The Darkness King Return

The Darkness King Return
Pertempuran Utara (2) Beginilah Rasanya.


__ADS_3

[Didalam hutan]


2 hari berlalu, setelah Leon pergi dari benteng Utara. Leon sedang berjalan menyusuri peta yang di berikan oleh Klain. Ia akan pergi ke desa yang sedang di kuasai oleh prajurit Forlsa.


"Harusnya aku sudah dekat dengan desa itu." Kata Leon yang berjalan sambil melihat peta.


Lalu, SREEK. Suara langkah Leon yang berhenti seketika.


"Aa, aa." Suara Leon yang terkejut melihat dirinya sedang berdiri di atas tebing yang sangat tinggi.


"Untung saja aju tidak terjatuh ke sana." Kata Leon sambil melihat desa yang ada didepannya.


"Jadi inikah desa itu." Kata Leon.


Ia melihat ratusan rumah sudah hangus terbakar, bahkan sudah tidak ada orang sama sekali disana. Lalu ia menemukan tumpukkan mayat di belakang desa yang tidak jauh dari tempat Camp para prajurit disana.


"Chikkh, jadi mereka semua sudah dibunuh." Kata Leon dengan kesal.


"Mayat-mayat itu sepertinya sudah disana beberapa hari." Kata Leon sambil melihat camp prajurit.


"Grrr. Aku ingin membunuh mereka semua." Kata Leon.


...


Ditempat Camp prajurit. Terlihat beberapa prajurit disana sedang bersantai dan memasak. Mereka juga membangun sebuah gerbang dan pagar dari kayu.


"Hahaha, aku menang lagi." Kata salah satu prajurit disana sambil bermain kartu.


"Heeeh, uangku." Kata prajurit lainnya.


"Apa kau ingin main lagi.?" Kata prajurit pertama.


"Aku sudah tidak punya uang." Kata prajurit kedua.


"Aku akan meminjamkan uang untukmu, apa kau mau.?" Kata prajurit pertama.


"Heee, benarkah.? Baiklah." Kata prajurit kedua.


"Ini uangnya, ayo kita main lagi." Kata prajurit pertama.


"Kau akan kalah kali ini." Kata prajurit kedua dengan tersenyum.


Beberapa menit kemudian. Prajurit kedua kalah telak, dan hutangnya semakin banyak.


"Aaaaa, aku kalah lagi." Kata prajurit kedua.


"Kau harus mengembalikan uang yang sudah kau pinjam, jangan lupa itu." Kata prajurit pertama.


Tiba-tiba, seseorang datang menghampiri mereka berdua.


"Hentikan permainan konyol kalian itu." Kata dalah satu Panglima bernama Kenn.


"Haa. Panglima." Kata kedua prajurit itu sambil berdiri dengan tegap.


"Kalian berdua sedang berjaga disini. Jangan bermain-main." Kata Kenn.


"Maafkan kami Panglima." Kata prajurit kedua.


"Apa tidak terlihat prajurit dari benteng utara.?" Tanya Kenn.

__ADS_1


"Kami masih belum melihat seorang pun yang datang kemari Panglima." Kata prajurit pertama.


"Tidak seperti biasanya, apa sudah terjadi sesuatu disana." Kata Kenn dengan gelisah.


Lalu, BREDOM. Tiba-tiba pos penjaga diserang oleh petir yang menyambar.


"Hee.?" Suara Kenn dengan terkejut, ia sedang berada di atas gerbang yang akan terjatuh kebawah.


"Aaaaaa." Suara kedua prajurit penjaga disana.


BREDOM BREDOM. Suara serangan petir lainnya.


"Ini serangan kejutan." Kata Kenn sambil melompat dari tempatnya.


"Siapa dia sebenarnya, kenapa dia datang dan mengamuk disini.?" Kata Kenn dengan tatapan tajam.


"SEMUA PRAJURIT BERSIAPLAH BERTEMPUR." Teriak Kenn dengan keras.


Semua prajurit yang ada disana langsung berdiri dan bersiap-siap. Dalam beberapa detik saja, semua prajurit disana sudah bergerak keposisinya masing-masing.


"Siapa yang menyerang.? Apa mereka prajurit Norland.? Ini tidak mungkin, bahkan mereka sedang ketakutan jika berperang dengan kita." Kata Kenn dalam hati.


Lalu, tubuh Leon terlihat dari kejauhan, ia berjalan sambil menyambarkan petir kearah gerbang yang dibangun oleh prajurit Forlsa.


"Siapa dia.? Hanya satu orang.?" Kata Kenn dengan terkejut.


"Chikkh, mereka sedang bermain-main." Kata Kenn dengan kesal.


Lalu. DEEP. Suara Leon yang tiba-tiba muncul di depan Kenn.


"Hee.?" Suara Kenn yang terkejut.


"Siapa kau.?" Tanya Kenn.


"Tidak perlu memperkenalkan diri, aku sudah mendapatkan alasan kalian." Kata Leon dengan tatapan marah.


