
Chelsea buru-buru memakai kembali semua bajunya sambil berkata, "Aku harus pulang sekarang. Lepaskan pelukan kamu, Joseph!"
Chelsea mengurai gelungan lengan kekasih gelapnya yang mendekap erat pinggangnya.
Joseph menghela napas panjang dan berkata, "Kapan kita bisa bersatu, menikah, kau jadi Istri sahku dan kau bangun pagi di dalam pelukanku, Chel?"
"Sabar! Aku akan segera mencari cara untuk merebut kembali sahamnya Bisma brengsek itu" Sahut Chelsea.
Setelah mengecup bibirnya Joseph, Chelsea bergegas pergi meninggalkan Joseph.
Bisma tersentak kaget saat ia melihat Nisita mengerutkan kening, menggelungkan kepala dengan cepat ke kanan dan ke kiri, kening berkeringat, dan wanita berwajah manis itu bergumam lirih dengan dada naik turun, "Jangan! Jangan pisahkan saya dengan bayi saya! Jangan bunuh saya!"
Bisma menautkan kedua alisnya dan bergumam, Hal buruk apa yang sudah kamu alami? Kenapa kamu mengalami mimpi buruk dan ketakutan teramat parah seperti ini?" Bisma mengusap pelan kening Nisita yang berkeringat.
Nisita menggerakkan kedua kelopak mata dengan posisi masih terpejam, ketika ia merasakan tangan hangat mengelus keningnya. Kemudian gadis manis itu membuka kedua kelopak matanya secara perlahan.
Seketika Nisita menegakkan wajah, menaikkan alis mata secara bersamaan, mengerutkan dahi, membuka lebar kelopak mata, membuka rahang hingga bibir dan gigi terpisah karena kaget tiba-tiba ada Bisma berbaring miring memandanginya dari sisi ranjang yang berlawanan.
"Maaf kalau aku mengagetkan kamu, Sita" Tangan Bisma membeku di atas pipi kenyal wanita berwajah manis itu. Bisma menatap Nisita dengan sorot mata sendu dan tangannya beralih ke rambut. Bisma kemudian mengusap lembut rambut pendek bergelombang itu.
Pikiran Nisita seolah dibuat kacau saat ia bersitatap dengan Bisma. Salah tingkah, jantung berdegup kencang hingga galau tak beralasan ia alami saat sorot mata kedua bola matanya melekat ke kedua bola mata Bisma. Sosok Bisma seolah menyita seluruh pikiran dan perasaannya saat ini. Secara otomatis, otak wanita berwajah manis dengan bingkai rambut hitam pendek bergelombang itu mengumpulkan pengalaman manis di masa lalu yang pernah ia alami bersama Bisma Mahesa. Ada dorongan rasa untuk mendekat dengan diiringi rasa deg-degan.
Bisma mengusap bibir ranumnya Nisita dan bergumam, "Kamu manis sekali saat ini. Rona merah di wajah kamu mengingatkan aku akan manisnya rasa di bibir kamu. Kenapa aku ingin terus seperti ini? Ingin berada di dekat kamu seperti ini, memandangi kamu, menempelkan telingaku di degup jantungmu, menyentuh kamu. Padahal kau bilang kalau kita belum pernah bertemu di masa lalu. Kenapa Sita? Siapa kau sebenarnya kenapa bayanganmu selalu mengacak-acak otakku dan hatiku dengan lancangnya"
Nisita langsung menepis tangan Bisma, lalu ia melompat turun dari tempat tidur sambil berkata, "Kamu yang sudah lancang masuk ke kamar ini dan menyentuhku. Keluar kamu!" Nisita menunjuk pintu dengan menggeram lirih karena ia takut putra tampannya yang masih tidur pulas kaget dan menangis kalau ia berteriak kencang walaupun ia sungguh ingin mengeluarkan teriakan sekencang-kencangnya untuk mengusir Bisma.
Bisma turun dari atas kasur dengan perlahan, lalu ia berdiri tegak dan berkata, "Ini kamar putraku. Kenapa aku tidak boleh masuk ke sini? Ini juga rumahku, aku berhak berada di mana saja jika aku menginginkannya, dan aku adalah Bos kamu, aku berhak atas kamu"
Nisita melotot dengan wajah memerah penuh kekesalan dan wanita manis itu kembali berkata, "Keluar atau akan aku patahkan semua tulang kamu sekarang juga!"
"Kau berani melakukannya? Kau tega?"
"Aku bisa berlaku kejam dan dingin jika keadaan mendesak. Aku juga bukan gadis lemah yang harus tunduk dan menurut pada Bosnya.
__ADS_1
"Tapi, kau milikku. Aku yang menggaji kamu dan aku bisa memecat kamu kapan saja" Bisma berucap sembari menyusuri wajah manis wanita yang berdiri tidak jauh darinya.
"Aku ini bukan milik kamu. Camkan itu! Kalau mau pecat aku, pecat saja!"
"Benarkah? Kau akan berpisah dengan Mikha kalau aku memecat kamu. Aku lihat kamu sangat menyayangi Mikha. Apa kamu mampu berpisah dengan Mikha?"
"Aku bisa cari cara untuk bisa melihat Mikha. Kalau mau pecat, pecat saja!"
"Kau hebat Nona" Bisma memiringkan bibirnya.
