
[Disalah satu desa wilayah utara]
Leon sedang berjalan menghampiri para prajurit kerajaan Forlsa dengan santai. Bahkan disana sudah dibangun pembatas yang terbuat dari kayu dan membentuk sebuah pagar.
"Mereka sudah membatasi wilayah kerajaan." Kata Leon dengan tatapan yang tajam.
SLURSS. Tiba-tiba, sebuah panah meluncur kearah Leon dan menancap tepat di depannya.
"Berhenti disana." Kata salah satu penjaga gerbang.
"Sepertinya ini tidak mudah." Kata Leon dalam hati sambil berdiri didepan panah yang menancap di atas tanah.
Lalu, beberapa prajurit keluar dari gerbang dan menghampirinya.
"Siapa kamu.? Dan apa tujuanmu kesini.?" Tanya prajurit itu.
"Tuan, saya adalah seorang diplomat yang di kirim dari istana Norland. Apa saya diijinkan untuk masuk kedalam.?" Tanya Leon.
"Haa.? Disini bukan tempat bermain, mana mungkin Norland mengirimkan seorang diplomat kemari.?" Jawab Prajurit itu.
"Hem, mereka cukup pintar." Kata Leon dalam hati.
"Apa anda mengira saya berbohong.? Saya memang datang sendirian kemari, tidak ada pengawal maupun prajurit kerajaan dibelakangku. Mana mungkin saya membahayakan nyawa saya sendiri." Kata Leon serius.
"Meskipun begitu, aku tidak bisa mengijinkanmu masuk kedalam, siapapun bisa menjadi ancaman bagi kami." Kata prajurit itu dengan serius.
"Mereka benar-benar sangat pintar." Kata Leon dalam hati.
"Baiklah Tuan, bisakah anda memanggilkan seorang diplomat.? Aku ingin membicarakan beberapa hal dengannya." Kata Leon dengan serius.
"Kami juga tidak bisa mengirimkan seseorang di depanmu, sudah tidak ada penawaran lain." Jawab prajurit itu.
"Apa kalian benar-benar ingin menguasai wilayah tanpa deklarasi perang.?" Tanya Leon.
"Apa yang kau tau tentang kekuasaan. Kau datang kesini seperti mengantarkan nyawamu sendiri." Jawab prajurit itu.
"Aku hanya ingin mendengarkan alasan kalian. Kenapa kerajaan Forlsa menyerang dengan tiba-tiba dan membantai semua orang yang tak bersalah. Apa jangan-jangan kalian tidak punya alasan.?" Kata Leon dengan serius.
"Kauu, beraninya kau bicara seperti itu." Kata prajurit itu dengan kesal.
"Hem, berikan aku alasannya, apa tujuan kalian.? dan akan aku sampaikan ke istana." Kata Leon.
"Kau tidak bisa pergi kemana-mana dari sini. Meskipun aku memberikan alasanya, kau akan mati." Kata prajurit itu yang mengancam.
"Benarkah.?" Tanya Leon dengan tersenyum.
"Herrr." Suara prajurit itu dengan marah sambil mengangkat tangan kanannya.
Lalu, ribuan prajurit di belakangnya sedang bersiap-siap untuk menembakkan panah kearah Leon.
__ADS_1
"Bocah, tidak ada alasan untuk menguasai wilayah, semua bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Itulah kekuasaan." Kata prajurit itu sambil menahan aba-aba untuk menyerang Leon.
"Jadi hanya karena kekuasaan kalian membantai ribuan orang yang tak berdosa." Kata Leon dengan kesal.
"Kenapa kau memperdulikan mereka.? Kau juga akan mati." Saut prajurit itu. Dan tangan kanannya pun di arahkan ke Leon.
"Chikkh." Suara Leon yang kesal.
Lalu. SWOOSSH. SWOSH SWOSH SWOSH. Ribuan panah di tembakkan kearah Leon.
"Itu bukan jawaban yang aku inginkan." Kata Leon sambil mengeluarkan aura berwarna hijau dari matanya. Dan diikuti pedang yang keluar dari udara di depannya.
WOOOSSSHH. Suara angin yang menghalau ribuan panah di udara. Dan panah-panah itu pun terjatuh dengan sendirinya.
Lalu. SWOOSSH. Suara pedang yang dikerahkan dan berhenti tepat di leher prajurit itu.
"Haaa.?" Suara prajurit itu dengan terkejut melihat pedang yang menempel di lehernya, bahkan lehernya sampai meneteskan darah.
"Aku sudah bicara baik-baik dengan kalian. Jika kalian masih ingin hidup, berhentilah melawan, dan jawab semua pertanyaanku." Kata Leon yang mengancam.
"Glegg." Suara prajurit itu dengan ketakutan sambil menelan ludah.
Semua prajurit yang ada disana pun sangat terkejut melihat Leon yang sedang mengancam mereka. Lalu, salah satu Panglima mereka datang kesana.
"Berhentilah nak." Kata Panglima kerajaan Forlsa bernama Eddy.
"Aa, Panglima." Kata salah satu prajurit disana.
"Lepaskan pedangmu itu. Jika kau ingin bicara, bicaralah padaku." Kata Eddy.
"Hem. Baiklah." Kata Leon sambil melepaskan pedangnya dari leher prajurit yang di serang Leon.
SLASH, SLASH, SLASH, TRIING. Suara pedang Leon yang di putar-putar dan dimasukkan kedalam sarungnya.
