
[Di Pusat Kota]
"Rachel, bisakah kita berhenti sebentar, aku sudah lelah berjalan berjam-jam." Kata Leon dengan sempoyongan sambil membawa barang belanjaan milik Rachel yang begitu banyak.
"Ah, apa kau mau pergi ke Caffee Leon.? Aku pernah dengar, ada sebuah Caffee yang enak dipingiran ibu kota." Kata Rachel.
"Aku hanya ingin pergi ketaman." Saut Leon.
"Baiklah, kita pergi kesana. Taruh saja barang belanjaan itu di sini." Kata Rachel.
"Eh, apa yang akan kau lakukan Rachel.?" Tanya Leon penasaran.
"Hem," Suara Rachel tersenyum sambil mengarahkan tangannya ke arah barang-barang itu.
SWOOSSSTTT. Suara barang-barang yang masuk kedalam cincin dimensi milik Rachel.
"Woaah. Ternyata ada barang seperti itu juga." Kata Leon yang terkagum.
"Hihi. Ini adalah cincin buatanku sendiri Leon. Aku membuat sebuah ruang dimensi didalam cincin ini." Kata Rachel.
"Hem, KENAPA KAU TIDAK MELAKUKANNYA DARI AWAAL." Teriak Leon.
"Eh, aku lupa Leon. Maafkan aku." Kata Rachel sambil menundukkan kepalanya.
"Huh, huh, sudahlah, aku tidak bisa memarahi Tuan Putri di depan umum." Kata Leon dengan terengah-engah.
"Hem. (tersenyum). Leon aku sangat senang sekarang. Ayo kita pergi ke taman." Kata Rachel sambil menarik tangan Leon.
"Heeeh (menghela nafas). Bahkan kau menganggapku sebagai pasanganmu." Kata Leon dengan pasrah.
Namun Rachel hanya tersenyum kepada Leon dengan senang.
"Kau adalah seorang Putri kerajaan Rachel. Bagaimana jika ada orang yang mencoba menyakitimu disini.?" Tanya Leon.
"Aku tidak perlu khawatir jika sesuatu terjadi padaku. Tempat paling aman adalah bersamamu. Hihi." Jawab Rachel.
"Hee.? Apa maksudmu.?" Tanya Leon lagi.
"Jika seorang panglima yang terkuat di kerajaan takut padamu, lalu siapa yang pantas untuk menjagaku.?" Kata Rachel dengan tersenyum.
"Ah, ituu." Kata Leon yang tidak bisa berkata-kata.
"Apa kau tidak ingin menjagaku Leon.?" Tanya Rachel.
"Kenapa aku harus menjagamu.?" Tanya Leon kembali.
"Hee.?." PLAK. Suara pukulan cinta Rachel.
"Uuuh. Kenapa kau suka memukulku.?" Tanya Leon dengan kesal.
"Itu bukan pukulan biasa Leon. Ada arti didalam pukulan itu. Kau tidak akan mengerti." Jawab Rachel dengan kesal.
"Haaaah." Suara Leon yang menghela nafas.
"Kenapa kau ingin pergi ke taman Leon.?" Tanya Rachel penasaran.
"Ah, aku ingin melihat seorang pengemis disana. Dia seperti kakekku." Kata Leon.
"Heem.? Apa dia ada disana.?" Tanya Rachel.
"Ah, dia ada disana. Kau akan tau setelah melihantnya. Tapi..." Kata Leon yang berhenti bicara.
"Tapi apa Leon.?" Tanya Rachel penasaran.
__ADS_1
"Aku sebenarnya tidak ingin merepotkanmu, tapi sepertinya kali ini aku butuh bantuanmu." Kata Leon dengan malu.
"Heee.? Apa yang kau butuhkan Leon.?" Tanya Rachel penasaran.
"Ituu. Bolehkah aku meminjam uangmu. Aku akan mengembalikannya nanti. Aku hanya ingin membelikan makanan untuk kakek pengemis disana, tapi aku tidak punya uang. Kau juga melarangku untuk mengemis." Kata Leon.
"Eem. Maaf Leon, aku tidak bisa." Kata Rachel.
"Aah, begitu ya, baiklah." Kata Leon dengan murung sambil berjalan melewati Rachel.
"Leon, aku tidak bisa menolak permintaanmu." Kata Rachel.
"Heee.?" Suara Leon yang tiba-tiba berhenti berjalan.
"Hihihi. Apa kau marah padaku Leon.?" Tanya Rachel sambil menghampiri Leon.
"Eeh, tidak Rachel. Aku tidak marah padamu. Jadii, apa kau mau meminjamkan uang.?" Tanya Leon.
"Ini Leon." Kata Rachel sambil memberikan beberapa koin emas kepada Leon. Dan Leon hanya melihat koin itu dengan terkejut.
"Hoo. Berapa jumlah uang ini.?" Tanya Leon
"Ini 10ribu Pon Leon, kau bisa membeli sebuah retoran dengan uang ini." Jawab Rachel.
"Heee.? Ini terlalu banyak Rachel. Begini saja, antarkan aku membeli makanan, lalu kau yang akan membayarnya, bagaimana.?." Kata Leon.
"Pegang uang ini Leon." Kata Rachel sambil menaruh uang itu di telapak tangan Leon.
"Tidak Rachel, ini terlalu banyak, aku kembalikan saja padamu." Kata Leon.
"Leon, kau tidak bisa mengembalikan uang yang sudah kau terima. Sebagai gantinya, kau harus menjagaku selama 1 tahun. Bagaimana.?" Kata Rachel dengan tersenyum.
"Aaah, apa kau memanfaatkanku. Aku tidak bisa di beli dengan uang Rachel." Kata Leon.
