
[Desa Ellora]
Leon dan Klain masih berada di ruangan bawah tanah rumah Eden. Leon melihat sebuah pedang yang memancarkan aura putih dengan sangat kuat didalam peti.
"Pedang ini, apa ini milikmu.?" Kata Leon dengan terkejut.
Ia pun mengambil pedang itu, dan perlahan-lahan cahayanya mulai meredup.
"Ini benar-benar pedang yang sangat kuat." Kata Leon.
"Pedang itu milik siapa Leon.?" Tanya Klain.
"Ah, ini adalah milikku. Aku ditemukan oleh Kakek Eden didalam peti bersama dengan pedang ini." Jawab Leon.
"Itu benar-benar pedang yang sangat kuat Leon." Kata Klain sambil melihat pedang putih yang berukiran emas di sarungnya.
"Aku sendiri sangat terkejut, kenapa pedang sekuat ini ditinggalkan bersamaku." Kata Leon sambil melihat pedangnya.
"Mungkin orang tuamu yang meninggalkan pedang itu untuk menjagamu." Kata Klain.
"Mereka bahkan meninggalkan pedang yang sangat berharga ini." Kata Leon.
"Hem. Kau lah yang paling berharga Leon. Mungkin ada sesuatu yang telah terjadi pada orang tuamu." Kata Klain.
"Baiklah, aku akan menyimpannya." Kata Leon.
"Kau semakin kuat sekarang Leon." Kata Arga dengan tersenyum.
"Aku sudah bertarung ribuan kali paman. Aku akan segera menguburkan kalian sekarang. Terimakasih atas semuanya paman." Kata Leon dengan sedih.
"Kami lah yang berterimakasih padamu Leon." Kata Arga dengan tersenyum. Lalu ia pun menghilang dari sana.
"Paman. Selamat tinggal." Kata Leon dengan sedih.
"Mari kita lakukan Leon." Kata Klain.
"Ah, baiklah Klain." Kata Leon sambil berjalan keluar ruangan itu.
Leon dan Klain pun menguburkan mayat Arga bersama beberapa mayat penduduk lainnya.
"Klain, bisakah kau menurunkan mayat-mayat itu dari atas pohon. Aku akan mengali tanah disini." Kata Leon.
"Em, baiklah." Kata Klain sambil berjalan ke sebuah pohon yang di penuhi dengan mayat bergelantungan.
"Hiii. Ini benar-benar sangat menakutkan." Kata Klain yang merinding.
Dan Leon masih mengumpulkan beberapa mayat disekitarnya, lalu ia menemukan mayat Iron dan Hermes yang tergelatak tidak jauh dari rumah Eden.
"Haa.? Ini Tuan Iron dan Tuan Hermes. Kalian juga sudah terbunuh oleh bajingan itu. Tenang saja Tuan, aku sudah membunuhnya untuk kalian." Kata Leon dengan sedih sambil mengangkat mayat mereka berdua.
Beberapa jam kemudian, semua mayat warga desa pun dikuburkan dengan layak. Bahkan mayat-mayat dari prajurit kerajaan juga dikuburkan disana oleh Leon.
"Ini sudah lebih baik sekarang. Kalian bisa beristirahat dengan tenang." Kata Leon dengan sedih.
"Leon." Kata Klain sambil mengelus pundak Leon.
Tiba-tiba, ribuan arwah terbang di atas mereka berdua. Bahkan Klain bisa melihat arwah-arwah itu.
"Ini, hantu kah.?" Kata Klain dengan gemetar ketakutan.
Arwah -arwah itu terbang kelangit dengan cepat. "Terimakasih." Leon terimakasih nak." Selamat tinggal Leon." Kata arwah-arwah itu kepada Leon.
"Nak, terimakasih sudah menguburkan kami." Kata Iron dengan tersenyum.
"Leon, aku senang kau kembali kesini dengan selamat. Berjuanglah untuk hidupmu Leon. Selamat tinggal." Kata Hermes.
