Terlilit Takdir Cinta

Terlilit Takdir Cinta
Siapa Dia?


__ADS_3

Ting! Kembali terdengar suara tanda pintu lift bergerak dan kaki ini bergerak menutup. Nisita terus bersikap waspada dan kedua matanya terus melirik ke bahu kiri dan kanannya. Saat pria mencurigakan itu menyentuh bahu Nisita, wanita berparas manis itu refleks menarik tangan pria itu lalu membanting pria itu di lantai lift.


"Aduh! Jangan tarik terus lenganku ke belakang! Bisa patah nanti. Aduh! Lepaskan !" Jerit pria itu.


"Katakan dulu siapa kamu dan kenapa kamu lancang menyentuh bahuku?!"


"Aku anak buahnya Komandan Dito Zeto. Komandan menyuruhku mengawasi kamu sejak tiga jam yang lalu. Sejak Letnan Chantika meminta bantuan Komandan ikut membantunya dalam misi........."


Nisita langsung melepaskan tangan pria itu sambil berkata, "Tunjukkan identitas kamu!" Cantika kemudian menahan lift.


Pria itu menunjukkan kartu identitasnya.


"Oke. Aku percaya. Siapa nama kamu?"


"Pramono. Letnan Pramono. Aku orang kepercayaannya Komandan Dito Zeto"


"Oke. Sekarang aku akan menemui seorang pria. Kamu mau nunggu di mana?"


"Lebih baik jangan temui dia! Kamu nggak tahu siapa yang akan kamu temui" Sahut pria yang bernama Pramono itu.


"Aku tidak takut. Aku akan mulai bergerak terus mengejar Chelsea Maheswari Mahesa dan pembunuh bertopeng itu. Setiap kali ada celah menuju ke sana, aku akan jalan ke sana tanpa takut"


"Tapi,............"


"Kamu nunggu aja di sini atau kembali ke lantai satu. Kalau aku datang bersama kamu, takutnya orang itu akan pergi dan menghilang. Siapa tahu dia punya petunjuk siapa pembunuh bertopeng itu"

__ADS_1


"Lalu, Chelsea?"


"Aku akan menemui dia di jalan yang Chelsea kirimkan di pesan text. Bukan Bisma yang aka. menemuinya. Tapi, aku yang akan menemuinya. Malang benar wanita kejam itu. Aku akan bikin perhitungan dengannya"


"Itu sangat berbahaya. Lebih baik kita tunggu Komandan Dito dan Letnan Cantika dulu. Jangan bertindak sendirian dan ........."


"Minggir dan jangan ikuti aku!" Nisita melepaskan tombol hold dan ting! suara tanda pintu lift terbuka pun terdengar nyaring di telinga kedua insan itu.


Pramono terpaksa menghela napas panjang dan menempelkan punggungnya di dinding lift saat Nisita melangkah keluar. Pria itu memutuskan untuk membiarkan Nisita keluar sendirian, namun di detik kelima, Pramono membuka lift dan duduk di kursi yang agak jauh dari kursi Nisita.


Nisita menatap pria di depannya dan langsung bertanya, "Apa kita saling kenal? Kenapa Anda mengundang saya ke meja Anda?"


"Iya. Kita saling kenal" Sahut pria itu


"Benarkah?" Nisita menelusuri wajah pria tampan di depannya dengan penuh tanda tanya, lalu wanita berparas manis itu berkata, "Aku rasa Anda salah mengenali orang dan salah mengundang orang. Saya tidak pernah bertemu dengan Anda sebelumnya dan saya tidak mengenali Anda"


Deg! "Siapa kamu?" Nisita langsung menggenggam tangannya yang gemetar kaget mengetahui pria tampan yang duduk di depannya mengetahui semua tentangnya.


Pria tampan itu tersenyum tipis kemudian berkata, "Aku hanya teman masa kecil kamu yang ternyata tidak berarti bagimu. Oke, tidak apa-apa. Namun, aku tetap ingin membalas budi karena dulu kamu pernah menolongku. Aku akan mentraktirmu makan. Pesan apa saja yang kamu suka! Atau kamu mau pindah ke tempat lain yang lebih mahal, lebih nyaman, dan........."


