
Sepulang dari kantor polisi, Bisma mengantarkan Chelsea ke galeri seni dan dirinya langsung meluncur ke kantornya. Dia langsung berkutat dengan pekerjaannya dan melupakan soal Nisita. Kemudian dia menelepon Ray di jam makan siang, "Ray, gimana Nisita?"
"Saya ada di rumah Anda. Mencari kesempatan untuk masuk ke paviliun belakang, Tuan. Paviliun itu dijaga dua orang anak buahnya Nona Chelsea"
"Baiklah. Cepat cari cara untuk masuk ke paviliun itu dan cek kondisinya Nisita!"
"Baik, Tuan"
Nisita terus meringkuk di atas kasur. Tubuhnya mulai menggigil karena rasa sakit dan rasa lapar yang hebat. Namun, dia terus berusaha untuk kuat.
"Aku masuk ke sini dengan pemikiran bahwa tidak ada orang kejam di dunia ini. Aku masuk ke sini dengan pemikiran bahwa keceriaanku bisa membawa keceriaan di rumah ini. Namun, aku salah. Tempat ini benar-benar sebuah neraka dan aku sendirian saja di sini. Tidak ada saudara ataupun teman. Aku benar-benar sendirian" Gumam Nisita sambil meringkuk di atas ranjang dan sesekali meringis kala ia merasakan perutnya melilit kelaparan.
"Bahkan air minum pun tidak disediakan untukku. Bukankah ini lebih baik bagiku. Kalau aku mati, aku tidak usah lagi melayani pria itu dan tidak lagi menerima hukuman aneh dari wanita kejam itu. Walaupun aku sudah menyerahkan raga, kesucian, hati, dan jiwaku ke pria itu, kemarin malam di malam pengantinku, yeeaahhh seburuk apapun, kemarin malam tetaplah malam pengantinku. Tapi, jika aku diharuskan mati saat ini juga, aku tidak menyesalinya" Gumam Nisita lirih sambil membuka perlahan kedua matanya saat ia merasakan bahunya digoyang oleh seseorang.
"Nona, ini saya, Ray"
Nisita bangun dan berusaha untuk duduk, namun dia terhuyung ke depan dan Ray langsung berkata, "Maaf" Dan memeluk Nisita. Ray kemudian merebahkan Nisita dengan pelan di sandaran ranjang.
"Astaga! Apa yang terjadi pada Anda, Nona?"
Nisita menggerakkan bibirnya dan hanya biasa mengeluarkan kata dengan nada sangat lirih, "Saya ditampar berkali-kali kemarin"
"Minumlah dulu, Nona!" Ray membantu Nisita minum lewat botol air mineral murni.
Nisita minum dengan rakusnya karena sejak kemarin malam sampai sore jam tiga, dia sama sekali belum mendapatkan air untuk ia minum.
"Saya kira Pak Ray datang untuk membunuh saya" Gumam Nisita dengan wajah dan sorot mata lemah.
"Saya membius penjaga di depan dan membawakan anda makanan dan minuman saat saya tahu dari Mawar kalau dia dilarang oleh Nona Chelsea memberikan makanan dan minuman ke Anda sebelum Nona Chelsea pulang. Sekarang cepat makanlah nasi goreng bikinannya Mawar, Nona! Sebelum Nona Chelsea datang dan memergoki kita berdua"
Nisita langsung memangku piring berisi nasi goreng dan memakannya dengan lahap.
"Kenapa Anda ada di sini? Nanti Anda kena hukumannya Tuan Bisma dan Nona Chelsea kalau Anda menolong saya" Nisita berucap dengan mulut penuh nasi goreng.
__ADS_1
"Tuan Bisma yang menyuruh saya menolong Anda"
"Uhuk-uhuk".Nisita tersedak nasi goreng dan langsung menenggak botol air mineral. Lalu, ia berkata dengan sorot mata tidak percaya, "Tuan Bisma? Apa saya tidak salah dengar?"
"Tidak, Nona. Tuan Bisma memang dingin dan terkenal suka memberikan hukuman kepada siapa saya yang melanggar perintahnya, tapi sebenernya Tuan Bisma itu baik hati. Kesalahannya hanya satu, ia sangat mencintai Istrinya. Maaf maksud saya bukan Anda. Anda juga Istrinya Tuan Bisma. Yang saya maksud adalah Nina Chelsea. Tuan Bisma sangat mencintai Nona Chelsea"
"Iya saya tahu. Tuan Bisma tidak mungkin mencintai wanita jelek seperti saya ini" Nisita kembali berkata dengan jujur penuh dan menyerahkan piring yang telah kosong ke Ray sambil berkata, "Sudah habis. Makasih Pak Ray"
"Sama-sama, Nona. Tapi, Anda harus berakting lemas pas nanti Nona Chelsea memeriksa Anda di sini"
"Hmm. Makasih Pak Ray" Nisita menatap Ray dengan penuh rasa terima kasih.
