
[Wilayah Utara Norland]
Terlihat, tubuh Leon perlahan-lahan mengeluarkan aura kegelapan di depan Eddy. Lalu, sebuah pedang dikerahkan ke leher Leon.
SUUTTH. Suara pedang milik Eddy. Namun, pedangnya itu di tahan oleh Leon hanya dengan dua jarinya saja.
"Haaa.?" Suara Eddy yang terkejut. "Dia, kenapa dia bisa menahan seranganku seperti ini. Jika dia bisa menangkis dengan pedangnya, aku masih bisa maklumi, tapi dia menahannya hanya dengan dua jarinya saja." Kata Eddy dalam hati dengan terkejut.
"Sudah aku katakan dari awal, aku bisa membrantas kalian semua." Kata Leon dengan tatapan tajam.
"Glegg." Suara Eddy yang menelan ludah. "Kauu. Siapa kau sebenarnya.?" Tanya Eddy yang mulai ketakutan.
"Sudah terlambat bertanya seperti itu, kau sudah memulai pertarungan lebih dulu." Kata Leon sambil menekan jiwa Eddy.
"AArrrgh. Ini, Uhook." Kata Eddy yang kesakitan dan memuntahkan darah.
"Panglima." Kata prajuritnya dengan khawatir.
"Huh, huh, keparat. Kenapa Norland menyembunyikan orang seperti dia." Kata Eddy dengan terengah-engah.
"SEMUA PASUKAAN, BERSIAPLAH UNTUK BERTEMPUR." Teriak prajurit itu dengan panik.
Semua prajurit disana pun langsung bergerak keluar dari gerbang dan mengepung Leon. Ada juga ribuan prajurit yang bersiap-siap menarik panah dari dalam gerbang.
"Kau lihat, bahkan bawahanmu bergerak sendiri." Kata Leon yang masih memegang pedang milik Eddy.
"Uhok. Huh, huh, keparat, bajingan kau." Saut Eddy dengan terengah-engah.
"Aku rasa kaulah yang bajingan." Kata Leon.
"Huh, SERAAAAANG." Teriak Eddy yang memperintahkan prajuritnya menyerang Leon.
"Chikh, Bukan seperti ini yang aku inginkan." Kata Leon dengan kesal.
Semua prajurit yang mengepungnya pun langsung menyerang Leon yang berdiri disana, lalu Eddy melepaskan pedangnya dan meloncat kebelakang.
"Matilah kau bocah." Kata Eddy dengan kesal.
Lalu. SWOOSSHHH, Suara aura kegelapan yang keluar begitu banyak di sekitar area Leon berdiri.
"Aaarrgh." Uhook."Oook." Suara para prajurit yang terkena tekanan jiwa dari Leon.
"Berapa jumlah mereka. Sepuluh ribu.? Em.? Mereka ada sekitar 40rb an, masih banyak yang ada di dalam sana." Kata Leon.
"Baiklah, aku tidak bisa berlama-lama disini, aku selesaikan sekarang juga." Kata Leon.
Lalu, SRAK SRAK SRAK SLASHH. Suara tebasan pedang milik Leon.
"Siapa dia sebenarnya.?" Kata Eddy yang melihat Leon bertarung.
"Panglima, dia sangat berbahaya." Kata salah satu Jendral disana dengan tercengang.
__ADS_1
"Aku tau itu, tidak kusangka dia bisa sekuat itu." Kata Eddy.
"Apa sebaiknya kita kabur saja dari sini Panglima, sepertinya kita tidak bisa menang melawannya." Kata Jendral itu mulai ketakutan.
"Glegg, sebaiknya begitu" Kata Eddy yang menelan ludah.
"Baiklah Panglima, aku pe..." SRAK Suara pedang Leon yang memotong leher Jendral itu. BUUK. Suara kepala Jendral itu jatuh ketanah dan mengelinding ke depan Eddy.
"Haa, aa." Suara Eddy yang tercengang.
"Kalian tidak bisa kabur dari sini. Aku hanya membunuh ratusan prajurit disana, dan disini masih ada puluhan ribu prajurit lainnya. Jika kalian kabur, aku benar-benar akan membantai kalian semua." Kata Leon yang mengancam.
"Aa, aa. Glegg. Apa maumu.?" Tanya Eddy dengan ketakutan.
"Aku hanya punya 1 permintaan, bisakah kerajaan Forlsa menjadi wilayahku.?" Kata Leon.
"Hee.? Aa, apa maksudmu.?" Tanya Eddy.
"Bisakah kerajaan Forlsa menjadi milikku.? Itu hanya tawaranku, kalian masih bisa menjadi prajurit, dan Raja kalian tetap menjadi Raja. Hanya seluruh wilayahnya yang menjadi milikku." Jawab Leon.
"Chikkh. Bajingan tetaplah bajingan." Kata Eddy dengan marah, ia pun berdiri di depan Leon.
"Eem, sepertinya kau tidak menyetujuinya. Baiklah kalau begitu." Kata Leon.
"Tidak semudah itu mengambil wilayah hanya dengan sebuah ancaman." Kata Eddy yang marah sambil mengeluatkan aura merah dari tubuhnya.
