
[Akademi Rostem]
Terlihat sosok gadis yang sangat cantik sedang berdiri didepan Klain dan Henry. Gadis itu bernama Rachel Lawren. Dia adalah Putri kerajaan dan anak satu-satunya dari Raja Charles Lawren.
"Aku mendengar kedatangan Panglima Klain kemari, aku hanya ingin memberikan sambutan kepada Anda." Kata Rachel sambil menundukkan kepalanya.
"Ah, Tuan Putri, Anda tidak perlu melakukan itu padaku." Kata Klain dengan panik.
"Anda adalah Kesatria Langit pelindung kerajaan Tuan. Sudah sewajarnya saya melakukan ini." Kata Rachel.
"Hem, baiklah Tuan Putri. Terimakasih sambutanya. Aku hanya mampir sebentar disini, setelah ini aku akan pergi kemedan perang." Kata Klain.
"Itulah kenapa kami datang kesini Tuan. Kami sudah tau kabar itu, jadi biarkan kami memberikan hormat kepada anda." Kata Rachel dengan tegas.
"Ahahaha. Itu membuatku sangat malu." Kata Klain dengan tersenyum.
"Masuklah kalian, jangan berdiri disitu." Kata Henry.
"Terimakasih Tuan." Kata Rachel sambil berjalan ke kursi bersama dengan anggota Lemu lainnya.
"Kibo. Bagaimana keadaanmu.? Sudah beberapa minggu ini aku tidak melihatmu nak." Tanya Klain.
"Ayah, aku baik-baik saja disini." Jawab Kibo sambil menundukkan kepalanya.
"Apa dia sudah menjagamu dengan baik Tuan Putri.?" Tanya Klain kepada Rachel.
"Ah, Kibo menjagaku dengan baik Tuan. Anda tidak perlu khawatir." Jawab Rachel.
"Kau semakin dewasa sekarang. Hahaha." Kata Klain dengan tertawa.
"Jadi, kalian kesini hanya untuk mengucapkan salam saja.?" Tanya Henry kepada Rachel.
"Tuan, sebagai putri kerajaan, aku harus memberikan restu kenapa Panglima kerajaan." Jawab Rachel.
"Ah, itu benar. Tapi itu sudah Anda lakukan Tuan Putri." Kata Henry.
"Eeeh. Ituu." Kata Rachel yang bingung.
Tiba-tiba sebuah surat keluar di depan Klain.
"Haa.? Ini." Kata Klain terkejut sambil mengambil surat itu.
"Surat apa itu Klain.?" Tanya Henry.
"Henry, ini. Ini." Kata Klain dengan tercengang sambil melihat isi surat itu.
"Hem. Ada apa Tuan Klain.? Apa sesuatu sudah terjadi di kerajaan.?" Tanya Rachel yang panik.
"Tidak Tuan Putri. Ini adalah kabar yang sangat baik, sudah 2 tahun lamanya aku menunggu surat ini." Kata Klain dengan tercengang, bahkan ia meneteskan air mata.
Semua orang yang ada disana pun sangat terkejut melihat Klain meneteskan air mata.
"Klain, ada apa denganmu.?" Tanya Henry yang panik.
"Henry, akhirnya, akhirnya anak itu mengirimkan surat padaku. Aku sangat terharu." Kata Klain dengan berlinang air mata.
"Hee. Benarkah.? Apa isinya Klain.?" Tanya Henry dengan penasaran.
__ADS_1
"Dia dalam perjalanan kesini untuk menemuiku. Akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi." Kata Klain dengan sangat senang.
"Benarkah.? Waah, aku sudah tidak sabar menemuinya Klain." Kata Henry dengan tersenyum lebar.
"Siapa.? Siapa yang mereka bicarakan." Kata Rachel dalam hati dengan terkejut.
"Mungkin dia butuh beberapa hari untuk sampai disini." Kata Klain dengan tersenyum.
"Aku harus menyambutnya disini Klain. Aku harap dia mau menjadi murid Akademiku." Kata Henry.
"Ekhmm. Maaf Tuan-Tuan. Siapa yang sedang kalian bicarakan.?" Tanya Rachel.
"Ah, Tuan Putri, dia adalah seorang anak yang pernah aku ceritakan tempo lalu di istana." Jawab Klain.
"Apa dia akan kesini Ayah.?" Tanya Kibo penasaran.
"Benar Kibo, dia akan datang kesini. Kau harus menjadi teman baiknya nanti." Jawab Klain.
"Aku juga sangat penasaran dengannya Ayah. Kau sering bercerita tentangnya padaku." Kata Kibo dengan semangat.
"Hee.?" Suara Rachel yang kebingungan sambil melihat Kibo yang tersenyum bahagia.
"Hem. Siapa Tuan, siapa yang anda bicarakan.?" Tanya Rachel dengan sangat penasaran.
"Anda mungkin sudah lupa Tuan Putri. Dia bernama Arjun Leon, seorang anak yang menyelamatkanku." Kata Klain.
"Haaa.? Jadi dia, aku ingat Tuan Klain. Anda bahkan sering membicarakannya dengan Ayahku. Bisakah anda menceritakannya lagi.?" Tanya Rachel yang semakin penasaran.
"Ah, Tuan Putri, Leon adalah anak yang sudah menderita selama ini, semua keluarganya dibunuh, dan semua orang didesanya dibantai habis oleh pasukan Aldebaren. Lalu dia diseret ke penjara Colosium saat dia masih berumur 8 tahun." Kata Klain.
"Haa. Aa." Suara Rachel yang tercengang.
"Ceritakan lebih banyak Tuan Klain." Kata Rachel dengan sangat penasaran.
