
[Akademi Rostem]
Terlihat Rachel yang mematung setelah mendengarkan ucapan Klain.
"Dia pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri Tuan Putri." Kata Klain.
"HAAAA, Kau membuatku ketakutan Tuan Klain. Aku sudah menghabiskan uangku untuk membeli makanan ini." Teriak Rachel dengan kesal.
"Hahaha, maaf Tuan Putri. Kenapa anda sampai menghabiskan uang untuknya.?" Tanya Klain.
"Eeeh, ituu, ituu." Kata Rachel yang gugup.
"Heem. Sudahlah Klain. jangan di teruskan, Tuan Putri punya alasannya sendiri." Kata Henry.
"Silahkan duduk Tuan Putri." Kata Henry.
Mereka semua pun duduk disana sambil menunggu Leon. Beberapa menit kemudian, Leon pun datang kesana.
Rambutnya yang panjang, sudah di potong olehnya, dan wajahnya juga sudah bersih bersinar. Leon yang tidak pernah keluar dari dalam gua, memiliki kulit yang putih bersih.
"Maaf membuat kalian menunggu, aku harus memotong rambut ini dulu." Kata Leon sambil berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Wah, kau terlihat sangat berbeda Leon." Kata Klain.
"Benarkah.?" Tanya Leon sambil duduk didepan Rachel.
"Glegg." Suara Rachel yang menelan ludah. Bahkan matanya tidak bisa berkedip melihat pesona Leon.
"Aku ingin menikah dengannya Ayah." Kata Rara yang melihat Leon dengan tatapan penuh gairah.
"Aku juga ingin menjadi istrinya." Kata Ellena dengan mematung melihat Leon.
"Eeeh.? Hem." Suara Klain yang menoleh kearah 3 wanita cantik sedang melihat Leon.
"Apa yang kalian lihat.?" Kata Leon dengan tatapan tajam.
"Hahaha. Kau sudah membuat mereka terpesona Leon." Kata Klain dengan tertawa.
"Heeh." Suara Leon yang menghela nafas sambil menoleh kesebelahnya.
"HOOO. Apa makanan ini boleh aku makan.?" Tanya Leon dengan terkejut.
"Tentu saja boleh. Tuan Putri sudah membelikannya untukmu." Jawab Klain.
"Hee, benarkah.? Ah, terimakasih Tuan Putri." Kata Leon sambil mengambil makanan di dalam gerobak.
Lalu, ia pun memakan makanan itu dengan lahap. Dan Rachel masih mematung melihat Leon. "Apa yang sudah terjadi padaku. Apa aku sudah jatuh cinta padanya. Ini tidak mungkin." Kata Rachel dalam hati.
"Ini sangat enak sekali. Baru pertama kali ini aku makan makanan seperti ini." Kata Leon sambil makan.
"Hahaha, jangan terburu-buru Leon, masih ada banyak makanan disitu. Itu semua untukmu." Kata Klain dengan tertawa.
"Hee.? Benarkah.?" Tanya Leon dengan senang.
__ADS_1
"Benar. Jadi jangan terburu-buru." Jawab Klain.
"Eeh, anuu. Rahel, em, Ra, Ra...." Rachel." Kata Leon yang dipotong oleh Rachel.
"Ah, Rachel, terimakasih makanannya. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu. Hihi." Kata Leon sambil makan.
"Gleeg." Suara Rachel yang menelan ludah. "Sepertinya aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Ini benar-benar membuatku sangat bahagia." Kata Rachel dengan wajah memerah sambil melihat Leon.
"Tuan Putri, apa anda baik-baik saja.?" Tanya Ellena yang melihat Rachel tersenyum.
"Aku baik-baik saja Ellena." Jawab Rachel dengan tersenyum cantik sambil menoleh ke arah Ellena.
"Eeeh.?" Suara Ellena yang terkejut melihat kecantikan Rachel.
Beberapa menit kemudian, Leon sudah menghabiskan separuh makanan yang di dalam grobak.
"Aaaah. Aku sudah kenyang sekarang. Klain, makanan disini sangat enak." Kata Leon.
"Kau bisa mendapatkan makanan seperti itu disini Leon. Dan kau tidak perlu pergi kehutan lagi untuk mencari makanan." Kata Klain.
Leon pun berdiri di depan Rachel. "Heeee.?" Suara Rachel terkejut dengan pipi memerah. Lalu Leon pun tersenyum kepada Rachel.
"Terimakasih makanannya Tuan Putri. Ini benar-benar membuatku sangat senang." Kata Leon sambil menundukkan badanya.
"Eeeh, anuu. Kau tidak perlu melakukan itu Leon. Aku bisa membelikanmu makanan setiap hari jika kau mau." kata Rachel yang malu-malu.
"Tidak perlu Rachel. Aku tidak suka memeras orang lain." Kata Leon dengan tersenyum
"Ekhm Ekhm. Baiklah Leon, jadi bagaimana dengan tawaranku.?" Tanya Henry.
