
[Akademi Rostem]
Terlihat, Leon sedang menabrak pangeran dari kerajaan lain. Pangeran itu bernama William Miseri dari Kerajaan Neverley.
"Melihat kemana kau pecundang." Kata William dengan kesal.
"Ah, aku tidak sengaja menabrakmu. Maafkan aku." Kata Leon sambil berjalan melewati William.
Tiba-tiba, dia dihadang oleh 5 orang disana. "Kau tidak bisa pergi begitu saja pecundang." Kata Roy salah satu penjaga pangeran.
"Kau harus meminta maaf dengan benar." Kata Hilman, salah satu penjaga pangeran.
"Berlututlah pecundang, dan minta maaf dengan benar." Kata Seiko salah satu bangsawan dari kerajaan Neverley.
"Ada apa dengan kalian.? Aku sudah meminta maaf padanya." Kata Leon.
"Kau belum melakukannya dengan benar, dasar pengemis." Kata Gorge. Salah satu bangsawan dari kerajaan Nerverley.
"Lakukan dengan benar, dan kami akan membiarkanmu pergi." Kata Jo Dante salah satu bangsawan dari kerajaan Neverley.
"Hem. Kenapa aku harus melakukan itu?." Tanya Leon.
"Apa yang kau katakan pecundang. Apa kau tidak tau, siapa aku sebenarnya." Kata William dengan marah.
"Aku tidak ingin tau." Saut Leon.
"Bajingan kau." Kata William sambil mengepalkan tangannya.
"Hee. Kau bahkan tidak mengenal kami.? Sangat menarik. Bahkan semua orang di seluruh ibu kota menegenal kami." Kata Hilman dengan serius.
"Aku tidak peduli, biarkan aku pergi." Kata Leon.
"Apa kau tau, Kita sudah pernah pergi ke medan perang secara langsung. Jadi berhati-hatilah dengan perkataanmu itu." kata Roy
"Cepat minta maaf padaku." kata William dengan marah.
"Hem. Baiklah. Maaf." Kata Leon. Lalu ia pun berjalan pergi dari sana.
"Kauu, bajingan." Kata William sambil mengeluarkan aura hijau dari tubuhnya.
"Emm.? Aku sudah meminta maaf padamu. Kenapa kau marah.?" Tanya Leon sambil berhenti seketika.
"Kau akan mati disini." Kata Roy dengan tersenyum licik.
"Sudahlah, kau akan berakhir disini pecundang." Kata Hilman
"Aaah, aku tidak bisa melakukan apa-apa dengannya." Kata penjaga Akademi yang melihat William.
Lalu, banyak sekali murid-murid yang berkumpul dan melihat dari dalam Akademi.
"Pak penjaga, kenapa anda diam saja disitu." Kata Rara anak kedua dari Klain yang kebetulan ada disana.
"Ah, Putri Rara, anda lihat sendiri disana, itu adalah pangeran dari kerajaan Neverley, dia mengusir pengemis yang datang kesini." Kata penjaga.
"Heh, itu hanya alasanmu saja pak. Meskipun mereka ada di luar Akademi, seharusnya anda punya hati kepada pengemis itu." Kata Rara sambil berjalan ke arah William.
...
"Lihat, itu William. Keren sekali. Aaaah." Kata salah satu murid perempuan disana.
"Orang itu pasti akam mati ditangannya." Kata murid lainnya.
"Itu kah aura tekanan jiwa.? Baru pertama kali aku melihatnya." Kata Murid lainnya.
"Ah, benar. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengunakan kekuatan itu. Bahkan di Akademi ini, hanya ada 12 dari 32 ribu Murid yang bisa mengunakan kekuatan itu." Kata murid lainnya yang menjelaskan.
...
Ditempat William.
"Apa kau pernah merasakan tekanan jiwa.? Kau sangat beruntung kali ini bisa merasakan tekanan jiwa dariku." Kata William.
