Terlilit Takdir Cinta

Terlilit Takdir Cinta
Vila


__ADS_3

Bisma melajukan mobil dan sambil bertanya kepada dirinya sendiri, "Ke mana aku harus mencari Mikha? Tidak ada petunjuk sekecil apa pun yang bisa aku temukan"


Nisita sontak menoleh ke Bisma, "Chelsea. Di mana Istri kamu? Kenapa dia tidak ada di rumah? Apa Chelsea yang sudah menculik Mikha?"


"Sial! Bisa jadi. Kenapa aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Oke. Kita coba cari Mikha di vila pribadi dan apartemennya Chelsea yang baru ia beli"


"Anda benar, Nona. Saat kita semua pergi ke kantor, Nona Chelsea tiba-tiba memberikan. cuti dan bonus ke semua pelayan rumah termasuk satpam. Kecuali Mawar. Mawar memilih untuk tetap tinggal di rumah menjaga Tuan muda. Mawar mengatakan kepada saya pas saya menjemput Tuan muda dan membawanya ke rumah sakit untuk trs DNA lalu membawa Tuan muda ke kantor Anda, Tuan. Sial! Kenapa saya tidak langsung curiga saat itu juga. Saya justru hanya mengiyakan laporannya Mawar begitu saja" Sahut Ray.


"Kita ke apartemennya Chelsea dulu, lalu ke hotelku kalau apartemennya kosong. Siapa tahu Chelsea membawa Mikha ke hotel. Kalau kamar di hotel tempat biasa Chelsea menginap kosong, kita ke vila pribadinya" Sahut Bisma sambil mencengkeram telepon genggamnya saat ia tidak berhasil terhubung dengan telepon genggamnya Chelsea.


"Dia sepertinya mengganti nomer telepon genggamnya. Sial!" Bisma memukul jok mobil dengan menggeram penuh amarah.


"Berarti benar dugaanku. Chelsea yang membawa Mikha pergi" Gumam Nisita lirih.


"Semoga Mikha baik-baik saja" Nisita menggenggam tangannya yang gemetar dan Bisma langsung merangkul bahu Nisita sambil berkata, "Tenanglah! Chelsea masih membutuhkan Mikha. Tanpa Mikha, Chelsea tidak bisa mendapatkan hak ahli waris Mahesa Grup. Dasar cewek matre menjijikkan! Kenapa aku bisa tertipu dengan kecantikan dan kemolekan tubuhnya, cih!"


Nisita membiarkan tangan Bisma meletakkan kepalanya di bahu Bisma. Dia sudah lelah dan setelah menelan pil antibiotik, dia menjadi mengantuk dan dalam hitungan detik, Nisita lelap tertidur di dalam dekapan hangatnya Bisma.


"Aku menyayangi wanita ini, Ray. Tidak! Sepertinya aku telah mencintainya selama ini dan aku tidak menyadarinya" Bisma merapikan rambut yang menutupi wajah manisnya Nisita dan menyelipkan rambut itu ke telinga.


"Apa karena ucapan Nona Nisita tadi, Tuan. Nona Nisita berkata kalau dia adalah ibu kandungnya Tuan muda"


"Bukan. Jauh sebelumnya, aku rasa aku sudah mencintai wanita ini tanpa aku sadari" Sahut Bisma sambil mengelus pelan pipi Nisita lalu mendaratkan ciuman di kepalanya Nisita.


Ray melirik spion dan langsung berkata di dalam hatinya, ya, Anda mencintainya, Tuan. Bahkan saya lihat kalau Anda lebih mencintai Nona Nisita dibandingkan dengan Nona Chelsea.


Satu jam kemudian, mereka sampai di apartemennya Chelsea. Bisma menyuruh Ray turun dengan suara pelan untuk memeriksa karena ia tidak ingin membangunkan Nista yang masih pulas tertidur tenang sekali di dalam dekapannya.


Ray segera turun untuk mengindahkan perintah tuannya.


Tiga puluh menit kemudian Ray kembali masuk ke dalam mobil dan langsung melongok ke jok belakang untuk memberikan laporan, "Apartemennya kosong, Tuan dan saya tidak menemukan petunjuk keberaniannya Tuan muda di sana"


"Oke! Kita ke hotel kalau begitu" Sahut Bisma.


"Baik, Tuan" Sahut Ray.


