Terlilit Takdir Cinta

Terlilit Takdir Cinta
Kabur


__ADS_3

"A.....apakah saya boleh jalan-jalan di taman? Saya bosan berada di dalam rumah terus dan tidak melakukan apa-apa"


"Boleh..Kata Tuan, Anda boleh berjalan-jalan di sekita rumah selama Nona Chelsea tidak ada"


"Memangnya kalau Nona Chelsea ada, kenapa aku tidak boleh jalan-jalan?"


"Nona Chelsea suka berjemur di dekat kolam renang dan tidak suka melihat ada orang lalu lalang di depannya"


"Apakah Nona Chelsea sangat galak?"


"Iya"


"Kenapa kamu mau menjawab semua pertanyaanku? Tidak seperti kemarin pas kamu memandikan aku?"


"Karena di sini hanya ada kita berdua dan di ruang makan ini tidak ada CCTV--nya"


"Oh! sial! Berarti di kamar mandi yang kemarin ada CCTV-nya?"


"Iya"


"Lebih kejam mana sebenarnya, Nona Chelsea apa Tuan Bisma?"


"Tuan Bisma sebenarnya baik cuma dia pendiam orangnya. Tapi, Tuan Bisma tidak segan menembak mati di tempat siapa saja yang melawan perintahnya dan melakukan kesalahan yang sangat besar seperti pengkhianatan atau kabur dari rumah ini. Sedangkan Nona Chelsea sangat kejam, galak dan dingin. Suka memberikan hukuman pukulan kalau kami melakukan kesalahan"


Glek! Nisita kesulitan menelan air liurnya saat ia mendengar kata tembak di tempat.


Lalu, Nisita kembali bertanya, "Kenapa kamu betah bekerja di sini?"


"Karena gajinya besar dan kami mendapatkan tempat tinggal dan kalau kamu kabur dari sini maka kami akan ditembak mati. Karena kami mengetahui banyak rahasia di sini"


"Ra.....rahasia?"


"Iya"


"Rahasia apa?"


"Saya ridak bisa mengatakannya pada Anda, Nona. Mari saya temani Anda berjalan-jalan, Nona"


"Sebentar" Nisita menahan langkah wanita di depannya, lalu membuka suara kembali, "Apa kedudukan Anda di sini? kenapa seragam Anda beda sendiri?"


"Saya adalah kepala pelayan rumah ini. Nama saya Mawar"

__ADS_1


"Terima kasih sudah mau menjadi teman ngobrol saya"


"Saya hanya bisa menemani Anda mengobrol di ruangan ini saja"


"Kalau gitu, sebelum kita jalan-jalan di sekitar rumah ini, saya ingin bertanya satu kalau lagi"


"Apa itu, Nona?"


"Di mana Tuan Bisma sekarang ini? Apa dia sudah berangkat bekerja?"


"Kalau Nina Chelsea melakukan perjalanan bisnis ke luar kota atau ke luar negeri, Tuan memilih untuk bekerja di rumah"


"Kenapa begitu?"


"Katanya akan bertanya satu kali lagi, Nona"


"Hehehehehe" Nisita menggaruk belakang kepalanya, lalu berkata, "*Maaf khilaf, hehehehe"


Kepala pelayan rumahnya Bisma itu menghela napas panjang, lalu tersenyum geli dan berkata, "Karena, Tuan tidak ingin telat menyambut kedatangan Nona Chelsea. Tuan ingin orang pertama yang Nona Chelsea lihat pas pulang adalah Tuan"


"Wah! So sweet banget, ya, Tuan kamu"


"Iya. Tuan sangat mencintai Istrinya dan sangat memujanya. Wajar, sih, karena Nina Chelsea sangat sempurna bak dewi yang turun dari kahyangan"


Nisita berdiri di tengah-tengah halaman belakang dan berpura-pura melakukan gerakan senam sederhana sambil menoleh ke kanan lalu ke kiri. Dia tidak tahu akan kabur lewat mana. Dia selalu diikuti kepala pelayan rumah ini. Belum lagi ada banyak penjaga di halaman depan maupun di halaman belakang.


Tembok yang mengelilingi rumah ini juga sangat tinggi. Sial! Aku benar-benar tidak bisa kabur dari sini. Bagaimana ini? Batin Nisita.


"Tuan, di gerbang depan ada Rio Hartawan Presdir Grup Hartawan ingin bertemu dengan Anda"


"Kenapa? Aku tidak ada kontrak kerja sama dengan grup Hartawan"


"Katanya ada hal yang sangat mendesak yang ingin ia sampaikan kepada Anda"


"Oke. Suruh penjaga gerbang membuka pintu gerbang dan sambut dia depan lalu bawa dia ke ruang pertemuan di lantai satu"


"Baik, Tuan"


Bisma bangkit berdiri dan masuk ke dalam lift untuk turun ke ruang pertemuan di lantai satu yang berada persis di bawah lantai ruang kerjanya.


