The Darkness King Return

The Darkness King Return
Collosium


__ADS_3

[Desa Ellora]


Terlihat, Leon masih pinsan karena pukulan keras dari Dellon.


"Sepertinya sudah selesai." Kata Dellon.


"Jendral, apa kita berangkat sekarang.?" Tanya salah satu kapten disana.


"Apa kalian sudah selesai dengan tugas kalian.?" Tanya Dellon kembali.


"Kami sudah membakar mayat-mayat yang tergeletak Jendral. Lalu bagaimana dengan mayat para prajurit disini.? Tanya Kapten.


"Hem. Tinggalkan saja mereka disini. Tempat ini akan menjadi tempat terlarang setelah ini." Jawab Dellon sambil mengangkat tubuh Leon.


"Mau di bawa kemana bocah itu Jendral.?" Tanya Kapten.


"Aku akan membawanya ke Collosium, dia mempunyai kekuatan yang mengerikan. Bocah ini bisa menjadi ladang uang nantinya." Kata Dellon sambil berjalan menjauh dari sana.


...


Beberapa jam kemudian. Dellon bersama pasukannya berangkat menuju ke Collosium di pingiran ibu kota kerajaan Aldebaren.


"Perjalanan ini membutuhkan waktu 3 hari, catat jumlah pasukan yang masih hidup." Kata Dellon sambil menaiki kuda.


"Siap laksanakan Jendral." Kata kapten sambil melihat tubuh Leon.


Leon di ikat dengan tali dan ditarik mengunakan kuda. Tubuhnya tergores oleh tanah sampai membuatnya terluka dan lecet dimana-mana.


...


Beberapa jam kemudian, Leon pun bangun dari pinsannya, lalu sebuah batu yang cukup besar berada didepannya dan hampir menabrak kepalanya.


"Haa.?" Suara Leon sambil menghidari batu itu.


"Dimana aku iki.?" Kata Leon yang masih ditarik dengan paksa.


"HAAAAA."Teriak Leon yang terkejut.


"Kau sudah bangun bocah.?" Tanya Dellon sambil menungangi kuda.


"Kau, Herrr. Aku akan membunuhmu." Kata Leon dengan marah.


"Kau tidak bisa membunuhku." Kata Dellon sambil menghempaskan tali ke wajah Leon.


SPLAAK. Suara tali yang menghantam wajah Leon. "AAAaaa." Suara Leon yang kesakitan.


Leon pun berdiri dan berlari sambil ditarik oleh kuda.


"Benar begitu, berlarilah." Kata Dellon.


"Kurang ajar kau, bajingaaan." Teriak Leon.


SPLAAK. Suara tali yang menghantam tubuh Leon.


...


Pagi pun tiba. Semua pasukan kerajaan beristirahat di sebuah danau. Lalu Leon duduk di samping kuda yang sedang minum air.


"Apa anak itu tidak akan mengamuk Jendral.?" Tanya Kapten.


"Dia sudah tidak bisa bergerak. Biarkan saja dia disana." Jawab Dellon.


"Apa Anda tidak memberinya makanan.?" Tanya Kapten.


"Heeee.? Hahaha. Aku tidak akan memberinya makanan. Jika dia mati dijalan, berarti dia bukan tambang uang untukku." Jawab Dellon.


Leon hanya menatap mereka dengan penuh kebencian.


"Aku akan membunuh mereka semua. Aku akan membunuhmu." Kata Leon dalam hati.


...


"Baiklah, istirahat sudah selesai. Kita lanjutkan perjalanannya." Kata Dellon sambil menghampiri Leon.


"Kau akan aku uji coba bocah." Kata Dellon sambil menaiki kudanya.

__ADS_1


Lalu mereka pun melanjutkan perjalanannya.


...


Beberapa jam kemudian. KRUOOK. Suara perut Leon. "Huh, huh, huh." Suara Leon yang terengah-engah sambil berlari.


"Aku sudah tidak kuat." Kata Leon dalam hati sambil berlari, bahkan dia sampai menjilat keringatnya sendiri.


