The Darkness King Return

The Darkness King Return
Aku Pulang.


__ADS_3

[Didalam Hutan]


Terlihat, Leon sedang masuk kedalam alam bawah sadarnya, dan ia melihat seluruh alam semesta yang ada didalam tubuhnya.


"Dimana ini.?" Kata Leon sambil berjalan.


"Disini terlalu banyak bintang, aku tidak bisa menghitungnya, ini terlalu banyak. Apa Klain sudah membohongiku.?" Kata Leon dengan binggung.


Ia pun berjalan dan melihat lihat alam semesta yang memiliki miliyar triliun bintang disana. Dan bintang-bintang itu ada di sekeliling Leon. Bahkan ia melihat sebuah planet yang terbang di atasnya.


"Wooh, disini benar-benar sangat indah. Apa aku benar-benar berada di dalam tubuhku.?" Kata Leon sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Aku tidak dapat petunjuk apapun disini, sebaiknya aku keluar." Kata Leon sambil memejamkan matanya.


Lalu, di tempat Leon bersila, ia pun membuka matanya dengan perlahan, dan ia melihat Klain di depannya.


"Apa kau sudah melihat bintang itu Leon.?" Tanya Klain.


"Klain, apa kau membohongiku.? Aku tidak melihat bintang yang kau maksud itu." Kata Leon dengan kesal.


"Hee.? Aku tidak berbohong padamu Leon. Kau akan dibawa ke dalam ruang kosong yang gelap. Dan ruang itu akan disinari oleh bintang yang ada didalam sana. Apa kau tidak melihat itu.?" Tanya Klain.


"Apa kau bisa menghitung bintang itu Klain.?" Tanya Leon kembali.


"Tentu saja bisa. Didalam tubuhku, ada 27 bintang yang berjajar keatas, setiap barisannya ada 9 bintang dan ada 3 barisan keatas. Itu adalah kekuatan Magis Elit." Jawab Klain.


"Hee.? Apa yang kau lihat itu hanya ada di atasmu saja.?" Tanya Leon penasaran.


"Benar. Setiap aku pergi kesana, aku berdiri di atas ruang kosong dan melihat bintang itu ada di atasku." Jawab Klain.


Dalam hati Leon, dia berfikir keras. "Ini sangat aneh. Kenapa aku melihat begitu banyak bintang di sekelilingku, bahkan aku melihat sebuah batu besar melayang diatasku, apa aku salah masuk ruangan.?" Kata Leon dalam hati.


"Bagaimana denganmu Leon, aku yakin kau ada di tingkat Legend, atau bahkan diatasnya lagi." Kata Klain.


"Ah, Aku memang melihat bintang itu Klain, tapi aku tidak sempat menghitungnya." Kata Leon.


"Hem, baiklah, memang tidak bagus memberitahu seseorang tentang ini." Kata Klain.


"Sebaiknya kita berberes dan membawa daging ini. Aku ingin secepatnya pergi kedesa." Kata Leon sambil menumpuk daging rusa di bajunya.


"Em, baiklah." Kata Klain sambil membantu Leon.


...


[Istana Kerajaan Aldebaren]


Terlihat, Raja Philip bersama dengan para Panglima dan menterinya sedang berkumpul di ruang rapat.


"Apa kau yakin Kris.?" Tanya Raja Philip.


"Kita sangat yakin Yang Mulia. Tuan Doji datang kesana dan membantu kami." Jawab Kris.


"Kenapa dia datang kesana.?" Tanya Raja Philip.


"Kami sendiri tidak tau Yang Mulia. Apa itu ada hubungannya dengan Leon.?" Kata Kris sambil berfikir.


"Mungkin itu benar, tidak alasan lain seorang Luminos datang kesini." Kata Raja Philip.

__ADS_1


"Yang Mulia, ada pesan dari Tuan Doji untuk Anda." Kata Kris.


"Ah, apa itu.?" Tanya Kris.


"Tuan Doji berpesan untuk tidak menyentuh Leon lagi, atau kerajaan ini bisa dihancurkan olehnya." Jawab Kris.


"Haa.? Apa bocah itu yang membuat ribuan tombak diatas langit Kris.?" Tanya Raja Philip.


"Itu benar Yang Mulia. Kami semua berusaha kabur dari sana, tapi Tuan Doji datang dan menghentikan serangan itu." Jawab Kris.


"Tidak kusangka, bocah itu bisa membentuk energi alam. Sebaiknya kalian tidak membocorkan informasi ini." Kata Raja Philip.


"Laksanakan perintah Yang Mulia." Kata semua orang disana.


...


[Didepan benteng desa Ellora]


Terlihat, Leon dan Klain sudah sampai didepan benteng tua desa Ellora. Benteng itu sudah hancur dan banyak tumbuhan yang sudah mengelilinginya.


"Apa ini desa Ellora Leon.?" Tanya Klain sambil melihat benteng yang sudah runtuh.


"Ah, benar Klain." Kata Leon dengan tatapan sedih sambil berjalan ke dalam benteng.


Klain pun mengikuti Leon dibelakangnya, dan mereka melihat banyak sekali mayat-mayat yang sudah menjadi tulang belulang disana.


Pakaian dari mayat-mayat itu masih menempel dibadanya, dan wajah mayat-mayat itu sudah tidak bisa dikenali lagi.


"Ini seragam prajurit kerajaan. Apa mereka di biarkan saja disini.?" Kata Klain sambil menghampiri salah satu mayat disana.


