
Sejak kejadian di kamar Kalisa, Kalisa benar-benar, berusaha menghilangkan bayangan Smith dari pikirannya, dia lebih fokus ke sekolah dan keluarga.
Kalisa cukup sakit hati dengan ucapan Smith, yang menganggap Kalisa hanya sebangian kecil kikisan debuh, yang berarti, Kalisa sama sekali tidak berpengaruh terhadap Smith, Karena Kalisa hanya gadis kecil yang dengan mudah bisa di permain kan.
Kalisa juga sudah bertemu sahabatnya maria, dia sudah menjelas kan tentang hal yang terjadi malam itu. Dan Maria memaaf kan Kalisa, mereka sudah baikan lagi.
Mami Kalisa mendapat undangan, dari rekan bisnis, dan mengajak Kalisa untuk ikut datang kesana malam ini, berhubung besok juga hari libur, Kalisa berpikir, dari pada berdiam diri di rumah, lebih baik dia ikut saja, Sambil melihat-lihat rekan kerja maminya, siapa tau ada yang kecantol, dan sesuai selera Kalisa.
Malam itu Pun Kalisa ikut dengan maminya, mengikuti undangan rekan kerja maminya, mengunakan gaun indah, membuat Kalisa tanpak dewasa dari umurnya.
Sampai di acara rekan bisnis maminya, Kalisa di ajak berkenalan dengan beberapa teman maminya, Cukup berkeliling dan berkenalan, Kalisa Pamit kepada mami untuk mengambil makanan, dan duduk di salah satu kursi kosong yang terdapat di ruangan itu
Kalisa menikmati undangan itu, sambil duduk dan makan, tanpa peduli lagi dengan orang lain,
Tiba-tiba, Seorang pria, mendekati Kalisa, menyadar kan Kalisa dari kegiatan makan itu, lalu menoleh ke arah suara tersebut.
"Boleh duduk di sini" ucap Pria tampan itu, sambil menatap lekat wajah cantik Kalisa, Kalisa tersenyum, dan mempersilakan Pria itu untuk duduk satu meja dengan Kalisa.
"Silakan, bukan kah semua orang bisa duduk di sini," Jawab Kalisa ramah.
Kalisa menatap Pria tampan itu sekilas, lalu melanjutkan makan yang belum habis tadi,
"Apa kamu Salah satu rekan bisnis di sini juga, kamu terlihat masih sangat mudah" tanya cowok itu, sedikit penasaran dengan Kalisa.
"Bukan, aku ikut dengan mami, yang lagi ngobrol di sana, tunjuk Kalisa, merespon ucapan pria tampan itu.
"Oh, kamu putri ibu sania ternyata" ucap pria itu.
__ADS_1
"Iya, dan kamu, apa kamu salah satu rekan bisnis??" tanya Kalisa.
"Iya, salah satunya," ucap Pria itu singkat, dan di balas anggukan Kalisa, tanpa menambah pertanyaan kembali.
Membuat Pria itu tersenyum, melihat Kalisa yang tidak terlalu penasaran akan dirinya, pria itu merasa, kalisa tidak seperti, wanita-wanita yang sering mendekati dirinya, dengan berbagai cara, agar bisa dekat.
"Boleh aku tau nama mu,??" tanya pria itu, membuat Kalisa menatap pria itu lagi, Kalisa menjawab namanya.
"Kalisa" ucap Kalisa, lalu sang pria tiba-tiba mengulur kan tangan, agar bisa berkenalan tentang dirinya kepada Kalisa.
"Marcel" Ucap Pria itu, lalu Kalisa menyambut uluran tangan pria tampan itu, wajah dan tubuh pria itu, tidak jauh beda dengan Smith, hanya lebih tampan dan tegas Smith, Pikir Kalisa.
Pria itu masih beta mengajak Kalisa mengobrol, dan berusaha Agar bisa dekat dengan Kalisa,
"Boleh tau kamu umur brapa,??" tanya Marcel.
"17 Tahun dan masih sekolah kelas tiga" jawab Kalisa, namun tidak menyurut keinginan pria itu untuk dengan dengan Gadis cantik itu.
"Iya, aku suka berteman dengan orang lebih dewasa." ucap Kalisa, membuat senyum Pria itu lebih sumringah, seperti memenang kan undian besar.