Ray pergi meninggalkan Nisita dengan membawa piring dan botol air mineral yang sudah kosong, kemudian ia kembali mengunci pintu, lalu memasukkan kunci itu ke saku kemeja penjaga yang rebah di depan pintu.
Ray berjalan ke mobilnya dan melangkah di lorong yang tidak ada kamera CCTV untuk meletakkan piring dan botol air mineral kosong ke dalam mobilnya. Lalu, ia menutup pintu mobilnya sambil berkata di dalam hatinya, Anda tidak jelek, Nona. Anda sangat manis dan tangguh. Jika saja Tuan Bisma tidak memilih Anda menjadi Istri keduanya, saya mau menikahi Anda, Nona.
Setelah memasang sabuk pengamannya, Ray meluncur ke kantornya Bisma. Di gerbang depan, Ray melapor ke satpam yang bertugas jaga sore itu, "Aku sudah ambil berkasnya dan akan ke kantornya Tuan Bisma"
Sementara itu Chelsea masih asyik bekerja di galeri lukisnya.
Ray langsung melapor ke Bisma, "Nona Nisita ditampar pipinya dan terlihat lebam. Nona Nisita juga tidak dikasih makan dan minum, Tuan. Tapi, jangan khawatir, Tuan! Saya sudah kasih makan dan minum ke Nona Nisita"
"Ternyata Chelsea orang yang seperti itu. Aku sungguh tidak menyangka kalau Chelsea yang lemah lembut selama ini ternyata bisa bertindak sangat kejam. Aku ternyata belum mengenal dengan baik Istriku sendiri. Chelsea bahkan tega mengancamku dan ia memberikan kesaksian palsu ke polisi dengan santainya. Apa benar aku sudah membunuh Deni? Dia ditemukan mati di kamar itu padahal pas aku tinggalkan dia, dia masih hidup walaupun bibirnya berdarah terkena bogem mentahku"
"Apa kata polisi soal kasusnya Deni,Tuan?""
"Nah, itu keanehannya. Kenapa polisi tidak menemuiku kalau Deni sudah mati dan terakhir kali Deni bertengkar denganku?"
"Kalau begitu berarti polisi belum menemukan jasadnya Deni, Tuan"
"Hah?! Tapi, kenapa Chelsea bisa mengatakan kalau Deni telah mati dan mengancamku dengan rekaman itu?"
"Berarti kita harus mewaspadai Nona Chelsea mulai dari sekarang" Sahut Ray.
__ADS_1
"Sial! Sebenarnya Chelsea itu wanita yang seperti apa? Apa dia malaikat berhati Iblis selama ini? Apa dia berakting selama ini?"
"Bisa jadi, Tuan"
Kedua penjaga di depan pintu paviliun belakang rumahnya Bisma Mahesa bangun dan saling menatap untuk menanyakan kata tanya yang sama, "Kenapa kau tidur?"
"Sial! Apa kita dibius?" Ucap penjaga yang bertubuh kurus.
"Nggak mungkin. Siapa yang berani membius kita? Kita pasti ketiduran karena lelah berdiri terus di sini" Sahut penjaga yang bertubuh gemuk pendek.
"Kau tidak ingat apa-apa?" Tanya si kurus.
"Tidak" Jawab Si gemuk.
"Berarti benar kata kamu. Kita ketiduran"
Lalu, datanglah dia teman mereka dan berkata, "Kalian masuk dan makan sana! Biar kami yang gantikan kalian berjaga di sini"
"Nona Chelsea belum kasih makan dan minum ke wanita itu. Kasihan juga wanita yang disekap di paviliun itu" Ucap Si kurus sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ssssttt! Jangan ikut campur urusan majikan kita" Sahut Si gemuk.
"Nona, Anda sudah pulang. Apa saya sudah bisa kasih makanan dan minuman ke Nona Nisita?" Mawar bertanya dengan nada penuh kehati-hatian.
"Nggak usah. Besok saja" Sahut Chelsea dengan santainya.
"Tapi, Nona ini sudah jam tujuh malam dan......."
Chelsea mengabaikan ucapannya Mawar dan terus melenggang masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai kamarnya.
Mawar sontak bergumam di dalam hatinya, syukurlah Pak Ray sudah aku suruh antarkan makanan dan minuman ke Nona Nisita tadi. Kalau nggak, Mona Nisita pasti udah pingsan saat ini.
Bisma sengaja pulang ke rumah jam sepuluh malam karena ia hapal jam tidurnya Chelsea. Bisma ingin masuk ke paviliun belakang rumahnya untuk melihat kondisinya Nisita dan mengobati pipinya Nisita. Dia menunggu Ray membius Kedua penjaga paviliun itu di balik tembok.
__ADS_1