"Apa maksudmu.?" Kata Kenn sambil menarik pedang dari sarungnya.


GLEPP. Suara Leon yang memegang pedang milik Kenn. Lalu, TRANG. Suara pedang milik Kenn yang retak dan pecah di gengaman Leon.


"Eeeh.?" Kata Kenn dengan sangat terkejut.


"Kau tidak perlu mengancamku, kalian semua akan mati disini." Kata Leon dengan serius.


Tiba-tiba, awan mendung mulai berkumpul di atas mereka semua, dan di ikuti dengan badai petir di sekitarnya.


"Siapa sebenarnya orang ini.? Tidak kusangka, dia bisa mematahkan pedangku." Kata Kenn dengan kesal.


"Aku tidak mau basa-basi lagi, langsung saja." Kata Leon sambil mengangkat tangan kirinya.


Lalu, ribuan tombak emas raksasa keluar dari balik awan.


"Haaa.? Apa itu.?" Kata Kenn dengan sangat terkejut.


"Glegg, ituu." Kata salah satu prajurit disana dengan sangat terkejut.


Semua orang disana benar-benar sangat terkejut dan ketakutan melihat ribuan tombak emas di atas mereka.


"Apa maumu.?" Tanya Kenn.

__ADS_1


"Sudah aku katakan, aku sudah mendapatkan alasan kalian. Dan aku tidak ingin berbasa-basi lagi." Jawab Leon.


"Apa maksudmu.?" Tanya Kenn lagi.


"Hem, maksudku adalah kalian semua akan mati." Kata Leon sambil menurunkan tangan kirinya.


SWOSSH SWOSH SWOOSH. Suara ribuan tombak emas yang terjatuh bergantian.


"Heee.? Hentikan itu, hentikan sekarang juga." Kata Kenn dengan sangat panik.


"Sudah terlambat." Saut Leon.


BREDOM, BREMRRR, DOOMMRR. Suara hantaman tombak emas yang menghantam tempat camp prajurit Forlsa.


"Haaa.? Ini. Hee.? Semuanya hancur dengan mudah." Kata Kenn sambil menoleh ke segela arah sambil melihat hantaman tombak emas yang menghancurkan seluruh tempat camp bersama prajuritnya.


"Hentikan, hentikan, aku mohon hentikan." Kata Kenn dengan panik.


"Apa kau akan berhenti jika salah satu warga disana meminta kalian berhenti.?" Tanya Leon.


"Hee.?" Suara Kenn yang terkejut.


DROMRRR. Suara hantaman tombak terakhir, dan semua prajurit disana tewan mengenaskan, bahkan ada tubuh prajurit yang hancur berantakan.


Lalu. BLARRR. Suara api yang membakar mayat-mayat prajurit Forlsa disana. Dan Kenn hanya terdiam mamatung sambil melihat area camp prajurit yang terbakar.


"Seperti inilah yang kalian lakukan kepada desa ini. Apa kau mengerti rasanya.?" Tanya Leon.


"Glegg, aaah." Suara Kenn yang tercengang dan sangat ketakutan.


"Aku yakin, para warga disana sudah memohon padamu untuk berhenti, dan sekarang kau melakukannya juga didepanku. Tapi apa kau berhenti waktu itu.? Kau justru membunuh mereka semua dan menumpuk mayat mereka disana, lalu kau membakarnya." Kata Leon dengan kesal.


"Bajingan seperti kalian harus dibasmi." Kata Leon dengan tatapan tajam.


"Ma, ma, maafkan a, aku Tuan." Kata Kenn dengan sangat ketakutan.


"Apa kau memaafkan mereka yang meminta maaf padamu.? Hem, tentu saja tidak." Kata Leon


TRANG. Suara pedang milik Leon yang di tarik dari sarungnya.


"Hee.?" Suara Kenn dengan terkejut, lalu tubuhnya terjatuh kebawah dan merangkat mundur.


"Kau bahkan sangat ketakutan sekarang, inilah yang dirasakan oleh warga desa disana." Kata Leon sambil berjalan menghampiri Kenn yang merangkat mundur.


Lalu, Kenn pun berdiri dan berlari menjauh dari Leon. "Hiiiii." Suara Kenn sambil berlari sekencang-kencangnya.


"Hem, bahkan kau sampai berlari menjauh dariku." Kata Leon dengan kesal.


DEEP. Suara tubuh Leon yang tiba-tiba berada di depan Kenn. "Haaa.?" Suara Kenn yang terkejut.


"Matilah." SRAAK. Suara tebasan pedang yang memenggal kepala Kenn. BUK. Suara kepala yang terjatuh ketanah.


SLASH SLASH TRING. Suara pedang Leon yang di putar-putar, lalu di masukkan kedalam sarungnya.


"Hem, pemandangan ini sangat mengerikan, sampai aku sendiri gemetar melihatnya." Kata Leon sambil melihat lihat sekitarnya.


Lalu, ia pun berjalan menuju kedesa dan mengirimkan surat kepada Klain.


.

__ADS_1


__ADS_2