William pun menekan jiwa Leon dengan sekuat tenaga, ia memang sengaja ingin membunuh Leon di depan para murid yang melihatnya.
__ADS_1
Tapi Leon hanya terdiam tak bergerak sama sekali di sana.
"Hehe, apa kau ketakutan sekarang.? Tapi itu sudah terlambat." Kata William dengan tersenyum licik sambil mengeluarkan auranya yang semakin kuat.
"Hem. Apa seperti ini yang kau maksud dengan tekanan.?" Tanya Leon.
"Haa.?" Suara William yang terkejut. "Kenapa kau masih bisa bicara, sudah jelas aku sedang menekanmu." Kata William dengan terkejut.
"Ada apa dengan orang itu.?" Kata Roy yang melihat Leon sedang berdiri santai.
"Pangeran, apa kau sedang bermain-main.?" Tanya Jo Dante dengan terkejut.
"Diamlah kalian semua." Kata William sambil berjalan menghampiri Leon.
"Pecundang, apa kau mengunakan trik kotor.?" Tanya William dengan tatapan kebencian.
"Apa maksudmu.?" Tanya Leon kembali.
"Bajingan, trik itu tidak akan mempan padaku." Kata William yang semakin marah.
"HOAAAAA." Teriak William sambil mengeluarkan aura hijau kesegala arah.
Aura itu tidak bisa dikendalikan oleh William. Bahkan semua murid yang melihatnya disana, hampir terkena efek tekanan jiwa.
"Eeeh.? Dia tidak bisa mengendalikan auranya." Kata Leon sambil melihat William yang marah.
"Mati kau." Kata William sambil meloncat dengan mengerahkan tangannya ke arah kepala Leon.
BUOK. Suara hantaman tangan William yang di hentikan Rara.
"Hentikan itu William." Kata Rara dengan tatapan yang tajam.
"Haa.?" Suara William yang kaget.
"Berhentilah, atau kau akan mendapatkan hukuman." Kata Rara.
"Pangeran, komite keamanan sudah disini." Kata Roy dengan panik.
"Huh, huh, huh." Suara William yang terengah-engah sambil melihat Rara dengan tatapan yang tajam.
"Pulang lah kerumah pecundang, dan mintalah susu pada ibumu." Kata William.
"Haa." Suara Leon terkejut.
"Hahaha, dia seorang gembel, pasti ibunya seorang pelacur." Kata Hilman dengan tertawa.
"Berapa harganya, aku ingin membelinya, hahahaha." Kata Roy dengan tertawa sambil mengikuti William.
"Ibunya pasti bajingan yang sangat kotor." Kata William sambil berjalan kearah gerbang masuk.
"Hem." Suara Rara yang melihat William bersama dengan teman-temannya.
"Apa kau baik-baik saja kak." Tanya Rara kenapa Leon.
Namun Leon hanya terdiam disana, dan tangannya sudah mengepal dengan sangat keras. Perlahan-lahan Aura kegelapan keluar dari matanya.
Lalu, "AAAAArrgh." Suara William yang kesakitan karena tekanan jiwa. Bahkan tubuhnya sampai terjatuh dengan sendiri.
"Haa.?" Suara teman-teman William yang terkejut.
"Hee.? Apa yang sudah terjadi.?" Kata Rara dengan terkejut sambil melihat William yang kejang-kejang ditanah.
Semua murid pun benar-benar sangat terkejut dan terkaget dengan kejadian itu. Lalu, Rara pun menoleh kebelakangnya dan melihat tubuh Leon yang sudah di penuhi aura kegelapan.
"Glegg, aaah." Suara Rara yang ketakutan sambil menelan ludah, bahkan tubuhnya mulai gemetar.
"Ii, ii, ituuu. HIIIII." Suara penjaga gerbang yang ketakutan, bahkan tubuhnya sampai terjatuh ketanah dengan sendirinya.
