TETANGGA KU OM MAFIA TAMPAN

TETANGGA KU OM MAFIA TAMPAN
MASUK KE KAMAR KALISA


__ADS_3


Dua hari berlalu, sejak Kalisa di antar oleh Smith, Kalisa jarang berkunjung ke rumah Smith. Walau Smith selalu berada di rumah sejak mengantar Kalisa.


Malam sudah menunjuk kan pukul dua malam, Kalisa begitu nyenyak dengan tidurnya.


Tiba-tiba.


"Kreeeek" Suara jendela kaca kamar milik Kalisa, terbuka perlahan, Namun Kalisa belum menyadari itu, Kalisa masih tetap terlelap dengan Bobok cantiknya.


Perlahan Langka Kaki mendekat ke arah ranjang Kalisa, dan masih belum membangun kan Gadis cantik itu.


Kini seseorang semakin mendekat, lalu Naik keranjang Kalisa, Kalisa yang sedikit risih dengan gerakan di ranjang miliknya, mencoba membuka Mata perlahan, untuk memastikan Apa yang terjadi di ranjang miliknya.


"Hap" Mulut Kalisa di tutup oleh seseorang dengan tangan besar dan lebar, yang Pasti milik seorang Pria gaga.


Kalisa pun Kaget, berusaha melawan di bawah lampu remang miliknya.


Namun pria itu mendekat ke arah kalisa, sambil menempel kan telunjuk di bibir pria itu sendiri.


"sutttt, Ini aku, Smith" ucap Smith, membuat Kalisa tidak melawan lagi dan mengangguk,


"Kenapa kamu tiba-tiba ada di kamar ku" tanya Kalisa bertanya perlahan, dengan mulut masih tertutup, Perlahan Kalisa Membuka tangan itu, meyakin kan apa yang dia lihat sa'at ini.


"Iya benar, Aku memang Smith, aku naik lewat tembok rumah mu lalu membuka jendela kaca kamar mu, tolong Bantu aku, melindungi diri, aku di kejar oleh orang jahat, yang ingin membunuh ku di rumah ku Sendiri, tidak ada jalan keluar, kecuali melewati rumah mu, yang tidak akan di sadari oleh para penjahat," ucap Smith Panjang lebar, namun Kalisa sedikit merasa curiga, atas apa yang di ucap kan Smith.


Tangan Smith yang Masih di penggang oleh Kalisa, mengeluar kan dara dari lengan Jaket hitam milik Smith.


Membuat Kalisa Kaget, dan menghilang kan rasa curiga itu, dan merasa Smith memang sedang di buruh oleh Penjahat, dan tanpa berpikir apa pun, tidak juga bertanya, bagai mana bisa, seorang Smith, bisa membuka jendela kaca milik Kalisa, yang terkunci cukup kuat itu.


Karena Kalisa kaget melihat dara itu,Kalisa Berniat untuk mengambil kotak obat, sambil melihat luka Smith itu.


"Tunggu di sini, biar ku ambil kan Obat," ucap Kalisa yang Panik akan darah itu.

__ADS_1


Smith menahan lengan Kalisa, agar tidak beranjak dari sana.


"Jangan, nanti keluarga mu curiga, dan bisa membahaya kan nyawa kalian juga, luka ku tidak terlalu Para, aku hanya butuh bersembunyi di kamar mu sebentar, bisa kah kamu mengunci kembali jendela kamar mu" Ucap Smith, membuat Kalisa dengan segera membuka selimut dan turun, menuju jendela miliknya untuk di kunci.


Mata Smith mengikuti arah jalan Kalisa yang menutup kaca jendela itu.


Smith sedikit menelan saliva, menatap isi di balik kain tipis yang di pakai oleh Kalisa, dan itu tidak di sadari oleh Kalisa.


Selesai dengan itu, Kalisa mendekat ke arah Smith, yang masih menatap dia, Kalisa tidak merasa curiga akan Pandangan Smith tersebut.


"Aku sudah mengunci jendelanya, cepat bukak baju mu," ucap Kalisa, kalisa tidak sadar dengam ucapan ambigu itu.


Smith lalu membuang Pandangannya sembarang, untuk mengalih kan tatapan dan pikiran lain yang memenuhi otak Smith, mendengar ucapan Ambigu Kalisa.


"Heiiii..." ucap Kalisa, melambaikan tangan ke depan muka Smith yang berpaling darinya.


"Ayo, cepat bukak, apa aku perlu membantu mu, membukaknya" ucap Kalisa, karna dia berpikir, mungkin Smith tidak bisa membuka sendiri baju itu, karena terluka.


Kalisa masih betah dengan itu, dengan tatapan menatap tubuh kekar Smith, sebenarnya, tadi Smith tidak menyadari, kalau Kalisa menatap tubuh indah Smith, namun saat melihat, kalisa tidak berpindah dari tempatnya, Smith menoleh, ke arah Kalisa, yang menatap tubuhnya.