"Ah, dia diikat dan diseret selama 3 hari tanpa makan dan minum. Lalu, dia bertemu denganku di penjara bawah tanah. Dan selama 4 tahun lamanya, dia tidak pernah diberikan makanan disana. Bahkan aku sering membagi makananku untuknya, tapi dia selalu menolak." Kata Klain bercerita.
"Glegg." Suara Rachel yang menelan ludah dengan tercengang.
Semua orang yang mendengar cerita itu pun sangat terkejut dan raut wajahnya benar-benar sangat tegang.
Klain pun menceritakan semua kisahnya bersama Leon. Lalu, setelah ia selesai bercerita, semua orang hanya terdiam dan merasa terpukul hatinya dengan cerita itu.
Rachel pun sampai meneteskan air mata dengan sendirinya. " Kenapa ada orang seperti itu didunia ini. Aku juga merasakan kesedihan di hatiku." Kata Rachel dalam hati dengan meneteskan air mata.
"Dia sudah menderita selama itu Tuan Putri, jadi aku harap Anda bisa mengerti. Dan biarkan dia mendapatkan teman lagi." Kata Klain dengan tersenyum.
"Aku siap menjadi temannya Ayah." Kata Kibo dengan sangat terharu.
"Em, jadilah teman yang baik untuknya." Kata Klain.
"Aku, aku, hikss. Ada apa denganku." Kata Rachel dengan sangat sedih sambil menangis.
"Tuan Putri, aku tau perasaanmu. Tapi saya harap, jangan jadikan alasan itu untuk berteman dengannya. Dia tidak menyukai seseorang yang mengasihaninya. Aku hanya menceritakan kisahnya saja, bukan menjadikan cerita itu sebagai alasan untuk berteman dengannya." Kata Klain.
"Aku mengerti Tuan, tapi dia sudah menderita selama ini." Kata Rachel dengan sedih.
"Ah, aku jadi khawatir sekarang. Jika Anda sudah bertemu dengannya, jangan gunakan alasan itu untuk mendekatinya. Dia adalah anak yang baik, anda akan mengerti setelah bertemu dengannya." Kata Klain.
__ADS_1
"Baiklah Tuan Klain. Aku juga sangat penasaran dengannya." Kata Rachel.
"Dia akan datang beberapa hari lagi, aku akan mengirimkan surat untuknya." Kata Klain.
"Apa kau tidak pergi Klain.?" Tanya Henry.
"Aku akan tetap pergi Henry, perintah tetaplah perintah, aku bisa bertemu dengan Leon setelah aku menyelesaikan perang itu." Kata Klain dengan tersenyum.
...
[Didalam Hutan]
3 Hari berlalu. Terlihat Leon sedang berjalan lurus tak berbelok sama sekali.
"Apa tempatnya masih jauh.?" Kata Leon.
"Ada apa dengan peta ini, bahkan sekarang aku tidak tau ada dimana." Kata Leon dengan kesal.
"Kau sudah membohongiku Klain." Kata Leon dengan Kesal.
Lalu, Leon melihat kebulan asap didepannya. Kebulan asap itu ada dimana-mana dan sangat banyak.
"Haa.? Apa itu.?" Kata Leon terkejut sambil melihat kebulan asap yang sangat tebal.
"Gawat, sesuatu pasti sedang terjadi disana." Kata Leon sambil berlari kearah asap itu.
...
Disebuah desa, wilayah kerajaan Norland. Terlihat, puluhan ribu pasukan militer sedang membumi hanguskan desa itu dengan membabi buta.
Bahkan, warga disana dibunuh tanpa ampun. Kejadian itu sangat mirip dengan yang terjadi di desa Ellora.
Semua orang menjerit ketakutan, dan tangisan mereka terdengar dimana-mana. Leon pun sampai disana dan melihat puluhan mayat sudah tergeletak ditanah.
"Ini, tidak mungkin." Kata Leon dengan tercengang.
"Kenapa kejadian seperti ini terjadi lagi." Kata Leon dengan sedih.
"Apa yang mereka pikirkan. Apa mereka menginginkan kekuasaan.? Apa mereka hanya ingin membunuh.? Kekuatan itu, apa hanya untuk membunuh mereka yang ingin hidup.? Chikkh." Kata Leon dengan sangat sedih sambil berjalan kearah para prajurit disana.
Lalu, tiba-tiba Leon melihat seorang ibu-ibu yang berjalan dengan sempoyongan sambil mengendong seorang bayi pergi dari sana.
"Huh, huh,." Suara Ibu itu dengan terengah-engah, bahkan tubuhnya sudah penuh dengan luka dan berlumuran darah.
Lalu, ibu itu pun terjatuh didepan Leon."Hiks. Maafkan saya Tuan, Hiks. Maafakan saya. Biarkan anak ini hidup." Kata Ibu-ibu itu dengan mengerang-ngerang.
"Haa." Suara Leon dengan terkejut.
"Chiikkh. Ini membuatku marah." Kata Leon dengan kesal.
"Hiks, Saya mohon Tuan. Uhook. Ampuni saya." Kata Ibu itu dengan lemah.
"Anda tenang saja bu, aku tidak akan membunuhmu. Beristirahatlah disini sebentar." Kata Leon sambil mengangkat tubuh ibu itu.
"Hiks, Uhook." Suara Ibu itu sambil memuntahkan darah. Lalu, Leon pun meneteskan air mata sambil melihat seorang bayi di gendong ibu itu yang sedang menangis dengan kencang.
Tiba-tiba seorang prajurit datang menghampirinya dan menghempaskan pedangnya kearah Leon.
__ADS_1
SWOOSH. Suara pedang yang di hempaskan keleher Leon.
.