Satu jam berikutnya, Bisma kembali berkata ke Ray dengan setengah berbisik "Perkasa seluruh hotel dan CCTv! Cari keberadaannya Chelsea dan Mikha!"


"Baik, Tuan" Ray meninggalkan mobil dengan tetap menyalakan mesin mobil dan menghidupkan AC.


Dua jam kemudian, Ray kembali masuk ke dalam mobil dan melongok ke jok belakang untuk memberikan laporan, "Tuan muda dan Nona Chelsea tidak ke hotel sejak kemarin, Tuan"


"Sial! Apa dia ada di vila pribadinya?"


"Kita ke sana sekarang, Tuan?"


"Aku sudah telpon supir mengirim mobil ke sini. Kamu ke mobil itu dan ke vilanya Chelsea Aku akan ke pulau pribadiku dulu. Biar Nisita beristirahat di sana. Laporkan secepatnya apa yang kau temukan di biaknya Chelsea!"


"Baik, Tuan Ray keluar dan menutup pintu mobil tanpa bersuara.


Bisma merebahkan kepala Chelsea dengan pelan di jok belakang, kemudian pria tampan dan gagah itu keluar dari jok belakang untuk berpindah ke jok kemudi.


Empat jam kemudian, Nisita bergumam lalu berdecak dan setelah menguap ringan, wanita berparas manis itu bangun dan langsung duduk tegak dan sambil meraba seluruh tubuhnya ia berkata, "Syukurlah aku masih hidup"


"Sudah bangun?" Bisma melirik kaca spion.


Nisita sontak menoleh ke kiri dan ke kanan lalu bertanya, "Kau bawa aku ke mana?"


"Sebentar lagi kau juga tahu" Sahut Bisma sambil membelokkan mobilnya ke jalan setapak.


"Kau mau mengeksekusi aku di sini atau mau menyekapku?" Nisita langsung mengalungkan lengannya di leher Bisma.

__ADS_1


"Hei! Aku lagi menyetir, nih. Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Percaya sama aku! Lepaskan leherku!"


Nisita menarik gelungan lengannya dan Bisma langsung tersengal-sengal.


"Awas saja kalau kau bohong!"


"Sudah sampai. Turunlah sendiri dan masuk ke dalam kalau kau tidak percaya. Ini kuncinya" Bisma menyerahkan sebuah kunci ke Nisita.


Nisita mengambil kunci itu dan langsung melompat turun dari dalam jok belakang mobil mewahnya Bisma dan langsung melesat ke pintu masuk rumah mewah itu.


Saat pintu terbuka, Nisita melangkah masuk dengan perlahan. Dia langsung terkesima melihat pemandangan yang tampak di depan matanya.


"Pantai. Kenapa Bisma bisa tahu kalau aku suka sekali sama pantai? Apa hanya kebetulan saja ia membawaku ke sini? Tapi, rumah siapa ini?"


Nisita berdiri di depan jendela besar yang bening dan tembus pandang. Jendela itu menghadap ke sebuah pantai. Pemandangan yang sangat indah terpampang nyata lewat kaca bening yang ada di depannya.


Wanita berparas manis itu menoleh ke kiri saat ia mendengar pintu dibuka.


Bisma menutup pintu dengan tumit kakinya sambil tersenyum, "Aku beli beberapa stel baju untuk kamu pas kamu tidur di mobil tadi" Bisma mengangkat lima buah paper bag yang da di kedua tangannya.


Nisita mengarahkan tubuhnya ke Bisma kemudian ia bersedekap dan bertanya, "Kenapa kamu membawaku kemari? Kenapa kita tidak mencari Mikha?"


"Mikha hilang setelah ia menjalani tes DNA dan aku tidak mau kamu juga hilang setelah menjalani tes DNA. Sementara tinggalah di sini sampai situasi dan kondisi aman. Aku sudah mencari Chelsea dan Mikha di apartemen dan hotel. Tapi, Chelsea dan Mikha tidak ada di sana. Aku tengah menunggu kabar dari Ray. Ray ke vila pribadinya Chelsea sekarang ini. Semoga Mikha ada di sana"


"Kamu sudah terbiasa bersikap seenak hati dan menggunakan kekuasaan kamu dengan entengnya. Tapi, aku tidak terbiasa menjadi cewek penurut" Nisita menyeret kakinya yang terluka untuk ia ajak berjalan melewati Bisma.


