The Darkness King Return

The Darkness King Return
Jaga Perasaanku.


__ADS_3

[Akademi Rostem]


Terlihat Rachel sedang terdiam sambil memegangi baju Leon. Dan Leon terkejut dengan sikap Rachel.


"Apa yang kau lakukan.?" Tanya Leon.


"Hiks, Leon, Hiks." Kata Rachel yang tiba-tiba menangis.


Suara tangisan Rachel sampai di dengar oleh semua murid yang ada di perpustakaan.


"Haah. Ini gawat." Kata Leon dalam hati.


"Maafkan aku Leon. Aku ti..." Kata Rachel yang tiba-tiba berhenti bicara.


"Jangan menangis disini Rachel. Kita pindah ketempat lain." Kata Leon sambil menutupi mulut Rachel.


Lalu, Leon pun membawa Rachel keatas gedung dengan tergesa-gesa. Dan Rachel hanya pasrah di tuntun Leon.


"Sepertinya disini tidak ada orang." Kata Leon sambil melepaskan tangannya dari mulut Rachel.


"Leon. Aku minta maaf padamu." Kata Rachel sambil meneteskan air mata.


Namun Leon hanya terdiam disana sambil menundukkan kepalanya.


"Hiks, aku tau kau marah padaku. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Kata Rachel dengan sangat sedih.


"Hem, Rachel, kau tidak bersalah, jadi kau tidak perlu meminta maaf. Aku yang tidak mengerti perasaanmu." Kata Leon.


"Hiks, aku sudah mengacaukannya Leon. Bahkan kau menghindariku selama 1 minggu." Kata Rachel dengan sangat sedih.


"Tidak Rachel, Kau tau, aku sangat senang mengenalmu. Aku tidak marah padamu, maafkan sikapku, aku hanya tidak berani menemuimu." Kata Leon.


"Benarkah.?" Tanya Rachel dengan berlinang air mata.


"Ah, jadi berhentilah menangis." Jawab Leon.


"Hiks." Suara Rachel sambil menghapus air matanya.


"Itu lebih baik. Jangan menangisiku Rachel, aku tidak pantas kau tangisi." Kata Leon.


"Aku tidak tau Leon. Aku tidak tau." Kata Rachel sambil mengelap air matanya.


"Rachel, kau adalah Putri Raja, dan kau adalah ketua Lemu. Jangan tunjukkan kelemahanmu pada orang lain." Kata Leon.


"Ini pertama kalinya aku seperti ini Leon. Aku sendiri tidak tau, kenapa aku jadi seperti ini." Saut Rachel.


"Ah, Benarkah.?" Tanya Leon.


"Aku hanya merasa tidak ingin jauh darimu. Aku hanya ingin setiap hari melihatmu, itulah alasanku membayarmu waktu itu." Kata Rachel.


"Eee.? Jadi itu alasanmu.? Kenapa kau tidak menjelaskannya padaku.?" Tanya Leon.


"Aku tidak berani mengakuinya Leon. Kau adalah seorang laki-laki, harusnya kau sedikit peka padaku." Jawab Rachel.


"Aku tidak tau itu Rachel. Jika kau hanya ingin melihatku, kau bisa melihatku setiap hari disini tanpa perlu membayarku." Kata Leon.


"Aku tau itu Leon. Tapi ini hal yang berbeda, kau tidak akan mengerti." Saut Rachel.


"Hem, ini terlalu rumit. Aku tidak mengerti apa maksudmu." Kata Leon.


"Sudahlah, kau tidak akan mengerti meskipun aku sudah menjelaskannya padamu." Saut Rachel yang kesal.


"Kau tau Rachel, kita baru saja kenal disini, dan aku berangkat dari dalam gua tanpa ada orang satu pun disana. Jadi aku perlu beradaptasi lebih lama disini." Kata Leon.


"Aku sudah tau itu Leon." Saut Rachel.


"Jika kau tau, seharusnya kau bisa mengerti." Kata Leon.


"Heeeh (menghela nafas). Maukah kau menjadi anggota Lemu.? kau bisa bertemu denganku setiap hari, dan menyelesaikan tugas bersama-sama." Kata Rachel.

__ADS_1


"Apa itu akan membuatmu lebih baik.?" Tanya Leon.