__ADS_1
"Kalian. Maafkan aku, dan selamat tinggal." Kata Leon dengan meneteskan air mata.
Lalu, awan mendung yang menyelimuti desa itu tiba-tiba membelah dan bergerak menjauh dari sana. Sinar matahari pun turun menyinari desa Ellora lagi selama 4 tahun lamanya.
"Hiks, hiks." Suara Leon yang menangis.
"Hem. Mereka terlihat sangat senang." Kata Klain dengan tersenyum.
...
Beberapa menit kemudian, Leon dan Klain pun berjalan menuju makam para leluhur. Dan terlihat puluhan mayat prajurit yang masih tergelatak disana.
"Kenapa disini ada mayat prajurit kerajaan.?" Tanya Klain yang terkejut.
"Ah, aku lah yang membunuh mereka semua Klain. Lalu aku dikalahkan oleh Dellon di pingiran desa sana." Jawab Leon.
"Haaa." Kata Klain dengan terkejut. "Lalu, kemana kita pergi.?" Tanya Klain.
Tiba-tiba Leon berhenti di depan makam Eden. Dan terlihat mayat Violen dan Simon yang masih ada disana.
"Hiks. Ibu, Simon. Aku kembali, maaf sudah membuat kalian menunggu." Kata Leon dengan meneteskan air mata.
"Ini, makam Tuan Eden." Kata Klain dalam hati dengan terkejut.
"Apa mereka keluargamu Leon.?" Tanya Klain.
"Hiks. Benar Klain. Bisakah kau menguburkan mayat prajurit disana. Aku ingin menguburkan mereka sendiri." Kata Leon.
"Em. Sabarlah Leon." Kata Klain sambil mengelus pundak Leon, lalu ia pun pergi menjauh dari sana.
"Hiks. Hiks." Suara Leon yang menangis.
"Leoon, kau sudah kembali nak." Kata Arwah Violen disana.
"Ibuu, maafkan aku. Andai saja waktu itu aku tidak pergi ke gua, aku pasti bisa menyelamatkan kalian." Kata Leon dengan menangis.
"Hiks, ibuu. Aku merindukanmu." Kata Leon.
"Hee. Benarkah.? Hihihi, kau bahkan sering pergi bermain waktu itu." Kata Violen.
"Hiks, maafkan aku bu. Maafkan aku." Kata Leon sambil menghampiri arwah Violen.
"Andai saja aku bisa memulukmu Leon. Aku ingin memelukmu. Ibu sangat menyanyangimu. Terimakasih kau sudah kembali dengan selamat, aku bisa pergi dengan tenang. Bahkan Simon sudah pergi kealam sana." Kata Violen.
"Ibuu." Kata Leon dengan menangis.
"Jagalah dirimu dengan baik Leon, jangan sering-sering makan ular, ibu sangat sayang padamu. Terimakasih kau sudah hadir dalam hidupku." Kata Violen dengan tersenyum.
"Hiks, ibu. Hiks." Kata Leon dengan menangis.
"Hem, jangan bersedih seperti itu. Ibu sudah menunggumu disini, dan karena energi alam milik Tuan Eden, kita semua masih bisa berada disini." Kata Violen dengan tersenyum.
"Hiks. Terimakasih kau sudah menungguku bu. Terimakasih." Kata Leon dengan menangis.
"Jadilah anak yang baik Leon. Dan selamat tinggal." Kata Violen sambil menghampiri Leon.
CUP. Suara kecupan Violen di pipi Leon. Lalu, arwah Violen pun berlahan menghilang sambil tersenyum kepada Leon.
"Selamat tinggal bu, kirimkan salamku kepada Kakek dan Simon." Kata Leon dengan menangis.
Violen pun hanya tersenyum senang kepada Leon, lalu ia pun menghilang selamanya.