Namun Leon hanya terdiam dan tetap berjalan masuk kedalam desa.


Beberapa menit kemudian. Leon dan Klain sampai di dalam desa. Mereka melihat banyak sekali mayat-mayat yang tergeletak dimana-mana, bahkan mayat-mayat itu masih ada yang mengantung di beberapa pohon.


Ada juga gundukan tulang manusia disana. Dan rumah warga sudah hancur semua, rumput liar memenuhi tempat itu, dan pohon-pohon tumbuh di sekitar desa dengan sangat lebat.


"Mereka semua masih tergeletak disini Klain." Kata Leon dengan sedih sambil berjalan menuju rumahnya.


"Ini benar-benar sangat kejam Leon. Tidak kusangka mereka melakukan pembantaian seperti ini." Kata Klain dengan tercengang sambil melihat kondisi desa.


"Aku ingin menguburkan mereka semua." Kata Leon dengan sedih.


"Tenang saja Leon, aku akan membantumu." Kata Klain.


"Arwah mereka semua sedang mengikuti kita Klain, mereka sangat senang aku kembali kesini." Kata Leon dengan sedih.


"Haa.? Apa kau bisa melihat arwah seseorang yang sudah mati Leon.?" Tanya Klain.


"Mereka semua ada disekitar sini. Bahkan masih ada yang menangis disebelah sana. Mereka tidak akan tenang sebelum jasad mereka dikubur." Kata Leon.


"Kau membuatku merinding Leon. Tempat ini seperti tempat berhantu." Kata Klain yang mulai takut.


"Kau tidak perlu takut Klain, mereka tidak bisa membunuhmu, justru mereka semua berharap padamu untuk menguburkan mereka." Kata Leon.


"Baiklah. Lalu kemana kita akan pergi.?" Tanya Klain.


"Aku akan mengambil sesuatu dirumahku." Jawab Leon.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian. Leon dan Klain pun sampai di rumah Eden yang sudah hancur. Dan Leon melihat ada satu mayat yang tergeletak di depan pintu masuk rumah.


"Haaa. Kalung itu.? Paman Arga." Kata Leon sambil menghampiri mayat Arga.


"Apa kau mengenalinya.?" Tanya Klain.


"Dia adalah pamanku Klain. Paman Arga, dia berjuang menjaga rumah ini." Jawab Leon dengan sedih.


"Apa rumah ini milik Tuan Eden.?" Tanya Klain.


"Benar, disinilah aku dibesarkan." Jawab Leon dengan sedih.


"Aah, jadi ini kah tempat tinggal sang Legend." Kata Klain sambil melihat-lihat sekitar.


"Aku pulang kakek, Ibu, Simon, paman Arga." Kata Leon dengan sangat sedih.


Lalu, arwah Arga pun mengehampiri Leon dari belakang. "Kau sudah kembali Leon, kau terlihat sudah besar sekarang. Aku sangat senang kau masih hidup, kita semua terjebak di desa ini." Kata arwah Arga disana.


"Paman.? Hik, maafkan aku." Kata Leon dengan meneteskan air mata.


"Aku sudah menjaga barangmu dengan baik disini. Berhentilah bersedih, ini sudah menjadi takdir desa Ellora." Kata arwah Arga.


"Hiks, aku sudah membalaskan dendam kalian Paman. Setelah ini aku akan membebaskan kalian semua." Kata Leon.


"Hem, kita sangat senang mendengarnya. Ikuti aku." Kata Arga dengan tersenyum.


"Baik paman." Kata Leon.


"Leon, kau sedang berbicara dengan siapa.? Aku mulai merinding." Kata Klain yang ketakutan.


"Disini banyak sekali Arwah Klain. Salah satunya adalah pamanku. Ikuti aku, atau kau mau menunggu disini.?" Kata Leon.


"Tentu saja aku akan ikut denganmu." Saut Klain sambil mengikuti Leon.


...


Diruang bawah tanah rumah Eden. Terlihat sebuah ruangan yang sudah sangat kotor dan di penuhi dengan sarang laba-laba.


"Itu adalah petimu Leon. Didalamnya ada sebuah pedang, dan pedang itu adalah milikmu. Tuan Eden berpesan padaku untuk menunjukkan pedang itu padamu setelah kau dewasa." Kata Arga.


"Apa karena ini kalian tidak bisa pergi dari desa.?" Tanya Leon.


"Kami semua menjaga sesuatu yang sangat berharga untuk Tuan Eden. Ini adalah tugas terakhir kami. Dan ini salah satu alasan kami terjebak disini." Jawab Arga.


"Paman tenang saja, setelah ini aku akan menguburkan kalian semua dengan layak." Kata Leon.


"Leon, apa sesuatu yang kau ambil ada di dalam peti itu.?" Tanya Klain.


"Ah, benar Klain. Didalam sana ada sebuah pedang milikku." Jawab Leon sambil menghampiri peti disana.


"Pedang.?" Kata Klain kebingungan.


Leon pun membuka peti itu, dan keluarlah kilatan cahaya yang terang keluar dari dalam peti itu. Bahkan Klain sampai menutupi matanya.


"Ada apa dengan peti itu, cahaya ini sangat menyilaukan." Kata Klain dalam hati.


Leon pun melihat sebuah pedang berwarna putih yang bersinar didalam peti, "Pedang ini memiliki aura yang sangat kuat." Kata Leon dalam hati.

__ADS_1


.


__ADS_2