
Chelsea asyik bermain game dan sudah mulai mabuk karena siapa yang kalah dalam permainan game yang Chelsea mainkan dengan teman-temannya, harus menenggak satu sloki minuman Anggur. Chelsea seketika lupa akan suaminya.
Nisita tersentak kaget saat Bisma menyibak rok dan mencium pahanya. Nisita langsung mendorong bahu Bisma Karen bayangan rasa sakit kembali menari-nari di benaknya.
Namun, Bisma justru melesak masuk sambil berbisik ke telinga Nisita, "Tahan sebentar, ya, Istriku., Sayangku. Semakin sering kita melakukannya tidak akan terasa sakit lagi. Jangan takut! Aku akan berhati-hati"
Mendengar Bisma memanggilnya Istriku, Nisita langsung melambung dan menyerah pasrah di dalam cumbuan mesra dan permainan panas suaminya.
"Sita"
"Umm" Nisita menyahut dengan lemas.
"Apa rambut keriting bergelombang kamu ini ada daya magisnya? Sepetinya aku kena tulah"
"Memangnya kenapa?"
"Sejak aku ngatain rambut kamu jelek di dalam hati di perjumpaan pertama kita, aku justru semakin ingin mendekatkan diriku padamu. Pengen kenal kamu lebih dalam lagi dan........"
"Dan apa?" Nisita mendongak untuk melihat kedua bola mata suaminya yang tampak Leah setelah bergulat panas dengannya.
Bisma tersenyum geli melihat mata ngantuknya Nisita. Ia menciumi mata Nisita, lalu pria tampan itu berkata, "Dan sepetinya aku mencintai kamu. Aku nggak nyangka bisa jatuh cinta lagi dan justru jatuh cinta pada gadis yang memiliki rambut pendek bergelombang"
Nisita sontak menyemburkan, "Hah?!"
Bisma mengecup bibi Nisita dan berkata, "Iya. Aku bahkan lebih mencintai kamu daripada Chelsea. Aku juga sungguh tidak menduganya"
"Be.....benarkah, Tuan?"
"Jangan panggil Tuan lagi! Aku ini suami kamu. Kalau kita sedang berduaan seperti ini, panggil aku, Mas" Bisma mendekap erat tubuh rampingnya Nisita.
Nisita memainkan ujung jari telunjuknya di dada Bisma dengan pelan sambil bertanya lirih, "Anda belum menjawab pertanyaan saya, Tuan"
"Aku tidak akan menjawabnya kalau kamu masih belum memanggilku, Mas"
"Mas" Ucap Nisita lirih.
__ADS_1
Bisma langsung mengelus pipi Nisita sambil berkata, "Ku benar-benar mencintaimu. Bagiamana dengan kamu, Sita?"
"Saya tidak tahu. Saya belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Yang saya tahu, saya selalu berdebar-debar setiap kali dekat dengan Anda dan saya selaku merindukan Anda"
"Itu berarti kamu juga mencintaiku" Bisma mencubit dagu Nisita, mengangkatnya untuk memagut bibir Nisita yang masih tampak basah akibat ulahnya. Bisma kembali melesak masuk dan setelah memekikkan kepuasan secara bersamaan dengan Nisita, ia roboh di sebelah Nisita. Lalu, pria tampan itu menyelimuti wanita berwajah manis itu dan setelah mencium kening Nisita, Bisma berkata, "Tidurlah! Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu. Tunggu aku. Aku akan datang lagi menemui kamu nanti"
"Kapan?" Tanya Nisita dengan memejamkan kedua matanya.
Bisma mengecup bibir Nisita, lalu bangun untuk memakai kembali semua bajunya sambil berkata, "Lusa jam yang sama. Aku janji"
Lalu, Bisma bergegas keluar sebelum pesta ulang tahunnya Chelsea berakhir dan wanita berprofesi model dan pelukis itu menyadari ketidakhadirannya di pesta ulang tahun itu.
Bisma melihat arloji di tangannya dan mengumpat, "Sial! Aku sudah di sini selama satu jam"
Begitu keluar, Bisma dikejutkan dengan dengkurannya Ray. Ray ketiduran di bangku yang ada di samping kanan pintu paviliun itu"
Bisma menyenggol bahu Ray dan sambil berkata, "Woi! Bangun!"
Ray langung bangun dan berdiri sambil berkata, "Maaf, Tuan! Saya ketiduran"
...-------------------------------------------...
