
"Aku tidak akan takut dengan pistol kamu. Aku akan bercerita kembali tentang dongeng yang sangat indah sebelum aku mati. Aku yakin kamu akan tertarik"
"Dongeng apa? Cepat katakan!" Nisita berteriak sambil menggoyang-goyangkan pistolnya.
"Aku punya dua boneka dungu. Satu bernama Nisita dan satu lagi bernama Bisma. Nama dan wajah kamu sama dengan Nisita, tapi semoga saja kamu nggak dungu seperti Nisita, hahahahahaha"
"Apa maksud kamu?!" Nisita menatap nanar wajah csntiknya Chelsea.
"Kau akan tahu jawabannya di dalam bagasi mobilnya Bisma. Kau akan menemukan kenyataan baru di bagasi mobilnya yang berwarna hitam"
Itu mobil yang aku pakai ke sini. Batin Nisita.
Tangan Nisita seketika gemetar hebat dan hampir saja pistol yang dia pegang lepas dari genggamannya.
"Hahahahaha! Kau mau apa dengan pistol itu, hah?! Kau memegangnya aja gemetaran kayak gitu, hahahahaha!" Chelsea tertawa mengejek dan dhuag! Nisita langsung menghantam wajah Chelsea dengan tendangan mautnya sambil berteriak, "Diam kau, wanita brengsek!"
Chelsea terpelanting ke samping dan seketika pingsan di atas keramik dingin ruangan itu.
Pria bernama belakang Ananta, nama belakang yang sama yang ada di namanya, langsung mendelik dan Nisita pun langsung mendaratkan tendangan maut di dagu pria itu hingga pria itu jatuh terjengkang ke belakang dan jatuh pingsan di atas meja kerja.
Nisita kemudian berbalik badan dan menatap kedua pria asing di depannya, "Kalian juga mau mencicipi tendangan mautku, hah?!"
"Tidak, Nona!" Sahut kedua pria asing itu.
"Kalau gitu minggir!" Nisita melotot dan berteriak kencang. Kedua pria asing itu langsung memberikan jalan ke Nisita.
Nisita langsung berlari keluar dengan berlinang air mata. Dia merasa benar-benar sendirian di dunia ini. Tidak ada lagi yang bisa ia percayai. Kecuali, Letnan Cantika dan bayinya. Dia bahkan merasa muak mengingat nama Bisma Mahesa. Dia ingin segera sampai di mobilnya Bisma dan ingin segera mengacak-acak isi bagasinya Bisma Mahesa.
Nisita berlari kencang tanpa memperhatikan jalan karena ja sering mengusap air mata yang menghalangi pandangannya.
Tiba-tiba, bruk! Nisita menabrak dada seorang pria dan saat wanita berparas manis itu ingin mengarahkan bogem mentahnya, tangannya digenggam dan ada suara, "Akhirnya aku menemukanmu"
"Pram. Kau menyusul aku?" Nisita bertanya sambil menarik tangannya.
"Tentu saja. Bos Dito menyuruhku mengawasi dan menjaga keselamatanmu"
__ADS_1
"Ayo kita cari para gadis yang disekap di sini. Kita selamatkan mereka semua dan......."
"Hei! Kau pikir ini hotel bintang lima yang ramah. Kita ada di dalam rumah seorang maniak aku rasa. Aku bahkan melumpuhkan sepuluh orang barusan. Aku tidak tahu ada berapa penjaga di rumah ini. Lebih baik kita keluar dari sini dulu. Bos Dito menuju ke sini. Kita tunggu Bos Dito di luar. Ayo! Aku tahu jalannya"
Satu jam kemudian, Nisita dan Pramono berdiri di depan bagasi mobil mewahnya Bisma Mahesa yang terbuka lebar dan Pramono langsung bertanya, "Kau cari apa? Kenapa kau mengacak-acak bagasi mobil ini dengan wajah panik seperti itu?"
Deg! Nisita langsung memukul badan mobil dan mengumpat, "Bisma brengsek! Dia menipuku! Sial!" Saat ia menemukan sebuah topeng yang sama persis dengan topeng yang dikenakan oleh pembunuh yang membunuhnya di tepi danau.
"Apa itu? Apa itu topeng si pembunuh bertopeng yang selama ini polisi cari?" Tanya Pramono.