"Mereka akan membawaku kemana.?" Tanya Leon dalam hati.


...


Pada malam hari. Terlihat Leon sedang merenung kesakitan dan kelaparan.


"Huh, aku bahkan tidak bisa tidur. Mereka semua bajingan." Kata Leon dalam hati sambil terbaring di bawah bintang-bintang.


"Kakek, ibu, Simon, semua. Hiks. Aku merindukan kalian." Kata Leon dalam hati sambil meneteskan air mata.


...


1 hari pun berlalu.


Terlihat, Leon sudah sangat lemas, bahkan tubuhnya terlihat sangat kurus. Sudah 2 hari lamanya ia berlari tanpa makan dan minum.


"Huh, huh. Kalian akan mendapatkan balasannya nanti." Kata Leon dalam hati sambil terengah-engah.


Raut wajah Leon sangat pucat, baju yang dipakainnya sudah tersobek-sobek. Bahkan lukanya masih mengeluarkan darah. Tapi rasa sakit itu, tidak sebanding dengan rasa sakit dihatinya.


"Berapa umurmu bocah.?" Tanya Dellon kepada Leon.


"Huh, huh," Suara Leon yang menghiraukan pertanyaan Dellon, dan raut wajahnya sudah sangat pucat sekali.


SPLAAK. Suara tali yang menghantam tubuh Leon.


"Uuuh." Suara Leon yang sudah mulai terbiasa dengan cambukan tali yang mengenai tubuhnya.


"Jawab pertanyaanku, atau kau mati." Kata Dellon dengan tatapan tajam.


"Haaa.? Lebih baik aku mati." Jawab Leon dengan lemah.


SPLAAK. Suara tali yang menghantam tubuh Leon.


"Aaarrgh." Suara Leon yang terseret di tanah. Bahkan tubuhnya mengelinding dan melayang, tubuhnya tergores dan membentur tanah berkali-kali.


"Aku akan menyiksamu sebelum kau mati." Kata Dellon dengan kesal.


"Kecuali kau bisa bertahan sampai besok." Kata Dellon.


"Uuh, Arrrhg" Suara Leon kesakitan. Lalu, ia pun pinsan.


...


2 hari pun berlalu. Saat pagi hari.


Terlihat Leon sedang terbaring ditanah dengan tatapan kosong. Wajahnya sudah sangat pucat, bahkan ada darah yang keluar dari matanya.


Dia sudah tidak punya tenaga untuk mengangat kepalanya. Bahkan keringat sudah tidak bisa keluar dari tubuhnya, mulutnya sangat kering karena dehidrasi, dan sesekali dia meminum darahnya sendiri.


"Apa dia sudah mati Jendral.?" Tanya kapten.


"Dia masih hidup. Ini benar-benar mengejutkanku. Hahaha." Jawab Dellon.


"Sebentar lagi kita sampai di Collosium. Angkat bocah ini dan lemparkan dia ke penjara bawah tanah." Kata Dellon.


"Siap laksanakan Jendral." Kata Kapten dengan terkejut sambil melihat kondisi Leon yang masih di seret oleh kuda.


...


Siang hari. Dellon dan pasukannya sampai di Collosium. Tempat pertarungan antara hidup dan mati. Rakyat Aldebaren memberikan julukan tempat itu dengan nama "Dead To Hell".


Hanya orang yang masih hidup, yang bisa keluar dari arena pertempuran itu. Pertarungan selalu diadakan setiap 2 hari sekali, dan orang yang bertarung disana rata-rata adalah seorang budak yang melawan mantan prajurit kerajaan lain yang ditangkap.


Tempat itu sudah menjadi budaya mereka selama ratusan tahun di kerajaan Aldebaren. Dan semua orang selalu menyaksikan pertarungan itu dengan meriah. Meskipun harga tiket masuk sangat mahal, semua orang masih membelinya dan melihat pertarungan penuh darah itu.


Bagi rakyat Aldebaren, pertarungan itu adalah olahraga yang bergensi dan sangat digemari. Tapi bagi para petarung, tempat itu adalah neraka yang penuh dengan siksaan dan di paksa untuk mati.

