
[Disebuah Desa]
"Chiikh" Suara Leon dengan kesal.
SRAAK. Suara pedang Leon yang memotong kepala prajurit itu. BUK. Suara kepala yang jatuh ketanah.
"Perasaan ini datang dengan sendirinya. Kenapa kebencian ini muncul lagi." Kata Leon sambil berdiri dan menarik nafas panjang.
"Si, siapa Anda Tuan.?" Tanya Ibu itu dengan ketakutan.
"Em, tunggulah disini bu, aku akan membuatkan pelindung Magis di sekitar Anda." Kata Leon sambil memberikan sebuah pelindung yang sangat kuat disekitar ibu itu.
"Tetaplah didalam sana. Aku akan menyelamatkan kalian semua." Kata Leon.
"Haa, Aa." Suara Ibu itu dengan tercengang sambil melihat Leon.
Lalu. DEEP. Suara Leon yang tiba-tiba hilang dan tiba-tiba berada di kerumunan para prajurit.
"HOAAAAA." Terikan Leon dengan sangat marah sambil membantai semua prajurit disana.
SRAAK, SWOOSH, SRAK SRAK. Suara pedang Leon yang membunuh para prajurit disana.
"Haa.? Siapa dia.?" Kata salah satu prajurit disana.
"Jendral, aku melihat ada seseorang yang melawan disana." Kata prajurit kepada Jendral mereka.
"Haa.? Siapa.? Apa prajurit dari Norland sudah datang.?" Tanya Jendral itu.
"Jendral, dia seorang diri." Jawab prajurit itu.
"Apa kau sedang bercanda.?" Kata Jendral itu dengan kesal.
"Saya tidak bercanda Jendral. Anda bisa melihatnya sendiri disana." Kata prajurit itu dengan panik.
"Hem. lakukan tugasmu, hancurkan desa ini, aku akan pergi kesana." Kata Jendral itu sambil berjalan kearah Leon.
SRING, SRAK, SRAK, JLEEB. SWOSH. Suara pedang Leon.
"HAAAA." Teriakan Leon sambil membantai ribuan prajurit disana.
"AARGH". Uhok." AAAAAA." Suara para prajurit yang terbunuh di tangan Leon.
"Ini, ini tidak bisa kita lawan." Kata prajurit disana dengan sangat tercengang sambil melihat Leon.
"PERGILAH DARI SINIIII." Teriak salah satu prajurit disana dengan ketakutan.
SLASSH. Suara pedang yang memengal kepala prajurit yang berteriak itu.
"Kenapa mereka menindas orang-orang tak bersalah.? Kenapa, ada apa dengan dunia ini.?" Kata Leon sambil menyerang.
Lalu DEEP. Suara Jendral yang datang dengan tiba-tiba didepan Leon.
"Bajingan kau. HOAAAA." Kata Jendral itu dengan sangat marah sambil menghempaskan pedangnya ke arah Leon.
SLASSH. Suara pedang Leon yang memotong kepala Jendral itu dengan mudah.
"Kaulah yang bajingan." Kata Leon dengan kesal.
BUOOK. Suara kepala Jendral itu yang terjatuh ketanah.
"Mereka semua masih membunuh warga desa disana. Aku, aku tidak bisa membiarkan itu terjadi." Kata Leon sambil berjalan dan aura kegelapan keluar dari tubuhnya.
__ADS_1
Aura itu menekan puluhan ribu prajurit disana. "AAAARRGH." UHOOK." Suara jeritan para prajurit yang kesakitan. Bahkan para prajurit itu berhenti seketika, ada yang terjatuh ketanah dengan sendirinya, dan ada juga yang tewas seketika.
"Aa, aa. Apa yang sudah terjadi.?" Kata kepala desa disana dengan terkejut melihat para prajurit berhenti seketika.
"Berhentilah kalian semua, pulanglah atau mati.?" Kata Leon sambil menekan jiwa mereka semakin kuat.
"Aarrrgh. Kuat sekali. Uhook." Suara salah satu prajurit disana yang kesakitan.
"Jendral kalian sudah mati. Pulanglah." Kata Leon sambil berjalan dengan aura kegelapan yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Haa, aa. HOAAAAA." Teriak prajurit itu yang berlari ketakutan setelah melihat Leon.
"AAAAAAAAAAA." Teriak para prajurit yang ketakutan sambil berlari menjauh dari sana. Bahkan sampai ada yang merangkat dengan gemetar.
"HIIII. Hiks." Suara ibu-ibu yang ketakutan dengan menangis sambil memeluk anaknya.
Leon pun melihat semua warga desa yang ketakutan dan menangis histeris. Ada yang pasrah sambil menangis, bahkan ada seorang gadis kecil yang duduk dengan menangis sambil melihat mayat ibunya.
"Apa seperti ini yang mereka rasakan waktu itu.? Apa seperti ini penderitaan warga desa Ellora.?" Kata Leon dalam hati sambil berjalan.
"Ampun Tuan, ampuni kami." Kata salah satu warga disana kepada Leon.
"Huaa. Maafkan kami tuan, maafkan kami." Kata warga lainnya dengan menangis histeris.
"Aaaah. Untung saja kalian masih hidup. Andai saja dulu aku sekuat ini." Kata Leon dengan pandangan kosong.
"Tuan, maafkan kami Hikss." Kata anak laki-laki yang masih berumur 5 tahun.
"Haa." Suara Leon terkejut melihat anak itu sambil memeluk ibunya yang sudah mati. Bahkan ia langsung berhenti berjalan seketika.
"Chikkh." Suara Leon dengan sedih sambil menghampiri anak kecil itu.
