
[Didesa wilayah kerajaan Norland]
Pada pagi hari, terlihat puluhan ribu pasukan kerajaan Norland sampai di sebuah desa yang diselamatkan Leon semalam.
"HORMAT KAMI KEPADA PANGLIMA." Kata semua warga desa disana sambil berlutut.
Panglima pun turun dari kudanya dan melihat-lihat di sekitarnya.
"Panglima, sepertinya pasukan kerajaan musuh sudah sampai disini." Kata salah satu Jendral kepada Panglima.
"Ah, ini benar-benar sangat mengerikan." Kata Klain yang memimpin pasukan kesana.
"Silahkan Tuan, sebelah sini." Kata kepala desa kepada Klain.
"Eem." Suara Klain sambil mengangukkan kepalanya dan mengikuti kepala desa itu.
...
Di dalam balai desa.
Klain bersama 3 Jendralnya masuk kedalam ruangan dengan kepala desa.
"Apa yang sudah terjadi sini Tuan.?" Tanya Klain.
"Panglima, Pasukan dari kerajaan lain datang kesini dan membantai semua orang." Jawab kepala desa.
"Apa Anda tau identitas prajurit itu dari mana.?" Tanya Klain.
"Saya tidak tau Tuan. Maafkan saya." Jawab kepala desa.
"Hem, lalu dimana para prajurit itu.?" Tanya Klain.
"Ah, kemarin, saat terjadi pembantaian, ada seorang laki-laki yang datang kesini dan membunuh para prajurit itu sendirian. Lalu, anak itu mengancam mereka dan membuat mereka semua berlari ketakutan dari sini." Jawab kepala desa.
"Haa.? Anak laki-laki.? Siapa namanya.?" Tanya Klain denga terkejut.
"Maaf Tuan, saya tidak tau namanya." Jawab kepala desa.
"Apa kau tau ciri-cirinya.?" Tanya Klain.
"Dia seperti berumur 16 tahun, dan dia membawa pedang berwarna putih." Jawab kepala desa.
"Haaa.? Ituu." Kata Klain dengan terkejut.
"Dia meninggalkan sesuatu disini Panglima, saya akan mengambilnya sebentar." Kata kepala desa sambil berjalan keluar ruangan dan menghampiri Rin.
"Rin, bisakah kau meminjamkan benda itu sebentar, Panglima perang ingin melihat benda ini." Kata kepala desa kepada Rin.
"Em. Ini Tuan, jangan lupa kembalikan lagi padaku." Kata Rin sambil memberikan sebuah benda.
"Eeem(tersenyum). Terimakasih Rin." Kata kepala desa sambil mengambil benda itu, dan ia pun masuk lagi kedalam ruangan lagi.
"Ini Panglima." Kata kepala desa itu sambil memberikan benda kepada Klain.
"Iniii. Tidak mungkin. Jadi Leon yang sudah menyelamatkan desa ini seorang diri.?" Kata Klain dengan tercengang sambil melihat benda itu.
"Apa ada yang salah dengan benda itu Panglima.?" Tanya salah satu Jendral disana.
"Tidak, hanya saja aku terkejut dengan orang yang memberikan benda ini." Kata Klain dengan tercengang.
"Apa Anda mengenalnya Tuan.?" Tanya kepala desa.
"Dimana dia sekarang.?" Tanya Klain kembali.
"Anak itu sudah pergi dari sini kemarin malam Tuan." Jawab kepala desa.
__ADS_1
"Apa kau tau, kemana perginya anak itu.?" Tanya Klain dengan serius.
"Ah, dia berkata akan pergi ke Akademi Rostem. Aku memberikan sebuah peta kepadanya, dan menunjukkan jalan untuk pergi kesana." Jawab kepala desa.
