sambil mengusap-usap bibirnya dengan ibu jarinya.


Bisma melangkah masuk ke kamarnya dan berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya dengan mengelus-elus bibirnya. Bisma tersenyum bahagia dan bergumam di dalam hatinya, aku rasa aku sudah jatuh cinta padamu Sita.dan bahkan rasa cinta yang aku rasakan ini jauh lebih besar dari rasa cintaku pada Chelsea. Apa karena aku mulai kecewa dan curiga sama Chelsea, jadi cintaku untuk Chelsea menjadi berkurang.


__ADS_2