"Maafkan kami Tuan. Huaa, huaa." Kata anak itu dengan menangis histeris.
"Huaa, huaaa. Ibuu." Kata anak kecil itu sambil memeluk ibunya.
"Hiks, maafkan aku, maafkan aku, aku terlambat datang kesini." Kata Leon dengan menangis sambil mengelus kepala anak kecil itu.
"Tuan, ampuni kami. Huaa." Kata anak itu.
"Aku tidak akan membunuhmu. Aku sudah mengusir para prajurit itu untukmu." Kata Leon dengan sangat sedih.
"Hee.?" Suara anak itu yang tiba-tiba berhenti menangis. "Huaaa. Ibuu." Suara anak itu dengan menangis lagi.
Lalu, kepala desa mereka menghampiri Leon.
"Terimakasih Tuan, terimakasih sudah menyelamatkan kami." Kata Kepala desa itu sambil berlutut di samping Leon.
"Tuan. Jangan lakukan itu padaku. Berdirilah Tuan." Kata Leon sambil membantu kepala desa itu berdiri.
"Hiks. Terimakasih Tuan." Kata Kepala desa itu sambil menangis.
"Maafkan aku Tuan, aku datang terlambat." Kata Leon dengan sedih.
Tiba-tiba awan mendung berkumpul dengan cepat diatas desa itu. Dan hujan pun turun dengan deras. Hujan itu dikendalikan oleh Leon sendiri untuk memadamkan api yang membakar rumah warga.
Darah dari mayat-mayat yang tergeletak mengalir seperti sungai mengikuti arus air hujan. Api yang membakar puluhan rumah tiba-tiba padam seketika.
"Terimakasih Tuan, terimakasih." Kata Kepala desa itu dengan menangis.
Namun, Leon hanya terdiam dan melihat kepala desa itu dengan sangat sedih.
__ADS_1
...
Beberapa jam berlalu.
Terlihat, hujan yang turun mulai mereda, dan cuaca mulai cerah kembali, beberapa warga yang masih hidup sudah menata dengan rapi mayat-mayat yang tergeletak disana.
Leon membantu mereka mengali tanah disana, dan mayat warga desa yang meninggal mulai di kuburkan satu persatu. Bahkan mayat dari prajurit musuh yang dibunuh oleh Leon, juga di kuburkan disana.
"Huuu, ibuu, huuu." Kata anak kecil disana sambil melihat ibunya dikuburkan.
"Sabarlah adik kecil. Masih banyak warga yang hidup disini, kau harus memperjuangkan hidupmu demi ibumu." Kata Leon sambil berjongkok di depan anak kecil itu.
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi." Kata anak kecil itu dengan menangis.
"Kau masih punya mereka disini, ada kepala desa dan lainnya, bahkan masih banyak orang disini. Aku akan menitipkanmu kepada kepala desa." Kata Leon sambil mengelus kepalanya.
"Huuu, huuu." Suara anak itu sambil menangis.
"Kau tenang saja nak, kami akan menjagannya." Kata Kepala desa disana.
"Terimakasih Tuan. lalu, siapa namamu adik kecil.?" Tanya Leon kepada anak itu.
"Huuu, Rin. Huu, namaku Rin." Kata Rin dengan menangis.
"Baiklah Rin, aku akan memberikan sesuatu padamu, jika terjadi apa-apa disini, kau bisa menekan titik tengah ini." Kata Leon yang memberikan sebuah benda kepada Rin.
"Terimakasih. Huuu." Kata Rin sambil mengambil benda pemberian Leon.
"Apa itu nak.?" Tanya kepala desa.
"Ah, ini adalah benda yang dibuat oleh seseorang untukku. Tapi sepertinya aku tidak butuh ini, kalian lebih membutuhkannya. Jika terjadi sesuatu didesa ini lagi, para pasukan kerajaan akan datang kesini dengan cepat untuk membantu." Jawab Leon.
"Aaah, terimakasih banyak nak." Kata kepala desa.
Beberapa jam berlalu, dan hari mulai petang. Semua mayat warga sudah dikuburkan dengan layak, dan beberapa warga mengungsi dibalai desa.
"Tuan, aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku akan melanjutkan perjalananku. Apa anda bisa menunjukan jalan menuju Akademi Rostem.?" Tanya Leon.
"Ah, kenapa kau buru-buru nak, hari sudah malam, sebaiknya kau beristirahat dulu disini." Jawab kepala desa.
"Em, maaf Tuan, aku memang sedang terburu-buru." Kata Leon.
"Baiklah nak. Aku akan memberikanmu peta kerajaan" Kata kepala desa sambil berjalan ke sebuah rak dan mengambil peta kerajaan.
Lalu, kepala desa itu menjelaskan arah dan jalan mana yang harus di tempuh kepada Leon.
"Emm, jadi arahnya kesana. Baiklah Tuan, terimakasih atas bantuannya, aku pamit dulu." Kata Leon sambil berdiri.
"Kamilah yang berterimakasih padamu nak." saut kepala desa.
"Kakak, kakak, apa kakak akan kembali kesini lagi.?" Tanya Rin sambil memegangi baju Leon.
"Eem. Rin, aku akan kembali kesini setelah urusan kakak selesai. Jagalah dirimu baik-baik." Kata Leon sambil berjongkok didepan Rin.
"Aku akan merindukanmu kak." Kata Rin.
"Terimakasih." Kata Leon tersenyum sambil mengelus kepala Rin. Lalu, ia pun berdiri dan berjalan keluar dari balai desa.
"Daa. Sampai jumpa lagi semua." Kata Leon sambil melambaikan tangan.
"Sampai jumpa kakak." Kata Rin sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
.