Klain pun langsung berdiri dengan cepat. "Jendral Warren, perintahkan pasukanmu untuk pergi ke ibu kota dan carilah orang bernama Arjun Leon, temukan orang itu secepatnya dan bawa padaku. Jangan sakiti dia, dia adalah anak yang menyelamatkan desa ini. Aku akan memberikannya hadiah." Kata Klain dengan tegas.
"Siap laksanakan Panglima." Kata Warren dengan tegas, lalu ia pun berjalan keluar dan langsung berangkat ke ibu kota.
"Jendral Yuzo, perintahkan pasukanmu untuk menjaga desa ini. Dan bantu warga untuk membangun rumahnya kembali." Kata Klain.
"Siap laksanakan Panglima." Kata Yuzo sambil berdiri, lalu ia pun berjalan keluar dari ruangan itu.
"Jendral Begit, pergilah bersamaku untuk menyusuri jalur yang yang dilalui anak ini." Kata Klain.
"Siap laksanakan Panglima." Kata Begit, lalu ia pun keluar dari ruangan itu dan menyiapkan pasukannya.
"Tuan, anda beruntung sudah diselamatkan olehnya, anak itu bernama Arjun Leon, dan dia adalah teman lamaku. Dia datang kesini sedang mencariku, mungkin sangat kebetulan dia lewat sini." Kata Klain
"Haa.? Leon.? Aku baru tau kalau dia adalah teman Anda Tuan." Kata kepala desa.
"Hem. Baiklah Tuan, aku akan pamit undur diri. Aku akan mencarinya." Kata Klain sambil berjalan keluar ruangan.
"Hati-hati Panglima." Kata kepala desa.
...
Lalu, pada sore hari, Leon pun sampai di ibu kota. Dia benar-benar sangat terkagum-kagum dengan kota yang sangat besar dan sangat ramai.
"Waaah, inikah yang namanya ibu kota. Benar-benar sangat ramai." Kata Leon dengan tersenyum sambil menoleh kekanan dan kekiri.
"Ini benar-benar sangat mengagumkan. Bau disini sangat bervariasi. Aaaah, bau makanan ini sangat enak." Kata Leon sambil melihat-lihat makanan yang dijual di pingir jalan.
KROOAK. Suara perut Leon yang kelaparan.
"Aku bahkan belum makan dari kemarin." Kata Leon sambil melihat-lihat makanan disana.
"Heee.? Apa dia memanggilku.?" Kata Leon sambil melirik kearah pedagang disana.
SWOOSH. Suara Leon yang menghampiri pedagang makanan itu dengan cepat.
"Waaah, ini terlihat sangat enak." Kata Leon sambil melotot melihat makanan didepannya, bahkan air liurnya sampai keluar.
"Heee.? Apa yang kau lakukan disini.? Pergilah, aku tidak punya uang untukmu." Kata pedagang itu dengan marah.
"Hem.? Apa maksudmu.? Kau sendiri yang memanggilku kemari." Kata Leon dengan kesal.
"He bocah, aku memanggil para pembeli disekitar sini, bukan memanggil pengemis sepertimu. Hush hush, pergilah dari sini." Kata pedagang itu.
"Siapa yang pengemis.? Aku bukan pengemis." Kata Leon.
"Lihatlah pakaianmu. Apa kau punya uang untuk membeli makanan ini.?" Tanya pedagang itu.
"Uang, eem. Aku tidak punya uang." Jawab Leon.
"Benarkan. Hush hush, pergilah dari sini. Seorang pengemis biasanya berkumpul disana." Kata pedangang itu sambil menunjuk para pengimis yang sedang meminta-minta di pingiran gerbang.
Leon pun menoleh kearah pengemis itu. Dan ia melihat ada beberapa orang yang memberikan mereka uang, bahkan ada juga yang memberikan makanan.
"Hoo, jadi seperti itu." Kata Leon yang polos.
"Pergilah kesana. tempatmu bukan disini." Kata pedagang itu.
"Ah, baiklah. Terimakasih informasinya." Kata Leon sambil berlari ketepi gerbang.
