
Kalisa bingung, harus melakukan Apa, saat melihat Smith sudah mulai lemas dan pucat di ranjang tidur miliknya, karena darah terus keluar dari lengan kekar Smith, Kalisa sibuk mondar-mandir, antara menolong dan membiyar kan hal itu tetap terjadi, berapa detik berlalu, tanpa pikir Panjang Lagi, Kalisa dengan berani, membalut luka itu, sambil memberikan obat untuk sedikit menahan darah yang terus keluar dari lengan Smith.
"Aku mohon...!!! aku mohon...!!, plisss... jangan Mati dulu, aku tidak mau menjadi tersangka" ucap Kalisa, sambil membalut luka tembak itu, dengan cukup tebal.
Tubuh Smith mulai terasa dingin, akibat dari banyaknya darah yang keluar. dengan terpaksa Kalisa membaring kan tubuh Smith di atas ranjangnya lalu menyelimuti Smith dengan beberapa Slimut tebal, lalu pelan- pelan keluar dari kamar mengambil Air hangat, beserta obat dan makanan, yag bisa di berikan kepada Smith nantinya.
Akhirnya Kalisa berhasil mengambil barang- barang yang di butuhkan tadi, kini Kalisa sudah berada di kamar luas milik Kalisa kembali.
Kalisa membuka kembali selimut Smith, lalu Kalisa membersikan tubuh Smith dengan air hangat, Agar bisa menghangat kan tubuh Smith, dan juga karena bau ayir, bekas darah yang terdapat di tubuh Smith dan juga tercecer di ranjang Kalisa.
Saat membersikan dada bidang Smith, Kalisa sedikit pelan-pelan, dengan senyum Samar, karena bisa menyentuh itu dengan sepuasnya, tanpa di ketahui sang pemilik tubuh, kadang Kalisa mengigit bibir bawahnya, Karena Otak mesum Kalisa muncul, saat sang pemilik tubuh tidak sadar.
Kalisa beberapa kali menelan saliva, lalu Mata genit Kalisa menelusuri tubuh Smith hingga ke bawah dengan Pelan, sambil sekali-kali menoleh ke wajah Smith, bejaga-jaga siapa tau Smith tiba-tiba membuka mata.
Bibir indah Kalisa sedikit terbuka, saat menyaksi kan benjolan besar di sana, yang masih terbungkus rapat oleh celana jeans hitam.
Cukup lama menatap di sana, Kalisa hampir lupa harus menyelesai kan tugas Kalisa membersikan tubuh Smith.
"Ehem...!!!!" Terdengar suara Smith, membuat Kalisa kaget, sekaget- kagetnya, dan dia sangat malu, sampai dia tidak ingin menoleh untuk menatap kearah suara itu, tubuh Kalisa terasa kaku, bagai tertangkap karena maling.
__ADS_1
Wajah Kalisa memerah, karena detak jantung yang meningkat, Perlahan Kalisa bergeser, untuk turun dari ranjang, tidak mau menoleh sama sekali ke arah Smith.
Smith yang memang Sadar dari tadi, hanya menutup sebentar matanya, agar menghilangkan rasa sakit dan sesikit lemas karena lengannya itu. Smith tidak tau, kalau Kalisa bisa sampai sepanik itu.
Saat mengetahui Kalisa yang mencoba membersikan tubuh dan membalut luka Smith, dia hanya diam masih dengan menutup mata.
Smith cukup kaget, saat kalisa membersikan tubuhnya, memang Smith juga merasa cukup lemas tadi, namun sudah lumayan bertenaga, saat Kalisa memberi air hangat ke tubuh Smith.
Smith merasa Tangan Kalisa berhenti membasuh tubuhnya dengan air hangat itu, namun tangan Kalisa tidak berpindah dari bagian dada Smith, hal itu membuat Smith penasaran, apa yang di lakukan Kalisa saat ini, hingga tangan Kalisa tidak pindah dari dadanya.
Smith perlahan membuka mata, dan.mengerutkan alis, Karena arah Pandangan Kalisa, tidak menatap ke arah dada Smith yang sedang di bersikan, Tapi ke arah bagian Bawah Smith.
Smith tersenyum Samar, melihat sipat Kalisa, yang di anggap bocah oleh Smith, tapi pikiran dan mata Kalisa sudah di atas delapan belas tahun ke atas.