Itu momen terindah dalam hidupku. Pernyataan cinta Mas Bisma kala itu adalah momen terindah dalam hidupku dan membuatku kuat menghadapi semua siksaan dari Chelsea. Batin Nisita.
"Nona sebelah sini"
Suara Mawar membuyarkan lamunannya Nisita. Wanita berjaga manis itu sontak menoleh kaget ke Mawar dan berkata, "Hah? Ada apa?"
"Kamar bayinya ada di sebelah sini. Bukan di pintu ini. Kenapa Anda berdiri lama di depan pintu ini?" Mawar menatap Nisita dengan penuh tanda tanya.
"Ah! Maaf, Bu Mawar. Saya menyukai ukiran di pintu ini" Sahut Nisita dengan senyum canggung.
"Baiklah kalau begitu. Kamar bayinya sebelah sini, mari!"
"Baik, Bu Mawar" Nisita langsung mengekor langkahnya Mawar.
__ADS_1
Nisita langsung berkata, "Apakah saya boleh memberikan ASI ke bayi ini?"
"Saya rasa boleh saja. Tuan dan Nyonya tidak memberikan pesan apapun soal pemberian susu ke tuan muda" Sahut Mawar.
"Baiklah. Saya akan memberikan ASI ke tuan muda, emm, siapa nama bayi ini?"
"Mikha Mahesa" Sahut Mawar.
"Mikha Mahesa. Nama yang sangat indah. Siapa yang memberikan nama ke bayi tampan ini?"
"Tuan Bisma" Sahut Mawar.
"Oh!" Sahut Nisita singkat sambil terus memberikan ASI ke bayinya.
"Tapi, apa Anda punya anak juga, Nona? Kenapa Anda bisa memberikan ASI?" Mawar menatap Nisita dengan penuh tanda tanya.
"Itu, emm, anu, sa.....saya pernah melahirkan dan langsung dipisahkan dengan anak saya" Sahut Nisita dengan sorot mata penuh dengan kepedihan.
"Saya turut prihatin, Nona" Sahut Mawar.
"Semua sudah berlalu, kok, Bu Mawar" Nisita tersenyum ke Mawar.
"Anda menginap di sini. Tapi, tiap Sabtu dan Minggu Anda harus pulang"
Setelah memberikan penjelasan ke Nisita tentang bayi dan kamar bayi, Mawar meninggalkan Nisita sendirian bersama sang pewaris tahta Mahesa Grup.
Nisita mendekap erat tubuh bayinya dengan penuh rasa syukur dan sambil mengusap kening bayi tampannya yang berkeringat, wanita manis itu bergumam, "Mama tidak menyangka kalau Papa kamu benar-benar memberikan nama Mikha. Nama Mikha adalah nama yang Mama minta ke Papa kamu. Mama bilang ke Papa kamu waktu itu kalau Mama melahirkan anak baik laki-laki atau anak perempuan, kasih nama Mikha"
Nisita tiba-tiba terlonjak kaget karena di tengah ia memberikan ASI ke bayinya, peri baik hati muncul lagi di depannya dan berkata, "Aku lupa bilang kalau wajah dan rambut kamu tetap sama. Kamu nggak berubah menjadi Monalisa, hehehehe. Tapi, kamu sekarang ini memiliki tubuh yang lebih kuat dan kamu ini anak buahnya Letnan Cantika Putri Baron Zeto. Kemampuan meretas kamu yang luar biasa membuat Letnan Cantika mengajak kamu bekerja sama"
Nisita menidurkan bayinya ke dalam box setelah ia selesai memberikan ASI. Lalu, wanita manis itu berkata, "Terima kasih sudah mempertemukan saya dengan bayi saya. Ini sangat berarti bagi saya" Nisita berucap sembari mengusap lembut pipi bayinya Bayi yang dia pertahankan dan lahirkan dengan derai air mata dan bertaruh nyawa.
"Itu karena kamu punya hati yang tulus dan baik. Udah ah! Aku pergi lagi. Bye,bye!" Peri baik itu melambaikan tangan ke Nisita dan menghilang lagi.
Nisita merengkuh bayinya untuk ia dekap kembali sambil berkata, "Aku nggak tega biarkan kamu tidur sendirian di box, Nak. Mama akan memeluk kamu di tempat tidur. Mama nggak ingin jauh dari kamu, Nak"
__ADS_1