"Aku yakin ini topeng si pembunuh brengsek itu. Dan aku yakin dia Bisma Mahesa. Sial! Aku benar-benar tertipu dan aku telah menyerahkan hatiku padanya, huhuhuhu" Nisita seketika menundukkan wajah dan menangis tergugu di sana.
Pramono menepuk-nepuk punggung Nisita dengan kaku dan membiarkan Nisita meluapkan tangisannya.
Pramono menatap sesuatu dan dia mengambilnya, "Kenapa ada tas cewek tak bermerek di sini? Nggak mungkin kalau tas ini milik istrinya Bisma Mahesa, kan? Apa isi tas cewek ini?"
Nisita langsung menghentikan tangisannya, mengusap asal kedua pipi dan lubang hidungnya, kemudian ia menoleh ke Pramono.
"Kita buka tas ini?" Pramono menatap Nisita meminta persetujuan.
"Tapi, bukankah itu tidak etis kalau kita membuka tas milik orang lain dan......."
"Hei! Kamu ini polisi satu guru etika, hah?!" Nisita langsung merebut tas itu dan membukanya.
Pramono dan Nisita langsung tertegun saat mereka melihat isi tas itu, "Ada wig, parfum murahan, dan alat make up murahan. Ini seperti tas milik seorang.........."
"Pekerja klub malam. Emm, Pekerja itu, tuh, wanita yang........."
"Iya. Aku tahu. Pria yang punya rumah mewah itu berkata kalau di dalam ada banyak anak gadis yang bekerja untuk memuaskan para lelaki hidung belang"
"Hei! Kenapa kau menatapku? Aku setia sama Istriku. Aku bukan pria hidung belang"
"Sori. Di sini hanya ada satu pria. Jadi, aku menatap kamu" Nisita meringis ke Pramono.
"Jadi, apa kesimpulannya?"
__ADS_1
"Bisma kemungkinan sudah membunuh wanita pemilik tas ini dan lupa membuangnya. Kau harus menangkap Bisma Mahesa secepatnya"
"Tapi, kita sudah merusak TKP" Sahut Pramono.
"Maksud kamu?" Nisita menoleh tajam ke Pramono.
"Kita mengacak-acak isi bagasi ini tanpa sarung tangan. Semua sidik jari pelaku yang ada di dalam bagasi udah kita rusak. Bisma bisa saja berkelit dengan seribu alasan. Dia orang yang punya duit dan seorang pebisnis hebat. Tentu saja ia cerdas, kan?"
"Sial! Lalu, apa kau pikir rumah mewah itu juga miliknya Bisma Mahesa?"
"Bisa jadi" Sahut Pramono.
"Kau bawa laptop?" Tanya Nisita.
"Ada. di dalam mobil Van. Untuk apa aku butuh laptop?"
"Diamlah. Ayo ke mobil Van kamu dan kau akan tahu" Sahut Nisita.
Setelah masuk ke dalam mobil Van, Nisita langsung menatap layar laptop dan mulai meretas akun sosial medianya Bisma mahesa. Dia berharap menemukan sesuatu, namun sayangnya Bisma Mahesa tidak memiliki akun sosial media sama sekali.
"Sial! Kenapa dia tidak punya akun sosial media?"
"Bisma Mahesa memang terkenal tertutup orangnya. Sangat sedikit orang yang bisa bertatap muka dengannya. Nggak heran kalau dia tidak punya akun sosial media" Sahut Pramono.
"Sial! Aku bahkan tidak begitu mengenalnya. Kenapa dengan mudahnya aku bisa menyerahkan hatiku padanya? Sial, sial, sial!"
"Itu mobil Bos Dito sudah datang" Pramono langsung membuka pintu dan melompat turun dari mobil Van.
Nisita terkesiap kaget dan sontak mengepalkan kedua tinjunya saat ia melihat Bisma Mahesa turun dari jok belakang mobil yang dikendarai oleh Dito Zeto.
"Sial! Kenapa dia ikut ke sini? Lalu, Mikha sama siapa?" Nisita langsung berlari mendekati Bisma dan menggeram, "Di mana Mikha? Apakah kau juga tega membunuh Mikha setelah kau tega membunuhku, hah?!"
"Apa maksud kamu?" Bisma menatap Nisita dengan wajah penuh dengan tanda tanya.
"Sita! Mikha ada di rumahku" Sahut Cantika.
__ADS_1