__ADS_1


...


"Bolin, aku membawakan barang yang bagus kesini." Kata Dellon kepada pengurus Collosium.


"Hoo, siapa itu Jendral.?" Tanya Bolin.


Kapten pun melemparkan Leon yang masih diikat dengan tali didepan Bolin.


"Hem, barang ini sudah cacat Jendral. Tidak bisa diterima." kata Bolin sambil melihat Leon.


"Kau bisa memberikannya makan dan minum, lalu, suruh dia untuk bertarung besok. Kau akan melihatnya sendiri." Kata Dellon.


"Hem, baiklah." Kata Bolin.


"Lemparkan dia ke penjara bawah tanah." Perintah Dellon kepada Kapten.


"Laksanakan Jendral." Kata Kapten sambil mengangkat tubuh Leon.


Leon pun dibawa oleh Kapten ke penjara paling bawah. Tempat yang gelap dan sangat kotor. Bahkan banyak tikus dan ular yang berkeliaran dibawah sana.


"Buka pintunya." Kata Kapten kepada penjaga penjara.


"Siap Kapten." Kata Penjaga itu.


Lalu, Kapten pun berjalan ketempat penjara yang sudah kosong, bahkan hampir tidak ada orang yang bisa hidup dibawah sana. Banyak sekali tulang-tulang manusia yang tergeletak didalam sel penjara.


"Bau disini sangat menyengat." Kata Kapten sambil membuka pintu sel.


Lalu, tali yang mengikat Leon di buka oleh kapten, dan tubuhnya di lempar kedalam. BROOK Suara tubuh Leon yang menghantam tanah.


"Nikmati sisa hidupmu nak. Jika kau masih hidup sampai besok, kau akan bertarung diatas sana." Kata Kapten sambil mengunci pintu sel.


Kapten pun pergi meninggalkan penjara bawah tanah itu. Tapi Leon masih terdiam tak bergerak sama sekali dengan tatapan kosong.


"Huh, huh, aku ingin mati." Kata Leon dalam hati.


Lalu, tiba-tiba ada orang yang mendekat menghampiri Leon di dalam sel sebelah.


KLAANG. Suara benturan tangan yang menghantam sel besi.


"Hoo. Apa kau masih hidup bocah. Bergeraklah, jika kau tidak bergerak, ular disana akan memakanmu." Kata seorang petarung Collosium bernama Klain.


"Aa, aa." Suara Leon dengan lemah sambil menoleh ke orang itu.


"Apa kau bunuh minum bocah.?" Kata Klain sambil melemparkan botol kayu kedepan Leon.


Leon hanya menatap botol yang menggelinding didepannya, lalu tangannya mulai bergerak mengambil botol kayu yang ada didepannya.


"Minumlah Bocah. Tubuhmu terlihat dehidrasi." Kata Klain.


"Aa, aaah." Suara Leon yang mengambil botol kayu itu, lalu ia pun membukanya dan meminum air yang ada di dalamnya.


"Uuh, UHOOUK. UHOOK." Suara Leon yang terbatuk-batuk.


"Minumlah secara perlahan, jangan terburu-buru, aku masih punya banyak." Kata Klain.


GLEK GLEK GLEK. Suara Leon yang meminum air yang ada didalam botol itu sampai habis. Lalu, Klain melemparkan segengam kain kedepan Leon.


"Itu adalah roti, makanlah itu." Kata Klain


Leon pun mengambil roti itu sambil merangkak. Dan ia memakan roti itu sambil terbaring.


"Aku terselamatkan. Aku akan membalas perbuatan mereka." Kata Leon dalam hati.


...


"Bergeraklah bocah, ular itu sudah melihatmu." Kata Klain.


SHIKISIKKISIK, SLEESH. Suara ular cobra berukuran raksasa sedang mengangkat kepalanya di atas Leon.


"Aa, Terimakasih ma, makanannya Tuan." Kata Leon dengan lemah.


"Oee, oee. Nanti saja bicaranya, ular itu akan memakanmu." Kata Klain yang panik.


.

__ADS_1


__ADS_2