Melihat itu, Smith sedikit ingin mengerjai Gadis bocah namun sangat cantik itu.


Smith berjalan, mendekati Kalisa, Kalisa yang mulai sadar, dengan sikapnya, menatap Wajah Smith yang juga menatap ke arah Kalisa, kalisa spontan membuang pandangan, lalu perlahan mundur, karena Smith, semakin mendekat ke arah Kalisa.


Sampai Kaki Kalisa mentok di ujung ranjang miliknya, Kalisa terduduk, namun Smith tetap mendekat kan wajahnya ke arah Kalisa.


Kalisa masih membalas mata indah dan tajam Milik Smith yang mengoyakan kan iman Kalisa.


Merasa Smith sudah sangat dekat, dan Kalisa tidak bisa lagi menghindar, Kalisa menutup Matanya.


Kalisa menunggu hal yang di pikir kan otak mesumnya, yaitu Bibir Smith ******* bibirnya, Kalisa sudah membayang kan itu di otaknya, dan memastikan itu.


"Apa kamu tidak ingin menolong, mengobati luka ku" ucap Smith di depan muka Kalisa, yang sangat dekat itu, merasa malu dengan sikap sendiri, Kalisa membuka Mata, lalu mendorong Smith menjauh.

__ADS_1


"I..ia, aku akan membantu mu," ucap Kalisa mencari beberapa obat luka yang ada di kamar miliknya, walau pun tidak selengkap obat di luar kamar kalisa, tapi masih bisa membantu Smith untuk membalut itu.


"mana coba aku lihat, duduk dulu" ucap Kalisa, mempersilakan Smith duduk di ranjang, lalu Kalisa mengambil obat, Kalisa berniat untuk membalut luka dengan kain bekas yang bersih, karna tidak ada perban di kamar miliknya.


Sambil tersenyum samar, Smith duduk di ranjang Kalisa, Lalu Kalisa melihat luka itu.


Kalisa cukup kaget, karena luka itu, bukan luka biasa, melain kan luka tembah.


"Bagai mana bisa aku mengobati ini, ini seperti luka tembak" ucap Kalisa, membuat Smith menoleh ke arah kalisa.


"Bantu aku ikat pergelangan tangan ku, biar aku melakukan sendiri, karena ini memang luka tembak, dan pelurunya harus di keluar kan terlebih dahulu" jawab Smith, membuat Kalisa kembali melotot kan mata indahnya.


"Bisa bantu tidak..?" tanya Smith, melihat Kalisa masih mematung melihat luka tembak itu.


Kalisa kaget dengan suara Smith, dan langsung bergerak untuk membantu mengikat lengan kekar Smith.


Cukup kencang dengan ikatan itu,Smith kembali bertanya.


"Apa kamu punya lilin di kamar ini..??"


"Punya, tapi untuk apa lilin??" Ambil kan saja, jangan bertanya dulu, nanti kamu akan melihatnya." Kalisa pun beranjak mengambil lilin di laci miliknya, lalu memberikan kepada Smith, Smith mengeluar kan sebuah korek, namun menyatu dengan sebuah pisau kecil di dalamnya.


"Apa yang ingin kamu lakukan..!??" Tanya kalisa, cukup kaget dengan pisau itu, dan Kalisa mulai berpikir yang tidak-tidak, Kalisa menjauh sambil mengangkat lampu tidur di tepi ranjang miliknya.


Smith tidak menjawab pertanyaan Kalisa, dia menggigit sebuah kain bekas yang di berikan Kalisa tadi, sambil memanas kan pisah tersebut, Kalisa masih berjaga-jaga, akan hal yang di lakukan Smith, Smith tidak menoleh dan juga tidak bergerak dari tempat itu, melanjutkan yang ingin di lakukakannya itu.


Perlahan Smith mencongkel luka tembak itu, dengan menahan sakit yang teramat mengiksa.


Melihat itu, Kalisa bertambah kaget, namun tidak merasa takut lagi, karena tau Maksud Smith dengan pisau itu.


Dengan Keringat yang mulai mengalir, Smith tetap berusaha mencongkel luka itu, Kalisa pun bingung, mau membantu seperti apa, karena dia juga tidak mengerti, cara membantu Smith.


Kalisa hanya berdiri di Pojok tempat tadi, sambil melihat Smith kesakitan sendiri, untuk mengeluarkan peluru, yang masih tertanam di lengan kekar miliknya, hampir satu jam, akhirnya, peluru itu keluar dari lengan Smith, tanpa membalut terlebih dahulu, Smith langsung berbaring, dengan darah yang masih mengalir dari lengannya.

__ADS_1


__ADS_2