"Sungguh,???" pria itu lebih meyakin kan lagi ucapan Kalisa.
"ya, tentu..!!!" ucap singkat kalisa, membuat Pria tampan itu lebih semangat.
"Kalau begitu, apa kamu ingin berteman dengan ku" tanya pria itu, mulai mencari cara untuk dekat dengan Kalisa.
"Boleh," jawab kalisa, walau ucapan itu singkat, namun membuat pria itu senang.
"Emmm, Ma'af kalau aku banyak bertanya dan lancang, Aku boleh minta nomor mu..??" Kalisa tersenyum samar, sebenarnya dia tau maksud pria itu, datang ke mejanya, karena ingin mendekati Kalisa, namun Kalisa ingin memastikan lagi, dengan menjawab singkat ucapan pria itu. dan tidak terlalu antusias.
Kalisa mulai membuka Hp miliknya, dan berniat memberi nomornya kepada Pria itu.
__ADS_1
"Marcel" ucap suara serak seorang Pria, yang sangat di kenali Kalisa, dari belakang punggung Kalisa.
Membuat Kalisa cukup kaget, lalu menyimpan kembali Hp miliknya.
Marcel pun menoleh ke arah suara melambaikan tangannya.
"Hai Smith, Apa kabar,???," tanya Marcel, saaat Smith sudah dekat dengan Marcel.
Mereka pun salaman Lalu, Marcel ingin memperkenal kan Kalisa dengan Smith.
Kalisa yang hanya diam saja dari tadi, kini menoleh, tanpa ekspresi apapun pun.
"Kalisa, kenal kan, dia Smith teman lama ku" ucap Marcel meyuruh mereka untuk berkenalan.
"Ma'af kak Marcel, sebaiknya aku permisi dulu," ucap Kalisa tanpa menoleh kepada Smith, langsung beranjak dari meja itu, mencari tempat lain.
Marcel yang merasa tidak enak terhadap Smith, meminta maaf.
"Sorry Smith, dia.." ucapan Marcel terputus, saat Smith menjawab pertanyaaan marcel.
"Aku sudah mengenal bocah itu, dia tetangga ku" jawab Smith, secara tidak langsung, menganggap dirinya lebih mengenal Kalisa di banding Marcel.
"Mungkin Saat ini, dia sedang marah pada ku, karena aku membuat nya kesal." ucap kembali Smith. membuat Marcel menggaruk-garuk telinga yang tidak gatal itu.
"Oh, ternyata kamu sudah mengenalnya, Apa kamu dekat dengan Kalisa??" Smith mengerti Arti dari kata dengan ucapan marcel itu.
"Tidak, hanya sekedar kenal bertetangga saja," jawah Smith. hal itu membuat marcel tersenyum samar, Karena mengetahui Smith tidak dekat, dalam arti lain.
Smith, lalu berpamitan, untuk mencari tempat yang menurutnya nyaman, Smit sebenarnya, hanya ingin mengagal kan, niat Kalisa, yang ingin memberi nomor kepada Marcel, karena dari tadi Smith sudah berada di sana sebelum Kalisa datang, Smith sudah menatap Kalisa yang begitu cantik dari tadi, dan juga sudah melihat gerak- gerik beberapa Pria yang ingin mendekati Kalisa.
Ntah, sejak kejadian malam itu, di kamar kalisa, Smith merasa sesuatu yang berbeda, tapi karena ucapan Smith yang telalu tinggi Dan merendah kan Kalisa, kini Kalisa menjauh dari Smith, tidak seperti dulu, yang sering ke rumah, walau hanya mengantar makanan, yang bisa di masak kapan saja, oleh Art Smith.
__ADS_1
Kini Smith sudah menjauh dari Marcel, teman lama waktu mereka satu sekolah, Smith berkeliling tempat itu, namun tidak melihat, sesuatu yanng dia cari. Smith kembali mencari ke arah luar, seperti biasa, banyak wanita-wanita yang memakai pakain kurang bahan mulai ingin mendekati Smith, namun Smith tidsk peduli, dia terus menelusuri taman di luar itu, untuk mencari gadis itu. dan akhirnya Smith melihat gadis itu dari jauh.