Leon pun mengali tanah di sebelah makam kakeknya. Lalu mayat Violen dan Simon di kuburkan dengan layak disana.
Beberapa menit kemudian setelah Leon menguburkan Violen dan Simon, Klain pun menghampirinya.
__ADS_1
"Aku sudah selesai Leon." Kata Klain yang menghampiri Leon yang sedang berdiri didepan makam keluarganya.
"Hem. Mereka memiliki harapan padamu Leon. Hiduplah, dan berjuanglah untuk mereka." Kata Klain.
"Hiks. Terimakasih Klain. Terimakasih." Kata Leon sambil menghapus air matanya.
Lalu, mereka pun pergi dari sana menuju ke dalam gua, tempat latihan rahasia.
"Untuk sementara aku akan tinggal disini Klain. Apa yang akan kau lakukan setelah ini.?" Tanya Leon.
"Hem, aku sebenarnya ingin pulang ke kerajaan Norland secepatnya. Tapi sepertinya aku akan tinggal disini lebih lama lagi." Kata Klain dengan tersenyum.
"Em, terimakasih Klain. Aku akan berlatih disini dengan pedang ini. Mungkin akan membutuhkan waktu beberapa tahun." Kata Leon.
"Apa kau mau mengajariku Leon.?" Tanya Klain.
"Baiklah, kita bisa berlatih bersama-sama." Jawab Leon dengan tersenyum.
"Hee. Benarkah.? Hahaha." Kata Klain dengan tersenyum.
...
1 tahun pun berlalu. Umur Leon genap 14 tahun.
Terlihat, Leon dan Klain dengan berlatih tanding didalam gua.
"Huh, huh, sudah cukup Leon." Kata Klain yang terengah-engah.
"Hee.? Apa kau sudah kelelahan.?" Tanya Leon.
"Aku semakin tua Leon. Tidak sepertimu yang masih muda." Jawab Klain.
"Em, baiklah." Kata Leon yang menghampiri Klain yang sudah terbaring di tanah.
"Kau benar-benar semakin kuat Leon." Kata Klain.
"Ah, aku juga merasakannya. Pedang ini juga membantuku." Kata Leon.
"Em. Leon, sepertinya aku akan pergi pulang sekarang. Aku sudah merindukan anak-anakku. Apa kau mau ikut denganku.?" Tanya Klain.
"Aku, aku masih ingin disini Klain. Masih banyak yang harus aku latih disini, jika kau ingin pulang, pergilah, aku akan menyusul kesana nanti." Jawab Leon.
"Apa kau tau tempat kerajaan Norland.?" Tanya Klain.
"Eeeh. Ituu, aku tidak tau jalan Klain." Jawab Leon.
"Baiklah, aku akan mengambarkan peta untukmu. Pergilah ke Akademi Rostem. Aku ada disana nanti." Kata Klain.
"Apa anak-anakmu ada disana.?" Tanya Leon.
"Ah, mereka tinggal disana sejak aku pergi meningalkan mereka. Dan kirimkan surat padaku sebelum kau pergi kesana, apa kau masih ingat cara mengirimkan surat.?" Tanya Klain.
"Tentu saja, aku tidak akan lupa dengan apa yang sudah kau ajarkan padaku." Jawab Leon.
"Baiklah, nanti siang aku akan pergi Leon. Jagalah dirimu baik-baik. Dan kirimkan surat sesering mungkin padaku." Kata Klain.
"Em. Baik Klain. Kau tidak perlu khawatir denganku." Kata Leon dengan tersenyum.
...
Siang hari pun tiba. Klain sudah membereskan beberapa perbekalan untuk dibawa dalam perjalanannya.
"Baiklah Leon, jangan lupa untuk mengirimkanku surat. Sampai jumpa lagi." Kata Klain sambil berjalan menjauh dari sana.
"Ah, hati-hati dijalan Klain. Aku akan menyusulmu secepat mungkin." Kata Leon sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
.