Bisma menahan lengan Nisita dan berkata, "Aku melepaskan kekuasaanku saat ini. Aku hanyalah Bisma Mahesa. Cowok yang peduli sama kamu. Jadi, tolong turuti kemauanku saat ini. Paling nggak sampai luka kamu sembuh. Besok, besok kamu boleh pergi ke mana pun kamu mau. Tapi, jangan hari ini! Please!"


Nisita menarik lengannya dan melotot ke Bisma, "Kenapa tidak hari ini?"


"Kamu baru saja lepas dari ancaman kematian. Kaki kamu bahkan terluka. Bukan luka parah, tapi juga tidak boleh diabaikan. Paling nggak beristirahatlah di sini selama sehari lagipula kondisi di luar sana masih belum kondusif"


Nisita menghela napas panjang kemudian berkata, "Baiklah. Tapi, aku akan pergi besok"


Nisita mengambil semua paper bag yang menggantung di semua jari jemarinya Bisma. Kemudian wanita manis itu berbalik badan dan masuk ke kamar yang ditunjuk Bisma.


Nisita menuruni anak tangga. Kakinya langsung menapak ke pasir pantai saat ia menuruni anak tangga yang terakhir. Nisita mengenakan celana pendek dan kaos. Dia melihat ada baju renang seksi di salah satu paper bag. Namun, ia enggan memakainya.


Nisita terkesiap kaget saat ia melihat Bisma duduk di kursi santai pantai dan di depannya terpampang layar lebar.


"Duduklah di sana!" Bisma menunjuk ke kursi santai pantai yang berseberangan dengannya. Di tengah kedua kursi santai itu terdapat meja bundar dan di atas meja bundar itu terdapat satu botol anggur merah, dua gelas khusus untuk minuman anggur, dan camilan ringan berupa kentang goreng, jagung dan kacang rebus.


Kapan dia menyiapkan ini semua? Tanya Nisita di dalam hatinya sambil duduk di kursi santai pantai yang diperuntukkan untuk dirinya.


"Kamu suka nonton film apa?" Tanya Bisma.


"Anakku hilang. Bagiamana bisa aku bersantai seperti ini dan menonton film?" Nisita mendengus kesal.


"Mikha sudah ditemukan. Chelsea meninggalkannya di vila pribadinya"


"Benarkah?!" Nisita membeliak kaget lalu ia tersenyum semringah.


"Benar. Tentu saja benar. Aku tidak pernah berkata bohong pada wanita yang aku cintai"


"Jangan omong kosong! Sekarang Mikha di mana?"


"Ray dan anak buahku membawa Mikha ke sini. Jangan khawatir! Mikha dijaga sangat ketat. Anak kita akan sampai di sini dengan selamat. Sekarang beristirahatlah sejenak dan nikmati filmnya. Kau mau nonton film apa?"


"Terserah kamu" Nisita bersandar di kursi pantai dengan santai.


"Baiklah. Aku akan putarkan film romantis. Biasanya wanita suka menonton film romantis"

__ADS_1


Nisita menyahut, "Terserah kamu!"


Di tengah-tengah film romantis itu ada adegan ciuman dan Nisita langung merasa canggung. Dia lalu mengambil gelas yang berisi anggur, menyesapnya, dan langsung memangku mangkuk kaca yang berisi kentang goreng.


Bisma mengulum senyum menahan geli. Dia tahu dan bisa merasakan kalau Nisita merasa canggung melihat adegan mesra yang ada di film yang ia putar.


Bisma menyesap anggur di gelasnya sambil menegakkan badannya.


Nisita ikut menegakkan badannya dan langsung bertanya, "Kau mau ke mana?"


"Mau ke sana" Bisma menunjuk kursinya Nisita dan sebelum Nisita berhasil melompat dari kursi dan berlari, Bisma telah duduk di tepi kursi itu dan berkata, "Aku ingin mengingat kamu. Untuk itulah aku ingin memandangi wajah kamu dadi jarak sedekat ini"


Nisita sontak memalingkan wajahnya karena ia mulai merasa tidak nyaman dengan tatapannya Bisma.