"Leon, aku sudah bilang padamu, aku hanya ingin bersamamu, hanya itu saja." Jawab Rachel.


"Kau benar-benar menganggapku seperti kekasihmu." Saut Leon.


"Heeee.?" Suara Rachel dengan wajah memerah. "Benarkah.? Bukan itu yang aku maksud." Kata Rachel yang malu.


"Kau bahkan menangis dua kali didepanku. Apa kau yakin ingin bersamaku.?" Tanya Leon.


Rachel pun hanya terdiam tak berkata apapun. Lalu ia menundukkan kepalanya.


"Rachel, kita masih bisa berteman, jika kau membutuhkanku aku akan membantumu. Jadi berhentilah bersedih." Kata Leon.


"Leon, akuu." Kata Rachel sambil *******-***** tangannya.


"Hem, aku tidak akan meninggalkanmu Rachel. Kau adalah teman keduaku setelah Klain." Kata Leon sambil mengelus kepala Rachel.


"Apa yang harus aku katakan sekarang, meskipun aku baru mengenalnya, tapi hati ini tidak bisa berbohong. Aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya." Kata Rachel dalam hati sambil menundukkan kepalanya.


"Rachel.?" Kata Leon yang binggung melihat Rachel.


Tiba-tiba Rachel memeluk Leon dengan sangat erat. "Eee, Rachel, Rachel. Apa yang kau lakukan." Kata Leon.


"Biarkan aku memelukmu sebentar." Kata Rachel dengan serius.


"Heee.?" Suara Leon yang terkejut mendengar Rachel dengan sangat serius.


"Glegg, ini." Kata Leon dalam hati sambil menelan ludah.


"Leon, meskipun kau tidak mengerti perasaanku, setidaknya biarkan aku memelukmu." Kata Rachel sambil memeluk Leon semakin erat dengan tulus.


"Hangat, ini sangat hangat. Perasaanku sangat tenang seperti ibu sedang memelukku. Perasaan ini, kenapa aku merasa sangat nyaman. Sudah berapa lama aku tidak merasakan kenyamanan seperti ini." Kata Leon dalam hati dengan tercengang.


"Emm, terimakasih Leon, aku sudah merasa tenang sekarang." Kata Rachel sambil melepaskan pelukkannya.


"Leon. Kau kenapa.?" Tanya Rachel dengan terkejut.


"Hee. Ah, maaf Rachel." Jawab Leon sambil menghapus air matanya.


"Ada apa Leon, apa aku menyakitimu.?" Tanya Rachel.


"Hem (tersenyum). Tidak Rachel. Terimakasih." Kata Leon tersenyum sambil mengelus kepala Rachel dengan berlinang air mata.


"Apa kau baik-baik saja.?" Tanya Rachel.


"Ah, aku merasa lebih baik sekarang." Kata Leon dengan tersenyum tulus pada Rachel.


"Eeeh. Jangan lakukan itu Leon. Tidaaak." Kata Rachel sambil memejamkan mata dan menundukkan kepala.


"Apa Rachel. Jangan lakukan apa.?" Tanya Leon yang kebingungan.


"Jangan tersenyum seperti itu padaku." Jawab Rachel sambil memejamkan mata dan mengangkat tangannya kearah Leon.


"Hee. Kenapa.?" Tanya Leon. "Aku bisa pinsan Leon." Jawab Rachel.


"HEEEE. Benarkah.?" Kata Leon yang terkejut.


"Hihihi. Tidak Leon, aku hanya bercanda. Hahaha." Kata Rachel yang tertawa bahagia.


"Eeee.?" Suara Leon kebingungan sambil melihat Rachel tertawa. "Hem (tersenyum). Dia benar-benar sangat cantik, aku merasa senang melihatmu tertawa Rachel." Kata Leon dalam hati dengan tersenyum.


"Terimakasih Leon. Aku sangat senang sekarang." Kata Rachel dengan tersenyum tulus kepada Leon.


"Eeeeee." Suara Leon dengan wajah memerah sambil melihat Rachel.


"Hehe. Wajahmu memerah Leon." Kata Rachel yang mengoda.


"Eeh, benarkah.? Aah itu, itu hanya kebetulan." kata Leon.

