
Kini Kalisa perlahan mulai dasar, Kalisa membuka matanya pelan, lalu menatap langit-langit kamar mewah itu, namun Kalisa cukup bingung, karena tidak mengenali kamar tersebut.
Kalisa menoleh ke samping, dan kaget, Karena terlihat Smith yang ikut berbaring sambil menatap Kalisa yang baru sadar.
Melihat itu, Kalisa barusaha bangkit dari ranjang, dan ingin turun dari sana. lalu menuju Pintu untuk keluar dari sana, Smith yang berbaring tidak perduli dengan hal tersebut, karena dia yakin Kalisa tidak akan bisa keluar dari kamar itu.
Walau pun bisa keluar dari kamar, tapi tidak akan bisa keluar dari rumah yang sudah ketat dengan dinding tembok tinggi, dan kembali ke rumah miliknya.
Kalisa mencoba membuka pintu. namun terkunci.
"Smith, bukak pintunya, aku mau pulang," ucap Kalisa berteriak dari pintu itu.
"Bukak saja sendiri kalau bisa," ucap Smith Masih berbaring di ranjang dengan santai. tidak berniat untuk mengejar atau menarik Kalisa seperti tadi.
Karena merasa tidak bisa membuka pintu, Kalisa mendekat ke arah Smith.
"Mana kuncinya," tanya Kalisa, sambil mengulur kan tangan untuk meminta kunci dari Smith.
"di sini" jawab Smith, sambil menunjuk saku celana Bagian depan, berdekatan dengan barang pusaka Smith, yang terlihat menyembul di sana, yang menandakan barang itu sedang hidup.
"Cepat berikan pada ku..!!!" ucap Kalisa, sedikit berteriak.
Smith hanya menanggapi ucapan Kalisa dengan senyum.
"Ambil saja sendiri, kalau kamu bisa mengambilnya, berati kamu boleh keluar," ucap Smith dengan suara serak khasnya itu.
"Kamu gila ya, kamu tau aku tidak akan mengambil kunci itu tapi kamu malah beralasan tak jelas,!!" jawab Kalisa masih dengan suara keras karena emosi, dengan Sikap Smith yang sudah keterlaluan dengannya.
"Kalau tidak mau, ya sudah, berati kamu tidak akan keluar, lebih tepatnya KITA" jawab Smith, malah semakin merebah kan tubuhnya terlentang.
__ADS_1
"Karena cuma kita berdua saja, kira-kira apa yang akan di lakukan seorang pria lajang dan gadis mudah kalau di kamar" ucap Smith, sambil mencoba membuka Kancing celana jeans miliknya.
"Jangan bersikap lancang pada ku, Pria tua, aku bahkan tidak berminat dengan Pria yang sudah bau tanah" jawab Kalisa, tak kalah menyakitkan dan menyinggung perasaan pria tampan dan dewasa itu.
"Kita test saja, apa pria dewasa ini sudah bau tanah atau belum," ucap Smith sambil menarik tangan Kalisa, lalu Kalisa menimpah tubuh kekarnya
"Ahhhh..." teriak Kalisa kaget, karena tubuhnya di tarik Smith, dan menabrak dada pria tampan itu.
"Lepas Smitthh" ucap Kalisa berusaha berdiri dan mendorong dada Smith. Tapi Smith malah memeluk pinggang Kalisa erat, sehingga membuat Kalisa tidak bisa beranjak dari atas tubuh Smith.
"Ternyata kamu Agresif juga terhadap pria dewasa," ucap Smith sambil memasuk kan tangan nya, ke baju seragam milik Kalisa dari belakang.
"Jangan sentuh sembarang Smith, lepas kan aku, aku tidak suka berada di atas tubuh mu yang seperti batu ini." ucap Kalisa, yang membuat Smith membalik kan posisi mereka.
Kini Kalisa malah di bawah tubuh kekar Smith, dengan Smith yang mulai lancang meraba-raba paha mulus Kalisa, dan menempel kan bagian bawah Smith ke milik Kalisa yang masih tertutup itu.
Walau tubuh mereka masing-masih tertutup, namun Kalisa bisa merasakan barang besar milik Smith, sudah siap bertempur.
Sesaat, Kalisa berpikir untuk merasakan barang besar dan Pasti panjang milik Smith, saat genting seperti ini, otak mesum Kalisa, masih sempat-sempatnya keluar.