"Sekarang keluarlah sebelum Istri kamu merengek manja untuk menghangatkan ranjangnya" Nisita memicingkan mata dan bersedekap di depan Bisma.
Bisma menghela napas panjang kemudian melangkah pelan tanpa melepaskan pandangannya dari Nisita, lalu ia menutup pintu kamar saat kakinya telah menapak di luar kamar itu. Bisma melangkah kembali ke kamarnya dan dia terkejut saat melihat ranjangnya kosong. Bisma melirik jam di dinding dan langsung bergumam, "Sudah jam sebelas. Di mana kamu saat ini, Chel?"
Bisma kemudian melompat ke atas tempat tidur dan berpura-pura tidur pulas saat ia mendengar suara high heels.
Chelsea membuka pintu dan tersenyum senang saat ia melihat suaminya telah meringkuk pulas di atas tempat tidur.
Baguslah ia sudah tidur. Jadi, dia tidak tahu kalau aku pulang jam segini. Kalau tahu, dia pasti menginterogasi aku habis-habisan. Gumam Chelsea lirih.
Chelsea masuk ke ruang ganti dan tidak lama kemudian gadis berwajah cantik itu naik ke tempat tidur, menarik selimut dan merebahkan diri di samping suaminya.
Chelsea bergumam di dalam hatinya, sial! Joseph menghajarku tiga ronde dan hampir saja aku ketiduran.Badanku pegal semua, nih.
Bisma yang meringkuk memunggungi Chelsea bergumam di dalam hatinya, Darimana saja kau? Aku mulai curiga sama kamu, Sayang. Aku akan mulai mengawasi kamu. Maaf.
Chelsea melingkarkan lengannya di pinggang Bisma, lalu ia memejamkan kedua matanya.
Keesokan harinya, Bisma yang masih belum berniat membuka mata,meraba kasur, dia mencari tubuh ramping istrinya. Pria tampan itu sontak membuka lebar matanya saat ia tidak menemukan Chelsea di ranjangnya. Bisma langung melompat turun dan berlari ke kamar mandi, "Tidak ada. Di mana Chelsea? Apa dia sudah turun untuk sarapan?" Bisma bergegas berlari keluar dari kamar dan langsung menuruni anak tangga.
"Di mana Chelsea?" Bisma langsung bertanya ke Mawar saat ia tidak menemukan istrinya di meja makan.
"Nona Chelsea sudah pergi pagi-pagi tadi, Tuan" Sahut Mawar.
__ADS_1
"Jam berapa?"
"Jam enam pagi"
Bisma melirik jam dinding dan bergumam, "Satu jam yang lalu ia pergi" Lalu, Bisma menatap Mawar, "Apa dia bilang pergi ke mana?"
"Tidak, Tuan"
"Baiklah. Makasih infonya. Katakan ke Nisita untuk bersiap-siap. Hari ini dia harus ikut aku ke kantor. Ada pekerjaan untuknya di kantor" Bisma kemudian balik ke kamar untuk mandi dan bersiap ke kantor.
"Baik, Tuan"
Bisma turun dan langsung bertanya, "Mana Nisita? Dia tidak turun dan sarapan denganku?"
"Nona Nisita memilih makan di kamarnya tuan muda dan memilih berangkat sendiri ke kantornya Tuan" Sahut Mawar.
Bisma mendengus kesal kemudian berkata, "Kenapa semua wanita itu suka banget semau gue. Nggak Chelsea, nggak Nisita, sama aja. Kedua wanita itu sudah berhasil membuatku sangat kesal pagi ini"
Satu jam kemudian Bisma menautkan kedua alisnya di depan Ray sambil bertanya, "Apa ini?"
"Entahlah, Tuan. Saya menemukannya di kaca depan tertindih wiper" Sahut Ray.
Bisma langsung membaca tulisan di secarik kertas yang disodorkan Ray, "Undangan pesta topeng di Red Windows. Jalan Bima 5
Jam Tujuh. Malam ini?" Bisma menoleh ke Ray. "Pesta topeng apa? Apa menurutmu aku harus datang ke pesta ini, Ray?"
"Datang saja, Tuan. Anda juga tidak punya jadwal nanti malam. Siapa tahu kita menemukan sesuatu yang berharga di sana nanti" Sahut Ray.
"Oke" Sahut Bisma sambil melangkah masuk ke dalam mobil.
Satu jam setelah kepergiannya Bisma, Nisita dikejutkan dengan kemunculan burung gagak di atas kap mobilnya dan di bawah wiper mobil, Nisita menemukan secarik kertas. Nisita mengusir burung gagak yang ada di atas kap mobilnya lalu membaca tulisan di kertas yang ia temukan, "Kalau kamu mau tahu siapa pembunuh bertopeng itu, datanglah ke pesta topeng di Red Windows. Jalan Bima 5. Jam tujuh malam ini"
Nisita tertegun dan seketika itu ia teringat kembali di hari kematiannya, ia juga melihat seekor burung gagak bertengger di pundak pria bertopeng dan bertudung yang telah menembak dan menenggelamkannya di danau.
__ADS_1
"Aku akan datang dan aku akan menuntut balas padamu pembunuh bertopeng. Aku masih bisa mengingat dengan jelas wangi parfum kamu pembunuh bertopeng" Nisita menggeram kesal sambil melangkah masuk ke dalam mobil sedan tuanya.