"Maaf Tuan, aku tidak bisa merepotkanmu, bahkan aku tidak punya uang untuk membayar sekolahku, apalagi membeli makanan seperti ini. Aku sudah memikirkannya, sepertinya aku akan pergi dari sini." Kata Leon.
"Haa." Suara Rachel yang tekejut.
"Kau tidak perlu memikirkan biayanya Leon, aku akan mengurusnya untukmu." Kata Henry.
"Itu benar Leon, jika kau butuh sesuatu bicaralah padaku. Aku tidak bisa membiarkanmu hidup sendirian di dalam gua. Disinilah tempatmu sebenarnya, kau bisa membuatku gila jika kau pergi sendirian lagi." Kata Klain.
"Tapi aku tidak ingin merepotkanmu Klain. Aku bisa menjaga diriku sendiri, jadi kau tidak perlu khawatir." Kata Leon yang keras kepala.
"Leon." Suara Rachel yang memanggil. "Eem.?" Saut Leon.
"Tinggallah disini. Aku juga akan membantumu, jadi tetaplah disini." Kata Rachel dengan sedih.
"Itu. Maafkan aku Rachel. Aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan." Kata Leon.
Rachel pun terkejut, lalu tangannya mulai mengengam dengan keras.
"Heemm." Suara Klain yang menghela nafas.
"Leon, aku tau kau punya tujuan. Tapi disini kau bisa mendapatkan teman, kau bisa menceritakan masalahmu dengan temanmu. Kau tidak akan bisa hidup sendirian selamanya, mungkin kau bisa berjuang sendiri, tapi bagaimana dengan hatimu.?" Kata Klain.
"Heee." Suara Leon yang terkejut.
__ADS_1
"Apa kau masih ingat pesan terakhir dari ibumu. Apa ibumu menyuruhmu untuk hidup sendirian.? Apa ibumu hanya menyuruhmu untuk memperjuangakan hidupmu seorang.? Dia akan sangat sedih melihatmu seperti ini." Kata Klain.
Leon pun hanya terdiam disana. Bahkan raut wajahnya mulai sedih.
"Lihatlah mereka, mereka bisa menjadi temanmu, aku hanya ingin kau hidup seperti anak-anak lainnya. Kau sudah menderita selama ini Leon, aku mengerti perasaanmu." Kata Klain.
"Klain, kauu." Kata Leon dengan terkejut.
Lalu, tiba-tiba Rachel meneteskan air mata. "Hiks." Suara Rachel yang meneteskan air mata.
"Haaa.?." Suara Leon yang terkejut melihat Rachel meneteskan air mata.
"Tuan Putri. Anda kenapa ?" Tanya Ellena sambil memeluk Rachel.
"Leon, kami semua sudah tau tentangmu. Kami tidak memintamu dengan alasan kasihan padamu. Tapi kami memang membutuhkanmu, ini adalah penawaran lain, kau bisa memberitahuku tetang kekuatanmu, dan kau juga bisa pergi ke medan perang bersama Klain. Sebagai imbalannya, kau bisa tinggal di Akademi ini dengan gratis. Bagaimana.?" Kata Henry.
"Ah, baiklah. Berikan aku waktu untuk memikirkannya." Kata Leon yang tercengang sambil melihat Rachel menangis.
"Hem. Baik, aku harap kau memberikan jawaban yang tepat." Kata Henry.
"Apa kau akan berhenti menangis jika aku bilang akan tinggal disini.?" Tanya Leon kepada Rachel.
"Heee.?" Suara Rachel yang terkejut, dan ia pun berhenti menangis dengan seketika.
"Aku tidak tau apa yang kau pikirkan Rachel. Kita baru saja bertemu disini. Tapi kau sudah memberikan kesan yang kuat padaku." Kata Leon.
"Maaf Leon, aku hanya sedih." Kata Rachel.
"Hem, mungkin dia adalah alasanya." Kata Klain sambil memejamkan mata.
"Baiklah, aku sudah memutuskan. Aku akan tinggal disini untuk sementara, tapi biarkan aku ikut denganmu Klain, aku juga ingin mencari petunjuk diluar sana." Kata Leon.
"Hee Benarkah.?" Tanya Klain dengan terkejut.
"Itu jawaban yang tepat Leon." Kata Henry dengan tersenyum.
"Hiks, hihi." Suara Rachel yang tertawa senang.
"Oke, aku akan kembali kesini besok. Sampai jumpa." Kata Leon sambil berjalan kearah pintu keluar.
"Kau mau kemana Leon.?" Tanya Klain.
"Tentu saja aku akan pergi bekerja." Jawab Leon.
"HAAAA.?" Suara Klain yang terkejut.
"Dimana kau bekerja.? Lalu apa yang kau kerjakan.?" Tanya Klain pemasaran.
"Ah, Kemarin malam aku sudah sampai di kota ini, dan karena aku kelaparan, aku mengemis di pingiran kota. Itu lumayan untuk membeli beberapa makanan. Hihihi." Kata Leon.
"HEEEEEEEEE." Teriak semua orang disana dengan sangat terkejut.
.
__ADS_1