Lalu, ia pun menyodorkan tangannya kepada beberapa orang yang berjalan melewatinya. Namun, tidak ada seorang pun yang memberikan sesuatu padanya.
__ADS_1
"Masih muda sudah menjadi pengemis." Kata orang-orang disana.
"Biarkan saja, dia terlihat sangat malas." Kata seseorang lainnya.
"Apa yang mereka bicarakan." Kata Leon dengan kesal.
"Kau harus memasang wajah yang melas nak. Dan menangislah." Kata pengemis disebelahnya.
"Heee.? Apa maksudmu Tuan.?" Tanya Leon.
"Apa kau tidak pernah mengemis nak.?" Tanya pengemis itu kembali.
"Aku baru melakukannya sekarang." Jawab Leon.
"Lihat ini baik-baik." Kata Pengemis itu.
"Hiks, Tolong kasihani saya Tuan. Huu, huu." Kata Pengemis itu.
"Aaah, kasihan sekali. Baiklah, ini untukmu." Kata seseorang yang memberikan beberapa koin kepada pengemis itu.
"Haaaa.? Harga diriku akan hancur jika melakukan itu." Kata Leon dengan wajah kesal.
"Hehehe. Seperti itu cara melakukannya. Cobalah." Kata pengemis itu dengan tersenyum.
"Aa. Sepertinya aku tidak bisa melakukan itu, ini bukan profesiku." Kata Leon yang murung.
KROOOAAK. Suara perut Leon yang berbunyi sangat kencang.
"Aku sangat lapar sekali. Sepertinya aku harus mencari hewan didalam hutan." Kata Leon sambil berdiri.
"Hee.? Kau mau kemana nak.? Apa kau sudah menyerah.?" Tanya pengemis itu.
"Aku akan pergi ke dalam hutan untuk mencari makanan." Kata Leon dengan santai.
"Heeee.? Hahahaha. Apa kau sudah gila sekarang." Kata pengemis itu sambil tertawa.
"Ee, ee." Suara Leon yang kesal.
Lalu, beberapa jam kemudian. "Huaa. kasihani saya Tuan. Hiks, hiks." Kata Leon dengan sedih.
KLANG. TRING. Suara koin yang dilemparkan didepan Leon. " Terimakasih Tuan. Terimakasih." Kata Leon dengan sedih.
"Waaah, ini sangat banyak." kata Leon dengan tersenyum sambil mengambil koin-koin di tanah.
"Kasihan sekali, apa dia tidak punya keluarga.?" Kata seseorang yang melihat Leon mengambil beberapa koin di tanah.
"Mungkin keluarganya sudah mati. Hahaha." Kata seseorang lainnya sambil tertawa.
"Haa.?" Suara Leon yang tiba-tiba terdiam dengan raut wajah yang kesal.
"Mungkin itu benar, dia sudah putus asa karena ibunya mati. Hahaha." Kata orang itu dengan tertawa.
Leon pun mengengam kedua tangannya dengan sangat marah. Bahkan dia hampir mengeluarkan auranya untuk menekan jiwa orang-orang itu.
Tiba-tiba, suara kuda bergema sangat kencang memasuki gerbang ibu kota. Jendral Warren bersama pasukannya sudah sampai disana.
"Cepat, cari orang itu." Kata Warren kepada semua pasukannya.
"Siap laksanakan Jendral." Kata semua prajuritnya.
Leon hanya terdiam sambil melihat para prajurit yang sedang menanyai beberapa orang disana. Lalu, ada dua prajurit yang menghampiri Leon dan berdiri didepannya.
"Apa kau yakin.?" Tanya prajurit itu.
"Aku tidak yakin, dia hanya seorang pengemis, tentu saja bukan dia. Kita cari orang lain." Kata prajurit lainnya.
__ADS_1
"Apa yang sedang mereka cari.?" Kata Leon dalam hati.
.