Kini, tibalah pikiran iseng Smith untuk mengerjai Kalisa, dan ingin melihat, seperti apa reaksi Kalisa, saat ketahuan nanti.
Smith bisa menebak, betapa merah padam wajah Kalisa saat ketahuan oleh Smith, namun Smith ingin menatap langsung muka malu Kalisa itu.
Smith menarik Kalisa dengan sebelah tangan yang tidak terluka itu, lalu berniat menjatuh kan Kalisa ke dada bidang miliknya, Niat Smith hanya menarik Pelan, agar bisa melihat wajah itu, Namun Niat itu, menjadi insiden yang cukup menambah malu Kalisa.
"Bruuukk" Smith lengan Kalisa, namun yang terjadi malah salah sasaran, bibir indah Kalisa mencium Bibir Smith, sesaat membuat mereka berdua terpaku beberapa detik, Kalisa dengan cepat sadar, lalu bangkit secepatnya dari tubuh Smith.
Smith juga sedikit terpaku,Namun tidak terlalu nampak, dan mulai mencari cara, menhilangkan rasa canggung itu. Kalisa yang merasa baru kali itu berciuman, membuat dia lebih malu, dan ingin rasanya menenggelam kan tubuhnya kedalam tanah, agar tidak terlihat siapa pun.
__ADS_1
"Hemm.. Kamu baru pertama melakukannya, dan itu sebuah insiden bukan ciuman" ucap Smith membuat Kalisa menoleh.
"Kamu dengan santai mengucap kan itu pada ku, sedang kan aku menahan malu yang teramat, itu ciuman pertama ku, seharus nya ku berikan untuk suami nanti" ucap Kalisa polos, dan itu hampir membuat Smith tertawa, namun dia ingat, saat ini dia berada di tempat Kalisa, karena terkena serangan tiba-tiba di rumah sendiri, Sudah di Pastikan ada yang menghianati Smith lagi, saat Smith tidak membawa penjaganya.
Bahkan datang kediaman Smith.
"Itu bukan ciuman, cuma sebuah insiden" jawab kembali Smith, membuat Kalisa melotot ke arah Smith, Smith bukanya marah,alah merasa lucu dengan reaksi marah Kalisa.
"Itu ciuman, kamu malah mencurinya dari ku," jawab Kalisa tak mau kalah.
"Ciuman bukan seperti itu bocah," ucap Smith lagi.
Itu ciuman, kamu mencuri ciuman pertama ku, paham" jawah Kalisa meninggikan sedikit suaranya.
Smith tersenyum, lalu menarik tengkuk Kalisa, dan mencium sambil ******* sedikit bibir mungil Kalisa lalu melepasnya. tubuh Kalisa kembali menengang dengan ciuman yang di berikan Smith secara mendadak terhadapnya.
Lalu Smith berbisik di depan muka Kalisa.
"Seperti itu, yang namanya ciuman bocah" ucap Smith lalu sedikit beranjak dari ranjang Kalisa, mengambil makanan, yang di bawa Kalisa tadi, lalu memakannya.
Saat sadar, Kalisa langsung mengambil bantal lalu memukul Smith dengan berani, hingga membuat makanan di tangan Smith tumpah.
Smith kaget, lalu menoleh kepada Kalisa, dan merebut guling itu, lalu membuang guling itu Asal.
__ADS_1
Smith menarik kaki Kalisa hingga kalisa terbaring di ranjang, Smith dengan cepat berada di atas tubuh Kalisa, namun Masih ada jarak di antara mereka.
"Jangan main-main pada ku, ciuman yang ku berikan pada mu itu, hanya sedikit pelajaran, agar kamu bisa membedakan mana ciuman dan mana yang bukan. dan satu lagi, jangan mudah kege'eran terhadap sikap ku, karena sebelum ini, aku lebih sering melakukannya, bahkan lebih, dan kamu hanya sebagian kikisan debuh, yang dengan mudah di perdaya" Ucap Smith, membuat Hati Kalisa sangat sakit dengan ucapan Smith itu. lalu Smith berdiri dari tubuh Kalisa, lalu melanjutkan makan, yang tadi sempat tertunda, Kalisa masih belum merubah posisi tubuhnya di ranjang itu.