"Itu lebih baik. Jadi apa tujuanmu datang kemari.?" Tanya Eddy dengan serius.
"Apa anda adalah salah satu orang penting disini.? Aku tidak bisa bicara dengan orang sembarang." Jawab Leon.
"Namaku Eddy, dan aku adalah salah satu Panglima dari kerajaan Forlsa. Apa aku sudah memenuhi syarat untuk berbicara padamu.?" Tanya Eddy.
"Hee, sangat kebetulan sekali, Panglima kah. Perkenalkan Panglima, namaku Leon, dan tujuanku kemari adalah untuk mengambil wilayah ini. Jika kalian menolak, aku akan mengambilnya secara paksa." Jawab Leon.
"Haa.? HAHAHAHA. Apa kau sedang bercanda nak.?" Kata Eddy yang tertawa.
"Aku serius, kecuali kau memberikan alasan yang logis padaku, aku akan membiarkan kalian semua." Kata Leon dengan tatapan tajam.
"Hehe. Sepertinya kau tidak main-main. Apa kau ingin aku membuatkan teh untukmu.?" Tanya Eddy.
"Tidak perlu repot-repot, aku bukan seorang penguasa yang hanya duduk dan berdiskusi. Aku hanya ingin kau menjawab pertanyaanku." Jawab Leon.
__ADS_1
"Hem, kau sangat serius sekali. Apa kau tersesat dan ingin menanyakan jalan padaku.?" Tanya Eddy dengam tersenyum.
"Tidak perlu basa-basi. Apa tujuan kelian menyerang kerajaan Norland.?" Tanya Leon kembali.
"Hee.? Hahahaha. Apa kau kesini hanya menanyakan itu. Hahaha." Jawab Eddy sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kau hanya perlu menjawabnya, tidak perlu sampai tertawa begitu." Kata Leon.
"Apa keuntungan untukmu jika aku menjawabnya.?" Tanya Eddy sambil berjalan menghampiri Leon.
"Tidak ada keuntungan untukku. Jika kau tidak mau menjawabnya, aku punya alasan untuk membunuh kalian semua." Jawab Leon.
Eddy pun berhenti di depan Leon dan tubuhnya sudah penuh dengan perlengkapan perang.
"Aku tidak tau kau berasal dari mana. Bahkan kau sendiri tidak punya tanda prajurit di tanganmu. Apa maumu nak.?" Tanya Eddy dengan tatapan tajam.
"Aku tidak mau basa-basi. Sudah aku katakan, cukup jawab pertanyaanku." Jawab Leon.
"Hem, apa kau sadar, kau datang kesini dan mengancam kami, apa kau seorang prajurit dari istana Norland.?" Tanya Eddy dengan serius.
"Haa.?" Suara Leon yang terkejut. "Tidak kusangka dia lebih pintar dari yang kukira, apa yang harus aku katakan." Kata Leon dalam hati.
Eddy pun melihat raut wajah Leon dengan serius. "Sepertinya aku benar. Tidak ada alasan lain kau datang kemari sendirian." Kata Eddy.
"Hem, aku sudah bilang pada prajuritmu, aku adalah seorang diplomat yang dikirim dari istana Norland." Kata Leon.
"Tidak ada seorang diplomat yang mempunyai keahlian sepertimu, bahkan seorang diplomat tidak akan datang kesini. Apa tujuanmu.?" Kata Eddy dengan tatapan tajam.
"Apa aku harus mengulangi perkataanku lagi.? Aku sudah menjelaskan padamu dengan sejelas mungkin." Kata Leon dengan tatapan tajam.
"Kau sedang berhadapan dengan salah satu kekuatan Forlsa nak. Kau tidak bisa melakukannya sendirian. Berikan alasanmu padaku dengan logis, dan aku akan memberitahumu alasan kami." Kata Eddy.
"Kau seperti banjingan dari Aldebaren, membantai semua orang yang tak bersalah, dan menyerang semau kalian, aku ingin membunuh kalian semua." Kata Leon dengan serius.
"Heee, berani sekali kau berbicara seperti itu didepanku." Kata Eddy sambil mengeluarkan aura biru dari matanya.
"Untuk bajingan seperti kalian, tidak ada yang perlu ditakuti." Saut Leon dengan tatapan tajam.
"Keparat kau." Kata Eddy sambil menekan jiwa Leon dengan sekuat tenaga.
"Kau sudah mengancamku sekarang. Mungkin aku tidak perlu alasan lain untuk membrantas kalian semua." Kata Leon sambil menatap Eddy dengan tajam.
"Haa.?" Suara Eddy yang terkejut. "Tidak mungkin, aku sudah menekan jiwanya dengan sangat kuat." Kata Eddy dalam hati dengan terkejut.
"Apa kau terkejut.? Aku bertanya satu kali lagi padamu, berikan aku alasan yang logis, dan aku akan membiarkan kalian semua." Kata Leon dengan serius.
Eddy pun menarik pedang dari sarungnya. "Bocah, tidak ada alasan lain saat berperang, semua bisa terjadi kapan saja tanpa harus memberi tahu kapan kami akan menyerang kalian." Kata Eddy sambil mengarahkan pedang ke tubuh Leon.
"Hoo, jadi itu adalah alasan kalian.?" Kata Leon sambil mengeluarkan aura kegelapan dari matanya.
__ADS_1
.