"Tidak!" Tanpa Nisita sadari, ia menjerit dengan nada gemetar. Entah kenapa aura di diri pria itu membuat seluruh indra perasanya Nisita menjadi waspada.


"Kenapa kamu berteriak dan ketakutan seperti itu? Aku hanya ingin membalas budi dan mentraktirmu makan" Pria itu kembali tersenyum tipis.


Pria ini sangat tampan. Bahkan lebih tampan, lebih putih kulitnya, dan lebih tinggi dari Bisma Mahesa. Tapi, entah kenapa aku merasa takut sama dia. Dan kenapa aku sama sekali tidak ingat sama dia dan tidak ingat namanya? Batin Nisita.

__ADS_1


"Bagaimana?" Pria itu terus menatap Nisita dengan sorot mata penuh arti.


Nisita merasa jengah dengan cara pria itu menatapnya dan itu membuatnya memilih untuk bangkit berdiri lalu berkata, "Maafkan aku. Aku sudah kenyang. Aku permisi dan terima kasih atas undangan dan niat baik kamu"


"Namaku Theo Herlambang. Kau ingat?"


"Maafkan aku. Aku tidak ingat sama kamu"


Pria itu mengepalkan kedua tangannya yang ada di bawah meja dan menatap Nisita dengan sorot mata penuh kekecewaan dan kerinduan yang berbalut kebencian. Dia benci menerima kenyataan Nisita tidak ingat siapa dia. Padahal Nisita adalah pahlawan masa kecilnya. Pahlawan yang selalu ia rindukan. Pahlawan yang dengan gagah beraninya menolong dia saat ia hanyut dibawa ombak pantai XX.


Apa dia kena benturan karang atau baru saat ia menolongku dulu? kenapa dia tidak ingat namaku? Batin pria tampan yang mengaku bernama Theo Herlambang itu.


Nisita kembali berkata, "Permisi" Lalu ia melangkah lebar karena entah kenapa ia ingin segera pergi meninggalkan meja pria tampan itu.


Kau jauh lebih tangguh Sita. Aku kagum sekaligus membenci ketangguhan kamu saat ini. Batin pria itu sambil mengeraskan kepala. tangannya yang ada di bawah meja.


Pria tampan itu membiarkan Nisita pergi darinya untuk saat ini karena ia sudah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih spesial untuk wanita pujaan hatinya itu. Ia akan membiarkan Nisita bertemu dan melampiaskan dendamnya kepada Chelsea. Itu sebagai salah satu cara ia membalas budi kepada pahlawan masa kecilnya. Kemudian, ia akan merengkuh Nisita ke dalam dekapannya untuk selama-lamanya.


Nisita melirik pria yang bernama Pramono dan hanya meliriknya. Wanita itu langsung berlari kecil menuju ke lift Karen


ia ingin bergegas masuk ke dalam mobil mewah milik suaminya yang ia pinjam untuk menuntaskan misi balas dendamnya.


Pramono mengumpat kesal dan segera bangkit berdiri, namun ia melangkah pelan mengikuti laju lari kecilnya Nisita dan membiarkan Nisita masuk ke dalam lift kosong sendirian.


Nisita masuk ke dalam mobil dan sebelum memakai sabuk pengamannya, wanita berparas cantik itu iseng membuka laci di bawah dasboard sambil bergumam, "Apa yang selalu kamu bawa di dalam mobil kamu, Mas? Apa kamu menyiapkan air mineral dan pil sakit kepala?"

__ADS_1


Nisita tidak menemukan air mineral dan pil sakit kepala. Wanita dengan rambut keriting seksi itu membeliak kaget saat ia menemukan sebuah pistol. Wanita itu mengambil pistol tersebut dan mengecek, "Sial! Apa yang kau rencanakan dengan menaruh pistol lengkap dengan pelurunya ini di dalam laci dashboard mobil kamu, Mas? Tapi, terima kasih. Aku akan pakai pistol ini dengan sangat baik hati ini" Nisita lalu memasukkan pistol itu ke dalam tas yang melilit pinggang rampingnya.


__ADS_2