__ADS_1


"Hemmm. (tersenyum). Kau sangat mencurigakan Leon." Kata Rachel dengan tersenyum.


"Ahaha, benar, itu hanya kebetulan." Kata Leon


"Kau tidak bisa berbohong Leon. Beritahu aku." Kata Rachel dengan tersenyum.


"Eeeh, sepertinya kita harus pergi dari sini." Kata Leon yang ingin menghindar.


"Hem, kau harus memberitahuku Leon. Ada apa dengan wajah merahmu itu.?" Tanya Rachel dengan serius.


"Aku tidak tau Rachel, berhentilah melihatku seperti itu." Jawab Leon.


"Emm. Sepertinya kau tertarik denganku." Kata Rachel.


"Eeeeh, benarkah.?" Tanya Leon yang polos.


"Hehe, itu benar Leon. Kau bahkan tidak bisa membohongiku." Kata Rachel dengan tersenyum.


"Ituu, emm. Aku hanya merasa nyaman saat ada disampingmu. hanya itu saja." Kata Leon dengan malu.


"Hihihi. Benarkah. Aku sangat senang Leon." Kata Rachel sambil memegang kedua tangan Leon.


DEG DEG. DEG DEG. Suara jantung Leon yang berdetak sangat kencang.


"Apa ini.? aah, perasaan ini jauh lebih berbeda. Aku merasa ingin bersamanya untuk selama-lamanya. Kenapa aku ini.?" Kata Leon dalam hati.


"Rachel, Rachel, Rachel." Suara yang ada di kepala Leon. "Aku benar-benar sudah gila." Kata Leon dalam hati.


"Kau kenapa Leon.? Kenapa kau melihatku seperti itu.?" Tanya Rachel.


"Kau, kau sangat cantik sekali Rachel." Kata Leon yang sebenarnya tidak sadar.


"Uuh, Gawaat, kenapa aku bicara sembarang." Kata Leon dalam hati dengan menyesal.


"Hihihi. Aku memang sudah cantik Leon. Apa aku sudah ada disini.?" Tanya Rachel sambil menunjuk ke dada Leon.


"Kau juga ada di dalam otakku." Jawab Leon.


"Heeee. Benarkah.?, apa itu benar Leon.?" Tanya Rachel dengan sangat bahagia.


"Ah. sepertinya aku sudah gila." Jawab Leon.


"Aaaah, Leoon." Kata Rachel sambil memeluk Leon lagi.


"Lepaskan Rachel, jangan lakukan ini." Kata Leon.


"Hee.? Bukankah kau menyukainya.?" Tanya Rachel.


"Jika kau memelukku, justru aku tidak ingin melepasnya." Kata Leon sambil membalas pelukan Rachel.


"Ini benar-benar sangat nyaman, aaah, perasaan ini. Aku merasa sudah menemukan harta karun yang sangat berharga." Kata Leon dalam hati.


"Terimakasih Leon, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Mungkin ini adalah takdir." Kata Rachel sambil memeluk Leon semakin erat.


"Apa kau tidak apa-apa melakukan ini.? Kau seperti tidak punya harga diri sebagai Tuan Putri." Kata Leon.


"Aku tidak punya harga diri di depanmu Leon. Sebaiknya kau jadi kekasihku saja." Kata Rachel.


"Eeeeh. Itu terlalu jauh untukku Rachel. Kau adalah Putri Raja, dan reputasimu sangat tinggi disini. Lalu aku ini siapa.? Aku tidak bisa dibandingkan denganmu." Kata Leon yang merendah.


"Statusmu jauh lebih tinggi dari seorang Raja Leon. Aku tidak akan memaksamu lagi, tapi tolong dengarkan aku." Kata Rachel.


"Apa itu Rachel.?" Tanya Leon.


"Jaga perasaanku, jangan mengoda wanita lain didepanku, apa lagi di belakangku. Aku tidak akan melarangmu untuk berteman dengan siapapun, tapi jangan mengoda siapapun. Aku juga akan menjaga perasaanmu. Jadi tolong mengertilah." Jawab Rachel sambil memeluk Leon.


"Emm (tersenyum). Baiklah Rachel." Kata Leon dengan tersenyum sambil mengelus kepala Rachel.


.

__ADS_1


__ADS_2