
[Ibu Kota]
Terlihat Leon sedang melihat para prajurit yang sedang mencari seseorang disana.
"Hem, bodo amat dengan mereka." Kata Leon sambil berdiri dan menghampiri pedagang makanan yang pernah ia datangi sebelumnya.
"Paman, aku sudah punya uang sekarang. Apa aku bisa membeli makanan ini.?" Tanya Leon kepada pedagang itu.
"Hem. Berapa uang yang kau punya.?" Tanya pedagang itu kembali.
"Hehe, ini Paman." Kata Leon sambil menunjukkan beberapa koin.
"Ah, baiklah. Ini makanan untukmu." Kata pedangan itu.
"Hee.? Kenapa hanya satu tusuk.?" Tanya Leon dengan terkejut.
"Bocah. Uang milikmu hanya cukup untuk membeli ini. Kau tidak bisa menawar denganku." Jawab pedagang itu.
"Apa kau menipuku.?" Tanya Leon.
"Haaaa.? Siapa yang menipumu. Kau sudah membeli makanan ini, dan pergilah dari sini." Kata pedagang itu.
"Aku memang tidak tau dengan jumlah uang ini. Tapi aku bisa merasakan kau sedang menipuku." Kata Leon dengan kesal.
"Bocah, disini banyak sekali pasukan kerajaan. Aku bisa berteriak dan meminta tolong kepada mereka untuk menangkapmu." Kata pedagang itu.
"Orang-orang ini sangat menyebalkan." Kata Leon sambil berjalan menjauh dari sana.
"Hehe. Aku untung banyak. Dasar pengemis." Kata pedagang itu.
...
Ditempat Jendral Warren berada.
Sudah beberapa jam berlalu, namun para prajuritnya masih belum menemukan orang bernama Leon, bahkan mereka berkali-kali membawa orang yang salah di depan Warren.
"Sepertinya orang itu tidak ada disini." Kata Warren sambil melihat prajuritnya.
"OPERASI SELESAI." Teriak Warren kepada prajuritnya.
"Kita lanjutkan besok pagi." Kata Warren sambil menaiki kuda.
"Siap laksanakan." Kata semua prajurit.
Mereka semua pun kembali ke pos mereka masing-masing. Dan Leon masih sangat kesal dengan pedagang makanan disana. Bahkan makanannya masih belum di makan sama sekali.
"Apa dia sudah sering melakukan perdagangan seperti itu.? Tempat ini memang sangat megah dan sangat luas, tapi orang-orang disini sangat serakah." kata Leon yang kesal.
"Heem, sebaiknya aku memberikan makanan ini pada orang lain." Kata Leon.
Ia pun mencari pengemis di sekitar sana, lalu ia melihat ada kakek-kakek yang sudah tua duduk di samping taman bungah.
"Ah, dia terlihat seperti kakekku. Hem, mungkin makanan ini bisa membuatnya kenyang." Kata Leon sambil menghampiri kakek itu.
"Permisi Tuan. Apa aku menganggumu.?" Tanya Leon.
"Ah, ada apa nak.?" Tanya kakek itu kembali.
"Aku ada sedikit makanan yang tersisa, apa Anda mau.?" Tanya Leon sambil memberikan makanannya kepada kakek itu.
"Terimakasih nak, terimakasih." Kata kakek itu sambil mengambil makanan yang di berikan Leon.
"Hehe, sama-sama Tuan." Kata Leon sambil berjalan menjauh dari sana.
"Tunggu nak. Siapa namamu.?" Tanya kakek itu kepada Leon.
"Ah, namaku Arjun Leon Tuan. Hehe." Kata Leon sambil tersenyum. Lalu ia pun pergi dari sana.
KROOAAK. Suara perut Leon yang kelaparan. Bahkan kakek itu sampai mendengarnya.
"HAAA. DIAMLAAAH." Teriak Leon dengan malu.
"Hem, anak itu benar-benar sangat baik, padahal dia sendiri sedang kelaparan." Kata Kakek itu.
__ADS_1
Tiba-tiba, ada seseorang yang datang menemui kakek itu.
"Yang Mulia, ini saatnya kita kembali." Kata penjaga kerajaan kepada kakek itu.
"Ah, baiklah. Kita pergi dari sini." Kata kakek itu.
...
Ditempat Leon berada.
"Uuuh. Sebaiknya aku tidur disini saja." Kata Leon sambil terbaring di sebelah taman. Lalu ia pun tertidur dengan sangat pulas disana.
...
Pagi harinya. Terlihat Klain dan pasukannya sudah sampai di gerbang ibu kota.
"Hormat kami Panglima." Kata semua prajurit kerajaan disana.
"Warren, apa kau masih belum menemukan orang bernama Arjun Leon.?" Tanya Klain.
"Maafkan kami Panglima. Kami sudah berusaha mencarinya kesemua tempat di seluruh ibu kota." Kata Warren.
...
"Hem, apa mungkin dia sudah sampai di Akademi.?" Kata Klain dalam hati.
...
"Baiklah Warren, kembali bertugas seperti biasanya, aku akan pergi ke Akademi." Kata Klain.
"Siap laksanakan Panglima." Kata Warren.
Klain pun pergi ke Akademi bersama dengan beberapa prajuritnya. Dan semua orang yang ada di kota langsung berbaris di pingiran jalan.
Dan Leon pun terbangun dari tidurnya. "Berisik sekali." Kata Leon yang masih memejamkan matanya.
...
Klain masuk kedalam Akademi melewati pintu belakang, karena jika ia melewati gerbang depan, itu bisa menanggu para murid yang sedang belajar.
Lalu, dia pun turun dari kudanya dan bergegas masuk kedalam gedung Akademi.