Roy, Hilman, dan lainnya hanya tercengang melihat Leon dengan tatapan yang sangat tajam.
"Si, si, siapa dia sebenarnya." Kata Hilman yang ketakutan.
"Haa, aa, aa." Suara Roy yang ketakutan.
__ADS_1
...
Duruang Direktur.
Terlihat, Klain sedang berbincang-bincang disana bersama Henry dan Rachel. Lalu, mereka bertiga merasakan aura yang sangat kuat dari luar Akademi.
"Haa, Aura Ini." Kata Klain dengan terkejut.
"Aura milik siapa ini, kuat sekali." Kata Henry yang terkejut.
"Aura ini milik Leon Henry, aku akan pergi memeriksannya.?" Kata Klain dengan terkejut, lalu dia pun menghilang dari sana.
"Klain, Klain.?" Teriak Henry.
"Apa Leon sudah ada disini Tuan.?" Tanya Rachel.
"Sepertinya begitu. Mungkin sedang terjadi sesuatu di depan gerbang. Aku akan pergi kesana Tuan Putri." Kata Henry dengan serius. Lalu ia pun menghilang dari sana.
"Tuan, Tuan. Heeeeh(mengehela nafas). Apa yang sebenarnya terjadi.?" Kata Rachel sambil berlari keluar ruangan.
...
Didepan gerbang masuk.
Semua murid yang ada disana sangat ketakutan melihat Leon. Bahkan tubuh mereka gemetar dan menelan ludah berkali-kali.
"Aaarrgh. Uhook." Suara William kesakitan, dia juga berkali-kali memuntahkan darah dari mulutnya.
"Aa, aa." Suara Hilman dengan tercengang.
Lalu, dalam beberapa detik saja, Klain sampai disana. DEEP. Suara Klain yang datang dengan tiba-tiba di belakang Leon.
Klain melihat Leon dengan marah sambil berjalan ke arah William.
"Ayaaaah." Kata Rara yang ketakutan dengan berlinang air mata.
"Rara, apa yang terjadi.?" Tanya Klain dengan panik.
"Ayaah, orang itu mengamuk. Hiks." Kata Rara dengan menangis.
"Leoon.?" Kata Klain dengan tercengang.
...
"Haa. Panglima kah.?" Kata Roy dengan ketakutan.
"Tolong kami Panglima, tolong kami." Teriak Hilman yang ketakutan.
"LEOON, LEOON." Teriak Klain memanggil Leon.
Lalu, Leon pun menoleh kebelakang dan melihat Klain ada disana sambil memeluk putrinya. Dan perlahan-lahan, aura kegelapan yang keluar dari tubuhnya menghilang.
"Klain.?" Kata Leon.
"Hentikan itu Leon, kau bisa membunuhnya." Kata Klain sambil menghampirinya.
"Dia sudah menghina ibuku Klain. Aku tidak tahan." Kata Leon dengan tatapan yang tajam.
"Haaa." Kata Klain dengan kesal sambil menghampiri William.
"Apa ayah mengenal orang itu.?" Kata Rara dalam hati.
Lalu, Henry pun tiba-tiba datang di depan Klain. "Jangan lakukan itu Klain, dia adalah muridku." Kata Henry dengan tatapan tajam.
"Hiiii." Suara William yang ketakutan sambil merangkat kebelakang.
"Dia sudah bicara sembarangan Henry." Kata Klain yang berhenti di depan William.
"Berhentilah, atau kau akan mendapatkan masalah." Kata Henry.
"Hem." Suara Leon yang memejamkan matanya sambil menarik nafas panjang.
"Sudahlah Klain. Aku sudah tenang sekarang. Sebaiknya aku pergi saja dari sini." Kata Leon sambil berjalan menjauh.
__ADS_1
"Hee. Leon, Leon tunggu." Kata Klain sambil berlari mengejar Leon.
.