"Eeh.? Apa aku harus membunuh kalian dulu.? Aku tidak menginginkan itu, tapi jika kalian melawan, aku akan membela diri." Kata Leon.
"HAAAAA." Suara Eddy yang menyerang Leon.
Lalu, awan-awan di langit mulai berkumpul dengan cepat, di ikuti badai petir yang cukup hebat. Dalam hitungam detik saja. Ribuan tombak emas raksasa keluar dari balik awan itu.
BUOOK. Suara tendangan kaki Leon yang menendang perut Eddy.
"Aarrgh." Suara Eddy yang kesakitan, lalu ia pun melihat ke atas langit dan raut wajahnya langsung berubah sangat terkejut.
"Aa, apa itu.?" Kata Eddy yang tercengang.
Semua prajurit disana pun sangat terkejut dan tercengang melihat ribuan tombak diatas mereka. Bahkan ada yang langsung pinsan ditempat.
Seluruh tubuh para prajurit disana gemetar cukup kencang karena ketakutan, bahkan ada yang terjatuh ke bawah tanah tanpa disengaja.
"Siapa kamu sebenarnya.? Dan kenapa kau melakukan ini.?" Tanya Eddy dengan tercengang.
"Hemm, aku berkali-kali memberikan kesempatan padamu, dan berkali-kali bertanya pada kalian. Tapi kau menolak tawaranku dan selalu menyerangku lebih dulu, aku tidak punya pilihan lain selain membela diri." Kata Leon.
"Haa.? Glegg. Sepertinya aku akan mati disini." Kata Eddy dalam hati.
"Aku akan menyelesaikannya." Kata Leon sambil menurunkan tangannya kebawah.
"Tidak, tidak tidak." Kata Eddy yang ketakutan.
__ADS_1
SWOSH SWOSH SWOSH SWOSH. Suara ribuan tombak yang melesat kebawah dengan cepat.
"AAAAAA." TIDAAAAAK" TOLOOONG." AAARRGH" Suara para prajurit yang akan mati.
BREDOOM. DOOM. BRAMRR. Suara hantaman tombak emas yang jatuh ketanah. Bahkan hantaman itu sampai menyebabkan gempa bumi di sekitarnya.
"Hiii, ini tidak mungkin. tidak mungkin" Kata Eddy yang ketakutan sambil merangkat menjauh dari sana.
"Maafkan aku, ini adalah balasan dari perbiatan kalian sendiri." Kata Leon dalam hati.
Tombak emas itu terus berjatuhan dari atas langit. Hanya dalam waktu 2 menit saja, semua prajurit kerajaan disana tewas mengenaskan.
"Haaa. itu, itu benar-benar mengerikan." kata Eddy dengan tercengang dan sangat ketakutan.
"Hem, kau yang terakhir." Kata Leon.
"Heee.?" Suara Eddy yang terkejut.
"Aku sengaja tidak membunuhmu terlebih dulu supaya kau bisa melihat para prajuritmu terbunuh. Dan sekarang adalah giliranmu." kata Leon.
"Tunggu tunggu. Kita bisa bicarakan lagi." Kata Eddy dengan sangat ketakutan.
"Sudah tidak ada negosiasi lagi." Kata Leon sambil bersiap-siap menyerang Eddy.
Lalu. SWOSH. SRAK. Suara Leon yang bergerak kearah Eddy dan memenggal kepalanya. BUUK. Suara kepala Eddy yang terjatuh.
"Huh, huh. Aku sudah membunuh mereka semua. Mungkin dosaku sangat besar sekarang. Dan lebih besar lagi setelah ini." Kata Leon dwngan terengah-engah.
"Aku tidak punya pilihan lain, ini adalah perang. Tidak apa-apa jika aku membunuh." Kata Leon yang masih mematung di tempatnya.
Lalu, ia pun berjalan menjauh dari tempat itu dan mengirimkan sebuah surat kepada Klain.
...
[Istana Norland]
Diruang rapat, terlihat Raja Charles bersama dengan Klain, para Jendral, dan bangsawan sedang melanjutkan rapat yang membahas para pengungsi. Lalu, sebuah surat muncul di depan Klain.
"Ah, ini dari Leon." Kata Klain sambil mengambil surat itu.
"Haaa. Dia sudah membereskan prajurit di benteng utara, ini berita bagus. Bahkan salah satu panglima Forlsa tewas di sana." Kata Klain.
"Surat apa itu Klain.?" Tanya Raja Charles.
"Yang Mulia, ini surat dari Leon. Dia sudah berhasil menguasai benteng utara." Jawab Klain.
"Haa.? Benarkah.?" Tanya Raja Charles dengan terkejut.
"Benar Yang Mulia, sebaiknya saya mengirimkan prajurit kesana untuk membersihkan mayat-mayat disana." Jawab Klain.
"Baiklah Panglima, kita tutup sementara rapat kali ini. Siapkan beberapa tenda untuk para pengungsi di luar ibu kota. Sepertinya kita akan menang kali ini." Kata Raja Charles.
__ADS_1
"Siap Laksanakan." Kata Klain. Lalu ia pun pergi dari sana.
.