"Aku harus segera menemui Henry." Kata Klain sambil berlari.
...
Di ruang Direktur.
Terlihat, Rachel sedang menghadap Henry untuk melaporkan beberapa program kerja yang sudah selesai di laksanakan.
"Tuan Putri, laporanmu saya terima. Terimakasih atas kerja kerasnya." Kata Henry sambil menutup buku laporan.
"Sama-sama Tuan. Kalau begitu aku undur diri." Kata Rachel.
Tiba-tiba, BROK. Suara pintu yang dibuka dengan keras.
"HAAAAAA." Teriak Henry dan Rachel yang terkaget.
"Klain, kau membuatku terkaget." Kata Henry.
"Huh, huh, maafkan aku Henry, ini benar-benar sangat darurat." Kata Klain sambil masuk kedalam ruangan.
"Ada apa Tuan.?" Tanya Rachel penasaran.
"Ah, Tuan Putri, kau juga ada disini." Kata Klain yang baru menyadarinya.
"Ada apa Klain, jelaskan dengan tenang." Kata Henry.
"Henry, apa Leon sudah datang kesini.?" Tanya Klain dengan serius.
"Apa maksudmu.? Dia belum datang kesini." Jawab Henry.
"Haa.? Lalu dimana dia sekarang.?" Tanya Klain dengan terkejut.
__ADS_1
"Aku sendiri ingin tau." Jawab Henry.
"Aku sudah memerintahkan komite keamanan di seluruh Akademi Tuan Klain, tapi aku masih belum mendapatkan laporan dari mereka." Kata Rachel.
"Dimana dia sekarang.? bahkan kami juga sudah mencarinya diseluruh ibu kota." Kata Klain dengan panik.
"Apa yang sudah terjadi Klain.?" Tanya Henry.
"Henry, kau sendiri sudah tau, kalau aku di perintahkan untuk pergi ke desa disebelah utara kerajaan. Karena beberapa pasukan pengintai melaporkan, ada sejumlah batalion kerjaan lain sedang bergerak kesana." Kata Klain.
"Lalu, kenapa kau disini.?" Tanya Henry.
"Justru aku ada di sini karena desa itu sudah aman." Jawab Klain.
"Apa maksudnya Tuan.?" Tanya Rachel.
"Tuan Putri, saat aku sampai disana, beberapa rumah warga sudah hancur, dan mayat warga yang terbunuh sudah dikuburkan. Desa itu menjadi tempat pembantaian oleh pasukan kerajaan lain." Jawab Klain.
"Lalu, apa kau kabur dari sana.?" Tanya Henry.
"Sudah aku bilang, saat aku sampai disana, semua warga yang terbunuh sudah dikuburkan. Artinya, pembantaian disana sudah selesai sebelum aku datang. Dan yang melawan puluhan ribu prajurit itu adalah Arjun Leon seorang diri." Jawab Klain.
"Haa." Suara Rachel terkejut.
"Apa kau yakin Klain.?" Tanya Henry.
"Aku sangat yakin. Pertama, tidak ada seorang pun yang bisa melawan puluhan ribu prajurit seorang diri selain dia. Kedua, dia meningalkan benda komunikasi yang aku berikan padanya. Itu membuatku tidak bisa mengirimkan surat padanya." Jawab Klain.
"Glegg. Tidak bisa dipercaya. Apa dia sekuat itu Klain.?" Tanya Henry.
"Dia itu benar-benar sangat kuat Henry." Jawab Klain.
"Lalu, kenapa kau mencarinya di ibu kota.?" Tanya Henry.
"Menurut informasi yang diberikan kepala desa disana. Dia sedang pergi kesini, mungkin dia tersesat di ibu kota." Jawab Klain.
"Kita harus mencarinya Tuan Klain." Kata Rachel dengan panik.
"Aku sudah mencarinya Tuan Putri. Semua pasukanku sudah mencarinya diseluruh ibu kota. Hanya ada satu cara untuk menemukannya." Kata Klain.
"Hee.? Apa itu Tuan.?" Tanya Rachel penasaran.
"Dia harus mengeluarkan auranya." Jawab Klain.
...
Didepan gerbang Akademi Rostem. Beberapa jam berlalu.
"Hoo, jadi ini Akademi Rostem.? Besar sekali tempat ini, bahkan jauh lebih besar dari kota ini." Kata Leon sambil melihat bangunan dari luar gerbang.
"Hee.? Siapa kau bocah.? Disini dilarang mengemis." Kata Penjaga gerbang.
"Ah, maaf Tuan. Aku sedang mencari seseorang disini." Kata Leon.
"Hem.? Siapa yang kau cari disini.?" Tanya penjaga itu.
"Emm namanya adalah Klain." Jawab Leon.
"Sebentar, aku akan mencarikan orang bernama Klain untukmu." Kata Penjaga itu sambil membuka daftar nama di sebuah buku.
Beberapa menit kemudian. "Bagaimana Tuan.?" Tanya Leon penasaran.
"Disini tidak ada murid dan inspektur yang bernama Klain. Jangan bermain-main disini bocah." Kata penjaga itu.
"Aku benar-benar disuruh olehnya untuk pergi ke Akademi Rostem. Bisakah anda membantu saya.?" Tanya Leon.
"Hem, aku sudah mencarinya di daftar nama ini bocah. Dan disini tidak ada murid atau inspektur bernama Klain, apa sudah jelas.? pergilah dari sini." Kata penjaga itu.
"Hem. Baiklah Tuan." Kata Leon yang murung sambil membalikkan badanya.
Lalu. BUK. Suara benturan tubuh Leon dengan salah satu pangeran dari kerajaan aliansi.
.
__ADS_1