Bisma tidak pernah mengijinkan orang asing masuk ke ruang kerjanya. Bahkan dia sendiri yang membersihkan ruang kerjanya. Chelsea ia perbolehkan masuk, namun Chelsea tidak pernah ke sana karena Chelsea, tidak suka masuk ke ruang kerja suaminya. Wanita super cantik itu lebih suka masuk ke galeri lukisnya.

__ADS_1


Chelsea memiliki kesempurnaan fisik dan bakat seni yang sangat luar biasa. Namun, dia tidak bisa memasak karena ia, ridak suka memasak dan ia tidak suka mengerjakan pekerjaan rumah. Waktu luangnya selalu ia habiskan di galeri seni lukisnya.


Bisma menopang dagu di atas meja kerjanya saat ia melihat pria berwajah tampan dengan setelan kemeja bermerk yang bernama Rio Hartawan duduk di ruang meja kerjanya. Ruang pertemuan di lantai satu adalah ruang kerja keduanya Bisma, namun Bisma mengijinkan siapa pun masuk ke ruangan ini.


"Ada apa Anda sepagi ini datang ke rumah saya?"


"Saya ingin melunasi hutangnya Pak Ananta dan membawa Nisita pulang" Rio Hartawan meletakan selembar cek bertuliskan seratus tiga puluh juta rupiah dan amplop cokelat besar sambil berkata, "Saya juga mengembalikan semua yang telah Anda berikan ke Pak Ananta sebagai mahar pernikahan. Sekarang di mana Nisita? Saya akan membawanya pulang"


Bisma terkekeh geli lalu ia bersandar di kursi dan bersedekap.


"Kenapa Anda malah tertawa? Di mana Nisita?"


"Anda terlambat. Saya dan Nisita sudah menikah. Ambil kembali semua barang yang ada di atas meja dan pulanglah!"


"Saya tidak akan pulang sebelum membawa Nisita pulang dan saya pantang mengambil kembali barang yang sudah saya kasih ke orang"


Bisma memajukan wajahnya dan berteriak, "Lancang kau! Kau pikir aku pengemis, hah?!"


"Di mana Nisita? Sita! Sita!" Rio nekat berteriak kencang memanggil nama Nisita.


"Ada hubungan apa kau dengan Nisita?"


"Saya bosnya. Tapi, saya mencintai Nisita selama ini dan ingin melamarnya hari ini juga"


"Lancang kau! Berani benar kau berkata begitu, hah?! Nisita adalah istriku! Aku dan Nisita sudah menikah kemarin"


"Saya tetap akan membawa Sita pergi dari sini dan saya bisa membatalkan pernikahan Anda dan Sita"


"Boleh saja. Lalu, aku bisa menghancurkan perusahaan kamu hanya dalam sekali hentikan jari. Aku juga akan mengambil adik perempuan kamu sebagai gantinya"


"Hentikan! Jangan lakukan itu!" Rio memekik kaget dan langsung bergidik ngeri.


"Ambil semua barang yang sudah kau letakkan di atas meja dan pulanglah! Jangan ganggu rumahtangga orang lain"


Dengan terpaksa Rio mengambil kembali semua barangnya dan keluar dari dalam ruang kerjanya Bisma dengan langkah gontai dan wajah sedih bercampur kecewa. Dia gagal menyelamatkan gadis yang sangat ia cintai. Dia juga menyesal kenapa tidak sedari dulu ia melamar Nisita. Kalau dia melamar Nisita dari dulu, menikah dengan Nisita dan membawa Nisita ke rumahnya, Nisita tidak akan menjadi bonekanya Bisma Mahesa.


"Beri pelajaran ke si tua brengsek Ananta karena dia sudah berani membuka semua perjanjianku dengannya ke Rio Hartawan" Bisma menoleh tajam ke Ray asisten pribadinya.


Ray langsung menganggukkan kepala dan pergi dari ruang kerja bosnya untuk melaksanakan perintah dari bosnya.


Lima menit menit menyusuri jalan raya, Rio dikejutkan dengan suara, "Pak Rio, terima kasih sudah datang ke rumah Tuan Bisma. Jadi, saya bisa masuk ke mobil Bapak dan kabur dari sana"

__ADS_1


Rio sontak mengerem laju mobilnya dan menoleh ke jok belakang, "Sita?! Kenapa kau bisa ada di mobilku?"


__ADS_2