Bisma mencubit dagu Nisita dan memutar pelan wajah Nisita agar berhadapan dengan wajahnya. Lalu, pria itu menundukkan wajahnya, mendekat dan menabrakkan bibirnya dengan pelan ke bibir Nisita.


Nisita tesentak kaget. Bibirnya dan sekujur tubuhnya sontak seperti terkena percikan aliran listrik.


Dia membiarkan Bisma menciumi bibirnya dan saat lidah Bisma mendesak, Nisita pun dengan rela hati membuka mulut.


Bisma kemudian mengangkat tubuh Nisita untuk ia gendong.


Nisita sontak menggelungkan kedua pahanya di pinggang kekarnya Bisma dan menggelungkan kedua lengannya di leher kokohnya Bisma. Mereka terus berciuman dengan penuh gairah sembari terus melangkah masuk ke dalam vila. Rumah besar bergaya klasik nan mewah yang berhadapan langsung dengan pantai itu memberikan sensasi tersendiri bagi Bisma dan memberikan debaran jantung yang tidak biasa bagi Monica.


Bisma melepaskan ciumannya lalu ia menurunkan Nisita di lantai marmer yang ada di kamarnya. Pria tampan itu mengusap bibir Nisita dengan ibu jarinya. Bibir yang masih basah karena ulahnya kembali mengundang Pria bercambang tipis itu untuk mengecapnya lagi. Bisma mencium lembut bibir ranum yang terasa sangat manis semanis madu itu.


Nisita mendorong pelan tubuh Bisma dan sambil terengah-engah ia berkata, "Tunggu!"


"Kenapa?" Bisma bertanya dengan bertelanjang dada.


Sial! Kapan dia melepas kaosnya. Tanya Nisita di dalam hatinya.


"Kau pasti telah mengajak banyak wanita ke sini dan bercinta dengan mereka semua di kamar ini. Benar, kan?" Nisita memicingkan mata dan mengerutkan bibirnya. Wajahnya tampak sangat kesal.


"Wanita apa? Aku bahkan belum pernah mengajak Chelsea ke sini. Kamu yang pertama aku ajak ke sini. Ini vila milik almarhum Mamaku" Sahut Bisma dengan sorot mata penuh dengan kejujuran.


"Bohong!" Nisita merapikan kaosnya lalu bersedekap di depan Bisma.


"Aku harus bilang apa agar kamu percaya? Kenapa kau selalu curiga sama aku? Salah aku apa? Kita bahkan udah punya anak, kan? Aku memercayai kamu kalau kamu adalah Ibu dari anakku padahal hasil tes DNA belum jadi. Lalu, kau, kau terus mencurigai aku tidak pernah memercayai semua ucapanku. Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya sama aku saat ini" Bisma menatap Nisita dengan sorot mata sendu.


"Katakan sesuatu yang sangat rahasia yang belum pernah kamu katakan ke wanita mana pun termasuk Istri kamu Chelsea"


"Di bawah, kau sempat lihat tidak tadi pas melangkah masuk ke dalam vila ini?"


"Apa? Melihat apa?"


"Piano. Piano itu milik almarhum Mamaku. Sejak Mamaku meninggal tidak ada yang pernah menyentuh piano itu lagi termasuk aku" Sahut Bisma dengan air mata yang mulai tergenang di kedua pelupuk matanya.


Nisita akhirnya percaya dan dia langsung memeluk pinggang Bisma dan berkata, "Maafkan aku! Aku sudah membuka luka lama kamu"


Bisma memeluk Nisita dan mengusap punggung Nisita sambil berkata, "Tidak apa-apa"


"Apa aku boleh menyentuh piano itu?" Tanya Nisita sambil mendongakkan wajah untuk menatap wajah Bisma.


"Boleh. Ayo kita turun ke bawah"


Bisma dan Nisita turun ke bawah dengan bergandengan tengah. Nisita duduk bersebelahan dengan Bisma.


Bisma membiarkan Nisita menyentuh piano itu lebih dahulu dan Bisma tersentak kaget, "Kau bisa main piano ternyata"


"Aku pernah belajar waktu masih SMP. aku ikut ekstrakurikuler musik"

__ADS_1


Bisma kemudian dengan pelan menyentuh tuts piano dan bermain piano bersama dengan Nisita. Hingga tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Bisma menggenggam erat tangan Nisita lalu pria tampan itu kembali mengajak Nisita berciuman.


__ADS_2