Smith melepas tangan dari paha mulus kalisa lalu berpindah memegang tangan Kalisa, memasuk kan jari-jari tangan nya ke jari-jari tangan Kalisa.
Ntah mengapa dengan hal itu, membuat jantung Kalisa dan Smith, sama-sama berdetak lebih kencang dari biasanya.
Smith menatap mata hitam bening milik Kalisa, khas mata Asia itu, terpesona, karena Kalisa terlihat lebih cantik dari dekat seperti itu.
Begitu juga dengan Kalisa yang menatap mata biru milik Smith dengan wajah rupawan dan dewasa, membuat Kalisa kembali goyah.
"Aku ingin mencium mu" ucap Smith, sambil menyambar bibir indah Kalisa dan mel*m*tnya.
Dengan tangan mereka masih terpaut, ntah karena Apa Kalisa yang belum pernah berciuman sebelumnya, merasakan hal berbeda dari ciuman yang di berikan Smith, Smith memang ******* bibir Kalisa, namun tidak kasar, membuat Kalisa terbuai dengan itu.
***** Smith sudah mulai menggebu, membuat Smith melepas tautan tangannya, dan mulai menurun kan tangan menuju Gunung kembar padat milik Kalisa.
__ADS_1
Smith memasuki tangan besarnya, membuka penutup daging segar itu, lalu mer*m*snya.
"Emmpphh" ucap Kalisa mend"s*h di sela-sela ciuman itu.
Smith juga mulai menurun kan ciuman itu ke leher jenjang Kalisa, dan memberi tanda di sana.
Cukup puas dengan rem*san itu, tangan Smith mulai memasuki rok seragam Kalisa, dan mencari Pulau kecil dan basah milik Kalisa.
Kalisa yang menyadari Sikap Smith yang benar-benar tidak bisa di kendali kan lagi, kini berusaha menahan tangan kekar dan besar itu masuk ke dalam rok Kalisa, untuk menguasai mahkota Kalisa.
"Jangan Smith, aku masih sekolah, aku tidak mau Hancur sebelum ada pernikahan." ucap Kalisa dengan cukup ngos-ngosan dengan ulah Smith terhadap tubuhnya.
Ntah, Malaikat dari mana, membuat Smith menghentikan sikapnya, lalu bangkit dari atas tubuh Kalisa langsung menuju Kamar mandi.
Kalisa cukup Kaget, melihat Smith yang tidak memaksa dirinya, dan juga merasa lega, karena Smit tidak Sampai memasuki dirinya.
Hampir satu jam, Amith di dalam kamar, kini barulah terlihat Smith keluar dari kamar Mandi itu, dengan bertelanjang dada.
"Bersikan dulu tubuh mu, habis itu, aku akan mengantar mu pulang," ucap Smith tanpa menatap ke arah Kalisa, yang masih terlentang di kasur itu.
Lalu Kalisa bangkit menuju Kamar Mandi, untuk membersikan tubuhnya. hanya butuh waktu Sepuluh menit, Kalisa sudah selesai mandi, lalu keluar dari sana, dengan pelan membuka pintu kamar Mandi, sambil mencari Smith, Namun Smith tidak lagi terlihat di kamar itu, dan di atas ranjang, terlihat Baju untuk Kalisa yang sudah di siap kan.
Ntah, malaikat dari mana, yang mengubah pikiran seorang pria tak berhati itu, membuat dia tidak menyakiti Kalisa lagi.
Kalisa tidak mau berpikir lebih banyak lagi, dia membuka pintu kamar itu, lalu telihat lah ruangan luas dan mewah rumah itu.
Seorang pelayan menyapa Kalisa.
"Nona, lewat sini, tuan sudah menunggu di luar, Kalisa pun mengikuti pelayan itu menuju luar, dan Kalisa kaget, melihat rumah itu di tutupi oleh tembok tinggi, yang mustahil bisa di lewati dengan tangan kosong.
Kalisa memasuki helikopter, yang di dalamnya sudah ada Smith yang menunggu dengan tampan dan gaga.
Sama seperti ekspresi tadi, Smith tidak menatap Kalisa dan langsung memerintahkan untuk segera terbang.
__ADS_1
Kalisa cuma diam saja, tidak mau berkomentar apa pun, Kalisa tidak menyangka, kalau Smith membawa dia ke tempat yang cukup jauh dari pusat kota dan dari tempat tinggal mereka.