"Apa hanya itu.?" Tanya Leon "Em, hanya itu." Jawab Rachel.
"Bagaimana jika aku pergi bersama Klain ke medan perang.?" tanya Leon.
"Kau hanya perlu mengantikan di hari lainnya." Jawab Rachel.
"Em.? Apa maksudmu.?" Tanya Leon.
"Dalam 1 tahun, ada 365 hari Leon. Jika kau pergi dariku, maka hari itu tidak akan berkurang. Jadi kau harus menjagaku selama 365 hari full. Apa kau mengerti.?" Jawab Rachel.
"Eee. apa tidak ada cuti untukku.?" Tanya Leon.
"Kau bisa cuti bersamaku Leon." Jawab Rachel.
"Eem. Sama saja aku tidak cuti." Kata Leon dengan wajah datar.
"Ini sudah tidak bisa di tawar Leon. Kau harus bersedia." Kata Rachel.
"Aku belum menyetujuinya Rachel. Kau jangan memutuskannya sendiri." Kata Leon.
"Kenapa kau tidak menyutujuinya.? bahkan penawaran ini tidak akan di berikan kepada orang lain." Kata Rachel.
"Karena kau memaksaku. Aku tidak suka di paksa Rachel. Kau seperti menjebakku." Kata Leon yang mulai kesal.
"Eeeh.?" Suara Rachel yang panik.
"Aku kembalikan uang ini padamu, dan aku tidak akan meminjam uang padamu lagi. Terimakasih hari ini." Kata Leon sambil menaruh uang di telapak tangan Rachel.
Lalu, Leon pun pergi meninggalkan Rachel sendirian.
__ADS_1
"Eeeh, Leon. Leon." Kata Rachel yang memanggil. Namun Leon tidak memperdulikannya.
"Huuu, kenapa jadi kacau seperti ini. Aku hanya ingin melihatmu setiap hari Leon." Kata Rachel dengan sedih.
...
Ditaman Kota. Beberapa menit kemudian.
"Hem, menyebalkan sekali. Kenapa aku harus menuruti seorang wanita seperti dia. Tempat ini sejak awal sudah tidak beres. Aku memang tidak cocok tinggal disini, apa sebaiknya aku pergi saja." Kata Leon dengan kesal.
Lalu, tiba-tiba kakek tua datang menghampiri Leon yang sedang duduk merenung ditaman.
"Eem, anak muda, kenapa kau ada disini.? Bukankah itu seragam Akademi.?" Tanya Kakek tua itu.
"Eeeh, kakek. Aku sengaja keluar dari sana kek. Aku ingin menemui anda disini." Jawab Leon.
"Hohoho. Tapi sepertinya kau terlihat sedih. Apa ada masalah.?" Tanya kakek tua itu lagi sambil duduk disamping Leon.
"Ah, aku pergi keluar bersama seorang gadis dari Akademi. Tapi dia memaksaku untuk menjaganya dan membayarku. Aku tidak suka di perintah kek, apalagi dipaksa, aku meninggalkan dia sendirian disana." Jawab Leon.
"Heem. Masa muda memang sangat menyenangkan Nak. Jangan sia-siakan masa mudamu itu, kau tidak akan tau perasaan gadis yang kau tinggalkan disana, dia akan menangis sepanjang malam." Kata Kakek tua itu.
"Eeeh.? Aku tidak bermaksud untuk menyakitinya Kek, tapi aku sangat kesal dengannya, dia memanfaatkanku." Kata Leon.
"Kau harus bisa membedakan antara memanfaatkan dan mencintai Nak. Aku hanya menyarankan saja, kau sebagai laki-laki lebih baik meminta maaf padanya." Kata Kakek itu sambil berdiri.
"Ah, mungkin kakek benar. Aku memang sudah lama tinggal di gua, jadi aku tidak tau dengan hal samacam ini." Kata Leon sambil menundukkan kepalanya.
"Aku mau pergi dulu nak, sebelumnya siapa namamu.?" Tanya Kakek itu.
"Namaku Arjun Leon kek. Salam kenal." Jawab Leon.
"Arjun Leon. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Baiklah Leon, aku pamit dulu, tenangkan dirimu Nak, dan minta maaflah pada gadis itu." Kata Kakek itu sambil berjalan menjauh dari sana.
"Terimakasih kek." Kata Leon.
...
Di Asrama Perempuan.
Terlihat, Rachel sedang berlari menuju kamarnya dengan tergesa-gesa.
"Eh, Tuan Putri.?" Kata Rara yang melihat Rachel berlari. "Apa ada masalah.?" Tanya Rara dalam hati.
"Ketua, Ketua, apa yang terjadi padamu.?" Tanya Ellena yang berpapasan dengan Rachel.
BRAAK. Suara pintu kamar yang di tutup dengan keras oleh Rachel.
"Aa, aaah. Sepertinya ada masalah dengan Leon. Ini pertama kalinya aku melihat Ketua patah hati." Kata Ellena.
...
Didalam kamar Rachel. Ia pun langsung meloncat ke tempat tidurnya dan menangis.
"Huuu, apa aku salah.? Hiks." Kata Rachel dengan menangis.
"Aku memang sangat bodoh. Huuaa." Kata Rachel yang menangis.
"Hiks, maafkan aku, maafkan aku. Hiks. Aku tidak bermaksud membuatmu marah." Kata Rachel dengan menangis.
"Leoon, Hikss, dia pasti akan pergi dari sini. Hiks." Kata Rachel yang menangis.
"Hikss. Aku bahkan tidak berani bertemu dengannya. Hiks. Huuu." Kata Rachel yang menangis.
__ADS_1
.